Thursday, May 21, 2020

Kebencian beragama yang berakhir indah

Dok.pri
Ilustrasi toleransi beragama


Seperti yang saya janjikan pada tulisan sebelumnya tentang bagaimana selama dua hari mengikuti workshop bersama 30 teman dalam program CERITA atau kepanjangan Community Empowerment for Raising Inclusivity and Trust through Technology Application yang diselenggarakan The Habibie Center di Kafe Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan. CERITA adalah sebuah program yang memanfaatkan seni bercerita (storytelling) untuk melawan diskriminasi, mendorong inklusivitas dan membangun rasa saling percaya di masyarakat.

Yang lalu saya menceritakan bagaimana hari kedua saat sesi bercerita menjadi sesi paling menegangkan. Kami satu per satu menceritakan kisah yang sebelumnya tidak pernah kami ceritakan kepada orang lain. ‘Kisah pahit’, kelam, yang menempati sudut relung hati, yang memiliki tempat tersendiri, yang terpaksa kita simpan di dalam kotak pandora. Dan turut tumbuh bersama seiring waktu berjalan.

Sejujurnya saat itu kami merasa tegang. Karena ketakutan saling menyakiti atau menyinggung satu sama lain. Namun akhirnya kami memutuskan bercerita, memulai, memutuskan membuka diri dan membangun kepercayaan di antara kami bahwa kami yang bercerita, yang mendengarkan cerita telah memiliki kesamaan pemahaman dan berjanji untuk respect satu sama lain.

Dan kami mempersilakan Deon memulainya terlebih dahulu...

Deon lahir di Bogor, Jawa Barat. Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, aktivis lintas agama. Dia lelaki pendiam. Selama workshop di hari pertama dan kedua saya melihatnya sebagai sosok yang lebih banyak mendengarkan dan mengamati. Sikapnya terlihat hati-hati. Dan kami baru mengetahui bagaimana pergulatan batin Deon kecil hingga remaja yang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri pasca peristiwa menegangkan yang pernah ia alami dalam kehidupan beragamanya yang mempengaruhi cara bersikap Deon.

Deon tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Ia dan keluarganya setiap hari Minggu pergi ke gereja yang lokasinya tak jauh dari tempat ia tinggal. Hingga suatu kali, ketika Deon kecil dan keluarganya serta jamaah lain sedang khususk beribadah di gereja peristiwa mengejutkan terjadi. Para jamaah dikejutkan teriakan kencang segerombolan orang yang masuk paksa kedalam gereja. Mereka bersurban dan berjanggut panjang. Jumlahnya sekitar seratusan. Masuk kedalam gereja, meneriakkan ujaran kebencian, kata-kata provokasi, dan banyak hal yang Deon kecil dengar dan terjemahkan sebagai kata-kata ‘fitnah’.

Deon kecil ketakutan. Ia bersama keluarganya yang tengah berdoa kaget dan terperanjat. Di tengah suasana mencekam karena lelaki berjenggot dan bersurban berjumlah banyak berteriak dengan nada emosi dan masuk paksa membuat Deon kecil bersama keluarganya berusaha saling menguatkan dengan berpegangan satu sama lain untuk memastikan mereka akan baik-baik saja. Ternyata tak hanya sampai di situ. Para lelaki bersurban dan berjenggot panjang juga memprovokasi warga, memfitnah orang-orang Kristen di lingkungan luar gereja tempat mereka tinggal. Dan akhirnya gereja tempat Deon kecil beribadah ditutup dan disegel.

“Saya menganggap mereka berhasil dan kami kalah,” ujar  Deon mengenang kesimpulannya saat itu dengan suara berat dan bergetar.

Peristiwa mencekam minggu pagi itu terekam dalam ingatan Deon kecil yang kemudian tumbuh menjadi Deon remaja. Hingga suatu hari Deon remaja yang bergabung dalam organisasi remaja Lintas Iman ‘terjerumus’ dalam sebuah acara yang mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang agama. Acaranya meliputi kegiatan diskusi, dialog keagamaan, dan melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadah agama-agama. Deon tak menyangka jika rangkaian kegiatan bersama para pemuda pemudi lintas agama berlangsung lancar dan cair.

“Jauh dari bayangan saya kegiatan bisa berjalan selancar dan secair tu,” katanya.

Dan dari kegiatan lintas agama yang mempertemukan pemuda pemudi dari berbagai latar keagamaan yang berbeda Deon menemukan secercah pemahaman.

Seorang teman yang baru Deon kenal menyampaikan kesan dan mengomentari sosok Deon.

“Ternyata orang Kristen itu baik ya,” ujar Deon menirukan kata-kata teman barunya.

Kalimatnya sederhana. Namun, bagi Deon kata-kata temannya mengandung makna yang dalam. Saya lihat Deon tercekat ketika mengomentari kesan yang disampaikan teman barunya yang seorang Muslim. 

"Saya terharu," ujarnya melanjutkan.

Dan Deon mengaku merasa bangga telah menjadi orang Kristen pertama yang memberikan kesan baik bagi teman barunya. Sebelumnya, teman barunya tidak pernah mengenal teman beragama di luar agama yang ia anut. Saat itu juga kebencian terhadap agama yang dicitrakan lelaki bersurban dan berjenggot dalam peristiwa mencekam di gereja ketika kecil seketika luruh. Ia akhirnya memahami, memaafkan dalam hati yang pernah terjadi. Mengubur perlahan pengalaman beragama yang tidak mengenakkan yang pernah ia simpan dalam relung hati.

“Mungkin sebagai pemuda kita main kurang jauh. Dan sebagai pemuda kita main kurang malam,” ujarnya menutup cerita dengan sambutan tepuk tangan meriah dari kami para temannya dan kami kemudian memelukinya bergantian


Tuesday, May 19, 2020

Berkelompok buktikan wanita tani berdaya


kwt-melati
Foto:kiosgapoktan.com
Kelompok wanita tani Melati berkumpul

Suatu hari sebelum corona virus deases (Covid) 19 hadir di tengah masyarakat Indonesia saya berkesempatan mengunjungi sebuah desa yang sebelumnya saya tak pernah tahu kalau di desa ini pertaniannya maju pesat dan warganya hidup tenteram sejahtera. Berawal dari cerita dosen saat mengajar di kelas tentang komunikasi kelompok, bahwa ada kelompok wanita tani (KWT) yang sukses mengembangkan programnya meskipun menghadapi sejumlah rintangan. Karena berbicara dalam kontek kekompakan kelompok, masih kata dosen, meski memiliki kesamaan tujuan, kelompok tak jarang mengahadapi masalah. Di antaranya renggangnya hubungan sesama anggota (memudarnya kekompakan kelompok), munculnya kesalahpahaman, dan masih banyak lagi sebagaimana yang dihadapi  KWT Melati di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga Bogor.

Karena penasaran, usai kuliah saya melajukan motor dan membelokkannnya ke gang jalan yang hanya sering saya lihat dari kejauhan saat lewat menuju kampus. Jarak desa,- yang lahan-lahan kosongnya sebagian besar terisi tanaman sayuran, dengan Kampus IPB Dramaga hanya sekitar dua kilometer.

Melewati sepanjang jalan mata terasa adem. Hati terasa tenteram. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah  hamparan tanaman sayuran hijau, seperti sayuran kacang panjang, talas, kacang tanah, singkong, jagung dan tanaman lainnya. Deretan rumah juga tertata rapi dan bersih. Dalam hati saya membatin “ada desa sebagus ini pemandangannya, saya tak pernah tahu. Padahal setiap hari saya melewati pintu masuk jalan desa itu selama kurang lebih 6 bulanan”. Saya semakin takjub dengan desa ini begitu melihat selokan di sepanjang jalan mengalir air deras dan jernih.

Sore itu motor saya melaju menuju rumah Ketua KWT Melati Normayanti di Jalan Carangpulang, yang ternyata rumahnya juga menjadi posko KWT Melati. Untuk menemukan rumah Norma tak begitu sulit. Warga yang saya tanya mengenal Norma dan KWT Melati.

Namun, sore itu saya tidak berhasil menemui Norma. Suaminya, Ahmad Bastari, yang juga ketua kelompom tani (Poktan) Hurip yang justru menceritakan bagaimana KWT Melati terbentuk, kondisi pertanian, dan kondisi masyarakat di desanya. Norma yang sedang  mengikuti acara pelatihan pertanian dan pengembangan produk pertanian yang diselenggarakan IPB, saya tunggu hingga sore tak kunjung datang. Dan saya hanya berhasil berbincang melalui sambungan telepon.

Menurut Norma, awalnya yang lebih dulu hidup dan berjalan pesat di desanya  adalah Kelompok Tani (Poktan) Hurip. Poktan yang dibentuk pada tahun 90-an ini semua anggotanya petani laki-laki. Namun, seiring jalannya waktu, juga adanya tuntutan hidup, yang  mana kebutuhan hidup makin bertambah sementara pendapatan bertani tidak bertambah, muncullah gagasan dari ibu-ibu petani untuk membentuk kelompok tani wanita yang mereka namai KWT Melati. Meskipun sebenarnya pertanian ubi jalar juga dikerjakan para perempuan petani. KWT ini tidak ingin menjadi petani yang hanya mengandalkan hasil tani, tetapi juga ingin lebih mengeksplorasi hasil tani dengan mengolah ubi menjadi berbagai produk makanan dan minuman.

Sebelumnya, saat panen biasanya ubi jalar langsung dijual kepada tengkulak. Dan kegiatan petani selanjutnya adalah mengolah tanah pertanian kemudian menanaminya kembali. Setelah ada KWT Melati, kegiatan dan produktivitas para petani perempuan berubah. Mereka tidak menjual keseluruhan ubinya kepada tengkulak, melainkan menyisakan hasil panen untuk diolah menjadi penganan yang ternyata bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak dari hanya dijual semua kepada tengkulak.

Produk olahan KWT Melati di antaranya mi goreng yang bahan dasarnya dari ubi, sirup yang dibuat dari perasan ubi ungu, keripik ubi ungu yang dibuat dari ampas perasan untuk produk sirup minuman, dodol jambu kristal, stik dari ubi, tepung ubi, dan aneka  makanan lainnya. Yang kesemuanya berasal dari hasil tani mereka yakni, ubi juga jambu kristal. Semua produk olahan ubi dan jambu dijual di sekretariat KWT Melati dan dipasarkan melalui jaringan KWT yang ada di Bogor dan wilayah kota lainnya seperti Jakarta dan sekitarnya.

Ketua Kelompok Tani Hurip Ahmad Bastari yang juga suami Norma mengatakan, para petani di Desa Cikarawang sebagian besar mengandalkan hasil pertanian ubi jalar yang hasilnya tak seberapa. Jika petani memiliki tanah 1.000 meter, maka masa tanam hingga panen   selama 4 bulan hanya mendapatkan penghasilan bersih Rp 500 ribu tiap bualnnya. Dasar perhitungannya, tanah 1.000 meter rata-rata menghasilkan ubi sebanyak 1,5 ton ubi dengan harga ubi Rp 2.000- per kilo. Dari hasil panen petani mendapatkan uang sekitar Rp 3 juta, dipotong untuk modal Rp 1 juta dan sisa Rp 2 juta.

”Jadi hasil panen Rp 2 juta itulah yang diperoleh para petani ubi jalar untuk kebutuhan hidup selama 4 bulan. Apa cukup? Para ibu-ibu KWT yang bisa menjawabnya,” ujar Ahmad kepada saya.

Norma menambahkan, KWT yang dibentuk pada 1 Juli 2015 ini berkontribusi besar terhadap pemberdayaan para petani perempuan di desanya. Dari kelompok, para ibu petani ubi jalar belajar cara mengolah ubi menjadi produk makanan kekinian. Ubi biasanya diolah dengan cara konvensional, direbus atau digoreng. Melalui teknik pengolahan yang modern dan melihat tren pasar ubi bisa diolah menjadi aneka makanan seperti keripik, stik, mi goreng, sirup, bolu, brownis, dan lain sebagainya. Selain tetap menjadi petani ubi jalar dan pemberdayaan melalui pelatihan pengolahan ubi, KWT juga memberi kesempatan kepada anggotanya untuk mengembangkan potensi anggotanya. Di antaranya, mereka medapatkan penghasilan dari hasil pesanan katering dan pelatihan mengolah tanah pekarangan rumah supaya lebih bermanfaat, yakni dengan menanami lahan pekarangan dengan tanaman sayur yang bisa memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.

”Potensi SDM anggota kelompok sebisa mungkin kita kembangkan dan berdayakan supaya taraf hidup mereka menjadi lebih baik,” ujar Norma kepada penulis.

Mengolah makanan dari bahan dasar ubi dan singkong yang dilakukan KWT yang memiliki anggota 20 perempuan ini sebagai salah satu upaya mendukung diversifikasi pangan yang selama ini digaungkan pemerintah. Prinsip KWT Melati adalah menggalakkan tanaman lokal dan mengolah hasil tanam yang ada di sekitar untuk kehidupan mereka yang lebih baik dengan cara kreatif dan inovatif.

 

 

 

 

KWT terdampak covid 19 jualan kue lebaran

Dok: Ahmad

Kue butter cookies, kue produk KWT 

 

Di tengan pandemi Covid 19 masyarakat kelompok wanita tani di Carangpulang, Desa Cikarawang, Bogor tak lagi bisa tersenyum lebar. Dagangan mereka macet karena sejumlah kebijakan pemerintah untuk menghalau penularan virus yang belum ada vaksinnya. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penjarakan sosial, dan seruan pemerintah kepada masyarakat untuk di rumah saja menjadikan usaha rumahan mereka mandek total. Karena, tidak ada kunjungan, tidak ada akademisi, mahasiswa, atau dinas yang datang berkunjung dan memborong kue olahan mereka.

 

Namun, mereka tidak patah semangat. Hidup yang terus berjalan dan kebutuhan perut harus dipenuhi membuat mereka mencari cara supaya dapur tetap mengepul. Kini KWT menjual kue penganan lebaran butter cookies yang bahan pokoknya dari tepung ubi ungu. Norma dan suaminya menawarkan kuenya kepada mitra dan kenalan yang mereka kenal.

Satu toples yang berisi 12 butter cookies dibanderol harga Rp20.000. Saya sudah mencoba membeli dan rasanya lumayan enak, tak kalah dengan produk-produk kue pabrikan. Kue butter buatan KWT ini justru istimewa karena terbuat dari tepung ubi yang rendah gula dan bebas gluten karena tanpa bahan tepung terigu. Sehingga kue aman dikonsumsi anak-anak terkhusus anak autis dan orang dewasa penderita diabetes.

 

Jika ingin membantu para petani terdampak Covid 19 dan ingin merasakan gurih manisnya kue butter cookies, pembaca bisa menghubungi Pak Ahmad. Dan saya akan dengan senang hati membagikan nomor telepon beliau.

 

Kustiah

 


Tuesday, May 12, 2020

Sobat ambyar peduli warga kurang mampu terdampak covid-19


Dok.pri


Rasanya baru kemarin kami berjoget, bernyanyi bersama saat Didi Kempot konser amal dari rumah di Kompas TV 11 April. Kami, saya, suami dan dua anak menikmati berjoget dan bernyanyi merayakan ‘kesuraman’ hari-hari disekap di dalam rumah karena Covid-19 yang datang mendadak dan membuat hari-hari kami terasa mencekam. Seminggu pertama kami stres harus berada di rumah. Anak-anak tidak bisa bermain sepeda, tidak bisa lagi duduk di pinggir lapangan untuk memandangi hamparan rumput, dan kami tidak bisa mengunjungi teman, saudara yang biasa kami lakukan sebelum Covid 19 datang. Dan konser amal penyanyi dengan nama asli Dionisius Prasetyo, The God Father of broken heart, seolah menjadi pelampiasan kami. Hampir dua jam kami bersuka ria.

Namun, kabar duka datang terlalu cepat. Penyanyi campursari yang terkenal dengan lagu-lagu patah hati ini meninggal dunia 5 Mei karena serangan jantung. Kehilangan? Sangat kehilangan. Bahkan saat sebuah stasiun televisi menayangkan ulang konser mininya di stasiun TV saya tak bisa menyembunyikan kesedihan. Air mata berderai begitu melihat Pak Dhe (demikian kami nyaman menyebut Didi Kempot) menyanyi. Mungkin terdengar berlebihan, tapi menurut saya menangisi kesedihan dan kepedihan juga tak apa-apa asal tidak berlarut-larut.

Dan rasa sedih saya berkurang begitu belasan orang mengirim pesan dan foto di Whatsapp. Mereka adalah keluarga kurang mampu yang menerima bantuan dari konser amal yang diselenggarakan Didi Kempot bekerjasama dengan Kompas TV. Tentang bantuan sembako sendiri saya sebelumnya hanya tahu singkat dari teman Lintas Iman Kota Bogor. Semua berlangsung cepat, teman Lintas Iman meminta bantuan saya untuk mendata warga kurang mampu terdampak Covid 19 yang ada di Kota Bogor. Jumlah yang diminta 30 orang. Sementara 70 orang sudah didata oleh teman Lintas Iman. Karena tinggal di perbatasan antara Kabupaten dan Kotamadya, tak begitu sulit menemukan warga kurang mampu. Berjarak sekitar dua kilometer dari rumah tempat saya tinggal, motor melaju ke Desa Kedung Halang, Tanah Sereal Kota Bogor. Di sana banyak sekali warga kurang mampu yang membutuhkan bantuan. Mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh harian lepas, lansia, dan janda kurang mampu. Yang saya temui penjual buah keliling, tukang bangunan, dan menjadi pekerja rumah tangga.

Malam tepat saya menonton konser tayang ulang, rentetan foto para bapak dan ibu dengan senyum mengembang memegang bingkisan kardus sembako membuat saya lega. Dan yang membuat saya haru ternyata bantuan sembako merupakan kerja keras Pak Dhe saat konser amal di Kompas TV. Dari teman Lintas Iman, di awal pembicaraan, saya hanya tahu bingkisan merupakan donasi dari Kompas TV. Saya tidak tahu jika yang dimaksud adalah donasi Sobat Ambyar Pak Dhe di Kompas TV. Sambil memandangi Pak Dhe yang sedang bernyanyi dalam siaran ulang di TV saya kembali menangis dan duduk termangu.

Terima kasih teman Lintas Iman Kota Bogor yang telah melibatkan saya dalam kerja besar, meskipun saya hanya menjadi bagian kecil yang hari itu entah bagaimana ceritanya saya terpilih dan tiba-tiba terlibat.

Dan terima kasih tak terhingga kepada Pak Dhe yang sudah berada di dunia keabadian. Keringat, kerja kerasmu sudah meringankan beban mereka. Semoga kepedulianmu terhadap mereka yang membutuhkan menular ke banyak orang. Doa kami semoga damai di surga Pak Dhe.. ..

 

 


Monday, May 11, 2020

Duta cerita: pertemuan cerita tentang kemanusiaan dan cinta kasih dalam perbedaan





Dok.pri


Saya hendak bercerita tentang kisah bagaimana kami, 30 orang dari latar belakang yang berbeda dipertemukan dalam sebuah program yang menurut kami baru dan kereen.

Saat itu April 2017. Kami, sekumpulan anak muda, kecuali saya yang sudah tidak muda, hehe, berjumlah 30-an orang dipertemukan oleh The Habibie Center di Kafe Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan.

Saya masih ingat wajah-wajah teman-teman saya yang fresh, penuh senyum, dan tampak antusias. Kami berjabat tangan, berkenalan, dan saling mendengar ketika ada yang berbicara. Entah, saya merasa pertemuan saat itu begitu intim dan hangat padahal kami tidak saling mengenal dan tidak pernah bertemu satu sama lain sebelumnya.

The Habibie Center, organisasi independen non pemerintah dan non profit yang didirikan oleh mantan Presiden RI Bacharudin Jusuf Habibie dan keluarga membuat program Community Empowerment for Raising Inclusivity and Trust through Technology Application, atau disingkat menjadi CERITA. CERITA adalah sebuah program yang memanfaatkan seni bercerita (storytelling) untuk melawan diskriminasi, mendorong inklusivitas dan membangun rasa saling percaya di masyarakat. Dan kami 30 orang dipilih berdasarkan hasil seleksi wawancara melalui Skype dan seleksi administratif.

Dua hari kami mengikuti workshop dengan rangkaian acara yang luar biasa. Mendapat materi dari pemandu (dua orang bule) dan juga host hebat pilihan The Habibie Center dan beberapa narasumber. Dan sampailah pada sesi membuat cerita dari pengalaman kami masing-masing dengan tema pluralism dan multiculturalism, yang kemudian didokumentasikan.. Sesi bercerita dan mendengar cerita menjadi sesi yang mengharu biru dan menegangkan. Kami 30 orang bergantian menyampaikan cerita masing-masing yang sebelumnya  tak pernah kami bagikan kepada orang lain. Usai rangkaian acara kami mendapat predikat sebagai Duta CERITA.Selain di Jakarta Duta CERITA diluncurkan di empat kota lainnya yakni Bandung, Malang, Yogyakarta, dan Solo, dan telah direplikasi di 15 kota/kabupaten di Indonesia dengan lebih dari 1000 peserta.

O ya, pada tahun 2018 kami, Duta CERITA Jakarta membuat acara yang mengundang anak-anak muda.  Bertempat di Kampus Bina Nusantara di FX Plaza, Jalan Sudirman acara diikuti sekitar 80 anak muda. Kegiatan dan konsep yang kami buat hampir sama dengan yang pernah kami ikuti di Duta Cerita Jakarta. 

Untuk ceritanya..tunggu ya…

 

 


Mereka yang pantang menengadahkan tangan



Dok.pri



Sore itu Minggu (9/7/19) Sainem, 85 tahun, sedang berkemas. Serenteng kerupuk, kacang tanah sangrai, kacang kedelai yang dibungkus plastik ukuran kecil, permen, balon, dan aneka jajanan anak-anak yang diletakkan di meja bambu satu per satu dimasukkan ke kantong plastik hitam. Semua dilakukan perlahan-lahan. Saya sore itu sengaja menemuinya. Pertemuan pertama saya dengan mbah Sainem sekitar tahun 2019. Secara tak sengaja. Saya kebetulan lewat. Dan begitu menoleh saya melihat ada seorang nenek tua sedang duduk di atas amben bambu dan di depannya ada dagangan. 

Mbah Sainem tua, renta, dan badannya terlihat rapuh. Melihatnya siapa pun akan iba. Setua ini nenek Sainem masih harus berada di pinggir jalan untuk mengais rezeki. Dengan barang dagangan yang menurut saya jika dijual hasilnya tak seberapa. Menurut mbah Sainem, jika sedang laris ia akan mendapatkan uang sekitar Rp10.000. Kadang Rp5.000 atau bahkan sering tak ada yang membeli dagangannya sama sekali.

"Ya namanya dagang mbak. Kadang laku kadang nggak," ujarnya saat kutanya penghasilannya.

Sainem tak pernah mengeluh. Katanya, ia sudah terbiasa seperti itu. Berdagang dilakoninya semenjak pindah rumah. Ibu tiga anak dan nenek 7 cucu ini tinggal bersama seorang anaknya. Ia tak ingin membebani anak-anaknya sehingga merasa tetap perlu bekerja. 

Kehidupan Sukiyem (79) juga tak jauh beda. Ia hidup sebatang kara di sebuah rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Di dalam rumahnya yang berukuran 6x7 meter sehari-hari Sukiyem sibuk membuat kerupuk. Sukiyem tak mempunyai anak dan suaminya meninggal tiga tahun lalu. Setiap pagi ia berjualan kerupuk di pasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Dulu semasa suamiya masih hidup suaminyalah yang mengantar Sukiyem ke pasar menggunakan sepeda. Sekarang ia diantar anak keponakannya menggunakan sepeda motor yang Sukiyem beli.

Berbeda dengan Sainem, Sukiyem lebih beruntung karena bisa memproduksi kerupuk yang berbahan tepung tapioka sendiri. Sepulang dari pasar Sukiyem bisa membawa pulang uang rata-rata Rp100 ribu. Jika sedang ramai seperti saat menjelang Lebaran ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp 300-400 ribu.

"Mergo akih sing mudik nduk. Akih entuke (Karena banyak yang mudik nak. Banyak larisnya)," ujarnya.

Baik Sainem maupun Sukiyem mengaku sudah biasa hidup susah. Namun mereka, sekali lagi, pantang menyerah dengan keadaan. Pantang menengadahkan tangan dan menyusahkan orang lain. Prinsip hidup mereka hampir sama "Ora elok nek isih diparingi sehat karo sing nggawe urip tangan dienggo njaluk-njaluk (Tidak pantas kalau masih diberi sehat oleh Yang Memiliki hidup tangan dipakai untuk meminta-minta)" ujar Sukiyem. Kedua perempuan kelahiran Blora ini tak mengeluh dan tak merutuki nasib meski hidup serba pas-pasan bahkan lebih tepatnya jauh dari kata cukup. Sehat-sehat ya mbah.

Kustiah

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...