![]() |
| Dok.pri Ilustrasi toleransi beragama |
Seperti
yang saya janjikan pada tulisan sebelumnya tentang bagaimana selama dua hari
mengikuti workshop bersama 30 teman dalam program CERITA atau kepanjangan Community Empowerment for Raising
Inclusivity and Trust through Technology Application yang diselenggarakan
The Habibie Center di Kafe Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan. CERITA adalah sebuah
program yang memanfaatkan seni bercerita (storytelling)
untuk melawan diskriminasi, mendorong inklusivitas dan membangun rasa saling
percaya di masyarakat.
Yang
lalu saya menceritakan bagaimana hari kedua saat sesi bercerita menjadi sesi
paling menegangkan. Kami satu per satu menceritakan kisah yang sebelumnya tidak
pernah kami ceritakan kepada orang lain. ‘Kisah pahit’, kelam, yang menempati
sudut relung hati, yang memiliki tempat tersendiri, yang terpaksa kita simpan
di dalam kotak pandora. Dan turut tumbuh bersama seiring waktu berjalan.
Sejujurnya saat itu kami merasa tegang. Karena ketakutan saling menyakiti atau menyinggung satu sama lain. Namun akhirnya kami memutuskan bercerita, memulai, memutuskan membuka
diri dan membangun kepercayaan di antara kami bahwa kami yang bercerita, yang mendengarkan
cerita telah memiliki kesamaan pemahaman dan berjanji untuk respect satu sama lain.
Dan kami mempersilakan Deon memulainya terlebih dahulu...
Deon
lahir di Bogor, Jawa Barat. Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di
Jawa Barat, aktivis lintas agama. Dia lelaki pendiam. Selama workshop di hari
pertama dan kedua saya melihatnya sebagai sosok yang lebih banyak mendengarkan
dan mengamati. Sikapnya terlihat hati-hati. Dan kami baru mengetahui bagaimana pergulatan
batin Deon kecil hingga remaja yang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri
pasca peristiwa menegangkan yang pernah ia alami dalam kehidupan beragamanya yang mempengaruhi cara bersikap Deon.
Deon
tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Ia dan keluarganya setiap hari Minggu
pergi ke gereja yang lokasinya tak jauh dari tempat ia tinggal. Hingga suatu
kali, ketika Deon kecil dan keluarganya serta jamaah lain sedang khususk
beribadah di gereja peristiwa mengejutkan terjadi. Para jamaah dikejutkan teriakan kencang segerombolan orang yang masuk
paksa kedalam gereja. Mereka bersurban dan berjanggut panjang. Jumlahnya
sekitar seratusan. Masuk kedalam gereja, meneriakkan ujaran kebencian,
kata-kata provokasi, dan banyak hal yang Deon kecil dengar dan terjemahkan sebagai
kata-kata ‘fitnah’.
Deon
kecil ketakutan. Ia bersama keluarganya yang tengah berdoa kaget dan terperanjat.
Di tengah suasana mencekam karena lelaki berjenggot dan bersurban berjumlah
banyak berteriak dengan nada emosi dan masuk paksa membuat Deon kecil bersama
keluarganya berusaha saling menguatkan dengan berpegangan satu sama lain untuk
memastikan mereka akan baik-baik saja. Ternyata tak hanya sampai di situ. Para
lelaki bersurban dan berjenggot panjang juga memprovokasi warga, memfitnah orang-orang
Kristen di lingkungan luar gereja tempat mereka tinggal. Dan akhirnya gereja tempat
Deon kecil beribadah ditutup dan disegel.
“Saya
menganggap mereka berhasil dan kami kalah,” ujar Deon mengenang kesimpulannya saat itu dengan
suara berat dan bergetar.
Peristiwa
mencekam minggu pagi itu terekam dalam ingatan Deon kecil yang kemudian tumbuh
menjadi Deon remaja. Hingga suatu hari Deon remaja yang bergabung dalam
organisasi remaja Lintas Iman ‘terjerumus’ dalam sebuah acara yang
mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang agama. Acaranya meliputi
kegiatan diskusi, dialog keagamaan, dan melakukan kunjungan ke tempat-tempat
ibadah agama-agama. Deon tak menyangka jika rangkaian kegiatan bersama para
pemuda pemudi lintas agama berlangsung lancar dan cair.
“Jauh
dari bayangan saya kegiatan bisa berjalan selancar dan secair tu,” katanya.
Dan
dari kegiatan lintas agama yang mempertemukan pemuda pemudi dari berbagai latar
keagamaan yang berbeda Deon menemukan secercah pemahaman.
Seorang
teman yang baru Deon kenal menyampaikan kesan dan mengomentari sosok Deon.
“Ternyata
orang Kristen itu baik ya,” ujar Deon menirukan kata-kata teman barunya.
Kalimatnya sederhana. Namun, bagi Deon kata-kata temannya mengandung makna yang dalam. Saya lihat Deon tercekat ketika mengomentari kesan yang disampaikan teman barunya yang seorang Muslim.
"Saya terharu," ujarnya melanjutkan.
Dan Deon mengaku merasa bangga telah menjadi orang Kristen pertama yang memberikan kesan baik bagi teman barunya. Sebelumnya, teman barunya tidak pernah mengenal teman beragama di luar agama yang ia anut. Saat itu juga kebencian terhadap agama yang dicitrakan lelaki bersurban dan berjenggot dalam peristiwa mencekam di gereja ketika kecil seketika luruh. Ia akhirnya memahami, memaafkan dalam hati yang pernah terjadi. Mengubur perlahan pengalaman beragama yang tidak mengenakkan yang pernah ia simpan dalam relung hati.
“Mungkin sebagai pemuda kita main kurang jauh. Dan sebagai pemuda kita main kurang malam,” ujarnya menutup cerita dengan sambutan tepuk tangan meriah dari kami para temannya dan kami kemudian memelukinya bergantian





