Foto: Pixabay.com
Suatu kali saat mencuci piring tak terasa air mata meleleh. Disertai dada sesak dan muka terasa
kaku.
Sebelumnya tak pernah terjadi perasaan dan kondisi demikian, kecuali
perasaan sebal yang datang dan pergi berkelindan. Dada makin sesak saat
tumpukan piring, mangkok, panci dan berangkas dapur baru saja selesai dicuci
lantas melihat anak kejar-kejaran. Yang besar mencubit adiknya dan jeritan
adiknya tak terelakkan. Belum selesai melerai adegan menyedihkan lalu melihat
rumah selaksa gudang yang baru saja diporak porandakan kucing yang mengejar
tikus tetapi tetap tak ketemu. Huhhhhh. Ini belum drama bagaimana harus
mendampingi, mengajari anak pelajaran sekolah yang banyaknya tak terkira dan
tak beperikemanusiaan. Belajar dari rumah dengan tugas yang tidak inovatif
menjadi penambah beban psikologis orang tua khususnya Ibu.
Sejak pandemi Covid-19 diumumkan awal Maret,
lalu imbauan di rumah saja didengungkan saya sudah merasa tak enak hati. Bukan
saja karena kecemasan 'terpilih' menjadi korban covid, tetapi merasa ragu
apakah benar-benar bisa menghadapinya. Dan benar, lima hari pasca Covid-19 diumumkan telah masuk ke Indonesia keraguan itu terbukti.
Suami, sebelum covid, biasanya punya waktu untuk bermain dengan anak. Semenjak covid, yang harus bekerja dari rumah, jangankan bermain, menyapa anaknya saja jika tidak diingatkan 'lupa' kalau punya anak. Pekerjaan menumpuk katanya. Dan cerita tentang jibaku ibu-ibu di masa pandemi tak terbendung.
Tengah malam sebelum tidur, untuk menenangkan
diri kuambil buku yang ada di rak buku sekenanya. Dan entah, tangan seperti
punya mata sehingga buku yang kuambil tahu betul isi hati. Novel Montinggo
Busye 'Sumirah' terbaca dalam semalam. Temanya tentang seorang istri, Sumirah,
yang ditinggal suaminya. Perempuan, seorang ibu dan ketiga anaknya yang selalu
menunggu ayahnya pulang. Mereka berjuang melewati kehidupan yang tak mudah
dengan segala masalahnya.
Anak Sumirah yang paling besar, Retno, yang
paling peduli dengan isi hati ibunya. Ia mencari bapaknya. Memastikan apakah
Bapaknya lelaki baik-baik yang layak ditunggu ibunya. Suatu kali teman
sekelasnya pernah bercerita bahwa ia memergoki ayahnya menggandeng seorang
perempuan yang bukan ibunya. "Ayahmu kayaknya punya istri muda, "
kata temannya.
Retno kalut, melebihi kekalutan ibunya. Sayangnya
pencarian Retno berhenti. Tiba-tiba cerita pencarian berbelok tentang kesedihan
Retno karena mengetahui tukang soto baik hati langganannya ternyata telah
meninggal. Tidak dijelaskan mengapa Retno tidak gigih mencari ayahnya. Mungkin
pencarian itu dianggapnya sia-sia. Karena, temannya hanya menjelaskan lokasi
temannya melihat ayahnya bersama seorang perempuan. Dan lokasi itu tentu saja,
karena bukan tempat tinggal dan merupakan tempat umum orang berlalu lalang,
sudah barang tentu bagi Retno akan sulit menemukan bapaknya.
Keluarga yang ditinggal ayahnya selingkuh ini
tinggal di kompleks pekerja seks. Namun, untuk kesetiaan dan bagaimana menjaga
cinta Sumirah kepada suaminya dan Retno kepada pacarnya jangan disangksikan.
Pernah hampir tergelincir hendak berpelukan dengan 'rewang' (lelaki yang
sehari-harinya mengerjakan pekerjaan rumah keluarga Sumirah), Sumirah segera
tersadar. Ia mengelak begitu rewangnya hendak memeluk meluapkan hasrat saat
hendak membetulkan genteng bocor di dalam kamar Sumirah yang gelap. Sumirah
ingat masih punya suami dan tidak mau mengkhianati janji pernikahannya.
Menyedihkan. Montinggo entah seperti menyentil
budaya patriarki yang begitu kuat di masyarakat Indonesia atau entah apakah
memang pandangannya terhadap perempuan sebagaimana masyarakat pada umumnya.
Bahwa, laki-laki punya banyak pilihan, bisa memilih dan bebas melakukan apa
saja yang dia suka. Sementara perempuan, dalam kondisi dikhianati,
ditinggalkan, 'setia' seolah menjadi obat penawar. Seolah sudah seharusnya
demikian, bahwa perempuan yang baik adalah yang setia, menunggu apa pun yang
terjadi dan yang dilakukan suami.
Selesai membaca novel kecil itu hatiku kecut.
Menggerutu. Memang perempuan harus begitu ya. Selain 'nrimo' juga tidak bisa
memilih. Harus setia juga harus banyak-banyak berdoa supaya kehidupannya
baik-baik saja. Kok begitu amat nasib perempuan..sudah jatuh tertimpa tangga
pula, dan lebih kasihan lagi dalam kondisi babak belur tidak ada satu pun orang
yang menolong. Perempuan harus kuat sejak dalam pikiran hingga dalam
sekeras-kerasnya kehidupan.
Selama Covid, ada sekitar lima orang teman
perempuan berbagi cerita tentang kehidupannya. Ditinggalkan suami yang pergi tak bertanggung jawab dan lelah
karena harus menjadi sapu jagad untuk keluarga. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan domestik,
menjadi guru karena harus memastikan belajar dari rumah baik-baik saja, mencari
uang dengan berjualan online, atau bekerja apa saja supaya dapat uang untuk
makan sekeluarga. Di sini ujian teori kesetaraan gender diuji. Bagi yang tidak
pernah membaca buku tentang gender atau yang tidak memahami agama dengan baik
mungkin menganggap tak ada yang salah dari semua itu. Tetapi, bagi yang
memahami agama dengan baik, agama sebagai sumber kasih, agama sebagai sumber
kehidupan, maka yang dialami perempuan di tengah gejolak pandemi yang entah
kapan berakhirnya, yang berjibaku menjaga keluarga supaya tidak oleng ini
adalah sebuah masalah. Ada yang tidak beres dalam kehidupan berkeluarga.
Mengutip Nur Hasyim, pendiri Aliansi Laki-laki
Baru bahwa patriarki dan seksisme tidak hanya menciptakan ketimpangan. Tetapi
menimbulkan kehidupan yang tidak harmonis. Jika kesetaraan bisa dibangun dan
diwujudkan maka seharusnya peran bisa dibagi dan dinegosiasikan. Jika istri
sedang sibuk memasak maka ayah bisa melakukan perannya membersihkan rumah sebelum
memulai bekerja.
“Dalam berkeluarga kita bisa berbagi peran dan
berbagi kemenangan” ujar Mas Boim, sapaan akrab Nur Hasyim dalam sebuah
webminar bertema tentang penguatan fungsi keluarga di masa pandemi yang
dilakukan IPB University akhir Juli lalu. Di Indonesia, budaya patriarki sudah
kadung membentuk cara berpikir masyarakat pada umumnya. Bahwa kelaziman mencuci
piring, mencuci baju, mengerjakan semua pekerjaan domestik termasuk mengasuh
anak adalah satu paket menjadi pekerjaan perempuan, seorang ibu. Dan laki-laki,
seorang suami hanya berkewajiban mencari nafkah. Jadi, jika laki-laki terlihat
mencuci, melakukan pekerjaan domestik dianggap aneh oleh baik masyarakat
laki-laki maupun perempuan. Padahal, pekerjaan rumah tangga, ruang domestik
tidak berjenis kelamin dan tidak menuntut dilakukan oleh laki-laki atau
perempuan. Karena mereka bisa dikerjakan oleh siapa saja.
Mas Boim dengan lembaganya pernah mendirikan
"sekolah ayah" di Indonesia Timur, di NTT, Lompok, Papua dan beberapa
daerah di sekitarnya. Salah satu tujuannya adalah menciptakan kesadaran
pentingnya peran laki-laki dalam membangun kesetaraan. Karena konstruk budaya
di sana saking kuatnya, laki-laki sembunyi-sembunyi saat membantu istrinya
menyelesaikan pekerjaan domestik seperti menyapu, menjemur pakaian dan saat
mengasuh anak. Takut dicap 'tidak laki-laki'. Setelah mengikuti sekolah ayah,
bahwa yang dilakukan seorang laki-laki, ayah, suami tersebut adalah hal yang
hebat yang dapat menumbuhkan kesalingan, akhirnya mereka tak melakukannya dengan
sembunyi-sembunyi lagi. Justru mereka mengampanyekan dan mengajak laki-laki,
para bapak untuk berkontribusi membangun keluarga yang harmonis membangun
kesalingan.
"Karena menjadi laki-laki tidak diukur dari
kekuatan fisik, superioritas, dan dominasinya. Semakin Anda sabar, setia,
supportif, penuh cinta kasih, dan anti kekerasan maka Anda semakin
laki-laki" ujar Mas Boim yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
UIN Walisongo, Semarang.
Pada masa pandemi covid seperti ini, kita tidak
sendirian menghadapi masalah dengan dampaknya. Berhentilah menuntut diri
sempurna. Anak-anak tidak akan berubah menjadi anak yang tidak baik saat
melihat rumah tak rapi. Hanya perlu katakan bahwa kita membutuhkan kerja sama
mereka. Kita semua perlu sehat baik fisik maupun psikis. Fisik tidak akan sehat
jika pertarungan psikis tidak pernah selesai. Longgarkan aktivitas anak. Dari
yang sebelumnya hanya dibatasi menonton televisi satu jam tambahlah menjadi dua
jam dengan pengawasan, atau dari yang sebelumnya sama sekali tidak boleh naik
sepeda bermain dengan temannya izinkanlah untuk keluar rumah sebentar dengan
catatan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. Katakan semua catatan
dengan jelas dan tegaskan harus dipatuhi untuk kesehatan bersama. Dengan
suami, di akhir pekan ajaklah ia berbicara untuk melakukan evaluasi dan
merancang kerja-kerja seminggu ke depannya. Jika harus berbagi peran, sampaikan
apa saja yang menjadi kerja suami, istri, dan anak. Bicarakan
kesulitan-kesulitan yang ibu hadapi, karena jika tidak dengan suami dengan
siapa lagi? Jika tidak bersuami maka bisa mendiskusikannya dengan anak-anak.
Jika tidak demikian jangan harap kita bisa
menenangkan hati dan pikiran. Jangan lupa bermeditasi sejenak jika merasa hati
tidak tenang, kalut, dan sering menyalahkan diri sendiri. Jika rumah
tidak pernah rapi janganlah berkecil hati. Semua bisa diselesaikan dengan
bersama-sama, andaipun tidak bersama suami (karena suami sibuk, ndablek, mau
seenaknya sendiri, tidak punya rasa kasihan dan kasih sayang kepada istri)
maka, coba katakan sekali, dua kali, ketiga kali dan jangan lelah untuk terus
menyampaikannya sambil meminta pengertian kepada anak-anak. Karena, masalah
yang kita hadapi bukan masalah individu. Tetapi masalah bersama. Jika tujuan di
rumah saja adalah supaya sama-sama sehat mengapa kita tega membiarkan ibu,
istri berjibaku sendirian menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendiri. Mari
saling membahu dan membangun kesalingan. Karena, saling mencintai, saling
menyayangi, saling menghormati, menghargai, saling mengasihani, saling membantu
dan saling lainnya yang keduanya aktif akan menciptakan keharmonisan
berkeluarga dan kehidupan bermasyarakat. Salam sehat..
Kustiah

No comments:
Post a Comment