Thursday, October 8, 2020

Mengenang Ali Audah, penerjemah buku fenomenal “Sejarah Hidup Nabi Muhammad”

 

                                                           Foto: Dok pri

Saya mungkin tak akan pernah tahu bagaimana kisah Nabi Muhammad, perjalanan hidupnya, perjuangannya menyebarkan Islam di jazirah Arab yang mengharu biru dan menyesakkan dada jika tidak membaca buku ‘Sejarah Hidup Nabi Muhammad’. Karena, keterbatasan ilmu saya dalam memahami bahasa Arab. Dan saya bersyukur, Ali Audah, penerjemahnya, membantu saya memahaminya dengan mudah. Bahasanya renyah, tidak njlimet sebagaimana bahasa terjemahan kebanyakan.

Nama Ali Audah, penerjemah buku Sejarah hidup Nabi Muhammad akan selalu dikenang sepanjang masa oleh masyarakat yang membaca buku terjemahannya. Di tangannya, buku karangan Muhammad Husain Haekal dengan judul aslinya Hayat Muhammad dapat mudah dipahami pembacanya yang hendak mengetahui lebih dekat perjalanan hidup Nabi Muhammad, ketika lahir hingga masa penyebaran Islam.

Siapa menyangka penerjemah buku fenomenal yang meninggal pada 20 Juni 2017 ini tidak pernah lulus bangku sekolah formal?

Sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya saya berkesempatan menemuinya untuk menggali cerita, bagaimana ia bisa menerjemahkan banyak buku hebat salah satunya Hayat Muhammad padahal tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal? Tulisan hasil wawancara Ali, istri dan keluarganya saya lakukan setahun sebelum kepergiannya. Dan sayang jika cerita tentang Ali tidak saya tulis. Semoga cerita ini menginspirasi pembaca.

*****

Ali yang tak lulus sekolah

                                               Foto: Istimewa

Beberapa tokoh, intelektual dan budayawan menganggap Ali sebagai manusia ajaib. Tak ada duanya. Anak keempat dari empat bersaudara ini hanya sekolah di kelas I madrasah ibtidaiyah dan kelas dua setara dengan sekolah dasar. Namun Ali mampu menguasai berbagai bahasa asing dengan baik, yakni bahasa Arab, Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda. Ali, lahir pada 14 Juli 1924 di Bondowoso, Jawa Timur, dikenal sebagai penerjemah andal. Meskipun karya sastranya tak kalah banyaknya dengan karya terjemahannya.


Ali lahir dari orang tua berketurunan Arab. Bapaknya Salim Audah adalah imam Masjid Agung Bondowoso, seorang ulama dan penulis buku bahasa Arab. Ibunya, Aisyah binti Awad Jubran seorang ibu rumah tangga. Usia Ali sekitar 6 tahun ketika ayahnya wafat. Dan bersama ketiga saudaranya, dua laki-laki yang sudah selesai sekolah madrasah, dan seorang kakak perempuan masih belajar mengaji pada seorang guru ngaji di kampungnya. Sementara Ali baru duduk di bangku madrasah kelas II.

Ali kecil dikenal pandai. Ia murid dengan nilai terbaik saat naik kelas II. Karena nilainya paling bagus Ali diminta menyampaikan pidato mewakili teman-teman sekelasnya di depan beberapa tokoh dan masyarakat setempat. Ali kecil mengingat, usai berpidato ia mendapatkan pena berwana kuning keemasan dan beberapa hadiah lainnya.

Namun, sukacitanya tak berlangsung lama. Suatu hari Ali didorong keras oleh seorang temannya yang membuat ia terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Teman yang sering mengganggunya ini seorang murid besar jangkung yang beberapa kali tak naik kelas. Ali yang bertubuh kecil daun telinganya sering disentil. Kejahilan itu dilakukan temannya berulang-ulang. Karena kesal Ali lantas  membalas dengan meninju mukanya. Temannya menjerit-jerit. Dari mulutnya keluar darah.

"Dia mengadukan ke guru dan tanpa bertanya guru menghukum Bapak. Dia disetrap dan dikurung di dalam kelas," ujar Ade, keponakan Ali,
mengenang cerita Ali kepadanya.

Sejak saat itu Ali tak pernah kembali ke sekolah. Ia memilih 'sekolah' di mana saja. Di halaman depan rumah, di sungai belakang rumah, di ladang, sawah atau saat ia sedang bermain bersama kawan sepermainannya. Mengeja huruf, menuliskannya di tanah, dan menirukan hapalan temannya.

Pernah menyesal telah meninggalkan sekolah saat teman-teman bermainnya satu per satu mulai menghilang karena pergi bersekolah. Tetapi, pantang bagi Ali meratap. 'Tak kan lari gunung dikejar' kutip Ali dari sebuah peribahasa. Ia bertekad belajar sendiri saat teman-temannya pergi ke madrasah.  Mula-mula ia belajar merangkai huruf-huruf arab, lalu diteruskan belajar huruf latin. Belajar ia lakukan sembari bermain gundu. Mencoret-coretkan huruf di atas tanah.

Keras terhadap dirinya sendiri itulah yang Ali lanjutkan hingga usia tuanya. Meski tak belajar di sekolah formal Ali memiliki semangat belajar dan disiplin tinggi. Ia ingat ibunya sering memarahinya karena kerasnya belajar Ali sampai lupa makan dan mandi. Bahkan, karena ulah anak kecil yang masa kecilnya bercita-cita menjadi masinis ini pula dinding, pintu rumah, dan lemari penuh coretan hasil 'pelajaran' yang Ali dapat dari teman-teman bermainnya.

Menginjak remaja dan setelah menguasai huruf latin Ali mulai keranjingan membaca. Tulisan apa saja yang ditemukan di kertas bungkusan gorengan, bungkus belanjaan ia baca. Ia juga sering pergi ke perpustakan di Pemda Bondowoso untuk meminjam buku. Semua buku baik cerita pendek, roman, novel, komik, dan aneka bacaan ia lahap. Ada 'Siti Nurbaya' karya Marah Rusli, 'Di Bawah Lindungan Kabah' karya Hamka, 'Salah Asuhan', dan beberapa karya penulis kondang. Di usianya yang baru belasan tahun Ali sudah bisa membedakan mana bacaan dan karya yang bermutu dan tidak. Terutama setelah membaca kritik sastra yang ditulis H.B Jassin.

"Saya tak bisa membeli buku karena tak punya uang. Jadi solusinya meminjam di perpustakaan," ujarnya mengenang.

****
Membaca banyak karya karangan penulis hebat membuat Ali makin merasa haus ilmu. Ia mulai belajar bahasa asing secara otodidak melalui buku-buku dan dibantu dengan kursus baik bahasa Arab. Ali ingat, meski keturunan Arab tak lantas membuatnya pintar berbahasa Arab. Ia belajar mandiri dan belajar dasar-dasar bahasa Arab dilanjutkan dengan belajar mengetik dari kursus di Soember Ilmu di Bandung sampai tamat. Dari lembaga kursus itulah Ali mendapatkan ijazah. Ijazah yang menjadi satu-satunya bukti bahwa ia lulus belajar dari lembaga formal yang kemudian hilang entah kemana.

Ali menempa dirinya teramat keras. Ia belajar mandiri tak henti-henti dengan terus mengasah bahasanya dengan membaca buku berbahasa Arab dan bahasa Inggris yang ia beli dari penjual buku loakan. Ali juga selalu ditemani kamus-kamus besar dan populer karya pengarang hebat seperti kamus tebal dwi bahasa Arab-Indonesia karangan H Moehammad Fadloellah dan B.Th Brongeest terbitan Balai Pustaka 1935 dalam empat jilid besar. Selain dari buku dan kamus Ali belajar bahasa Arab dari kakak sulung dan kakak iparnya yang pernah bersekolah di Arab.

Untuk mengasah kemampuan bahasanya Ali mencoba menerjemahkan karya sastra. Mulanya menerjemahkan cerpen, novel, dan tulisan pemikir Arab yang ia kirim ke sejumlah media harian seperti Pedoman, Indonesia Raya, Abadi, dan majalah sastra antara lain Horison, Siasat, Zenith dan beberapa lainnya.  Karya buku kumpulan cerpen terjemahannya adalah 'Suasana Bergema', diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1957. Menurut Ade, sekitar tahun 40 an Ali pernah membuat puisi yang dimuat dalam majalah sastra yang terbit di Malang bernama 'Sastrawan’ terbit di Malang, Jawa Timur. Namun, karena Ali tak biasa mendokumentasikan karyanya, puisi dan tulisan-tulisannya yang sudah dimuat di media banyak terserak, hilang tak diketahui rimbanya.

"Itu kelemahan Pak Ali. Dokumentasinya kurang bagus," ujar Ade.

Ali membenarkan bahwa ia bukan termasuk orang yang rajin membuat catatan pribadi dan dokumentasi. Karya-karyanya banyak yang hilang saat ia berpindah-pindah tempat.

****
Dari sastrawan menjadi penerjemah

Sastrawan, penyair, esais, dan sineas Asrul Sani adalah orang yang berpengaruh dalam dunia penerjemahan Ali. Sebelum menekuni penerjemahan Ali dikenal sebagai sastrawan. Karena, dari tangannya lahir puisi, cerpen, dan novel.
Namun, setelah lahir terjemahan Ali dari karya sastra Arab ke bahasa Indonesia,  Asrul mendorongnya supaya lebih fokus menerjemahkan karya sastra Arab.

"Penerjemah karya sastra dari bahasa Inggris sudah cukup banyak," kata Ali mengenang ucapan Asrul yang saat itu mengasuh ruang kebudayaan 'Gelanggang' di Majalah 'Siasat'.

Berkat dorongan Asrul Sani itulah Ali memfokuskan dirinya untuk fokus menerjemahkan karya sastra Arab, meskipun di kemudian hari juga lahir karya terjemahannya dari karya sastra Perancis dan Jerman.

Dari tangannya lahir terjemahan buku fenomenal karya Muhammad Hussain Haikal 'Sejarah Hidup Muhammad' pada tahun 1972. Buku terjemahan ini dicetak hingga belasan kali sampai tahun 90 an.

***
Menjadi direktur dan pendiri perguruan tinggi

Dikenal memiliki kemampuan menguasai beberapa bahasa asing, bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, sebagai penerjemah yang baik, dan memiliki karya yang tak diragukan lagi kualitasnya Ali didaulat pendiri dan penerbit Tintamas Djamil Djambek, kakak ipar Muhammad Hatta, untuk menggantikan posisinya dari 1961-1978.

Selama menjabat sebagai direktur PT Tintamas yang berkantor di Jalan Kramat Raya Ali juga mendirikan Himpunan Penerjemah Indonesia pada 5 Februari 1975 bersama beberapa temannya sesama pengurus Taman Ismail Marzuki, Direktorat Departemen Pendidikan dan Kebudayan, serta perwakilan UNESCO di Jakarta. Dan pada masa-masa yang sama ia mendirikan Universitas Ibnu Khaldun Bogor diajak Sholeh Iskandar, seorang pejuang Islam dan mantan mayor dalam kemiliteran di kisaran tahun 66 an.

**
Sosok serius, low profile yang hidup di antara buku

Sebelum pindah di rumah yang saat ini ditempatinya Ali tinggal di rumah berlantai dua, masih di Kompleks Perumahan Bogor Baru. Menurut Maryam, istri Ali, lantai dua menjadi ruang khusus suaminya. Ruangan seluas 300 meter penuh dengan buku yang tersusun di rak dan yang tertumpuk.

"Semua dinding isinya buku dan kamus," kata Maryam kepada saya.

Menurut Maryam,  suaminya bekerja dengan disiplin yang tinggi. Bangun subuh, jogging satu jam, mandi sarapan lalu memulai bekerja pukul 8 pagi hingga pukul 10 malam. Ali berhenti hanya untuk makan siang, shalat, dan minum teh di sore hari menjelang Magrib. Setelah itu ia akan kembali menghadap komputernya sampai malam.

"Begitu terus sejak muda hingga usia Bapak umur 88 tahun," kata Maryam.

Ali bahkan tak pernah berlibur atau keluar rumah untuk pelesiran. Istrinya hanya keluar rumah jika Ali sedang keluar kota atau keluar negeri. Karena jika suaminya berada di rumah Maryam tak bisa meninggalkannya. Semua makanan dan kebutuhan yang diperlukan Ali Maryamlah yang menyediakan.

Berdasarkan penuturan Ade, keponakan Ali, pamannya adalah orang rumahan. Tak pernah makan atau jajan. Jika berada di rumah makanan apa saja harus buatan istrinya.

"Kecuali sedang di luar kota atau  luar negeri," kata Ade.

Selain serius Ali dikenal sebagai sosok sederhana yang tak suka dielu-elukan. Meski telah memiliki banyak karya Ali menganggapnya sebagai hal biasa. Ia tak pernah bersedia diwawancara oleh siapa pun (kecuali pada 1996 Ali diwawancarai seorang jurnalis dari salah satu media). Kepada jurnalis atau para mahasiswa yang ingin mewawancarai untuk kepentingan skripsi atau penelitian, Ali selalu menyarankan mendatangi Pusat Dokumentasi HB Jassin. Bahkan ketika teman-temannya, Goenawan Mohammad, Taufik Abdullah, dan beberapa temannya ingin membuat buku sebagai hadiah ulang tahun ke 90. Ali lebih suka tak banyak orang membicarakan dan mengelu-elukannya.

"Kalau bukan karena terpaksa dan 'ditodong' Pak Ali tak akan bersedia memberikan sambutan atau berbicara tentang dirinya sendiri," kata Ade.

Oyon Sofyan, Kepala Pusat Dokumentasi HB Jassin, teman dekat sekaligus editor beberapa buku tentang Ali Audah mengatakan, bahwa Ali Audah tak ada duanya. Selain sosok yang sederhana dan Ali menurutnya merupakan satu-satunya sosok yang memiliki disiplin tinggi dan kerja keras di luar batas kebanyakan orang.

"Saya tak menemukan sosok seperti Pak Ali selain Pak Ali sendiri. Beliau saya kira satu-satunya orang yang tak tertandingi kedisiplinan," ujarnya kepada penulis.

Jika tak disiplin dan kerja keras, lanjut Oyon, Ali yang hanya sekolah sampai kelas dua madrasah tak akan mungkin bisa menerjemahkan karya sastra dari berbagai bahasa asing. Apalagi karya pengarang hebat di negaranya masing-masing. Namun, di tangan Ali, semua tak ada yang tak mungkin.

Taufik Abdullah dalam sambutannya saat pemberian penghargaan untuk Ali Audah pada 2015 mengatakan bahwa Ali adalah sosok penting yang berkontribusi besar dalam menerjemahkan karya sastra Arab yang di kemudian hari menjadi karya fenomenal yakni 'Sejarah Hidup Muhammad'. Selain penerjemah hebat, Ali disebut sebagai pengarang kreatif yang disegani.

Taufik mengingat, ia membaca karya terjemahan Ali karya Husein Haikal saat baru pulang dari sekolah di luar negeri. Dan yang membuat Taufik bangga terhadap Ali adalah kemampuan Ali menerjemah bukan hanya kelengkapan riwayat nabi S.A.W tetapi terutama suasana akademis yang   literer dipancarkannya.

"Hal itu sangat saya rasakan karena sejak kecil sampai kuliah saya sudah tahu kisah-kisah nabi, tetapi aneh ketika membaca buku ini (karya terjemahan Ali) semua terasa serba baru saja," ujarnya.


Kustiah


 

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...