Tuesday, November 30, 2021

Wawa dan mamanya

dok.ist



Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekalipun. Dan yang khas dari Wawa, dia selalu mengajak bersalaman kepada siapa saja yang ia temui.

Aku mengenalnya. Setiap pagi pukul 07.00 WIB dia bersama mamanya lewat depan rumah, tepat saat aku sedang menyapu jalan depan rumah. Wawa selalu ikut serta ibunya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di rumah tetangga tak jauh dari rumah. Berangkat pagi pulang sore.

Umur Wawa 6 tahun Januari nanti. Ibunya orang tua tunggal. Ayah Wawa pergi saat bayi mungil yang lahir dengan down syndrom (berkebutuhan khusus) berusia seminggu lebih. Ibu Wawa ingat, usai melahirkan secara sesar suaminya menemui dokter. Seminggu sepulang dari RS suaminya menghilang bak ditelan bumi.

Tak ada kabar, tak ada pemberitahuan apa pun yang diterima ibu Wawa kecuali kedatangan dua laki-laki yang mengaku kenalan suaminya. Dua laki-laki menagih uang yang dipinjam ayah Wawa dengan jaminan surat tanah milik Ibu Wawa. Simpanan hasil kerja keras Ibu Wawa selama dua tahun menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi ludes. 

Ibu Wawa merelakan tabungannya disita karena tak mampu membayar utang yang ditinggalkan ayah Wawa. Kehidupan ibu Wawa ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tak ada yang membantu tak ada yang mendampingi, kecuali saudara Ibu Wawa yang ada di Garut, Jawa Barat yang mau dititipi Wawa saat ibu Wawa memutuskan bekerja sebagai PRT di Bogor. 

"Saya dan anak saya perlu hidup. Kalau tidak bekerja siapa lagi yang bisa menghidupi kami," ujarnya saat berbincang suatu hari.

Beranjak besar Wawa diajak ke Bogor. Mengontrak sebuah rumah petak, tinggal berdua dan kemana-mana berdua termasuk saat bekerja. Beruntung majikan Ibu Wawa baik, membolehkan anak dibawa serta. Jarak 500 meter yang harus ditempuh dari rumah kontrakan ke tempat bekerja kadang dengan jalan kaki, kadang naik mobil angkutan umum tak begitu berat ketimbang berjauhan meninggalkan anak di Garut. 
Namun, badai covid membuat kehidupan Wawa beserta ibunya kembali terombang ambing. Wawa beserta Ibunya terkena covid dan memaksa keduanya harus melakukan isolasi mandiri selama dua minggu lebih. 
Dan yang lebih membuat Ibu Wawa bersedih, saat dinyatakan negatif dan hendak kembali bekerja majikan memberitahu menghentikan mempekerjakannya kecuali ibu Wawa bekerja tanpa membawa serta Wawa.

Karena kalut suatu hari Ibu Wawa berencana menitipkan anaknya ke panti asuhan. Kondisi Wawa yang berkebutuhan khusus tak memungkinkan ditinggal seorang diri di kontrakan, apalagi masih anak-anak. Tak memungkinkan pula dititipkan ke saudaranya karena gajinya tak akan cukup untuk membayar saudaranya dan menghidupi anaknya.

"Saya bingung dan merasa seperti tidak ada pilihan lain," kata bu Ade, ibu Wawa .

Di tengah kehidupan yang serba sulit Ibu Wawa jelas bukan wonder women yang bisa membalikkan hidupnya supaya kembali baik-baik saja. Sebelum menikah dengan ayah Wawa, bu Ade pernah punya keluarga dan memiliki empat anak. Namun, karena ia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan mengajukan gugatan cerai, suami memaksanya keluar rumah.

Saat itu, ia merasa kehilangan segalanya, juga  kehidupannya. Kehilangan rumah yang ia bangun dari jerih payah selama menjadi buruh garmen dan kehilangan anak-anaknya, keempatnya. 

"Supaya saya tidak gila, saya memilih bekerja sebagai TKW. Sekalian jauh," ujarnya.

Berulang kali mantan suaminya mengajaknya rujuk, namun rupaya ia tak bisa melupakan peristiwa traumatik KDRT yang pernah dialaminya.

Dua tahun menjadi TKW Bu Ade pulang ke Indonesia dan bertemu lelaki, menikah, dan dialah ayah Wawa.

Hidup di tengah budaya patriarki yang cukup kuat membuat perempuan rentan menjadi korban KDRT, diabaikan, ditelantarkan dan menjadi pihak yang mudah disalahkan dan sering kali kehidupannya dirugikan. 

"Seandainya keluarga mantan suami dulu ikut menyelematkan saya saat saya disiksa suami, mungkin saya akan berusaha mempertahankan rumah tangga," katanya.

Saat peristiwa KDRT terjadi yang diingat Bu Ade, keluarga suaminya justru membela suaminya. 

"Keluarganya malah menyebut KDRT yang dilakukan mantan suami karena khilaf" ujarnya.

Kustiah

Monday, November 29, 2021

Perempuan di antara ketik dan ketuk

Dok.Istimewa




Tik tik tik...berusaha konsentrasi. Mengetik, membaca, mengetik..tik tik tik.

Anak yang kecil terbangun. "Ibu sedang mengerjakan tesis?"

"Iya nak...." jawab ibu.

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Udara masih terasa dingin. Anak bangun hanya berpindah tempat tidur, dari kamar ke sofa mendekati ibunya.

Tik tik tik..ketak ketik ketik..tak terasa sudah pukul 7. Ibu bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan. 

"Sreng sreng sreng..bresssttt.." suara akrobat di dapur.

Kedua anak sudah bangun dan duduk di kursi makan. Mereka minum, lalu drama sampai keduanya selesai mandi. Bersiap sarapan lalu mengantarkan keduanya berangkat sekolah. Pukul 10.00 kembali ke rumah, mandi lalu melanjutkan mengetik, membaca, beres-beres dan pukul 12 menjemput anak pulang sekolah. Dan bersama mereka kembali di rumah. Mengetik jelas tak mungkin. Anak-anak makan, bersih-bersih badan, lalu mulai beraktivitas. Yang kecil siap-siap tidur siang, yang besar menonton televisi. 

Ibu memanfaatkan jeda waktu untuk mengetik. Tak tik tuk tak tik tuk...

Datang anak yang besar. "Bu, hidungku mampet..". Ibu bergegas ke dapur, mengiris jeruk nipis, memerasnya, merebus air hangat, menuangkannya ke gelas, menambah gula setengah sendok ke dalam gelas.

"Duduk sini kak..minum pelan2 selagi hangat. Ibu melanjutkan mengetik ya." Anak mengangguk sambil menyeruput jeruk nipis hangat.

Ibu duduk kembali. Menatap laptop, membaca dan tik tik tik....

Tak lama kemudian anak yang kecil datang. "Ibu aku lapar..". 
Ibu kembali ke dapur, memasukkan bakso ikan ke dalam sayur sop, menghangatkannya dan menghidangkannya dalam sebuah mangkok. Menyeplok telur dan menyiapkan teh hangat. Juga menyiapkan makanan untuk kakak yang sedang flu. 

"Habiskan sopnya ya, makan yang banyak supaya kakak lekas sehat. Adik yang semangat makan supaya tidak tertuar flu kakak. Ibu melanjutkan mengetik ya..". Kedua anak mengangguk.

Ibu kembali ke laptop. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Waktunya anak-anak mandi. Dan kehebohan tiap sore terjadi. 

"Ibu jangan ngetik terus. Aku pingin main sama ibu," rengek yang kecil. 

"Ibu juga pingin main sama adik dan kakak. Beri waktu ibu menyelesaikan tugas ibu ya. Kalau sudah selesai nanti kita jalan-jalan, main bersama".

Menyelesaikan ritual sore sampai pukul 8 malam. Menyiapkan tempat tidur, mengondisikan anak tidur lebih cepat. Anak yang besar tak perlu waktu lama untuk tertidur pulas. Sementara yang kecil tidak akan tidur jika ibunya tak berbaring di sisinya, membacakan cerita pengantar tidur. 

Anak dan ibu tertidur. Pukul 11 malam ibu terbangun. Mata berurai air tanda menyerah pada bantal. Menyerah memeluk guling sampai suara pembuka pagi bersahutan.
Ibu terbangun, kembali duduk. Kadang membaca, kadang kebingungan seorang diri, terkadang menyerahkan diri terseret pada bacaan. Sekadar lari, mengisi kepala supaya tak kebingungan. Lalu waktu berputar dengan cepat. Mengejar, meninggalkan, melambaikan tangan sepanjang waktu.

Ini menjelang bulan keenam yang seharusnya tugas itu sudah selesai dan dikumpulkan. Seharusnya pula ibu dan anak sudah bisa bermain tenang tanpa merasa bersalah. Sore berganti malam dan malam berganti pagi.

Di sinilah ibu sering merasa bersalah. Merasa gagal belum menyelesaikan yang sudah dimulai. Membiarkan waktu meninggalkannya dan menyerahkan diri kepada kesempurnaan yang tak mungkin tergapai.

#HariAnti Kekerasan Terhadap Perempuan#marimembersamaiperempuan#tumbuhbersama#berdaya bersama

Akhir November, 2021
Bogor

 

Friday, March 5, 2021

Nasib Petani dan Mimpi Menikmati Canggihnya Teknologi

 


            Dok. Pri

Baru saja mendapat telepon dari ibu di kampung. Mengeluh sedang suloyo karena padi yang sudah saatnya panen tak bisa dipanen karena mesin kombi, mesin pemotong dan pengayak padi, tidak ada. 

"Iki bapakmu bingung, petani-petani di kampung do tangisan," suara Ibu terdengar membuat panas telinga.

Seminggu yang lalu ada pemilik kombi yang sudah berjanji akan memotong menggilingkan padi milik bapak dan hektaran padi milik tetangga. Tetapi sampai hari H Bapak menunggu mesin kombi tak kunjung datang. Dapat kabar kombi sedang rusak. Sementara satu mesin kombi milik yang lain sedang sibuk menggasak hektaran padi di sawah lainnya.  

Sebelumnya tidak pernah ada keluhan seperti ini saat para petani menggunakan dos-dosan, alat pemotong dan pengayak padi manual yang mengandalkan putaran pedal supaya paku-paku panjang yang menacap di setiap ruji kayu berputar. Dulu, sebelum ada kombi sekitar empat tahun lalu, petani malah bersuka cita begitu panen tiba. Mereka bahagia menyaksikan para tukang angkut berjejer mengangkat berkarung-karung padi untuk ditimbang. Sekarang?

Atas nama kemajuan katanya segala hal harus bertransformasi, termasuk teknologi pertanian. Mengutip kata dosen IPB University, Profesor Kudang Boro Seminar dalam sebuah kuliah di kelas, teknologi harus memudahkan, menggantikan kerja-kerja yang tidak layak dikerjakan manusia. 

"Biarlah teknologi yang menggantikan pekerjaan yang selama ini tidak manusiawi. Manusia hidupnya bisa lebih berkualitas," ujarnya.

Prof Kudang mencontohkan teknologi pemotong sawit yang diciptakan oleh IPB. Saat kunjung lapang ke perkebunan kelapa sawit Prof Kudang melihat banyak petani sawit punggung dan lehernya sampe bongkok karena melakukan pekerjaan berat memotong, memilah sawit yang seharusnya bisa dikerjakan mesin, dengan kecanggihan teknologi. Begitu pula di sektor pertanian. 

Dalam sebuah pidato menyambut hari ulang tahun RI pada tahun 2019 Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa hambatan besar kemajuan di sektor pertanian adalah karena ketertinggalan di bidang teknologi. Berdasarkan hasil Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2014-2019 Jokowi menyampaikan sektor pertanian harus mengejar ketertinggalan dengan menggaungkan teknologi 4.0. Dan Kementerian Pertanian segera meluncurkan produk teknologi berupa drone penabur benih, mesin penanam padi, dan aneka teknologi lainnya. Termasuk teknologi pemotong padi dari dos bertransformasi menjadi kombi. Lantas, apakah petani sudah merasakan nikmatnya menggunakan teknologi canggij?
Suara Ibu dan Bapak saya di ujung telepon bersahutan berdebat tentang kesulitan yang mereka hadapi saat ini.

"Hektaran padi di sawah milik para petani di kampungmu terancam tak bisa dipanen. Mereka bersusah payah mencari cara supaya padi yang telah tua bisa sampai rumah dengan entah bagaimanapun caranya," suara Ibu mendenging-denging. 

Sejak ada kombi dos-dosan sudah teronggok terisiakan, berkarat meratapi nasib dirinya dan tuannya. Jika manisnya kabar bahwa kecanggihan teknologi membuat bahagia tak kunjung terwujud, bukan tak mungkin dos-dosan yang karatan kembali dipaksa menggiling padi. Itu pun jika masih ada. Bisa jadi kayu-kayunya telah patah atau telah terbuang karena sisa rayap.

Petani oh petani, sampai kapan nasibmu pedih sepanjang hayat seperti ini. Memilih bahagia sejenak saja tak bisa.

Bogor, Maret. Kesal pun tiada guna



Saturday, February 13, 2021

Rindu itu berwujud senja

 

                                            Ilustrasi senja Dok.Pixbay


Jika burung saja merasa tenteram saat berkumpul bersama keluarganya, saudaranya, dan sahabat-sahabatnya, bagaimana aku?

Kulihat mereka berputar-putar di atas genteng tetangga dengan latar langit senja berwarna jingga. Kudengar mereka bercuit bersahutan. Kuduga mereka saling bercerita. Menceritakan pengalaman seharian berkelana mencari makan.

Melihat dan mendengarnya berderecit bercuit membuat mataku basah. Apalagi menatapnya dalam samar jingga yang mulai terbenam gelap. Aku mengingatmu yang jauh di sana. Di negeri orang dengan udara, perasaan, dan semangat yang semuanya berbeda. Di sana suhu udara sedingin lemari es. Perasaanmu bercampur aduk. Tak jauh berbeda dengan yang kami rasakan. Kukira kita bisa melewati semua dengan ketenangan, tetapi yang terjadi justru keharusan untuk saling menguatkan. Aku menangisi kepergianmu karena sebenarnya aku tidak begitu kuat untuk hidup sendiri. Meski bersama di rumah kita hanya bertemu saat sarapan, makan siang dan malam yang serba terburu-buru. Atau aku lebih banyak komplain, mengkritik, setengah marah atau kadang marah sungguhan karena beberapa alasan yang tak bisa kuselesaikan sendiri atau karena kecewa. Atau kamu lebih banyak menghabiskan waktumu untuk bekerja, belajar yang setelahnya kau tebus dengan ajakan bepergian saat akhir pekan. Meskipun sebulan sebelum kepergianmu bepergian itu lebih banyak untuk kepentinganmu, yaitu ke dokter gigi. 

Tetapi, dari semua itu keriuhan itu setidaknya ada suaramu yang selalu terdengar. Ada wujudmu hadir. Ada suaramu yang menenangkan. Dan ada semangatmu yang membuat suasana selalu riang.

Suatu kali sehari setelah kepergianmu anakmu menangis. Seorang diri menatap teras yang tampak sepi.Ia mengusap perlahan matanya, kulihat dari belakang ia berusaha mencoba tegar. "Sunyi sekali dunia ini Bu.." begitu katanya menerjemahkan rumah yang langsung terasa senyap setelah satu jam kepergianmu.

Setelahnya anakmu yang kecil berbaring di atas sofa. Dia membuka pembicaraan dengan menceritakan bahwa keramaian di rumah sebenarnya karena lebih banyak terdengar suara ayahnya yang tertawa saat rapat dengan teman-teman kantornya atau berbicara dalam sebuah diskusi.

"Dan sekarang di rumah  suara ayah tidak terdengar lagi Bu.." katanya.

Aku diam. Berusaha mendengarkan. Dalam diam kuhapus air mata dengan kaos yang kukenakan. Lalu mengajak mereka sholat maghrib berjamaah. Usai sholat kupeluk mereka berdua sambil kukatakan agar kita saling menguatkan selama ayah tidak ada di rumah.

Kukira aku kuat. Apalagi ada teknologi. Kapan pun kita bisa menghubungimu, menanyakan kabarmu, lalu menceritakan kegiatan seharian. Tetapi, nyatanya tidak. Meskipun  teknologi benar menjawabnya, perasaan tidak bisa diterjemahkan teknologi setiap saat. Saat berbicara denganmu melalui telepon yang kukatakan hanyalah yang tampak. Seperti membaca komposisi bahan mi instan, aku tak mengalami kesulitan saat menceritakan bagaimana anak kita yang besar mulai mandiri mengerjakan tugasnya, tak perlu didampingi. Dan yang kecil, lebih sering banyak mengerti ibunya. Memberi kecupan saat melihat wajah ibunya bersedih. Atau segera bergegas jika ibunya memintanya melakukan sesuatu, misal menyuruhnya mandi atau menyuruhnya membereskan mainannya yang berserak. 

Dan gelap telah menyuruh sekawanan burung pergi. Mengingatkan untuk segera beristirahat, bergumul dalam senyap dan gelap. Esok akan ada sinar yang menemaninya lagi. Jadi, tanpa ragu burung-burung yang berderecit pun berlalu. 

Selamat malam gelap. Esok kita berjumpa kembali.

 

Bogor, medio Februari 2021.

 

Dalam sunyi kupanjatkan doa semoga engkau di sana baik-baik saja.. dan kami yang selalu menunggumu.

 

Thursday, February 11, 2021

Cerita persahabatan N

 

 

                                           Ilustrasi pertemanan Dok. Pixbay


N: Bu, apakah benar orang Inggris beragama Kristen semua?

Pertanyaan di atas dilontarkan N, anak wedok sepulang bermain bersama teman-temannya.

Tidak dong kak, jawabku. Sama kayak di Indonesia, tidak semua orang Indonesia beragama Islam. Ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya, ada yang beragama Budha seperti Cicik, ada yang Islam seperti Najma dan teman-teman di sekolah. Begitu pula di luar negeri seperti di Inggris. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan agama lainnya. 

"Aku sudah menjelaskan begitu ke E Bu," kata N.

"Tapi E tetap ngeyel. Dia bilang kata Ibunya orang Inggris Kristen semua," ujar N melanjutkan.

Selain sering membahas tentang agama, di usianya yang enam tahun E sering menegur N dan adiknya yang tidak menggunakan kerudung saat bermain. Belakangan N juga mengaku kesal karena E menasehatinya untuk tidak bermain bersama anak laki-laki. Katanya bukan muhrim.

"Kamu tidak punya Ibu ya?" kata N menirukan kata-kata E ke N. Kalau punya Ibu, pasti ibumu menasehatimu. 

Dan sore itu saat anak-anak terdengar ribut, kudengar N dengan suara keras berusaha menjelaskan.

"Bermain bisa dengan siapa saja. Kata Ibuku, nggak apa-apa bermain dengan anak laki-laki. Yang penting nggak boleh berantem," suara N dengan intonasi tinggi dan karena setengah berteriak aku mendekat karena penasaran. Teman N ada yang membela N ada pula yang membela E, dan ada yang berusaha menenangkan. 

 

Perkawanan N dengan teman-temannya di perumahan memang pasang surut. Namanya anak-anak. Setelah bertemu bermain, bercerita dengan teman-temannya N menemukan banyak hal baru. Sepulang bermain N biasanya menceritakan pengalaman-pengalamannya bermain bersama teman-temannya. Salah satunya tentang percakapan sore itu bersama temannya. 

Kami tinggal di tipe perumahan sederhana. Bahkan bisa disebut sangat sederhana sekali, malah bisa disebut mirip sebuah perkampungan tetapi rumahnya berdempet dempet.hehe. Karena jalannya masih acak adut dan aneka binatang seperti ayam, anjing, burung, dan berjibun kucing semua ada.

Kami juga datang dari beragam agama, budaya, dan tentunya latar belakang. Dulu N merasa nyaman memiliki teman seusia yang rumahnya beda gang. Tak ada yang aneh dengan pertemanan N dengan V beserta kakak adiknya. Meskipun berbeda agama, persahabatan antara N dengan V bersaudara lebih dibangun karena sejumlah pengertian. Jika V bercerita N akan mendengarkan dan sebaliknya. Keduanya, juga terhadap kakak dan adik V, N sangat dekat dan merasa nyaman. Sayang, persahabatan mereka secara fisik tak berlangsung lama karena keluarga V harus pindah ke luar kota karena tuntutan pekerjaan ayah V. N dan adiknya menahan tangis dan sedih karena kehilangan V dan saudara-saudaranya selama berhari-hari. 

Selama masa sedih karena ditinggal V dn keluarganya pergi entah bagaimana ceritanya N tiba-tiba punya kenalan tetangga baru yang baru pindah. H, anak lelaki setahun lebih tua dari N. N bersama adiknya Q sering mengajak H datang ke rumah. Keluarga H bekerja, dia biasanya tinggal sendiri di rumah, jadi H lebih sering bermain bersama N di rumah kami. Karena anaknya berperangai halus, bicaranya baik, dan anaknya baik saya sebagai Ibunya tak keberatan N berteman dengan H, termasuk sering melihat H bermain di rumah. Saya tak pernah melarang atau membatasi N dan Q dalam memilih teman. Justru mereka sering kufasilitasi dengan memilihkan buku bacaan anak-anak, menyediakan white board dan spidol, juga menyediakan makan untuk mereka jika jam makan tiba atau camilan untuk ngemil.

Namun, usai H sunat semua kembali berubah. N dan Q kehilangan sosok H. H tidak pernah lagi datang ke rumah. Atau H tidak pernah ada di rumah jika N dan Q mendatangi rumah H. Usut punya usut H sekarang lebih banyak bermain bersama kakak E, yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki.

 

"H sudah nggak mau bermain lagi sama kita Bu. Dia setiap hari bermain sama A, kakak E," kata N dengan muka lesu. Lalu sebagai ibunya saya berusaha menjelaskan untuk sekadar menenangkan N dan Q, mungkin H sering berada di rumah A karena rumah mereka berdekatan.

Tetapi lagi-lagi, karena anak-anak punya dunianya sendiri N dan Q tak lama kemudian mempunyai teman baru lagi. Dia tetangga E dari gang belakang. Tetapi perteman mereka tak berlangsung lama. Teman barunya, A dan kakaknya D sering terdengar memulai ceritanya dengan " mobilku mewah dong. Kok mobilmu butut". Atau "aku punya rumah mewah". Tak mau kalah, Q, adik N yang berusia lima tahun selalu menimpali "rumahku juga mewah". 

"Tapi mobil dan sepedamu butut," ujar A.

Dan pertemanan antara N dan Q dengan A dan kakaknya semakin lama kuperhatikan semakin renggang. Usai bermain dengan A dan D, N dan Q lebih sering bercerita hal-hal  yang membuat mereka kesal dan jengkel ketimbang cerita-cerita yang menyenangkan. Suatu kali N dan Q bercerita, saat bersepeda melewati rumah A, ayahnya A yang sedang berada di teras meneriaki N dan Q. "Yeeey..sepedamu mah butut," kata N dan Q menirukan ucapan ayah A.

Dan dengan pilihan N dan Q sendiri mereka memilih tinggal di dalam rumah. Jika keluar rumah mereka memilih bersepeda di gang depan rumah, tidak lagi bermain sepeda di gang belakang. 

Dan pertemanan N dengan A dan kakaknya putus setelah insiden ayahnya A terlibat percekcokan dengan tetangga. Tampaknya ayahnya melarang anak- anaknya bermain ke luar rumah.

Suatu kali saat A bersepeda lewat di depan rumah, kakaknya yang ada di belakangnya berteriak " Adik, papa melarang kita berhenti (bermain) di sini. Ayo goes terus," ujar D, kakak A meneriaki adiknya.

Begitulah cerita pertemanan N dan Q bersama teman-teman sekompleknya. Di mana orang tua teman N ada yang bercadar seperti ibunya E, ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya dan dengan berbagai karakter. Sekarang N menemukan teman baru, bernama K. Kita lihat apakah mereka akan menjadi sahabat baik sebagaimana N dan Q bersahabat dengan V dan saudara-saudaranya. Karena suatu kali kudengar cerita dari Q bahwa K menoyor kepala Q. Karena K usianya tiga tahun lebih tua dari Q kuberitahu K jika bermain tidak boleh melakukan kekerasan. Andaipun usianya sebaya dengan Q, kekerasan juga tidak diperbolehkan. Prinsip bermain dan bersahabat harus saling mengasihi, baik, pengertian satu sama lain.

Sama seperti cerita N..berkehidupan tak akan jauh dari masalah. Seperti kehidupan orang dewasa, jika tidak saling mengerti, menghargai, tidak membangun sikap kesalingan, alarm kehidupan kita akan berbunyi. Bisa saja bunyinya adalah mengingatkan kita untuk bersabar atau untuk menarik diri, atau mengingatkan untuk tetap melanjutkan pertemanan dengan catatan koreksi di sana sini.

Apalagi usia semakin bertambah. Persahabatan seperti kehidupan sebuah pohon. Jika ranting kuat maka daun dan bunga akan mempercantik pohon. Tetapi jika ranting rapuh, pohon tidak perlu mempertahankannya jika ia ingin patah dan gugur...

Begitu pula kehidupan dan persahabatan.

 

Bogor, medio Februari 2021

 


Tuesday, November 17, 2020

Kekerasan anak di sekitar kita




                                              Dok.iStock. Ilustrasi kekerasan terhadap anak                                             


Hari ini saya belajar satu hal penting. Kekerasan mengancam kehidupan, masa depan anak, dan tidak bisa didiamkan

*****

Entah, mimpi apa saya semalam. Pagi ini saat mengantar anak tatap muka di sekolah saya menjumpai peristiwa yang membuat hati terguncang. Sebelum masuk kelas saya ke toko kelontong yang letaknya di depan sekolah persis. Maksud hati hendak membeli plester karena jari luka usai teriris pisau saat memasak. Dan hendak membeli susu kotak untuk anak. Di warung ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dan bapaknya berusia sekitar 45 tahun. Karena sang bapak sibuk saya menyampaikan kepada anak kalau saya membeli plester. 

Namun sang anak tampak bingung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Saya menunjukkan kepada anak kalau plester hansaplast menggantung di pojok tak jauh dari tempat dia berdiri. 

"Itu bang plesternya ada di belakang abang," kata saya. 

Bapak yang sedari saya datang tampak duduk lalu berdiri melayani pembeli lain tiba-tiba mendekati anak lelakinya. 

"Ini anak sudah kelas 6 tapi tidak bisa membaca Bu.. " ujarnya. 

"Nggak apa-apa pak, mungkin memang nggak tahu tempat plesternya," masih kata saya menenangkan anak dan bapak yang tampaknya menahan amarah. 

Sambil menarik hansaplast dengan kasar bapak menyabetkan serenceng hansaplas ke muka anak. Secepat kilat. Anak ketakutan, menangis terisak. Saya kaget. Tak menyangka bapaknya yang sedari saya datang matanya melotot tampak marah bisa berbuat kasar dan dengan mudah menganiaya anaknya.

"Sabar Bapak. Tenang Bapak. Tenang...," lidah seperti tercekat saya berusaha menenangkan bapaknya. Jika tidak terhalangi kotak tempat etalase beras ingin rasanya saya mendekap anak itu dan menantang bapaknya. 

Kedua anak saya yang berada tepat di depan anak yang disabet bapaknya spontan memegangi tangan saya.

"Dia sudah kelas 6 tapi nggak bisa baca. Kerjaannya main hape terus. Bikin malu saja," Bapaknya melanjutkan.

"Sabar Bapak..belajar itu pelan-pelan Pak. Bapak yang sabar, nanti lama-lama anak mengerti," ujar saya masih berusaha menenangkan. Dan "Bukkkk..." tangan kanannya menghantam dada anaknya dengan keras. Tak lama kemudian kakinya menginjak kaki anaknya dengan menghentakkan kakinya keras-keras. Berkali-kali. 

Saya berteriak reflek. "Bapak, tolong tenang ya pak". Anak kuperhatikan terisak sambil berteriak. Ia ketakutan dan seperti menahan sakit. Saya tak tahu. Saya terus berusaha memohon Bapaknya untuk tidak kasar kepada anaknya. Saya berusaha dengan tenang, memohon kepada sang Bapak untuk mengasihani anaknya. Kuperhatikan pembeli lain bergegas membayar lalu pergi. Seorang perempuan berceloteh "Galak banget Pak..".

Ingin rasanya saya memarahi Bapaknya, tetapi posisi anak yang lebih dekat dengan Bapaknya dan posisi saya yang terhalang dengan etalase membuat saya tidak berkutik. Saya khawatir jika saya memarahinya anak akan ditonjok dan diinjak kembali. 

Saya berusaha mengalihkan kemarahannya dengan bertanya berapa harga plester dan susu. Kepada saya Bapak berbicara dengan sopan, masih berusaha menekan kemarahannya. Sambil menerima uang kembalian kukatakan kepada Bapak untuk bersabar. Saya bingung. Jika pergi saya khawatir sang bapak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi jika tidak pergi saya khawatir bapaknya makin emosi. Saya hanya meninggalkan pesan kepada sang bapak supaya bersabar. 

Peristiwa ini mengguncang batin saya. Kepada tetangganya saya meminta tolong untuk mengawasi anak bapak yang punya toko. Jika di depan pembeli saja bapaknya tega menganiaya anaknya saya membayangkan bagaimana jika ia marah kepada anaknya di dalam rumah  hanya berdua saja. Siapa yang akan melindungi anaknya. Menurut pembeli sebelum saya, sang bapak mengatakan kalau istrinya sudah meninggal. "Anak saya piatu. Ibunya sudah meninggal" ujar pembeli yang datang sebelum saya menirukan bapaknya.
Namun, kata tetangganya ibu sang anak (istri bapak penjual toko) pergi entah kemana.

Menurut teman-teman saya harus bagaimana? Karena, membiarkan sang anak yang tinggal bersama bapaknya yang saya anggap keji sama artinya saya membiarkan kekerasan terjadi. Ancaman kekerasan terhadap anak. Entah esok atau nanti pasti kekerasan akan terjadi jika tidak diputus dengan cara mengajak Bapaknya berbicara baik-baik. Sepanjang jalan pikiran saya berkecamuk. Mengingat wajah bapaknya yang beringas dan melihat wajah anaknya yang ketakutan membuat saya terguncang. Dalam perjalanan saya membelokkan motor ke rumah kenalan. Entahlah, saya hanya ingin menenangkan diri. Ingin berpikir tenang mencari cara bagaimana bisa menemui bapak supaya tidak berbuat kekerasan dan ingin menolong mengajari anak supaya bisa membaca... 

Tuhan...mohon ampun. Tidak seharusnya saya menjadikan pandemi, pagebluk corona ini sebagai kambing hitam kekerasan. Saya sendiri memahami bahwa pandemi ini memang tak mudah. Tetapi, bukankah semua gelisah, kemarahan ini tidak seharusnya kita luapkan kepada anak-anak tak berdosa. Bukankah tidak sepatutnya kemarahan, kejenuhan, kekesalan ini kita lampiaskan kepada anak-anak yang tidak berdaya. Tuhan.. berilah petunjuk-Mu.. 

Catatan sore, November kelabu Selasa, 17/11/2020.17.00 WIB

Thursday, October 8, 2020

Mengenang Ali Audah, penerjemah buku fenomenal “Sejarah Hidup Nabi Muhammad”

 

                                                           Foto: Dok pri

Saya mungkin tak akan pernah tahu bagaimana kisah Nabi Muhammad, perjalanan hidupnya, perjuangannya menyebarkan Islam di jazirah Arab yang mengharu biru dan menyesakkan dada jika tidak membaca buku ‘Sejarah Hidup Nabi Muhammad’. Karena, keterbatasan ilmu saya dalam memahami bahasa Arab. Dan saya bersyukur, Ali Audah, penerjemahnya, membantu saya memahaminya dengan mudah. Bahasanya renyah, tidak njlimet sebagaimana bahasa terjemahan kebanyakan.

Nama Ali Audah, penerjemah buku Sejarah hidup Nabi Muhammad akan selalu dikenang sepanjang masa oleh masyarakat yang membaca buku terjemahannya. Di tangannya, buku karangan Muhammad Husain Haekal dengan judul aslinya Hayat Muhammad dapat mudah dipahami pembacanya yang hendak mengetahui lebih dekat perjalanan hidup Nabi Muhammad, ketika lahir hingga masa penyebaran Islam.

Siapa menyangka penerjemah buku fenomenal yang meninggal pada 20 Juni 2017 ini tidak pernah lulus bangku sekolah formal?

Sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya saya berkesempatan menemuinya untuk menggali cerita, bagaimana ia bisa menerjemahkan banyak buku hebat salah satunya Hayat Muhammad padahal tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal? Tulisan hasil wawancara Ali, istri dan keluarganya saya lakukan setahun sebelum kepergiannya. Dan sayang jika cerita tentang Ali tidak saya tulis. Semoga cerita ini menginspirasi pembaca.

*****

Ali yang tak lulus sekolah

                                               Foto: Istimewa

Beberapa tokoh, intelektual dan budayawan menganggap Ali sebagai manusia ajaib. Tak ada duanya. Anak keempat dari empat bersaudara ini hanya sekolah di kelas I madrasah ibtidaiyah dan kelas dua setara dengan sekolah dasar. Namun Ali mampu menguasai berbagai bahasa asing dengan baik, yakni bahasa Arab, Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda. Ali, lahir pada 14 Juli 1924 di Bondowoso, Jawa Timur, dikenal sebagai penerjemah andal. Meskipun karya sastranya tak kalah banyaknya dengan karya terjemahannya.


Ali lahir dari orang tua berketurunan Arab. Bapaknya Salim Audah adalah imam Masjid Agung Bondowoso, seorang ulama dan penulis buku bahasa Arab. Ibunya, Aisyah binti Awad Jubran seorang ibu rumah tangga. Usia Ali sekitar 6 tahun ketika ayahnya wafat. Dan bersama ketiga saudaranya, dua laki-laki yang sudah selesai sekolah madrasah, dan seorang kakak perempuan masih belajar mengaji pada seorang guru ngaji di kampungnya. Sementara Ali baru duduk di bangku madrasah kelas II.

Ali kecil dikenal pandai. Ia murid dengan nilai terbaik saat naik kelas II. Karena nilainya paling bagus Ali diminta menyampaikan pidato mewakili teman-teman sekelasnya di depan beberapa tokoh dan masyarakat setempat. Ali kecil mengingat, usai berpidato ia mendapatkan pena berwana kuning keemasan dan beberapa hadiah lainnya.

Namun, sukacitanya tak berlangsung lama. Suatu hari Ali didorong keras oleh seorang temannya yang membuat ia terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Teman yang sering mengganggunya ini seorang murid besar jangkung yang beberapa kali tak naik kelas. Ali yang bertubuh kecil daun telinganya sering disentil. Kejahilan itu dilakukan temannya berulang-ulang. Karena kesal Ali lantas  membalas dengan meninju mukanya. Temannya menjerit-jerit. Dari mulutnya keluar darah.

"Dia mengadukan ke guru dan tanpa bertanya guru menghukum Bapak. Dia disetrap dan dikurung di dalam kelas," ujar Ade, keponakan Ali,
mengenang cerita Ali kepadanya.

Sejak saat itu Ali tak pernah kembali ke sekolah. Ia memilih 'sekolah' di mana saja. Di halaman depan rumah, di sungai belakang rumah, di ladang, sawah atau saat ia sedang bermain bersama kawan sepermainannya. Mengeja huruf, menuliskannya di tanah, dan menirukan hapalan temannya.

Pernah menyesal telah meninggalkan sekolah saat teman-teman bermainnya satu per satu mulai menghilang karena pergi bersekolah. Tetapi, pantang bagi Ali meratap. 'Tak kan lari gunung dikejar' kutip Ali dari sebuah peribahasa. Ia bertekad belajar sendiri saat teman-temannya pergi ke madrasah.  Mula-mula ia belajar merangkai huruf-huruf arab, lalu diteruskan belajar huruf latin. Belajar ia lakukan sembari bermain gundu. Mencoret-coretkan huruf di atas tanah.

Keras terhadap dirinya sendiri itulah yang Ali lanjutkan hingga usia tuanya. Meski tak belajar di sekolah formal Ali memiliki semangat belajar dan disiplin tinggi. Ia ingat ibunya sering memarahinya karena kerasnya belajar Ali sampai lupa makan dan mandi. Bahkan, karena ulah anak kecil yang masa kecilnya bercita-cita menjadi masinis ini pula dinding, pintu rumah, dan lemari penuh coretan hasil 'pelajaran' yang Ali dapat dari teman-teman bermainnya.

Menginjak remaja dan setelah menguasai huruf latin Ali mulai keranjingan membaca. Tulisan apa saja yang ditemukan di kertas bungkusan gorengan, bungkus belanjaan ia baca. Ia juga sering pergi ke perpustakan di Pemda Bondowoso untuk meminjam buku. Semua buku baik cerita pendek, roman, novel, komik, dan aneka bacaan ia lahap. Ada 'Siti Nurbaya' karya Marah Rusli, 'Di Bawah Lindungan Kabah' karya Hamka, 'Salah Asuhan', dan beberapa karya penulis kondang. Di usianya yang baru belasan tahun Ali sudah bisa membedakan mana bacaan dan karya yang bermutu dan tidak. Terutama setelah membaca kritik sastra yang ditulis H.B Jassin.

"Saya tak bisa membeli buku karena tak punya uang. Jadi solusinya meminjam di perpustakaan," ujarnya mengenang.

****
Membaca banyak karya karangan penulis hebat membuat Ali makin merasa haus ilmu. Ia mulai belajar bahasa asing secara otodidak melalui buku-buku dan dibantu dengan kursus baik bahasa Arab. Ali ingat, meski keturunan Arab tak lantas membuatnya pintar berbahasa Arab. Ia belajar mandiri dan belajar dasar-dasar bahasa Arab dilanjutkan dengan belajar mengetik dari kursus di Soember Ilmu di Bandung sampai tamat. Dari lembaga kursus itulah Ali mendapatkan ijazah. Ijazah yang menjadi satu-satunya bukti bahwa ia lulus belajar dari lembaga formal yang kemudian hilang entah kemana.

Ali menempa dirinya teramat keras. Ia belajar mandiri tak henti-henti dengan terus mengasah bahasanya dengan membaca buku berbahasa Arab dan bahasa Inggris yang ia beli dari penjual buku loakan. Ali juga selalu ditemani kamus-kamus besar dan populer karya pengarang hebat seperti kamus tebal dwi bahasa Arab-Indonesia karangan H Moehammad Fadloellah dan B.Th Brongeest terbitan Balai Pustaka 1935 dalam empat jilid besar. Selain dari buku dan kamus Ali belajar bahasa Arab dari kakak sulung dan kakak iparnya yang pernah bersekolah di Arab.

Untuk mengasah kemampuan bahasanya Ali mencoba menerjemahkan karya sastra. Mulanya menerjemahkan cerpen, novel, dan tulisan pemikir Arab yang ia kirim ke sejumlah media harian seperti Pedoman, Indonesia Raya, Abadi, dan majalah sastra antara lain Horison, Siasat, Zenith dan beberapa lainnya.  Karya buku kumpulan cerpen terjemahannya adalah 'Suasana Bergema', diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1957. Menurut Ade, sekitar tahun 40 an Ali pernah membuat puisi yang dimuat dalam majalah sastra yang terbit di Malang bernama 'Sastrawan’ terbit di Malang, Jawa Timur. Namun, karena Ali tak biasa mendokumentasikan karyanya, puisi dan tulisan-tulisannya yang sudah dimuat di media banyak terserak, hilang tak diketahui rimbanya.

"Itu kelemahan Pak Ali. Dokumentasinya kurang bagus," ujar Ade.

Ali membenarkan bahwa ia bukan termasuk orang yang rajin membuat catatan pribadi dan dokumentasi. Karya-karyanya banyak yang hilang saat ia berpindah-pindah tempat.

****
Dari sastrawan menjadi penerjemah

Sastrawan, penyair, esais, dan sineas Asrul Sani adalah orang yang berpengaruh dalam dunia penerjemahan Ali. Sebelum menekuni penerjemahan Ali dikenal sebagai sastrawan. Karena, dari tangannya lahir puisi, cerpen, dan novel.
Namun, setelah lahir terjemahan Ali dari karya sastra Arab ke bahasa Indonesia,  Asrul mendorongnya supaya lebih fokus menerjemahkan karya sastra Arab.

"Penerjemah karya sastra dari bahasa Inggris sudah cukup banyak," kata Ali mengenang ucapan Asrul yang saat itu mengasuh ruang kebudayaan 'Gelanggang' di Majalah 'Siasat'.

Berkat dorongan Asrul Sani itulah Ali memfokuskan dirinya untuk fokus menerjemahkan karya sastra Arab, meskipun di kemudian hari juga lahir karya terjemahannya dari karya sastra Perancis dan Jerman.

Dari tangannya lahir terjemahan buku fenomenal karya Muhammad Hussain Haikal 'Sejarah Hidup Muhammad' pada tahun 1972. Buku terjemahan ini dicetak hingga belasan kali sampai tahun 90 an.

***
Menjadi direktur dan pendiri perguruan tinggi

Dikenal memiliki kemampuan menguasai beberapa bahasa asing, bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, sebagai penerjemah yang baik, dan memiliki karya yang tak diragukan lagi kualitasnya Ali didaulat pendiri dan penerbit Tintamas Djamil Djambek, kakak ipar Muhammad Hatta, untuk menggantikan posisinya dari 1961-1978.

Selama menjabat sebagai direktur PT Tintamas yang berkantor di Jalan Kramat Raya Ali juga mendirikan Himpunan Penerjemah Indonesia pada 5 Februari 1975 bersama beberapa temannya sesama pengurus Taman Ismail Marzuki, Direktorat Departemen Pendidikan dan Kebudayan, serta perwakilan UNESCO di Jakarta. Dan pada masa-masa yang sama ia mendirikan Universitas Ibnu Khaldun Bogor diajak Sholeh Iskandar, seorang pejuang Islam dan mantan mayor dalam kemiliteran di kisaran tahun 66 an.

**
Sosok serius, low profile yang hidup di antara buku

Sebelum pindah di rumah yang saat ini ditempatinya Ali tinggal di rumah berlantai dua, masih di Kompleks Perumahan Bogor Baru. Menurut Maryam, istri Ali, lantai dua menjadi ruang khusus suaminya. Ruangan seluas 300 meter penuh dengan buku yang tersusun di rak dan yang tertumpuk.

"Semua dinding isinya buku dan kamus," kata Maryam kepada saya.

Menurut Maryam,  suaminya bekerja dengan disiplin yang tinggi. Bangun subuh, jogging satu jam, mandi sarapan lalu memulai bekerja pukul 8 pagi hingga pukul 10 malam. Ali berhenti hanya untuk makan siang, shalat, dan minum teh di sore hari menjelang Magrib. Setelah itu ia akan kembali menghadap komputernya sampai malam.

"Begitu terus sejak muda hingga usia Bapak umur 88 tahun," kata Maryam.

Ali bahkan tak pernah berlibur atau keluar rumah untuk pelesiran. Istrinya hanya keluar rumah jika Ali sedang keluar kota atau keluar negeri. Karena jika suaminya berada di rumah Maryam tak bisa meninggalkannya. Semua makanan dan kebutuhan yang diperlukan Ali Maryamlah yang menyediakan.

Berdasarkan penuturan Ade, keponakan Ali, pamannya adalah orang rumahan. Tak pernah makan atau jajan. Jika berada di rumah makanan apa saja harus buatan istrinya.

"Kecuali sedang di luar kota atau  luar negeri," kata Ade.

Selain serius Ali dikenal sebagai sosok sederhana yang tak suka dielu-elukan. Meski telah memiliki banyak karya Ali menganggapnya sebagai hal biasa. Ia tak pernah bersedia diwawancara oleh siapa pun (kecuali pada 1996 Ali diwawancarai seorang jurnalis dari salah satu media). Kepada jurnalis atau para mahasiswa yang ingin mewawancarai untuk kepentingan skripsi atau penelitian, Ali selalu menyarankan mendatangi Pusat Dokumentasi HB Jassin. Bahkan ketika teman-temannya, Goenawan Mohammad, Taufik Abdullah, dan beberapa temannya ingin membuat buku sebagai hadiah ulang tahun ke 90. Ali lebih suka tak banyak orang membicarakan dan mengelu-elukannya.

"Kalau bukan karena terpaksa dan 'ditodong' Pak Ali tak akan bersedia memberikan sambutan atau berbicara tentang dirinya sendiri," kata Ade.

Oyon Sofyan, Kepala Pusat Dokumentasi HB Jassin, teman dekat sekaligus editor beberapa buku tentang Ali Audah mengatakan, bahwa Ali Audah tak ada duanya. Selain sosok yang sederhana dan Ali menurutnya merupakan satu-satunya sosok yang memiliki disiplin tinggi dan kerja keras di luar batas kebanyakan orang.

"Saya tak menemukan sosok seperti Pak Ali selain Pak Ali sendiri. Beliau saya kira satu-satunya orang yang tak tertandingi kedisiplinan," ujarnya kepada penulis.

Jika tak disiplin dan kerja keras, lanjut Oyon, Ali yang hanya sekolah sampai kelas dua madrasah tak akan mungkin bisa menerjemahkan karya sastra dari berbagai bahasa asing. Apalagi karya pengarang hebat di negaranya masing-masing. Namun, di tangan Ali, semua tak ada yang tak mungkin.

Taufik Abdullah dalam sambutannya saat pemberian penghargaan untuk Ali Audah pada 2015 mengatakan bahwa Ali adalah sosok penting yang berkontribusi besar dalam menerjemahkan karya sastra Arab yang di kemudian hari menjadi karya fenomenal yakni 'Sejarah Hidup Muhammad'. Selain penerjemah hebat, Ali disebut sebagai pengarang kreatif yang disegani.

Taufik mengingat, ia membaca karya terjemahan Ali karya Husein Haikal saat baru pulang dari sekolah di luar negeri. Dan yang membuat Taufik bangga terhadap Ali adalah kemampuan Ali menerjemah bukan hanya kelengkapan riwayat nabi S.A.W tetapi terutama suasana akademis yang   literer dipancarkannya.

"Hal itu sangat saya rasakan karena sejak kecil sampai kuliah saya sudah tahu kisah-kisah nabi, tetapi aneh ketika membaca buku ini (karya terjemahan Ali) semua terasa serba baru saja," ujarnya.


Kustiah


 

Wednesday, September 9, 2020

Sepuluh tahun lalu..

 


                                                           Dok. CNNIndonesia,com


Merangkai yang terserak. Sepuluh tahun lalu baru mendengar Teater Koma akan pentas saja kaki sudah melonjak-lonjak hati girang. Apalagi bisa menonton. Melihat langsung pertunjukan teater khususnya Teater Koma adalah sebuah anugerah. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh yang harus selalu sadar, mawas selama hampir 24 jam tak mungkin tak membutuhkan upaya untuk menjaga kewarasan. Maka, melihat pertunjukan teater menjadi pelarian. Karena, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi.

Tulisan receh review hasil menonton pertunjukan ini saya ambil dari

http://sastra-indonesia.com/2010/02/pementasan-gado-gado-sie-jin-kwie/#more-8217  

Terima kasih.

 

Pementasan Gado-Gado Sie Jin Kwie

KEMATIAN kebudayaan terkadang tidak disebabkan tiadanya penerus, tapi seringkali oleh kebijakan negara yang melarangnya. Kebudayaan Tionghoa yang di masa kolonial sampai Orde Lama tumbuh subur, hidup, dan dikenal tidak hanya di kalangan Tionghoa, tapi juga masyarakat umum, tiba-tiba mati sejak Orde Baru berdiri. Penguasa Orde Baru ketakutan terhadap budaya Tionghoa karena dianggap wakil dari ”merah komunis”. Pemegang kekuasaan mengasosiasikan Tionghoa di Indonesia sama dengan Tionghoa di Republik Rakyat China yang komunis.

Karena itu, pementasan kisah klasik Tiongkok Sie Jin Kwie oleh Teater Koma di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 5-21 Februari 2010, bisa dianggap sebagai upaya menghidupkan kisah lama yang telah mati. Kisah yang menyimpan tata nilai dan inspirasi yang telah hidup ratusan tahun di negeri asalnya. Menurut Jacob Sumardjo, kisah-kisah klasik Tiongkok seperti Sam Kok, Ouw Peh Coa, Sampek Engtay, Song Kang, See Yu pada awal abad ke-20 cukup dikenal publik Indonesia.

Sie Jin Kwie (Xue Ren Gui) adalah cerita klasik Tiongkok yang terjadi masa Dinasti Tang (618-907), tapi baru ditulis Tiokengjian pada abad ke-14. Di Indonesia kisah itu diterbitkan kali pertama pada 1894. Pelukis Siauw Tik Kwie membuat komiknya pada 1950-an dan memuatnya secara bersambung di mingguan Star Weekly. Belakangan diterbitkan dalam enam jilid komik ukuran kuarto. Ada banyak versi tentang Sie Jin Kwie, tapi kisahnya sama, yang berbeda hanya nama-nama tokohnya.

Sie Jin Kwie bercerita tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie (diperankan Rangga Riantiarno), pemuda jago silat yang ingin mengabdi kepada negara. Jalan panjang harus ditempuh karena dia berhadapan dengan pejabat tentara yang licik, korup, dan ambisius. Sie Jie Kwie muncul dalam mimpi Lisibin (diperankan Prijo S. Winardi), kaisar Dinasti Tang. Dalam mimpi itu, Sie Jin Kwie menolongnya dari bahaya maut. Sejak itu, Lisibin penasaran ingin bertemu sang penyelamat yang masuk ke dalam mimpinya. Dia akan melakukan apa pun untuk bertemu dengan Sie Jin Kwie.

Pada saat bersamaan, Raja Kolekok (diperankan Budi Suryadi), yang kekuasaannya dikudeta Jenderal Kaesobun (diperankan Paulus Simangunsong), menyatakan perang melawan Dinasti Tang. Sie Jin Kwie berminat masuk tentara Dinasti Tang. Dia ingin membela negaranya tanpa peduli imbalan jasa atau kedudukan. Namun, karena hasutan Thiosukwie, panglima tentara yang senang merebut jasa bawahannya, Sie Jin Kwie mengira kaisar menghendaki kematiannya. Maka, Sie Jin Kwie disembunyikan Thiosukwie di dapur. Di sanalah, dia membentuk Pasukan Dapur Tang (PD-Tang).

Di luar dugaan, PD-Tang justru menjadi pengumpul tentara terbanyak dalam Perang Kolekok. Jasa pemuda itu oleh Thiosukwie dianggap berbahaya dan dia berniat membunuhnya. Di akhir cerita, Lisibin bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie setelah perang berlangsung 12 tahun dan Dinasti Tang memenangi peperangan.

Itulah kisah kepahlawanan, patriotisme, kewiraan, dan keikhlasan dalam membela negara, yang sering dijegal atasan korup. Mungkin sekali kisah itu menemukan relevansi dengan realitas yang terjadi di berbagai bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Niat baik tidak selalu disambut baik, tapi malah dianggap sebagai ancaman yang akan menggusur jabatan yang sedang digenggam.

Seperti biasa, pementasan produksi ke-119 Teater Koma bernuansa megah-mewah, kocak, dan lama. Teater Koma dikenal suka menggunakan kostum megah dan mewah untuk membedakan pertunjukan teater dari aktivitas sehari-hari. Untuk pertunjukan kali ini, sutradara Nano Riantiarno harus menyiapkan 250 potong pakaian dengan motif dan ornamen yang akarnya dari Tiongkok yang dibaurkan dengan budaya lokal. Warna merah dan kuning -warna keberuntungan dan kemakmuran dalam kepercayaan Tiongkok- sering ditampilkan dengan keserasian panggung artistik yang dipenuhi grafis.

Kocak adalah kekhasan Teater Koma di atas panggung untuk memecahkan kebekuan dan kejenuhan menonton teater yang penuh dialog panjang-panjang. Dari awal sampai akhir, pertunjukan Sie Jin Kwie disesaki dialog yang seolah-olah menggambarkan bahwa pesan utama hanya disampaikan lewat ucapan. ”Saya berharap menonton Sie Jin Kwie seperti menonton wayang kulit-wayang golek yang menggelar kisah Mahabarata dan Ramayana semalam suntuk. Menonton dengan rileks. Tidak tegang. Tanpa beban. Enjoy,” kata Nano Riantiarno.

Menurut Nano, awalnya naskah yang dia sadur berdurasi 7-8 jam. Lalu dia ringkas lagi menjadi empat jam. Semua adegan, kata dia, mengandung potensi daya tarik, sayang kalau dibuang. Pentas-pentasnya sering diadakan lebih dari dua minggu dan bahkan pernah berpentas lebih dari sebulan. Kursi penonton yang selalu berjubel menunjukkan betapa peminat Teater Koma sungguh setia. Jika banyak orang mengatakan panggung teater akan kehilangan penonton seiring suguhan tontonan televisi yang berjibun, dalam kasus Teater Koma, analisis itu tidak terbukti. Bahkan, sejak pentas perdana pada akhir 1970-an sampai sekarang, pementasan Koma selalu penuh penonton.

Pementasan itu menarik tidak hanya jalan ceritanya. Cara mementaskan dramanya juga unik. Pertunjukan tersebut menggabungkan teater Barat dan teater tradisional. Sutradara mencampuradukkan opera China, golek menak, potehi (wayang kulit China-Jawa), wayang wong, dan wayang tavip (karya Tavip). Sutradara tampak ingin menampilkan kesenian Tionghoa yang telah puluhan tahun mati suri di Indonesia dan mengolaborasikannya dengan kesenian lokal.

Masing-masing seni itu dipentaskan untuk menceritakan beberapa adegan secara bergantian. Sie Jin Kwie berbentuk potehi juga diarak di atas panggung. Saat dalang (diperankan Budi Ros) bercerita masa remaja Sie Jien Kwie, misalnya, tiba-tiba dimunculkan wayang tavip. Wayang berwarna itu terbuat dari kain layar putih dan pementasannya didukung sistem pencahayaan dari belakang layar. Dari sudut penonton, pertunjukan wayang tersebut tidak terlihat aksi dalang, hanya tampak kelebatan wayang.

Teater Koma terus melaju dengan dukungan sponsor dan penonton yang fanatik. Meski empat kali mengalami pencekalan pentas, Maaf. Maaf. Maaf (1978), Sampek Engtay (1989), Sukses, dan Opera Kecoa (1990), dua kali ancaman bom, dan berkali-kali diinterogasi aparat hukum, Nano Riantiarno tetap yakin teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. “Jujur, becermin lewat teater diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali peran akan sehat dan budi-nurani,” kata Nano. (*)

*Kustiah

Saturday, September 5, 2020

Pahlawan hutan itu bernama Rosita

 

 

 

Rosita. Foto: Dok pri

Jika Kosta Rika, Amerika Tengah memiliki pahlawan pembuat dan penjaga hutan, Pedro Garcia (57), yang telah berhasil mengembalikan hutan yang rusak dan hilang menjadi hutan subur, Indonesia punya Rosita (59) yang telah menciptakan hutan organik di lahan seluas 23 hektare dengan kerja keras dan tangan dinginnya bersama suaminya.


Berita sebuah media online yang menceritakan perjuangan Pedro, warga Kosta Rika, yang mengembalikan hutan yang hilang menjadi hutan subur mengingatkan saya terhadap sosok perempuan yang gigih. Dia adalah Rosita (59), seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang keduanya telah berkeluarga. Ia tinggal di Kawasan Megamendung, Kawasan Puncak, Bogor sejak 2001 bersama suaminya seorang konsultan perusahaan minyak Bambang Istiawan, (69). Akhir tahun 2019 Bambang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi.

Bukan perjuangan mudah bagi Ita, panggilan Rosita, saat memulai mewujudkan mimpi suaminya untuk tinggal di kawasan sejuk. Perempuan kelahiran Cimande, Bogor ini harus menghadapi para biong (makelar) tanah yang tak segan berbuat premanisme. Namun, Ita tak gentar. Keberaniannya membuat ia berhasil membeli sekitar 2 ribu meter tanah tandus bekas perkebunan teh yang selanjutnya bertahap bertambah menjadi sekitar 23 hektare. 

Suatu kali, pada tahun 90-an suaminya berbicara kepada Rosita ihwal keinginannya tinggal di hutan saat sudah tua. Ada dua tempat impian yang ia incar yakni Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Namun seiring waktu berjalan ternyata hutan di Kaltim sudah jadi pemukiman. Sementara hutan di Sumsel sudah jadi kebun sawit. Lalu ia berangan-angan untuk tinggal di Malang, Jawa Timur. Namun, rupanya Rosita bukannya mendukung malah menantangnya.

"Kalau hutan sudah tidak ada ya ayo bikin hutan," kata Rosita kepada suaminya kala itu menuturkan kepada penulis.

Tuhan tampaknya mendengar doa Ita. Pada tahun 1997, saat krisis melanda lahan teh di puncak Megamendung milik Probosutedjo ikut terkena imbasnya. Lahan seluas 12 hektare ini setahun terbengkalai, tandus, gersang ditumbuhi ilalang. Ita yang kebetulan warga Cimande, Bogor, mendengar bahwa lahan yang tak terurus itu akan dijual. Ita segera menghubungi orang kepercayaan adik Soeharto. Dan ia berhasil membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter dengan harga Rp1.000 rupiah per meter. Mendapatkan lahan tak mudah.  Ita harus berhadapan dengan para calo tanah yang sudah mengkapling dan menawarkan tanah kepada pembeli.

"Jangankan membeli lahan baru, yang sudah dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikapling sama biong, (sebutan calo tanah)" ujarnya.

Akhirnya, bertahap tanah sedikit demi sedikit terbeli dari tangan pertama. Inilah yang membuat Ita mendapatkan harga miring karena tak membeli dari calo. Suaminya tak tahu banyak soal proses pembelian tanah, karena bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan minyak. Dan ketika pulang ia kaget istrinya telah memiliki tanah yang luas.

Di sinilah proses pembuatan hutan dimulai. Pada tahun 2000 Rosita bersama suami dan anak bungsunya melakukan penelitian kecil-kecilan. Dia terkejut,  lahan yang 70 persen ditumbuhi alang-alang ini kondisi tanahnya memprihatinkan. PH tanah hanya 2,5-4, di tanah tak ditemukan cacing, dan tak ada mata air. Menurut warga sebenarnya ada satu mata air di lahan tersebut namun sudah mati.

Pada 2001 mereka memulai proses penanaman, memetakan lahan dengan menanam pohon keras (endemik) dan tanaman yang bisa memberikan nilai manfaat (pohon frontir) atau tumpang sari supaya tetap bisa merawat pohon keras. Komposisinya 2/3 ditanam pohon frontir dan 1/3 nya ditanam pohon endemik dan buah-buahan supaya lahan bisa hijau lebih dulu.

Supaya subur Rosita dan suaminya mengandalkan pupuk organik dari peternakan dengan memelihara sepasang kambing. Ia baru tahu di kemudian hari bahwa supaya hasil pupuk lebih banyak dan ternak berkembang lebih cepat mereka bisa memasangkan kambing 4 betina dengan satu jantan.

"Itulah, karena bodohnya saya kira kalau mau cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal bisa 4 banding satu," ujar Bambang menimpali sambil terkekeh

Perlahan tanaman mulai tumbuh. Rosita beserta anak dan suaminya selama mengolah lahan berpuasa tak menggunakan pupuk unorganik. Berkat ketelatenan tanaman sudah terlihat mulai menghijau meskipun tak secepat bayangan Rosita. Mereka beberapa kali disergap rasa bosan dan tergoda menggunakan pupuk unorganik supaya tanamannya lekas hijau dan tumbuh lebat.

Beruntung orang tuanya menasehatinya saat ia mengutarakan meminjam uang untuk membeli pupuk. Yang diingat dari kata-kata bapaknya, Tuhan menciptakan hutan lebat tanpa dipupuk. Kalau lahan kritis mau direhabilitasi harus jadi hutan alam dulu, jadi hutan organik seperti Tuhan menciptakan hutan. Manjur. Nasihat bapaknya perlahan memudarkan kebosanannya apalagi saat itu Ita dan suaminua juga sudah tak memiliki uang untuk membeli pupuk selain menggunakan kotoran ternaknya yang perlahan juga mulai bertambah jumlahnya. Tak disangka, kesabaran berbuah manis. Pada 2003 muncul mata air di dekat daerah cekungan.

Sejak saat itu pula Ita dan suaminya menggunakan air dari mata air untuk kebutuhan rumah tangga. Setelah sebelumnya menggunakan air hasil mengebor sumur sedalam 400 meter.

Yang menenteramkan, tanaman tumpangsari juga memberikan hasil yang memuaskan. Tiap panen tanaman seperti sawi, lobak, bayam, cabai, terong, jagung, dan aneka tanaman tumpang sari lainnya berlimpah. Dan hasilnya bisa dijual untuk membayar para petani yang membantu. Dan yang membuat Ita dan suaminya bernapas lega, kini aneka satwa telah mampir dan tinggal di hutan miliknya. Mulai dari burung elang hingga diduga harimau. Akhir 2014 empat kambing miliknya menjadi korban. Menurut suaminya, berdasarkan identifikasi gigitan beberapa ahli menyimpulkan bahwa gigitan yang biasa mengoyak muka dan perut kambing adalah harimau.

***


Luas lahan bertambah

Pada 2005 belasan perwakilan masyarakat yang tinggal di bawah puncak yang berbatasan dengan Sentul mendatangi rumah Rosita. Keberanian Rosita menghadapi calo tanah rupanya  telah terdengar di mana-mana. Selain masyarakat mengenal Rosita sebagai perempuan yang ulet merawat lahannya  dan mencintai lingkungan. Masyarakat mengadu bahwa ada seorang pengusaha yang berencana membuat penangkaran buaya di bukit tak jauh dari hutan milik Ita. Bukit itu sebelumnya merupakan bekas potongan yang rencananya akan digunakan sebagai pemukiman. Karena tak berizin pengembang meninggalkan begitu saja bukit yang di lerengnya terdapat semacam setu. Masyarakat keberatan jika ada penangkaran buaya di sana. Apalagi di bawahnya terdapat perumahan warga.

"Mereka keberatan karena pasti akan ada bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke permukiman warga," kata Ita.

Akhirnya karena desakan masyarakat Rosita menggunakan tabungan yang rencananya akan dibelikan mobil dikuras habis untuk membeli lahan seluas 11 hektare. Kini lahan itu ditanami aneka tanaman tumpang sari dan tanaman keras seperti ketika Ita dan suaminya memulai menanami lahan tandus miliknya terdahulu. Pohon di lahan seluas 12 hektare kini tumbuh rimbun, sementara di lahan 11 hekatare dipenuhi aneka tanaman tumpangsari dan sisanya tanaman endemik yang juga tak kalah rimbunnya. Lahan kedua ini sengaja digunakan sebagai green living area. Di atas lahan ini pula Ita dan suaminya berhasil menggunakan teknik hidran, dengan menaikkan air ke atas lahan dengan ketinggian sekitar 100 meter.

Berkat kesuksesannya membuat hutan organik Ita bersama suami dan anaknya sering diundang ke seminar-seminar baik di dalam dan mancanegara. Di Sudan metode yang digunakan Ita dan suaminya  dijiplak dan berhasil diterapkan.

"Saya tak punya background, tak punya uang banyak dan dukungan politik. Yang saya punyai hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa saya bagikan," kata Ita.


Penginapan di kawasan Hutan Organik. Foto-foto:Dok Hutan Organik






Kini, sambil menikmati masa tua dengan menjadi "satpam hutan organik" Rosita disibukkan dengan kunjungan tamu yang hendak melihat dan menikmati keindahan hutan miliknya. Di tengah hutan para tamu bisa memanjakan mata dan menikmati kesejukan alam. Jika hendak mengadakan diskusi atau menginap bersama keluarga Rosita menyediakan fasilitasnya, lengkap dengan aneka masakan Sunda yang menggigit lidah. Penasaran? silakan buktikan sendiri dengan datang ke lokasi.

Kustiah

 

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...