Friday, March 5, 2021

Nasib Petani dan Mimpi Menikmati Canggihnya Teknologi

 


            Dok. Pri

Baru saja mendapat telepon dari ibu di kampung. Mengeluh sedang suloyo karena padi yang sudah saatnya panen tak bisa dipanen karena mesin kombi, mesin pemotong dan pengayak padi, tidak ada. 

"Iki bapakmu bingung, petani-petani di kampung do tangisan," suara Ibu terdengar membuat panas telinga.

Seminggu yang lalu ada pemilik kombi yang sudah berjanji akan memotong menggilingkan padi milik bapak dan hektaran padi milik tetangga. Tetapi sampai hari H Bapak menunggu mesin kombi tak kunjung datang. Dapat kabar kombi sedang rusak. Sementara satu mesin kombi milik yang lain sedang sibuk menggasak hektaran padi di sawah lainnya.  

Sebelumnya tidak pernah ada keluhan seperti ini saat para petani menggunakan dos-dosan, alat pemotong dan pengayak padi manual yang mengandalkan putaran pedal supaya paku-paku panjang yang menacap di setiap ruji kayu berputar. Dulu, sebelum ada kombi sekitar empat tahun lalu, petani malah bersuka cita begitu panen tiba. Mereka bahagia menyaksikan para tukang angkut berjejer mengangkat berkarung-karung padi untuk ditimbang. Sekarang?

Atas nama kemajuan katanya segala hal harus bertransformasi, termasuk teknologi pertanian. Mengutip kata dosen IPB University, Profesor Kudang Boro Seminar dalam sebuah kuliah di kelas, teknologi harus memudahkan, menggantikan kerja-kerja yang tidak layak dikerjakan manusia. 

"Biarlah teknologi yang menggantikan pekerjaan yang selama ini tidak manusiawi. Manusia hidupnya bisa lebih berkualitas," ujarnya.

Prof Kudang mencontohkan teknologi pemotong sawit yang diciptakan oleh IPB. Saat kunjung lapang ke perkebunan kelapa sawit Prof Kudang melihat banyak petani sawit punggung dan lehernya sampe bongkok karena melakukan pekerjaan berat memotong, memilah sawit yang seharusnya bisa dikerjakan mesin, dengan kecanggihan teknologi. Begitu pula di sektor pertanian. 

Dalam sebuah pidato menyambut hari ulang tahun RI pada tahun 2019 Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa hambatan besar kemajuan di sektor pertanian adalah karena ketertinggalan di bidang teknologi. Berdasarkan hasil Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2014-2019 Jokowi menyampaikan sektor pertanian harus mengejar ketertinggalan dengan menggaungkan teknologi 4.0. Dan Kementerian Pertanian segera meluncurkan produk teknologi berupa drone penabur benih, mesin penanam padi, dan aneka teknologi lainnya. Termasuk teknologi pemotong padi dari dos bertransformasi menjadi kombi. Lantas, apakah petani sudah merasakan nikmatnya menggunakan teknologi canggij?
Suara Ibu dan Bapak saya di ujung telepon bersahutan berdebat tentang kesulitan yang mereka hadapi saat ini.

"Hektaran padi di sawah milik para petani di kampungmu terancam tak bisa dipanen. Mereka bersusah payah mencari cara supaya padi yang telah tua bisa sampai rumah dengan entah bagaimanapun caranya," suara Ibu mendenging-denging. 

Sejak ada kombi dos-dosan sudah teronggok terisiakan, berkarat meratapi nasib dirinya dan tuannya. Jika manisnya kabar bahwa kecanggihan teknologi membuat bahagia tak kunjung terwujud, bukan tak mungkin dos-dosan yang karatan kembali dipaksa menggiling padi. Itu pun jika masih ada. Bisa jadi kayu-kayunya telah patah atau telah terbuang karena sisa rayap.

Petani oh petani, sampai kapan nasibmu pedih sepanjang hayat seperti ini. Memilih bahagia sejenak saja tak bisa.

Bogor, Maret. Kesal pun tiada guna



No comments:

Post a Comment

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...