Dok. CNNIndonesia,com
Merangkai yang terserak. Sepuluh tahun lalu baru mendengar Teater Koma akan pentas saja kaki sudah melonjak-lonjak hati girang. Apalagi bisa menonton. Melihat langsung pertunjukan teater khususnya Teater Koma adalah sebuah anugerah. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh yang harus selalu sadar, mawas selama hampir 24 jam tak mungkin tak membutuhkan upaya untuk menjaga kewarasan. Maka, melihat pertunjukan teater menjadi pelarian. Karena, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi.
Tulisan receh review hasil menonton pertunjukan ini
saya ambil dari
http://sastra-indonesia.com/2010/02/pementasan-gado-gado-sie-jin-kwie/#more-8217
Terima kasih.
Pementasan
Gado-Gado Sie Jin Kwie
KEMATIAN
kebudayaan terkadang tidak disebabkan tiadanya penerus, tapi seringkali oleh
kebijakan negara yang melarangnya. Kebudayaan Tionghoa yang di masa kolonial
sampai Orde Lama tumbuh subur, hidup, dan dikenal tidak hanya di kalangan
Tionghoa, tapi juga masyarakat umum, tiba-tiba mati sejak Orde Baru berdiri.
Penguasa Orde Baru ketakutan terhadap budaya Tionghoa karena dianggap wakil
dari ”merah komunis”. Pemegang kekuasaan mengasosiasikan Tionghoa di Indonesia
sama dengan Tionghoa di Republik Rakyat China yang komunis.
Karena
itu, pementasan kisah klasik Tiongkok Sie Jin Kwie oleh Teater Koma di Graha
Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 5-21 Februari 2010, bisa dianggap
sebagai upaya menghidupkan kisah lama yang telah mati. Kisah yang menyimpan tata
nilai dan inspirasi yang telah hidup ratusan tahun di negeri asalnya. Menurut
Jacob Sumardjo, kisah-kisah klasik Tiongkok seperti Sam Kok, Ouw Peh Coa,
Sampek Engtay, Song Kang, See Yu pada awal abad ke-20 cukup dikenal publik
Indonesia.
Sie
Jin Kwie (Xue Ren Gui) adalah cerita klasik Tiongkok yang terjadi masa Dinasti
Tang (618-907), tapi baru ditulis Tiokengjian pada abad ke-14. Di Indonesia
kisah itu diterbitkan kali pertama pada 1894. Pelukis Siauw Tik Kwie membuat
komiknya pada 1950-an dan memuatnya secara bersambung di mingguan Star Weekly.
Belakangan diterbitkan dalam enam jilid komik ukuran kuarto. Ada banyak versi
tentang Sie Jin Kwie, tapi kisahnya sama, yang berbeda hanya nama-nama
tokohnya.
Sie
Jin Kwie bercerita tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie (diperankan Rangga
Riantiarno), pemuda jago silat yang ingin mengabdi kepada negara. Jalan panjang
harus ditempuh karena dia berhadapan dengan pejabat tentara yang licik, korup,
dan ambisius. Sie Jie Kwie muncul dalam mimpi Lisibin (diperankan Prijo S.
Winardi), kaisar Dinasti Tang. Dalam mimpi itu, Sie Jin Kwie menolongnya dari
bahaya maut. Sejak itu, Lisibin penasaran ingin bertemu sang penyelamat yang
masuk ke dalam mimpinya. Dia akan melakukan apa pun untuk bertemu dengan Sie
Jin Kwie.
Pada
saat bersamaan, Raja Kolekok (diperankan Budi Suryadi), yang kekuasaannya
dikudeta Jenderal Kaesobun (diperankan Paulus Simangunsong), menyatakan perang
melawan Dinasti Tang. Sie Jin Kwie berminat masuk tentara Dinasti Tang. Dia
ingin membela negaranya tanpa peduli imbalan jasa atau kedudukan. Namun, karena
hasutan Thiosukwie, panglima tentara yang senang merebut jasa bawahannya, Sie
Jin Kwie mengira kaisar menghendaki kematiannya. Maka, Sie Jin Kwie
disembunyikan Thiosukwie di dapur. Di sanalah, dia membentuk Pasukan Dapur Tang
(PD-Tang).
Di
luar dugaan, PD-Tang justru menjadi pengumpul tentara terbanyak dalam Perang
Kolekok. Jasa pemuda itu oleh Thiosukwie dianggap berbahaya dan dia berniat
membunuhnya. Di akhir cerita, Lisibin bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie setelah
perang berlangsung 12 tahun dan Dinasti Tang memenangi peperangan.
Itulah
kisah kepahlawanan, patriotisme, kewiraan, dan keikhlasan dalam membela negara,
yang sering dijegal atasan korup. Mungkin sekali kisah itu menemukan relevansi
dengan realitas yang terjadi di berbagai bangsa dan negara, termasuk Indonesia.
Niat baik tidak selalu disambut baik, tapi malah dianggap sebagai ancaman yang
akan menggusur jabatan yang sedang digenggam.
Seperti
biasa, pementasan produksi ke-119 Teater Koma bernuansa megah-mewah, kocak, dan
lama. Teater Koma dikenal suka menggunakan kostum megah dan mewah untuk
membedakan pertunjukan teater dari aktivitas sehari-hari. Untuk pertunjukan
kali ini, sutradara Nano Riantiarno harus menyiapkan 250 potong pakaian dengan
motif dan ornamen yang akarnya dari Tiongkok yang dibaurkan dengan budaya
lokal. Warna merah dan kuning -warna keberuntungan dan kemakmuran dalam
kepercayaan Tiongkok- sering ditampilkan dengan keserasian panggung artistik
yang dipenuhi grafis.
Kocak
adalah kekhasan Teater Koma di atas panggung untuk memecahkan kebekuan dan
kejenuhan menonton teater yang penuh dialog panjang-panjang. Dari awal sampai
akhir, pertunjukan Sie Jin Kwie disesaki dialog yang seolah-olah menggambarkan
bahwa pesan utama hanya disampaikan lewat ucapan. ”Saya berharap menonton Sie
Jin Kwie seperti menonton wayang kulit-wayang golek yang menggelar kisah
Mahabarata dan Ramayana semalam suntuk. Menonton dengan rileks. Tidak tegang.
Tanpa beban. Enjoy,” kata Nano Riantiarno.
Menurut
Nano, awalnya naskah yang dia sadur berdurasi 7-8 jam. Lalu dia ringkas lagi
menjadi empat jam. Semua adegan, kata dia, mengandung potensi daya tarik,
sayang kalau dibuang. Pentas-pentasnya sering diadakan lebih dari dua minggu
dan bahkan pernah berpentas lebih dari sebulan. Kursi penonton yang selalu
berjubel menunjukkan betapa peminat Teater Koma sungguh setia. Jika banyak
orang mengatakan panggung teater akan kehilangan penonton seiring suguhan
tontonan televisi yang berjibun, dalam kasus Teater Koma, analisis itu tidak
terbukti. Bahkan, sejak pentas perdana pada akhir 1970-an sampai sekarang,
pementasan Koma selalu penuh penonton.
Pementasan
itu menarik tidak hanya jalan ceritanya. Cara mementaskan dramanya juga unik.
Pertunjukan tersebut menggabungkan teater Barat dan teater tradisional.
Sutradara mencampuradukkan opera China, golek menak, potehi (wayang kulit
China-Jawa), wayang wong, dan wayang tavip (karya Tavip). Sutradara tampak
ingin menampilkan kesenian Tionghoa yang telah puluhan tahun mati suri di
Indonesia dan mengolaborasikannya dengan kesenian lokal.
Masing-masing
seni itu dipentaskan untuk menceritakan beberapa adegan secara bergantian. Sie
Jin Kwie berbentuk potehi juga diarak di atas panggung. Saat dalang (diperankan
Budi Ros) bercerita masa remaja Sie Jien Kwie, misalnya, tiba-tiba dimunculkan
wayang tavip. Wayang berwarna itu terbuat dari kain layar putih dan
pementasannya didukung sistem pencahayaan dari belakang layar. Dari sudut
penonton, pertunjukan wayang tersebut tidak terlihat aksi dalang, hanya tampak
kelebatan wayang.
Teater
Koma terus melaju dengan dukungan sponsor dan penonton yang fanatik. Meski
empat kali mengalami pencekalan pentas, Maaf. Maaf. Maaf (1978), Sampek Engtay
(1989), Sukses, dan Opera Kecoa (1990), dua kali ancaman bom, dan berkali-kali
diinterogasi aparat hukum, Nano Riantiarno tetap yakin teater bisa menjadi
salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya
kebahagiaan yang manusiawi. “Jujur, becermin lewat teater diyakini pula sebagai
salah satu cara untuk menemukan kembali peran akan sehat dan budi-nurani,” kata
Nano. (*)
*Kustiah






