Wednesday, September 9, 2020

Sepuluh tahun lalu..

 


                                                           Dok. CNNIndonesia,com


Merangkai yang terserak. Sepuluh tahun lalu baru mendengar Teater Koma akan pentas saja kaki sudah melonjak-lonjak hati girang. Apalagi bisa menonton. Melihat langsung pertunjukan teater khususnya Teater Koma adalah sebuah anugerah. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh yang harus selalu sadar, mawas selama hampir 24 jam tak mungkin tak membutuhkan upaya untuk menjaga kewarasan. Maka, melihat pertunjukan teater menjadi pelarian. Karena, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi.

Tulisan receh review hasil menonton pertunjukan ini saya ambil dari

http://sastra-indonesia.com/2010/02/pementasan-gado-gado-sie-jin-kwie/#more-8217  

Terima kasih.

 

Pementasan Gado-Gado Sie Jin Kwie

KEMATIAN kebudayaan terkadang tidak disebabkan tiadanya penerus, tapi seringkali oleh kebijakan negara yang melarangnya. Kebudayaan Tionghoa yang di masa kolonial sampai Orde Lama tumbuh subur, hidup, dan dikenal tidak hanya di kalangan Tionghoa, tapi juga masyarakat umum, tiba-tiba mati sejak Orde Baru berdiri. Penguasa Orde Baru ketakutan terhadap budaya Tionghoa karena dianggap wakil dari ”merah komunis”. Pemegang kekuasaan mengasosiasikan Tionghoa di Indonesia sama dengan Tionghoa di Republik Rakyat China yang komunis.

Karena itu, pementasan kisah klasik Tiongkok Sie Jin Kwie oleh Teater Koma di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 5-21 Februari 2010, bisa dianggap sebagai upaya menghidupkan kisah lama yang telah mati. Kisah yang menyimpan tata nilai dan inspirasi yang telah hidup ratusan tahun di negeri asalnya. Menurut Jacob Sumardjo, kisah-kisah klasik Tiongkok seperti Sam Kok, Ouw Peh Coa, Sampek Engtay, Song Kang, See Yu pada awal abad ke-20 cukup dikenal publik Indonesia.

Sie Jin Kwie (Xue Ren Gui) adalah cerita klasik Tiongkok yang terjadi masa Dinasti Tang (618-907), tapi baru ditulis Tiokengjian pada abad ke-14. Di Indonesia kisah itu diterbitkan kali pertama pada 1894. Pelukis Siauw Tik Kwie membuat komiknya pada 1950-an dan memuatnya secara bersambung di mingguan Star Weekly. Belakangan diterbitkan dalam enam jilid komik ukuran kuarto. Ada banyak versi tentang Sie Jin Kwie, tapi kisahnya sama, yang berbeda hanya nama-nama tokohnya.

Sie Jin Kwie bercerita tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie (diperankan Rangga Riantiarno), pemuda jago silat yang ingin mengabdi kepada negara. Jalan panjang harus ditempuh karena dia berhadapan dengan pejabat tentara yang licik, korup, dan ambisius. Sie Jie Kwie muncul dalam mimpi Lisibin (diperankan Prijo S. Winardi), kaisar Dinasti Tang. Dalam mimpi itu, Sie Jin Kwie menolongnya dari bahaya maut. Sejak itu, Lisibin penasaran ingin bertemu sang penyelamat yang masuk ke dalam mimpinya. Dia akan melakukan apa pun untuk bertemu dengan Sie Jin Kwie.

Pada saat bersamaan, Raja Kolekok (diperankan Budi Suryadi), yang kekuasaannya dikudeta Jenderal Kaesobun (diperankan Paulus Simangunsong), menyatakan perang melawan Dinasti Tang. Sie Jin Kwie berminat masuk tentara Dinasti Tang. Dia ingin membela negaranya tanpa peduli imbalan jasa atau kedudukan. Namun, karena hasutan Thiosukwie, panglima tentara yang senang merebut jasa bawahannya, Sie Jin Kwie mengira kaisar menghendaki kematiannya. Maka, Sie Jin Kwie disembunyikan Thiosukwie di dapur. Di sanalah, dia membentuk Pasukan Dapur Tang (PD-Tang).

Di luar dugaan, PD-Tang justru menjadi pengumpul tentara terbanyak dalam Perang Kolekok. Jasa pemuda itu oleh Thiosukwie dianggap berbahaya dan dia berniat membunuhnya. Di akhir cerita, Lisibin bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie setelah perang berlangsung 12 tahun dan Dinasti Tang memenangi peperangan.

Itulah kisah kepahlawanan, patriotisme, kewiraan, dan keikhlasan dalam membela negara, yang sering dijegal atasan korup. Mungkin sekali kisah itu menemukan relevansi dengan realitas yang terjadi di berbagai bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Niat baik tidak selalu disambut baik, tapi malah dianggap sebagai ancaman yang akan menggusur jabatan yang sedang digenggam.

Seperti biasa, pementasan produksi ke-119 Teater Koma bernuansa megah-mewah, kocak, dan lama. Teater Koma dikenal suka menggunakan kostum megah dan mewah untuk membedakan pertunjukan teater dari aktivitas sehari-hari. Untuk pertunjukan kali ini, sutradara Nano Riantiarno harus menyiapkan 250 potong pakaian dengan motif dan ornamen yang akarnya dari Tiongkok yang dibaurkan dengan budaya lokal. Warna merah dan kuning -warna keberuntungan dan kemakmuran dalam kepercayaan Tiongkok- sering ditampilkan dengan keserasian panggung artistik yang dipenuhi grafis.

Kocak adalah kekhasan Teater Koma di atas panggung untuk memecahkan kebekuan dan kejenuhan menonton teater yang penuh dialog panjang-panjang. Dari awal sampai akhir, pertunjukan Sie Jin Kwie disesaki dialog yang seolah-olah menggambarkan bahwa pesan utama hanya disampaikan lewat ucapan. ”Saya berharap menonton Sie Jin Kwie seperti menonton wayang kulit-wayang golek yang menggelar kisah Mahabarata dan Ramayana semalam suntuk. Menonton dengan rileks. Tidak tegang. Tanpa beban. Enjoy,” kata Nano Riantiarno.

Menurut Nano, awalnya naskah yang dia sadur berdurasi 7-8 jam. Lalu dia ringkas lagi menjadi empat jam. Semua adegan, kata dia, mengandung potensi daya tarik, sayang kalau dibuang. Pentas-pentasnya sering diadakan lebih dari dua minggu dan bahkan pernah berpentas lebih dari sebulan. Kursi penonton yang selalu berjubel menunjukkan betapa peminat Teater Koma sungguh setia. Jika banyak orang mengatakan panggung teater akan kehilangan penonton seiring suguhan tontonan televisi yang berjibun, dalam kasus Teater Koma, analisis itu tidak terbukti. Bahkan, sejak pentas perdana pada akhir 1970-an sampai sekarang, pementasan Koma selalu penuh penonton.

Pementasan itu menarik tidak hanya jalan ceritanya. Cara mementaskan dramanya juga unik. Pertunjukan tersebut menggabungkan teater Barat dan teater tradisional. Sutradara mencampuradukkan opera China, golek menak, potehi (wayang kulit China-Jawa), wayang wong, dan wayang tavip (karya Tavip). Sutradara tampak ingin menampilkan kesenian Tionghoa yang telah puluhan tahun mati suri di Indonesia dan mengolaborasikannya dengan kesenian lokal.

Masing-masing seni itu dipentaskan untuk menceritakan beberapa adegan secara bergantian. Sie Jin Kwie berbentuk potehi juga diarak di atas panggung. Saat dalang (diperankan Budi Ros) bercerita masa remaja Sie Jien Kwie, misalnya, tiba-tiba dimunculkan wayang tavip. Wayang berwarna itu terbuat dari kain layar putih dan pementasannya didukung sistem pencahayaan dari belakang layar. Dari sudut penonton, pertunjukan wayang tersebut tidak terlihat aksi dalang, hanya tampak kelebatan wayang.

Teater Koma terus melaju dengan dukungan sponsor dan penonton yang fanatik. Meski empat kali mengalami pencekalan pentas, Maaf. Maaf. Maaf (1978), Sampek Engtay (1989), Sukses, dan Opera Kecoa (1990), dua kali ancaman bom, dan berkali-kali diinterogasi aparat hukum, Nano Riantiarno tetap yakin teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. “Jujur, becermin lewat teater diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali peran akan sehat dan budi-nurani,” kata Nano. (*)

*Kustiah

Saturday, September 5, 2020

Pahlawan hutan itu bernama Rosita

 

 

 

Rosita. Foto: Dok pri

Jika Kosta Rika, Amerika Tengah memiliki pahlawan pembuat dan penjaga hutan, Pedro Garcia (57), yang telah berhasil mengembalikan hutan yang rusak dan hilang menjadi hutan subur, Indonesia punya Rosita (59) yang telah menciptakan hutan organik di lahan seluas 23 hektare dengan kerja keras dan tangan dinginnya bersama suaminya.


Berita sebuah media online yang menceritakan perjuangan Pedro, warga Kosta Rika, yang mengembalikan hutan yang hilang menjadi hutan subur mengingatkan saya terhadap sosok perempuan yang gigih. Dia adalah Rosita (59), seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang keduanya telah berkeluarga. Ia tinggal di Kawasan Megamendung, Kawasan Puncak, Bogor sejak 2001 bersama suaminya seorang konsultan perusahaan minyak Bambang Istiawan, (69). Akhir tahun 2019 Bambang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi.

Bukan perjuangan mudah bagi Ita, panggilan Rosita, saat memulai mewujudkan mimpi suaminya untuk tinggal di kawasan sejuk. Perempuan kelahiran Cimande, Bogor ini harus menghadapi para biong (makelar) tanah yang tak segan berbuat premanisme. Namun, Ita tak gentar. Keberaniannya membuat ia berhasil membeli sekitar 2 ribu meter tanah tandus bekas perkebunan teh yang selanjutnya bertahap bertambah menjadi sekitar 23 hektare. 

Suatu kali, pada tahun 90-an suaminya berbicara kepada Rosita ihwal keinginannya tinggal di hutan saat sudah tua. Ada dua tempat impian yang ia incar yakni Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Namun seiring waktu berjalan ternyata hutan di Kaltim sudah jadi pemukiman. Sementara hutan di Sumsel sudah jadi kebun sawit. Lalu ia berangan-angan untuk tinggal di Malang, Jawa Timur. Namun, rupanya Rosita bukannya mendukung malah menantangnya.

"Kalau hutan sudah tidak ada ya ayo bikin hutan," kata Rosita kepada suaminya kala itu menuturkan kepada penulis.

Tuhan tampaknya mendengar doa Ita. Pada tahun 1997, saat krisis melanda lahan teh di puncak Megamendung milik Probosutedjo ikut terkena imbasnya. Lahan seluas 12 hektare ini setahun terbengkalai, tandus, gersang ditumbuhi ilalang. Ita yang kebetulan warga Cimande, Bogor, mendengar bahwa lahan yang tak terurus itu akan dijual. Ita segera menghubungi orang kepercayaan adik Soeharto. Dan ia berhasil membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter dengan harga Rp1.000 rupiah per meter. Mendapatkan lahan tak mudah.  Ita harus berhadapan dengan para calo tanah yang sudah mengkapling dan menawarkan tanah kepada pembeli.

"Jangankan membeli lahan baru, yang sudah dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikapling sama biong, (sebutan calo tanah)" ujarnya.

Akhirnya, bertahap tanah sedikit demi sedikit terbeli dari tangan pertama. Inilah yang membuat Ita mendapatkan harga miring karena tak membeli dari calo. Suaminya tak tahu banyak soal proses pembelian tanah, karena bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan minyak. Dan ketika pulang ia kaget istrinya telah memiliki tanah yang luas.

Di sinilah proses pembuatan hutan dimulai. Pada tahun 2000 Rosita bersama suami dan anak bungsunya melakukan penelitian kecil-kecilan. Dia terkejut,  lahan yang 70 persen ditumbuhi alang-alang ini kondisi tanahnya memprihatinkan. PH tanah hanya 2,5-4, di tanah tak ditemukan cacing, dan tak ada mata air. Menurut warga sebenarnya ada satu mata air di lahan tersebut namun sudah mati.

Pada 2001 mereka memulai proses penanaman, memetakan lahan dengan menanam pohon keras (endemik) dan tanaman yang bisa memberikan nilai manfaat (pohon frontir) atau tumpang sari supaya tetap bisa merawat pohon keras. Komposisinya 2/3 ditanam pohon frontir dan 1/3 nya ditanam pohon endemik dan buah-buahan supaya lahan bisa hijau lebih dulu.

Supaya subur Rosita dan suaminya mengandalkan pupuk organik dari peternakan dengan memelihara sepasang kambing. Ia baru tahu di kemudian hari bahwa supaya hasil pupuk lebih banyak dan ternak berkembang lebih cepat mereka bisa memasangkan kambing 4 betina dengan satu jantan.

"Itulah, karena bodohnya saya kira kalau mau cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal bisa 4 banding satu," ujar Bambang menimpali sambil terkekeh

Perlahan tanaman mulai tumbuh. Rosita beserta anak dan suaminya selama mengolah lahan berpuasa tak menggunakan pupuk unorganik. Berkat ketelatenan tanaman sudah terlihat mulai menghijau meskipun tak secepat bayangan Rosita. Mereka beberapa kali disergap rasa bosan dan tergoda menggunakan pupuk unorganik supaya tanamannya lekas hijau dan tumbuh lebat.

Beruntung orang tuanya menasehatinya saat ia mengutarakan meminjam uang untuk membeli pupuk. Yang diingat dari kata-kata bapaknya, Tuhan menciptakan hutan lebat tanpa dipupuk. Kalau lahan kritis mau direhabilitasi harus jadi hutan alam dulu, jadi hutan organik seperti Tuhan menciptakan hutan. Manjur. Nasihat bapaknya perlahan memudarkan kebosanannya apalagi saat itu Ita dan suaminua juga sudah tak memiliki uang untuk membeli pupuk selain menggunakan kotoran ternaknya yang perlahan juga mulai bertambah jumlahnya. Tak disangka, kesabaran berbuah manis. Pada 2003 muncul mata air di dekat daerah cekungan.

Sejak saat itu pula Ita dan suaminya menggunakan air dari mata air untuk kebutuhan rumah tangga. Setelah sebelumnya menggunakan air hasil mengebor sumur sedalam 400 meter.

Yang menenteramkan, tanaman tumpangsari juga memberikan hasil yang memuaskan. Tiap panen tanaman seperti sawi, lobak, bayam, cabai, terong, jagung, dan aneka tanaman tumpang sari lainnya berlimpah. Dan hasilnya bisa dijual untuk membayar para petani yang membantu. Dan yang membuat Ita dan suaminya bernapas lega, kini aneka satwa telah mampir dan tinggal di hutan miliknya. Mulai dari burung elang hingga diduga harimau. Akhir 2014 empat kambing miliknya menjadi korban. Menurut suaminya, berdasarkan identifikasi gigitan beberapa ahli menyimpulkan bahwa gigitan yang biasa mengoyak muka dan perut kambing adalah harimau.

***


Luas lahan bertambah

Pada 2005 belasan perwakilan masyarakat yang tinggal di bawah puncak yang berbatasan dengan Sentul mendatangi rumah Rosita. Keberanian Rosita menghadapi calo tanah rupanya  telah terdengar di mana-mana. Selain masyarakat mengenal Rosita sebagai perempuan yang ulet merawat lahannya  dan mencintai lingkungan. Masyarakat mengadu bahwa ada seorang pengusaha yang berencana membuat penangkaran buaya di bukit tak jauh dari hutan milik Ita. Bukit itu sebelumnya merupakan bekas potongan yang rencananya akan digunakan sebagai pemukiman. Karena tak berizin pengembang meninggalkan begitu saja bukit yang di lerengnya terdapat semacam setu. Masyarakat keberatan jika ada penangkaran buaya di sana. Apalagi di bawahnya terdapat perumahan warga.

"Mereka keberatan karena pasti akan ada bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke permukiman warga," kata Ita.

Akhirnya karena desakan masyarakat Rosita menggunakan tabungan yang rencananya akan dibelikan mobil dikuras habis untuk membeli lahan seluas 11 hektare. Kini lahan itu ditanami aneka tanaman tumpang sari dan tanaman keras seperti ketika Ita dan suaminya memulai menanami lahan tandus miliknya terdahulu. Pohon di lahan seluas 12 hektare kini tumbuh rimbun, sementara di lahan 11 hekatare dipenuhi aneka tanaman tumpangsari dan sisanya tanaman endemik yang juga tak kalah rimbunnya. Lahan kedua ini sengaja digunakan sebagai green living area. Di atas lahan ini pula Ita dan suaminya berhasil menggunakan teknik hidran, dengan menaikkan air ke atas lahan dengan ketinggian sekitar 100 meter.

Berkat kesuksesannya membuat hutan organik Ita bersama suami dan anaknya sering diundang ke seminar-seminar baik di dalam dan mancanegara. Di Sudan metode yang digunakan Ita dan suaminya  dijiplak dan berhasil diterapkan.

"Saya tak punya background, tak punya uang banyak dan dukungan politik. Yang saya punyai hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa saya bagikan," kata Ita.


Penginapan di kawasan Hutan Organik. Foto-foto:Dok Hutan Organik






Kini, sambil menikmati masa tua dengan menjadi "satpam hutan organik" Rosita disibukkan dengan kunjungan tamu yang hendak melihat dan menikmati keindahan hutan miliknya. Di tengah hutan para tamu bisa memanjakan mata dan menikmati kesejukan alam. Jika hendak mengadakan diskusi atau menginap bersama keluarga Rosita menyediakan fasilitasnya, lengkap dengan aneka masakan Sunda yang menggigit lidah. Penasaran? silakan buktikan sendiri dengan datang ke lokasi.

Kustiah

 

Melihat Pandemi Covid-19 dari Sisi Lain


Ilustrasi Covid-19. sumber: Pixbay.com

Artikel berjudul ‘Install Ulang Tata Kehidupan’ yang ditulis Rektor IPB Arif Satria di sebuah media nasional (Maret 2020) menarik untuk ditanggapi. Menariknya, pandemi Covid-19 yang menyebabkan sebagian besar masyarakat khawatir akan kesehatannya dan mengakibatkan sejumlah kelumpuhan baik ekonomi, sosial ternyata bisa kita lihat dengan kacamata berbeda. Pak Rektor mengajak pembaca, daripada melihat dari sisi negatif dan kerugian yang ditimbulkan Covid 19, ada baiknya melihat sisi positif yang yang bisa kita syukuri dan kita rawat seandainya  Covid 19 hilang.

Sisi positif yang pertama, hikmah yang dapat kita ambil di tengah pandemi Covid 19 adalah kehidupan ekologis. Kita tidak menyebut bahwa perlu ada bencana besar seperti wabah untuk memperbaiki sesuatu yang tampaknya sulit dilakukan. Tetapi, menggunakan pikiran positif, sisi lain dengan menyebut pandemi Covid 19 memberikan berkah bagi alam juga tidak salah.


Saat memasuki masa kemarau sudah menjadi kegelisahan tahunan bagi warga masyarakat yang terpapar polusi udara. Pada awal Juli 2019 muncul tagar #SetorFotoPolusi di media sosial dan muncul rencana gugatan yang akan diajukan kepada presiden RI, gubernur DKI Jakarta, dan lima pejabat pemerintahan lainnya yang dianggap lalai dalam mengendalikan pencemaran udara di Jakarta. Masyarakat Jakarta merasa polusi di Jakarta sudah tidak bisa ditoleransi lagi karena sepanjang waktu udara pada pandangan kasat mata tampak gelap pekat dan menyebabkan ketidaknyamanan dan mengancam kesehatan.

Sejumlah pengamat lingkungan dan pakar hukum lingkungan beranggapan bahwa kualitas udara yang buruk di Jakarta berkaitan erat dengan dengan kebijakan pemerintah provinsi Jakarta yang dianggap bermasalah.

Dan entah apakah kita bisa menyebut Covid 19 ini sebagai a blessing in disguise dalam kasus ini. Karena, sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di antaranya social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan imbauan di rumah saja telah membatasi mobilitas manusia dan ruang geraknya mengubah langit Jakarta gelap karena polusi dengan kualitas udara buruk menjadi cerah, bersih dengan kualitas udara baik.

Bahkan sebulan setelah Covid 19 masuk Indonesia dan sejumlah kebijakan dikeluarkan untuk menghambat penyebaran Covid 19 makin meluas, sejumlah media memberitakan kondisi bumi di saat pandemi Covid yang digambarkan lapisan ozon membaik dan udara makin segar.

Hanya saja, kita perlu bertanya, apakah seandainya pandemi Covid 19 berakhir kondisi bumi, kualitas udara masih akan dalam kondisi baik?

Ini yang perlu kita garis bawahi. Saya rasa pemerintah Indonesia juga negara-negara dunia perlu memikirkan sebuah kebijakan besar dan konsep yang mengajak masyarakat turut berpartisipasi secara aktif dalam menjaga lingkungan. Karena, dengan lingkungan yang baik dan sehat kualitas hidup pun akan sehat. Salah satu di antaranya, kebijakan penggunaan transportasi umum sebagai satu-satunya moda transportasi perlu benar-benar dipraktikkan. Tidak hanya sebuah wacana dan konsep di atas kertas.

Jika masalahnya adalah sarana infrastruktur yang belum mendukung, maka pemerintah perlu memperbaikinya. Jika yang dianggap menjadi penyebab sumber polusi adalah pabrik-pabrik yang tidak mematuhi aturan pembuangan polutan, maka menjadi tugas pemerintah menghukumnya. Jangan sampai hanya karena alasan menjaga investasi dan supaya investor tidak lari lantas pemerintah melakukan pembiaran yang dapat merusak kualitas hidup masyarakatnya. Atau jika yang dianggap sebagai sumber polutan adalah banyaknya kendaraan bermotor atau mobil pribadi, maka perlu juga dilakukan sosialisasi betapa menggunakan transportasi massal membuat kehidupan lebih sehat. Dengan catatan moda transportasi massal sudah dibenahi. Untuk mewujudkan lingkungan sehat tampaknya bukan perkara sulit jika pesan komunikasi pembangunan sampai kepada masyarakat dan pemerintah, baik Indonesia maupun negara di belahan dunia punya kemauan keras dan usaha sungguh-sungguh mewujudkannya.

Selain kondisi lingkungan yang membaik, hal kedua yang menjadi hikmah yang patut kita syukuri di tengah pandemi Covid 19 adalah kebiasaan hidup sehat. Saat ini tanpa diingatkan dan dipaksa masyarakat telah memiliki kesadaran bagaimana menjaga kesehatan dan menghindari gaya hidup tidak sehat. Di luar rumah kita bisa lihat bagaimana warga keluar mengenakan masker sebagai alat pelindung diri. Saya masih ingat bagaimana petugas kesehatan di Puskesmas Cilebut, Bogor, Jawa Barat sebelum pandemi Covid yang harus mengulang-ulang imbauan dan menempel imbauan dalam bentuk kertas yang ditujukan kepada calon pasien yang hendak berobat untuk senantiasa mengenakan masker ketika batuk atau bersin.

Saya sendiri juga sering membatin, kapan masyarakat Indonesia beranjak dari cara menjalani pola hidup yang sehat dengan tidak meludah sembarangan dan menutup mulut saat batuk atau bersin saat berada di tempat umum? Saya sebagai orang yang berada tak jauh dari orang yang bersin dan batuk tanpa ditutup sering merasa risih dan kesal. Tetapi, dengan adanya Covid 19 kita bisa belajar banyak. Karena di balik kesusahan dan ancaman kesehatan Covid 19 membuat masyarakat tahu tentang pentingnya menjaga kesehatan dan bagaimana tidak menularkan penyakit kepada orang lain. Selain proses internalisasi dari paparan informasi dan imbauan yang terus berulang dari pemerintah, baik tingkat pusat hingga tingkat RT, ternyata yang menciptakan perubahan sosial bukan berangkat dari individu masyarakat saja. Tetapi upaya besar pemerintah yang menjadi peran kunci perubahan tersebut.

Upaya menjaga kesehatan lainnya adalah dengan berjemur, menjaga pikiran tetap positif dan menghindari stres berlebihan juga telah menjadi pilihan hidup masyarakat saat ini. Masyarakat secara umum mungkin tahu dari para orang tua tentang pentingnya berjemur di pagi hari, atau bahasa jawanya dede. Namun, karena orang tua berbicara tanpa disertai alasan medis dan tidak ada kajian ilmiah yang menjelaskan bab tersebut sehingga anjuran itu hanya dianggap angin lalu. Kini, yang disampaikan para orang tua bukan omong kosong. Di tengah pandemi Covid 19 paramedis menyampaikan pentingnya berjemur dan kini imbauan tersebut dipatuhi masyarakat.

Hikmah ketiga adalah, berubahnya tata kehidupan sosial-ekonomi. Prof Arif menggarisbawahi berubahnya tatanan sosial yang awalnya cenderung individual berubah menjadi masyarakat sosial yang memiliki solidaritas tinggi. Hanya saja, saya melihat perubahan ini hanya terjadi di tatanan masyarakat perkotaan yang biasa hidup individualistik. Jadi, perubahan yang terjadi, yang awalnya memikirkan kehidupannya sendiri kemudian berubah dengan empati dan meningkatnya kegiatan sosial terlihat ekstrem.

Sementara pada kehidupan pedesaan, kita tahu yang entah sejak kapan mulai terjadi, telah mengalami perubahan yang signifikan. Jika dulu pada tahun 80-90 an masyarakat masih gemar gotong royong, hidup rukun, saling membantu, kini berubah drastis. Kini, di kampung pola kehidupan hampir mirip perkotaan. Jika dulu saat listrik bermasalah kita bisa memanggil tetangga meminta tolong untuk membenahi listrik dengan upah terima kasih atau upah makanan seadanya, kini berubah yang memanggil harus membayar dengan uang untuk mengganti jasanya. Terhadap apa pun masyarakat pedesaan harus membayar uang sebagai upah atas jasa yang dikeluarkan. Kecuali ada negosiasi dari masyarakat miskin kepada tukang yang dipanggilnya.

Begitu pula saat pandemi Covid 19 mengancam kesehatan dan kehidupan bermasyarakat kita. Sejumlah kebijakan dan imbauan menjadikan mereka tak hanya tergerus secara emosi, karena biasanya bisa berkunjung ke tetangga untuk sekadar tahu kabar, kini dipaksa tinggal d rumah dan dilarang bertemu siapa saja. Kondisi saat ini menjadikan masyarakat termiskinkan secara mental, kehilangan eksistensinya sebagai makhluk sosial, dan miskin secara materi. Kini mereka hanya berharap kepada pemerintah untuk hadir di tengah kemiskinan yang mereka hadapi untuk tetap bertahan hidup.

Sementara hal positif keempat yang dipaparkan Prof Arif Satria adalah tata kehidupan para pembelajar. Dalam konteks ini saya belum melihat stressing dari dunia keilmuan kita. Barangkali yang dimaksud Prof Arif adalah, di tengah Covid 19, para pembelajar, masyarakat secara umum ditantang keilmuannya untuk turut serta bersumbangsih untuk masyarakat banyak. Misal, jika masa lalu kita abai terhadap lahan kosong yang sering kita lewati yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kita, kini di masa pandemic dan paceklik ekonomi kita bisa kreatif memanfaatkan lahan tersebut, mengajak warga bersama-sama untuk menggarap menjadi lahan pekarangan yang bisa ditanam untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Inovasi dan kreativitas bisa mewujud dalam bentuk apa pun. Selama memberi kebermanfaatan bagi banyak orang, siapa pun bisa memulai dan melakukannya.

Dan hikmah kelima adalah pandemi Covid 19 diharapkan bisa menjadi ruang kontemplasi. Di mana hubungan manusia dengan sang pencipta bisa kita perbarui dan perbaiki supaya lebih intim. Jika sebelum Covid 19 kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan duniawi, waktu habis di jalan untuk berangkat ke tempat kerja, kini dengan imbauan di rumah saja dan kebijakan work from home (WFH), waktu menjadi lebih berkualitas. Kita bisa mengatur waktu seefisien dan seefektif mungkin, membaginya untuk bekerja, berkumpul bersama keluarga, dan bertafakur kepada Tuhan.

Kustiah

 

 

 

 

 

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...