| dok.ist |
Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekalipun. Dan yang khas dari Wawa, dia selalu mengajak bersalaman kepada siapa saja yang ia temui.
Aku mengenalnya. Setiap pagi pukul 07.00 WIB dia bersama mamanya lewat depan rumah, tepat saat aku sedang menyapu jalan depan rumah. Wawa selalu ikut serta ibunya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di rumah tetangga tak jauh dari rumah. Berangkat pagi pulang sore.
Umur Wawa 6 tahun Januari nanti. Ibunya orang tua tunggal. Ayah Wawa pergi saat bayi mungil yang lahir dengan down syndrom (berkebutuhan khusus) berusia seminggu lebih. Ibu Wawa ingat, usai melahirkan secara sesar suaminya menemui dokter. Seminggu sepulang dari RS suaminya menghilang bak ditelan bumi.
Tak ada kabar, tak ada pemberitahuan apa pun yang diterima ibu Wawa kecuali kedatangan dua laki-laki yang mengaku kenalan suaminya. Dua laki-laki menagih uang yang dipinjam ayah Wawa dengan jaminan surat tanah milik Ibu Wawa. Simpanan hasil kerja keras Ibu Wawa selama dua tahun menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi ludes.
Ibu Wawa merelakan tabungannya disita karena tak mampu membayar utang yang ditinggalkan ayah Wawa. Kehidupan ibu Wawa ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tak ada yang membantu tak ada yang mendampingi, kecuali saudara Ibu Wawa yang ada di Garut, Jawa Barat yang mau dititipi Wawa saat ibu Wawa memutuskan bekerja sebagai PRT di Bogor.
"Saya dan anak saya perlu hidup. Kalau tidak bekerja siapa lagi yang bisa menghidupi kami," ujarnya saat berbincang suatu hari.
Beranjak besar Wawa diajak ke Bogor. Mengontrak sebuah rumah petak, tinggal berdua dan kemana-mana berdua termasuk saat bekerja. Beruntung majikan Ibu Wawa baik, membolehkan anak dibawa serta. Jarak 500 meter yang harus ditempuh dari rumah kontrakan ke tempat bekerja kadang dengan jalan kaki, kadang naik mobil angkutan umum tak begitu berat ketimbang berjauhan meninggalkan anak di Garut.
Namun, badai covid membuat kehidupan Wawa beserta ibunya kembali terombang ambing. Wawa beserta Ibunya terkena covid dan memaksa keduanya harus melakukan isolasi mandiri selama dua minggu lebih.
Dan yang lebih membuat Ibu Wawa bersedih, saat dinyatakan negatif dan hendak kembali bekerja majikan memberitahu menghentikan mempekerjakannya kecuali ibu Wawa bekerja tanpa membawa serta Wawa.
Karena kalut suatu hari Ibu Wawa berencana menitipkan anaknya ke panti asuhan. Kondisi Wawa yang berkebutuhan khusus tak memungkinkan ditinggal seorang diri di kontrakan, apalagi masih anak-anak. Tak memungkinkan pula dititipkan ke saudaranya karena gajinya tak akan cukup untuk membayar saudaranya dan menghidupi anaknya.
"Saya bingung dan merasa seperti tidak ada pilihan lain," kata bu Ade, ibu Wawa .
Di tengah kehidupan yang serba sulit Ibu Wawa jelas bukan wonder women yang bisa membalikkan hidupnya supaya kembali baik-baik saja. Sebelum menikah dengan ayah Wawa, bu Ade pernah punya keluarga dan memiliki empat anak. Namun, karena ia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan mengajukan gugatan cerai, suami memaksanya keluar rumah.
Saat itu, ia merasa kehilangan segalanya, juga kehidupannya. Kehilangan rumah yang ia bangun dari jerih payah selama menjadi buruh garmen dan kehilangan anak-anaknya, keempatnya.
"Supaya saya tidak gila, saya memilih bekerja sebagai TKW. Sekalian jauh," ujarnya.
Berulang kali mantan suaminya mengajaknya rujuk, namun rupaya ia tak bisa melupakan peristiwa traumatik KDRT yang pernah dialaminya.
Dua tahun menjadi TKW Bu Ade pulang ke Indonesia dan bertemu lelaki, menikah, dan dialah ayah Wawa.
Hidup di tengah budaya patriarki yang cukup kuat membuat perempuan rentan menjadi korban KDRT, diabaikan, ditelantarkan dan menjadi pihak yang mudah disalahkan dan sering kali kehidupannya dirugikan.
"Seandainya keluarga mantan suami dulu ikut menyelematkan saya saat saya disiksa suami, mungkin saya akan berusaha mempertahankan rumah tangga," katanya.
Saat peristiwa KDRT terjadi yang diingat Bu Ade, keluarga suaminya justru membela suaminya.
"Keluarganya malah menyebut KDRT yang dilakukan mantan suami karena khilaf" ujarnya.
Kustiah
No comments:
Post a Comment