Thursday, March 5, 2020

Ibu para mantan pecandu


Detik.com


Bukan perkara mudah mendekati mantan narapidana kasus narkoba atau mantan pecandu narkoba. Apalagi mengajak mereka melupakan kehidupan kelamnya dan mengajak berwirausaha. Tapi inilah yang dikerjakan Etty Lasmini, 58 tahun. Janda enam anak ini melakukan hal yang mungkin bagi orang lain dianggap sulit.


Menemukan Etty di kawasan ekonomi sulit
Menemukan rumah Etty yang ada di RT 01 RW 04 Kelurahan Tegal parang, di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan sebenarnya tak terlalu sulit. Apalagi warga yang ada di setiap gang yang kami temui  mengenal dan mengetahui rumah Etty.

Tetapi, hari itu, beberapa waktu lalu ketika saya mendatangi rumah kontrakannya hujan turun sangat deras yang mengakibatkan jalan di gang-gang tergenang air setinggi 40 sentimeter lebih. Sehingga saya akhirnya harus berjalan memutar dan menempuh perjalanan lebih jauh menuju rumah Etty.

Lokasi RT yang dipimpin Etty selama lima periode atau sekitar 13 tahun ini diapit jalan besar, Jalan Gatot Soebroto dan Jalan Mampang. Juga gedung-gedung tinggi dan mewah. Namun, jangan mengira warga yang tinggal di sekitarnya ikut merasakan dan menikmati pembangunan. Justru warga Kelurahan Tegal Parang ini banyak yang mengalami kesulitan ekonomi. Menurut Etty,  sebagian besar warganya bekerja sebagai tukang bangunan, pemulung, penjual rongsok, dan beberapa menjadi tukang jagal sapi.

Dulu, kata Etty, di depan gang dipasang plang besar bertuliskan Selamat Datang di Kawasan Elite Cinta Damai.

"Maksudnya, Selamat Datang di Kawasan Ekonomi Sulit Cinta Damai,” ujar Etty kepada penulis terbahak.

Saking sulitnya banyak warga yang memilih jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan. Caranya dengan menjadi pengedar narkoba. Etty menghitung hampir 10 persen warganya adalah mantan pengedar, pengguna, dan penghuni lapas untuk kasus narkoba. Kondisi inilah yang membuat kampungnya pernah dijuluki  Badan Narkotika Nasional sebagai kawasan terbesar kedua yang menjadi peredaran narkoba setelah Kampung Ambon.

 Etty bercerita, sudah banyak warganya yang meninggal akibat mengonsumsi narkoba dan menjadi penghuni lapas. Awalnya, sebelum menjadi pengguna warga menjadi pengedar terlebih
dahulu karena diiming-imingi komisi yang tak sedikit.

Prihatin melihat kondisi warganya Etty nekat mendekati mereka. Cibiran, kecaman, dan ditolak saat mendatangi rumah warga yang bermasalah sudah biasa Etty hadapi.

"Saya tak peduli. Meskipun dimusuhi sekalipun," katanya.

Sekali, dua kali hingga berkali-kali perlahan akhirnya warga mau membuka diri. Ajakan Etty sederhana. Jika ingin cepat mati mereka tak perlu berubah. Tetapi jika ingin berumur panjang hidup tenang bersama keluarga, maka berwirausahalah. Etty mengajak mereka berwirausaha kerupuk kulit seperti yang ia lakoni selama ini.

Menurutnya, usaha itu tidak terlalu sulit jika ada kemauan. Apalagi Etty memiliki jaringan dan dekat dengan para pengusaha kerupuk kulit. Jika mau membuka produksi atau cukup hanya berdagang kerupuk kulit Etty bisa dengan sangat mudah membimbingnya.

"Kalau sumber masalahnya selama ini kesulitan ekonomi, maka solusinya ya memberi mereka pekerjaan," ujarnya.

Kini, warga binaan Etty di daerah Mampang sekitarnya telah mencapai 100 orang lebih. Sejumlah warga binaannya bahkan telah berani mengikuti berbagai pameran untuk menjual dan mempromosikan dagangannya.

Dengan langkahnya yang berani dan kepedulian yang tinggi terhadap nasib orang lain orang mungkin menyangka Etty orang kaya dan cukup berada. Ibu lulusan sekolah dasar ini mengaku sering dicibir salah satunya karena kondisi ekonominya sendiri yang tak pernah serba kecukupan. Bahkan, dulu ketika masih hidup suaminya sering komplain ke Etty untuk tak terlalu memikirkan nasib orang lain.

"Genteng sendiri aja masih bocor, untuk apa memikirkan orang lain yang susah," kata Etty mengenang ucapan suaminya.

Membantu membangun bisnis bagi mantan pecandu

Etty mahfhum dan tak menyangkal yang dikatakan suaminya. Karena, ia dan keluarganya sendiri masih menghuni rumah pinjaman dari Yayasan Sekolah 28 Oktober sejak 90 an hingga 2013. Dan pindah mengontrak tak jauh dari rumah sebelumnya. Sejak usaha jagal suaminya bangkrut pada tahun 89 an Etty dan keluarganya tinggal menumpang. Karena rumah yang ia beli bersama suaminya terjual ludes.

"Tapi prinsip saya, rezeki itu tidak harus selalu diukur dengan uang. Kesempatan, kebaikan, dan dipertemukan dengan banyak orang itupun sudah merupakan rezeki," ujarnya.

Masa jaya usaha suami Etty diakui Suparno (62), salah satu pengusaha kerupuk kulit yang tinggal di Kawasan Warung Buncit. Suparno mengatakan di era tahun 80 an Madani, suami Etty terkenal sebagai tukang jagal dan suplier kulit sapi terbesar dari kawasan Mampang. Sebagian besar pengusaha kerupuk kulit bahannya disuplai oleh Madani.

"Semua pedagang kerupuk kulit kenal Madani dan tahu siapa dia," ujarnya.

Tapi itu dulu. Etty mengenang, dari kesulitan yang dihadapi itulah ia bisa berempati ikut memikirkan nasib orang lain. Hidup serba kekurangan seringkali ia rasakan.

”Karena saya miskin, maka saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan,” katanya.
 
Etty merasa apa yang ia lakukan tak sia-sia. Karena sebagian besar warga binaannya berhasil membangun bisnis atau membuat usaha lain. Meskipun kondisi sendiri juga tak lebih baik Etty tak berkecil hati. Hingga kini ia masih mengontrak di sebuah rumah bertipe 21 di gang sempit di Kawasan Mampang Prapatan, tak jauh dari rumah yang ia tempati sebelumnya

Ia cukup bahagia bisa membantu orang lain keluar dari kesulitan. Apalagi ia juga bisa membuktikan dan memberikan teladan kepada warga binaannya bahwa dengan usaha kerupuk kulit dan keripik tempe, Ia bisa menyekolahkan kelima anaknya sampai jenjang perguruan tinggi.


Kustiah



Kreativitas perempuan disabilitas mengolah sampah


Foto.Ist


The Happy Trash Bag adalah usaha yang dikelola para perempuan disabilitas. Tas, dompet, dan boneka tersebut yang terbuat dari bungkus permen, bungkus kopi atau bungkus minyak goreng banyak dipajang di hotel dan supermarket. Kini produknya sudah menembus di sejumlah negara seperti Singapura, Dubai, Australia dan Amerika
.

Di lantai dua di sebuah ruangan yang lumayan luas, sekira 5x10 meter, di kawasan Ciputat, Tangerang, Nining, 34 tahun tengah sibuk menjahit plastik spanduk yang akan ia buat menjadi tas jinjing. Ia tampak mahir. Dengan cekatan menggunting, melipat dan menjahit plastik dengan cepat.

"Ini tas pesanan dari hotel," katanya kepada penulis waktu itu.

Nining tak sendiri, di ruangan itu ada tiga temannya yang juga melakukan hal yang sama kecuali Tejdo (42) yang duduk di lantai memasang kancing tas.

Siang itu suara mesin jahit bersahutan. Sesekali satu di antara mereka pergi ke toilet atau ke dapur untuk kencing atau makan bergantian. Hanya Nining yang kadang keluar rumah untuk melemaskan kaki. Maklum, saat itu Nining tengah hamil enam bulan.

Siang itu seharusnya, jika datang semua, karyawan yang bekerja menurut Nining berjumlah sembilan orang. Namun, hari itu penjahit yang bekerja hanya empat orang. Mereka semua penyandang tuna rungu seperti Nining.

Nining adalah bungsu dari tiga bersaudara. Bersama kakaknya, Sunarti (42) dan Sunarni (39), Nining melanjutkan bisnis pengolahan limbah plastik seperti bungkus kopi, bungkus pewangi cucian, plastik spanduk, yang dibangun ibunya, Kasmi (almarhum). Usaha pengolahan limbah itu diberi nama 'The Happy Trash Bag'.

Menurut Nani, panggilan Sunarni, ia dan kakaknya tak heran dengan perkembangan pesat keterampilan dan kemahiran adiknya menjahit. Karena, ibunya memang telah mempersiapkan Nining sejak usia 14 tahun. Dengan disiplin keras dan tempaan didikan ibunya Nining menjadi pengajar sekaligus penerus bisnis happy trash bag yang bisa diandalkan.

Mendirikan usaha karena kondisi anak

Usai melahirkan dan mengetahui kondisi anak bungsunya yang menyandang tuna rungu, hidup Kasmi tak tenang. Ia berpikir keras mencari cara supaya kelak saat anaknya dewasa bisa memiliki masa depan yang baik tanpa harus bergantung ke orang lain.

Nani bercerita, ibunya adalah sosok perempuan pekerja keras. Meski tak berpendidikan tinggi (tak lulus SD) ibunya memiliki kesadaran tinggi soal pendidikan dan masa depan anaknya. Ia juga sadar bahwa mengandalkan pendapatan suaminya sebagai buruh bangunan bukanlah keputusan yang tepat. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Kasmi menjual gorengan dengan berkeliling  sepeda membawa serta ketiga anaknya.

Suatu hari tetangganya menawari pekerjaan Kasmi sebagai pengasuh anak di keluarga ekspatriat. Perempuan asal Wonogiri, Jawa tengah ini tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memikirkan masa depan anak-anaknya. Tak mungkin ia dan keluarganya akan selamanya tinggal mengontrak di rumah bedeng, rumah dengan dinding seng, berlantai semen yang luasnya tak seberapa. Akhirnya, kedua anaknya yang besar ia titipkan kepada ibunya di Wonogiri. Sementara Nining tinggal bersamanya.

Beruntung, majikan Kasmi sangat baik. Mereka tak keberatan Kasmi membawa anaknya saat bekerja. Dan yang membuat Kasmi senang, majikannya mempersilakan ia mengikuti kursus menjahit, merias pengantin, dan memasak.

"Majikan ibu saya katanya senang dengan kemauan dan kerja keras ibu," ujar Nani.

Pertama belajar menjahit Kasmi diajarkan membuat boneka yang biasa dimiliki orang luar negeri, seperti boneka halloween, puteri cinderela, nenek sihir, dan lainnya. Dan seiring waktu berjalan keterampilan Kasmi berkembang pesat. Selain membuat boneka dari kain parca, kuda-kudaan Kasmi juga membuat tas atau dompet cantik dari bahan limbah. Beruntung, saat Kasmi tengah merintis usaha masa tugas majikannya di Indonesia juga  sudah berakhir. Jadi ia bisa leluasa dan fokus mengembangkan usahanya.

Kasmi memulai usahanya pada 1995. Dengan modal Rp500 ribu hasil menabung Kasmi. Ia memulai dari keluarga terdekatnya hingga merekrut ibu-ibu orang tua penyandang tuna rungu. Ide memberdayakan ibu-ibu wali murid siswa SLB ini muncul saat Kasmi mengantarkan  Nining ke sekolah. Ia sering melihat ibu-ibu yang mengantarkan anaknya sibuk ngobrol di depan sekolah. Kasmi terpikir  memberdayakan para ibu dengan menularkan keterampilannya supaya kelak bisa ditularkan kepada anak-anaknya yang menyandang tuna rungu.

Ibu-ibu wali murid setuju. Pelan namun pasti usaha yang semula kecil berkembang menjadi besar. Kasmi kebingungan untuk memasarkan produknya dan ia berkonsultasi dengan bekas majikannya. Lagi-lagi mantan majikannya yang masih tinggal di Indonesia ini berbaik hati kepada Kasmi. Ia bersedia menawarkan produk Kasmi ke kawan-kawannya. Apalagi produk Kasmi unik. Ia menyarankan kepada Kasmi supaya konsisten menggunakan bahan limbah dan terus berkreasi.
Seiring waktu yang semula bekerja menjahit adalah para ibu kini berganti menjadi anak-anak mereka yang menyandang tuna rungu yang melanjutkan.

Meninggalkan zona nyaman

Pada 2000 Kasmi, ibu Nani menyarankan kepadanya untuk resign dan melanjutkan usaha yang dirintis dan dibesarkan ibunya. Saat itu Nani bekerja di Departemen Kehakiman sebagai staf pengarsipan.

"Ibu menyakinkan saya kalau kerja dilakukan untuk kebaikan dan berguna bagi banyak orang niscaya umurnya akan lama sampai ke anak cucu," kata Nani mengenang saran ibunya.

Pertimbangan lainnya adalah karena Nani tak tega membiarkan ibunya berjuang seorang diri mendidik dan mendampingi adiknya yang tuna rungu bersama para pekerja lainnya yang tuna rungu. 

Nani akhirnya memutuskan keluar kerja. Perempuan lulusan Diploma jurusan pariwisata ini mengambil alih pemasaran dan ikut mengelola usaha bersama ibu dan saudaranya.

Untuk memperkenalkan produk happy trash bag Nani mengikuti pameran dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu bazar ke bazar lainnya mulai tingkat kelurahan hingga kementerian. Nani ingat, kala itu produknya sering dicibir. Masyarakat menganggap produknya sebagai barang murahan tak berharga.

"Sampah aja kok dijual," kata calon pembeli dan komentar masyarakat yang mengetahui produk Nani hampir semua bahannya berasal dari limbah yang dibeli dari pengepul atau pemulung.

Nani tak gentar. Sejak awal memutuskan membesarkan happy trash bag ia sudah mempertimbangkan konsekuensinya. Dan yang membuat ia senantiasa termotivasi bahwa yang ia, saudara dan ibunya lakukan bukan sekadar mencari uang untuk keluarganya. Tetapi lebih dari itu bahwa keluarganya juga memperhatikan masa depan penyandang tuna rungu.

"Kami tak mengklaim bahwa yang kami lakukan sudah benar. Tetapi jujur, kami tak suka melihat penyandang tunarungu atau orang berkebutuhan khusus ini menjadi tukang parkir atau peminta-minta. Kami ingin mereka memiliki masa depan yang baik seperti manusia normal lainnya," ujar Nani.

Nani dan ibunya paham bahwa ketergantungan penyandang tuna rungu atau orang dengan kebutuhan khusus kepada orang lain karena mereka tak dibekali keterampilan. Untuk itu, Nani dan ibunya terus bergerilya memasarkan produknya. Dan tak memedulikan cibiran orang.

Masa jaya The Happy Trash Bag

Pada 2002 merupakan tahun kejayaan the happy trash bag. Berkat kerjasama dengan beberapa hotel usaha happy trash bag dikenal masyarakat luas. Nani dan ibunya sering kuwalahan memenuhi permintaan hotel. Tas-tas dan produk limbah berupa dompet, boneka yang dibanderol seharga Rp10.000-400.000 terjual seperti kacang goreng. Peminatnya adalah para turis. Karena kebutuhan bahan bertambah, Nani mengubah strategi kerjasama tak sekadar menitipkan dagangan. Tetapi juga mengajak hotel menyetorkan sampah plastik supaya bisa diolah.

"Kita memang nggak bisa membersihkan sampah. Tapi paling tidak yang kita lakukan bisa mengurangi," ujar ibu dua anak ini.

Setelah produknya dikenal masyarakat luas usaha Kasmi dan anak-anaknya ikut terkenal. Permintaan mengajar dan pelatihan ke daerah dan di sejumlah instansi membanjir.

Nani tak keberatan. Sekalipun usahanya terancam akan mendapat banyak pesaing ia tak pelit ilmu. Apalagi pelatihan dilakukan untuk memberikan keterampilan kepada penyandang tuna rungu.

"Rezeki sudah ada yang mengatur. Tuhan tak akan keliru memberikan rezeki kepada hamba-Nya," ujarnya.

Kini, berkat kegigihan Nani tuna rungu yang bekerja bersamanya sudah mencapai 50-an orang. Mereka bekerja mandiri di rumah. Menerima orderan dan mengerjakannya di rumah masing-masing. Sementara di daerah-daerah  peserta pelatihan baik yang masih belajar atau sudah membuat usaha, menurut Nani sudah tak terhitung jumlahnya.

Itulah salah satu kebahagiaan Nani yang memotivasi dia untuk terus berbuat kebaikan dan menularkan ilmunya.  Berkat kegigihannya kala itu Kasmi mendapatkan Danamon Award pada 2007 mengalahkan 700 peserta. Dan penghargaan yang sama diterima Nani pada 2014 mengalahkan 840 peserta.

Kustiah


Belajar toleransi dari warga Kramat Jati



Detik.com


Gang sempit di Kramat Jati, Jakarta Timur ini mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya menebarkan kasih meski dalam perbedaan.

Menemukan Gang Eka Dharma RT 001 RW 08 Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur tidaklah terlalu sulit. Gang ini cukup mencolok dibanding gang lain. Meski sepanjang depan gang tertutup toko percetakan yang selalu ramai dan sibuk, begitu berbelok masuk gang kita akan menemukan keteduhan. Jembatan yang menjadi pintu masuk gang ini sisi kanan kirinya dipenuhi bunga hijau yang diletakkan di pot hitam berpenyangga besi. Berjalan ke dalam, gang yang hanya cukup dilewati satu motor ini asri dan bersih. Ada dua plang penunjuk di pintu masuk gang, pelang tertulis Gereja Kristen Pasundan, Kampung Tengah dan pelang penunjuk Mushala Al Mukhlashiin. Dua tempat ibadah ini berdekatan dan bertempat di RT yang sama.

Menurut Ketua RT 001 Neng Harti (60) yang menjabat tiga periode sebagai ketua RT,  warganya yang terdiri atas 100 KK atau sekitar 400 orang 50 persen beragama Islam, satu dua beragama Katholik, dan sisanya beragama Kristen. Meski terdapat dua agama yang memiliki pengikut hampir sama besarnya, di RT 001 tidak pernah terjadi konflik beragama.

"Semua damai dan tenteram,” ujarnya kepada penulis kala itu.
Jika Hari Natal tiba warga muslim akan mengunjungi warga yang merayakan Natal. Begitu sebaliknya. Jika Hari Lebaran, warga non muslim yang mendatangi rumah warga muslim. Ketenteraman dan suasana harmonis di RT 001 dibenarkan mantan pengurus RW Dandy Sendayu (50). Menurut Dandy, suasana di lingkungan tempat ia tinggal tak mudah ditemukan di tempat lain. Meski ajaran bertoleransi diajarkan dan selalu digemborkan ia masih sulit menemukan ketenteraman beragama seperti di lingkungannya. Ia berharap suasana harmonis terus terjalin. Karena, menurutnya menyoal perbedaan tak akan ada habisnya dan hanya akan membuat kegaduhan tak berarti.
Ketenteraman dan keharmonisan beragama di Kramat Jati, Jakarta Timur tercipta karena peran banyak orang. Salah satunya adalah Pendeta Magyolin Carolina (42) dan suaminya, Elang Dharmawan (41). Magyoline adalah pemimpin gereja Kristen Pasundan di Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia ditugaskan Sinude untuk memimpin gereja yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dengan satu-satunya mushala di RT tersebut.
Pendeta yang sebelumnya bertugas memimpin jemaat di Gereja Bekasi bersama suaminya membentuk Komunitas Anak Sabtu Ceria (KASC), sebuah komunitas dongeng untuk anak-anak. Awal cerita karena Olin memiliki koleksi buku dongeng lumayan banyak. Ia dan suaminya sering bergiliran mendongeng untuk anak-anaknya. Karena di RT 001 banyak anak kecil, Olin dan suaminya berinisiatif mengajak amereka bergabung. Olin mengusulkan ke Herti selaku ketua RT.Untuk menghindari tuduhan ’Kristenisasi” Olin dan suaminya mempersilakan ustad dan para orang tua anak untuk mengecek isi buku.
Melihat rumah Olin yang tak memungkinkan menampung anak-anak usia 3-12 tahun yang berjumlah sekitar 25 anak, Herti selaku ketua RT bersama tokoh agama yang juga pemimpin Mushala Al Mukhlashiin Ustad Harun mempersilakan Olin menggunakan Mushala sebagai base camp atau ruang berkumpul KASC.
Berangkat dari prasangka baik yang dibangun kedua tokoh agama itulah KASC tumbuh berkembang sejak 2012 hingga saat ini. Masyarakat Islam tak pernah mempersoalkan Olin selaku pendeta dan suaminya yang beragama Kristen menggunakan mushala sebagai tempat mendongeng. Sebaliknya, Olin dan suaminya juga tak pernah merasa keberatan berbagi ilmu bersama warga yang beragama Islam. Sementara anak-anak sedang mendengar dongeng dan cerita yang sebagian besar temanya seputar persahabatan, kebaikaan, cinta kasih, para ibu yang turut datang juga bisa membaca buku yang kebanyakan isinya seputar resep masakan, kisah inspiratif, dan tentang budi daya tanaman.
**
Kustiah


Membingkai kisah hebat




Dok.pri


Kustiah. Saya dilahirkan di kota kering tandus, Blora 10 Mei. Selalu merasa perlu belajar sehingga di usia yang sudah tidak lagi muda saya melanjutkan belajar di bangku kuliah sebagai mahasiswa pascasarjana Komunikasi Pembangunan Institut Pertanian Bogor (IPB University). Mengenai blog 'ruang inspirasi" ini saya akan bercerita singkat bagaimana blog baru yang saya buat dalam rangka  memenuhi tugas kuliah ini hadir. Blog ini ada di alamat ruanginspirasi81.blogspot.com.

Ini blog kedua dari blog pertama yang saya buat pada 2008. Blog pertama isinya lebih banyak tentang ‘curhatan’ dan tulisan hasil liputan di tempat kerja terdahulu. Sedih sebenarnya, seharusnya saya membuat blog ini empat tahun lalu, setelah saya resign dari detik.com, bukan karena paksaan tugas kuliah. Tetapi apa boleh buat. Terima kasih kepada Dr. Irman Hermadi, S.Kom, M.S, dosen pascasarjana untuk mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi Pembangunan (TIK) IPB.  

Dosen lulusan Universitas New South Wales Australia yang juga Ketua Program Ilmu Komputer IPB  ini menugaskan mahasiswanya membuat blog. Tanpa paksaan beliau mungkin blog ini tidak akan ada di hadapan pembaca.


Saya menamai blog ini ruang inspirasi. Ruang yang menceritakan kisah inspiratif dari orang-orang yang menginspirasi..

Mereka adalah para perempuan dan laki-laki pejuang yang sesungguhnya. Keinginan menceritakan kisah hebat mereka ke dalam sebuah blog sudah lama saya angankan. Hanya saja, keinginan hanya tinggal angan karena kebanyakan alasan untuk mengerjakannya.

Padahal untuk mewujudkannya sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Tetapi, benar apa yang pernah disampaikan Prof Kudang Boro Seminar, yang juga dosen TIK dan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dalam sebuat kuliah di kelas bahwa "Orang sukses kelebihan satu akal. Sementara orang gagal kelebihan satu alasan".

Akan selalu banyak alasan untuk tidak mengerjakan. Padahal jika dikerjakan akan selalu ada jalan. 
Kembali ke orang-orang hebat yang hendak saya ceritakan dalam blog ini. Saya bertemu mereka bukan tanpa sengaja. Sebelum bertemu mereka saya melakukan riset, survei lokasi, dan bertanya kepada orang-orang sekitar sebelum akhirnya bertemu. Atau saya berselancar melakukan riset sebelum akhirnya memutuskan mengirim email untuk janjian wawancara. 

Mereka adalah narasumber saya. Orang-orang hebat yang pernah saya tulis untuk media tempat saya bekerja di detik.com, khususnya majalah detik.com rubrik inspiring people. Setelah resign, saya masih berkomunikasi dan sesekali mengunjungi beberapa dari mereka dan menuliskan kembali kisah mereka untuk website konde.co, media yang mengulas isu-isu perempuan dan kaum marginal. Karena, kisah mereka terlalu hebat untuk dilewatkan. 

Merekalah para agen perubahan sesungguhnya. Melakukan kebaikan tanpa disuruh, berkeringat tanpa dibayar, memberi  tanpa diminta, dan menginspirasi banyak orang. Mereka bukan siapa-siapa, bukan pejabat bukan pula konglomerat. Tetapi mereka punya hati, punya banyak ‘harta’ dan punya kasih yang tak ada gudang untuk menyimpannya. Semoga kisah yang saya bagikan menginspirasi para pembaca sekalian. Terima kasih.

Selamat membaca
Salam
Kustiah




Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...