Tuesday, November 30, 2021

Wawa dan mamanya

dok.ist



Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekalipun. Dan yang khas dari Wawa, dia selalu mengajak bersalaman kepada siapa saja yang ia temui.

Aku mengenalnya. Setiap pagi pukul 07.00 WIB dia bersama mamanya lewat depan rumah, tepat saat aku sedang menyapu jalan depan rumah. Wawa selalu ikut serta ibunya yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di rumah tetangga tak jauh dari rumah. Berangkat pagi pulang sore.

Umur Wawa 6 tahun Januari nanti. Ibunya orang tua tunggal. Ayah Wawa pergi saat bayi mungil yang lahir dengan down syndrom (berkebutuhan khusus) berusia seminggu lebih. Ibu Wawa ingat, usai melahirkan secara sesar suaminya menemui dokter. Seminggu sepulang dari RS suaminya menghilang bak ditelan bumi.

Tak ada kabar, tak ada pemberitahuan apa pun yang diterima ibu Wawa kecuali kedatangan dua laki-laki yang mengaku kenalan suaminya. Dua laki-laki menagih uang yang dipinjam ayah Wawa dengan jaminan surat tanah milik Ibu Wawa. Simpanan hasil kerja keras Ibu Wawa selama dua tahun menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi ludes. 

Ibu Wawa merelakan tabungannya disita karena tak mampu membayar utang yang ditinggalkan ayah Wawa. Kehidupan ibu Wawa ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tak ada yang membantu tak ada yang mendampingi, kecuali saudara Ibu Wawa yang ada di Garut, Jawa Barat yang mau dititipi Wawa saat ibu Wawa memutuskan bekerja sebagai PRT di Bogor. 

"Saya dan anak saya perlu hidup. Kalau tidak bekerja siapa lagi yang bisa menghidupi kami," ujarnya saat berbincang suatu hari.

Beranjak besar Wawa diajak ke Bogor. Mengontrak sebuah rumah petak, tinggal berdua dan kemana-mana berdua termasuk saat bekerja. Beruntung majikan Ibu Wawa baik, membolehkan anak dibawa serta. Jarak 500 meter yang harus ditempuh dari rumah kontrakan ke tempat bekerja kadang dengan jalan kaki, kadang naik mobil angkutan umum tak begitu berat ketimbang berjauhan meninggalkan anak di Garut. 
Namun, badai covid membuat kehidupan Wawa beserta ibunya kembali terombang ambing. Wawa beserta Ibunya terkena covid dan memaksa keduanya harus melakukan isolasi mandiri selama dua minggu lebih. 
Dan yang lebih membuat Ibu Wawa bersedih, saat dinyatakan negatif dan hendak kembali bekerja majikan memberitahu menghentikan mempekerjakannya kecuali ibu Wawa bekerja tanpa membawa serta Wawa.

Karena kalut suatu hari Ibu Wawa berencana menitipkan anaknya ke panti asuhan. Kondisi Wawa yang berkebutuhan khusus tak memungkinkan ditinggal seorang diri di kontrakan, apalagi masih anak-anak. Tak memungkinkan pula dititipkan ke saudaranya karena gajinya tak akan cukup untuk membayar saudaranya dan menghidupi anaknya.

"Saya bingung dan merasa seperti tidak ada pilihan lain," kata bu Ade, ibu Wawa .

Di tengah kehidupan yang serba sulit Ibu Wawa jelas bukan wonder women yang bisa membalikkan hidupnya supaya kembali baik-baik saja. Sebelum menikah dengan ayah Wawa, bu Ade pernah punya keluarga dan memiliki empat anak. Namun, karena ia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan mengajukan gugatan cerai, suami memaksanya keluar rumah.

Saat itu, ia merasa kehilangan segalanya, juga  kehidupannya. Kehilangan rumah yang ia bangun dari jerih payah selama menjadi buruh garmen dan kehilangan anak-anaknya, keempatnya. 

"Supaya saya tidak gila, saya memilih bekerja sebagai TKW. Sekalian jauh," ujarnya.

Berulang kali mantan suaminya mengajaknya rujuk, namun rupaya ia tak bisa melupakan peristiwa traumatik KDRT yang pernah dialaminya.

Dua tahun menjadi TKW Bu Ade pulang ke Indonesia dan bertemu lelaki, menikah, dan dialah ayah Wawa.

Hidup di tengah budaya patriarki yang cukup kuat membuat perempuan rentan menjadi korban KDRT, diabaikan, ditelantarkan dan menjadi pihak yang mudah disalahkan dan sering kali kehidupannya dirugikan. 

"Seandainya keluarga mantan suami dulu ikut menyelematkan saya saat saya disiksa suami, mungkin saya akan berusaha mempertahankan rumah tangga," katanya.

Saat peristiwa KDRT terjadi yang diingat Bu Ade, keluarga suaminya justru membela suaminya. 

"Keluarganya malah menyebut KDRT yang dilakukan mantan suami karena khilaf" ujarnya.

Kustiah

Monday, November 29, 2021

Perempuan di antara ketik dan ketuk

Dok.Istimewa




Tik tik tik...berusaha konsentrasi. Mengetik, membaca, mengetik..tik tik tik.

Anak yang kecil terbangun. "Ibu sedang mengerjakan tesis?"

"Iya nak...." jawab ibu.

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Udara masih terasa dingin. Anak bangun hanya berpindah tempat tidur, dari kamar ke sofa mendekati ibunya.

Tik tik tik..ketak ketik ketik..tak terasa sudah pukul 7. Ibu bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan. 

"Sreng sreng sreng..bresssttt.." suara akrobat di dapur.

Kedua anak sudah bangun dan duduk di kursi makan. Mereka minum, lalu drama sampai keduanya selesai mandi. Bersiap sarapan lalu mengantarkan keduanya berangkat sekolah. Pukul 10.00 kembali ke rumah, mandi lalu melanjutkan mengetik, membaca, beres-beres dan pukul 12 menjemput anak pulang sekolah. Dan bersama mereka kembali di rumah. Mengetik jelas tak mungkin. Anak-anak makan, bersih-bersih badan, lalu mulai beraktivitas. Yang kecil siap-siap tidur siang, yang besar menonton televisi. 

Ibu memanfaatkan jeda waktu untuk mengetik. Tak tik tuk tak tik tuk...

Datang anak yang besar. "Bu, hidungku mampet..". Ibu bergegas ke dapur, mengiris jeruk nipis, memerasnya, merebus air hangat, menuangkannya ke gelas, menambah gula setengah sendok ke dalam gelas.

"Duduk sini kak..minum pelan2 selagi hangat. Ibu melanjutkan mengetik ya." Anak mengangguk sambil menyeruput jeruk nipis hangat.

Ibu duduk kembali. Menatap laptop, membaca dan tik tik tik....

Tak lama kemudian anak yang kecil datang. "Ibu aku lapar..". 
Ibu kembali ke dapur, memasukkan bakso ikan ke dalam sayur sop, menghangatkannya dan menghidangkannya dalam sebuah mangkok. Menyeplok telur dan menyiapkan teh hangat. Juga menyiapkan makanan untuk kakak yang sedang flu. 

"Habiskan sopnya ya, makan yang banyak supaya kakak lekas sehat. Adik yang semangat makan supaya tidak tertuar flu kakak. Ibu melanjutkan mengetik ya..". Kedua anak mengangguk.

Ibu kembali ke laptop. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Waktunya anak-anak mandi. Dan kehebohan tiap sore terjadi. 

"Ibu jangan ngetik terus. Aku pingin main sama ibu," rengek yang kecil. 

"Ibu juga pingin main sama adik dan kakak. Beri waktu ibu menyelesaikan tugas ibu ya. Kalau sudah selesai nanti kita jalan-jalan, main bersama".

Menyelesaikan ritual sore sampai pukul 8 malam. Menyiapkan tempat tidur, mengondisikan anak tidur lebih cepat. Anak yang besar tak perlu waktu lama untuk tertidur pulas. Sementara yang kecil tidak akan tidur jika ibunya tak berbaring di sisinya, membacakan cerita pengantar tidur. 

Anak dan ibu tertidur. Pukul 11 malam ibu terbangun. Mata berurai air tanda menyerah pada bantal. Menyerah memeluk guling sampai suara pembuka pagi bersahutan.
Ibu terbangun, kembali duduk. Kadang membaca, kadang kebingungan seorang diri, terkadang menyerahkan diri terseret pada bacaan. Sekadar lari, mengisi kepala supaya tak kebingungan. Lalu waktu berputar dengan cepat. Mengejar, meninggalkan, melambaikan tangan sepanjang waktu.

Ini menjelang bulan keenam yang seharusnya tugas itu sudah selesai dan dikumpulkan. Seharusnya pula ibu dan anak sudah bisa bermain tenang tanpa merasa bersalah. Sore berganti malam dan malam berganti pagi.

Di sinilah ibu sering merasa bersalah. Merasa gagal belum menyelesaikan yang sudah dimulai. Membiarkan waktu meninggalkannya dan menyerahkan diri kepada kesempurnaan yang tak mungkin tergapai.

#HariAnti Kekerasan Terhadap Perempuan#marimembersamaiperempuan#tumbuhbersama#berdaya bersama

Akhir November, 2021
Bogor

 

Friday, March 5, 2021

Nasib Petani dan Mimpi Menikmati Canggihnya Teknologi

 


            Dok. Pri

Baru saja mendapat telepon dari ibu di kampung. Mengeluh sedang suloyo karena padi yang sudah saatnya panen tak bisa dipanen karena mesin kombi, mesin pemotong dan pengayak padi, tidak ada. 

"Iki bapakmu bingung, petani-petani di kampung do tangisan," suara Ibu terdengar membuat panas telinga.

Seminggu yang lalu ada pemilik kombi yang sudah berjanji akan memotong menggilingkan padi milik bapak dan hektaran padi milik tetangga. Tetapi sampai hari H Bapak menunggu mesin kombi tak kunjung datang. Dapat kabar kombi sedang rusak. Sementara satu mesin kombi milik yang lain sedang sibuk menggasak hektaran padi di sawah lainnya.  

Sebelumnya tidak pernah ada keluhan seperti ini saat para petani menggunakan dos-dosan, alat pemotong dan pengayak padi manual yang mengandalkan putaran pedal supaya paku-paku panjang yang menacap di setiap ruji kayu berputar. Dulu, sebelum ada kombi sekitar empat tahun lalu, petani malah bersuka cita begitu panen tiba. Mereka bahagia menyaksikan para tukang angkut berjejer mengangkat berkarung-karung padi untuk ditimbang. Sekarang?

Atas nama kemajuan katanya segala hal harus bertransformasi, termasuk teknologi pertanian. Mengutip kata dosen IPB University, Profesor Kudang Boro Seminar dalam sebuah kuliah di kelas, teknologi harus memudahkan, menggantikan kerja-kerja yang tidak layak dikerjakan manusia. 

"Biarlah teknologi yang menggantikan pekerjaan yang selama ini tidak manusiawi. Manusia hidupnya bisa lebih berkualitas," ujarnya.

Prof Kudang mencontohkan teknologi pemotong sawit yang diciptakan oleh IPB. Saat kunjung lapang ke perkebunan kelapa sawit Prof Kudang melihat banyak petani sawit punggung dan lehernya sampe bongkok karena melakukan pekerjaan berat memotong, memilah sawit yang seharusnya bisa dikerjakan mesin, dengan kecanggihan teknologi. Begitu pula di sektor pertanian. 

Dalam sebuah pidato menyambut hari ulang tahun RI pada tahun 2019 Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa hambatan besar kemajuan di sektor pertanian adalah karena ketertinggalan di bidang teknologi. Berdasarkan hasil Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2014-2019 Jokowi menyampaikan sektor pertanian harus mengejar ketertinggalan dengan menggaungkan teknologi 4.0. Dan Kementerian Pertanian segera meluncurkan produk teknologi berupa drone penabur benih, mesin penanam padi, dan aneka teknologi lainnya. Termasuk teknologi pemotong padi dari dos bertransformasi menjadi kombi. Lantas, apakah petani sudah merasakan nikmatnya menggunakan teknologi canggij?
Suara Ibu dan Bapak saya di ujung telepon bersahutan berdebat tentang kesulitan yang mereka hadapi saat ini.

"Hektaran padi di sawah milik para petani di kampungmu terancam tak bisa dipanen. Mereka bersusah payah mencari cara supaya padi yang telah tua bisa sampai rumah dengan entah bagaimanapun caranya," suara Ibu mendenging-denging. 

Sejak ada kombi dos-dosan sudah teronggok terisiakan, berkarat meratapi nasib dirinya dan tuannya. Jika manisnya kabar bahwa kecanggihan teknologi membuat bahagia tak kunjung terwujud, bukan tak mungkin dos-dosan yang karatan kembali dipaksa menggiling padi. Itu pun jika masih ada. Bisa jadi kayu-kayunya telah patah atau telah terbuang karena sisa rayap.

Petani oh petani, sampai kapan nasibmu pedih sepanjang hayat seperti ini. Memilih bahagia sejenak saja tak bisa.

Bogor, Maret. Kesal pun tiada guna



Saturday, February 13, 2021

Rindu itu berwujud senja

 

                                            Ilustrasi senja Dok.Pixbay


Jika burung saja merasa tenteram saat berkumpul bersama keluarganya, saudaranya, dan sahabat-sahabatnya, bagaimana aku?

Kulihat mereka berputar-putar di atas genteng tetangga dengan latar langit senja berwarna jingga. Kudengar mereka bercuit bersahutan. Kuduga mereka saling bercerita. Menceritakan pengalaman seharian berkelana mencari makan.

Melihat dan mendengarnya berderecit bercuit membuat mataku basah. Apalagi menatapnya dalam samar jingga yang mulai terbenam gelap. Aku mengingatmu yang jauh di sana. Di negeri orang dengan udara, perasaan, dan semangat yang semuanya berbeda. Di sana suhu udara sedingin lemari es. Perasaanmu bercampur aduk. Tak jauh berbeda dengan yang kami rasakan. Kukira kita bisa melewati semua dengan ketenangan, tetapi yang terjadi justru keharusan untuk saling menguatkan. Aku menangisi kepergianmu karena sebenarnya aku tidak begitu kuat untuk hidup sendiri. Meski bersama di rumah kita hanya bertemu saat sarapan, makan siang dan malam yang serba terburu-buru. Atau aku lebih banyak komplain, mengkritik, setengah marah atau kadang marah sungguhan karena beberapa alasan yang tak bisa kuselesaikan sendiri atau karena kecewa. Atau kamu lebih banyak menghabiskan waktumu untuk bekerja, belajar yang setelahnya kau tebus dengan ajakan bepergian saat akhir pekan. Meskipun sebulan sebelum kepergianmu bepergian itu lebih banyak untuk kepentinganmu, yaitu ke dokter gigi. 

Tetapi, dari semua itu keriuhan itu setidaknya ada suaramu yang selalu terdengar. Ada wujudmu hadir. Ada suaramu yang menenangkan. Dan ada semangatmu yang membuat suasana selalu riang.

Suatu kali sehari setelah kepergianmu anakmu menangis. Seorang diri menatap teras yang tampak sepi.Ia mengusap perlahan matanya, kulihat dari belakang ia berusaha mencoba tegar. "Sunyi sekali dunia ini Bu.." begitu katanya menerjemahkan rumah yang langsung terasa senyap setelah satu jam kepergianmu.

Setelahnya anakmu yang kecil berbaring di atas sofa. Dia membuka pembicaraan dengan menceritakan bahwa keramaian di rumah sebenarnya karena lebih banyak terdengar suara ayahnya yang tertawa saat rapat dengan teman-teman kantornya atau berbicara dalam sebuah diskusi.

"Dan sekarang di rumah  suara ayah tidak terdengar lagi Bu.." katanya.

Aku diam. Berusaha mendengarkan. Dalam diam kuhapus air mata dengan kaos yang kukenakan. Lalu mengajak mereka sholat maghrib berjamaah. Usai sholat kupeluk mereka berdua sambil kukatakan agar kita saling menguatkan selama ayah tidak ada di rumah.

Kukira aku kuat. Apalagi ada teknologi. Kapan pun kita bisa menghubungimu, menanyakan kabarmu, lalu menceritakan kegiatan seharian. Tetapi, nyatanya tidak. Meskipun  teknologi benar menjawabnya, perasaan tidak bisa diterjemahkan teknologi setiap saat. Saat berbicara denganmu melalui telepon yang kukatakan hanyalah yang tampak. Seperti membaca komposisi bahan mi instan, aku tak mengalami kesulitan saat menceritakan bagaimana anak kita yang besar mulai mandiri mengerjakan tugasnya, tak perlu didampingi. Dan yang kecil, lebih sering banyak mengerti ibunya. Memberi kecupan saat melihat wajah ibunya bersedih. Atau segera bergegas jika ibunya memintanya melakukan sesuatu, misal menyuruhnya mandi atau menyuruhnya membereskan mainannya yang berserak. 

Dan gelap telah menyuruh sekawanan burung pergi. Mengingatkan untuk segera beristirahat, bergumul dalam senyap dan gelap. Esok akan ada sinar yang menemaninya lagi. Jadi, tanpa ragu burung-burung yang berderecit pun berlalu. 

Selamat malam gelap. Esok kita berjumpa kembali.

 

Bogor, medio Februari 2021.

 

Dalam sunyi kupanjatkan doa semoga engkau di sana baik-baik saja.. dan kami yang selalu menunggumu.

 

Thursday, February 11, 2021

Cerita persahabatan N

 

 

                                           Ilustrasi pertemanan Dok. Pixbay


N: Bu, apakah benar orang Inggris beragama Kristen semua?

Pertanyaan di atas dilontarkan N, anak wedok sepulang bermain bersama teman-temannya.

Tidak dong kak, jawabku. Sama kayak di Indonesia, tidak semua orang Indonesia beragama Islam. Ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya, ada yang beragama Budha seperti Cicik, ada yang Islam seperti Najma dan teman-teman di sekolah. Begitu pula di luar negeri seperti di Inggris. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan agama lainnya. 

"Aku sudah menjelaskan begitu ke E Bu," kata N.

"Tapi E tetap ngeyel. Dia bilang kata Ibunya orang Inggris Kristen semua," ujar N melanjutkan.

Selain sering membahas tentang agama, di usianya yang enam tahun E sering menegur N dan adiknya yang tidak menggunakan kerudung saat bermain. Belakangan N juga mengaku kesal karena E menasehatinya untuk tidak bermain bersama anak laki-laki. Katanya bukan muhrim.

"Kamu tidak punya Ibu ya?" kata N menirukan kata-kata E ke N. Kalau punya Ibu, pasti ibumu menasehatimu. 

Dan sore itu saat anak-anak terdengar ribut, kudengar N dengan suara keras berusaha menjelaskan.

"Bermain bisa dengan siapa saja. Kata Ibuku, nggak apa-apa bermain dengan anak laki-laki. Yang penting nggak boleh berantem," suara N dengan intonasi tinggi dan karena setengah berteriak aku mendekat karena penasaran. Teman N ada yang membela N ada pula yang membela E, dan ada yang berusaha menenangkan. 

 

Perkawanan N dengan teman-temannya di perumahan memang pasang surut. Namanya anak-anak. Setelah bertemu bermain, bercerita dengan teman-temannya N menemukan banyak hal baru. Sepulang bermain N biasanya menceritakan pengalaman-pengalamannya bermain bersama teman-temannya. Salah satunya tentang percakapan sore itu bersama temannya. 

Kami tinggal di tipe perumahan sederhana. Bahkan bisa disebut sangat sederhana sekali, malah bisa disebut mirip sebuah perkampungan tetapi rumahnya berdempet dempet.hehe. Karena jalannya masih acak adut dan aneka binatang seperti ayam, anjing, burung, dan berjibun kucing semua ada.

Kami juga datang dari beragam agama, budaya, dan tentunya latar belakang. Dulu N merasa nyaman memiliki teman seusia yang rumahnya beda gang. Tak ada yang aneh dengan pertemanan N dengan V beserta kakak adiknya. Meskipun berbeda agama, persahabatan antara N dengan V bersaudara lebih dibangun karena sejumlah pengertian. Jika V bercerita N akan mendengarkan dan sebaliknya. Keduanya, juga terhadap kakak dan adik V, N sangat dekat dan merasa nyaman. Sayang, persahabatan mereka secara fisik tak berlangsung lama karena keluarga V harus pindah ke luar kota karena tuntutan pekerjaan ayah V. N dan adiknya menahan tangis dan sedih karena kehilangan V dan saudara-saudaranya selama berhari-hari. 

Selama masa sedih karena ditinggal V dn keluarganya pergi entah bagaimana ceritanya N tiba-tiba punya kenalan tetangga baru yang baru pindah. H, anak lelaki setahun lebih tua dari N. N bersama adiknya Q sering mengajak H datang ke rumah. Keluarga H bekerja, dia biasanya tinggal sendiri di rumah, jadi H lebih sering bermain bersama N di rumah kami. Karena anaknya berperangai halus, bicaranya baik, dan anaknya baik saya sebagai Ibunya tak keberatan N berteman dengan H, termasuk sering melihat H bermain di rumah. Saya tak pernah melarang atau membatasi N dan Q dalam memilih teman. Justru mereka sering kufasilitasi dengan memilihkan buku bacaan anak-anak, menyediakan white board dan spidol, juga menyediakan makan untuk mereka jika jam makan tiba atau camilan untuk ngemil.

Namun, usai H sunat semua kembali berubah. N dan Q kehilangan sosok H. H tidak pernah lagi datang ke rumah. Atau H tidak pernah ada di rumah jika N dan Q mendatangi rumah H. Usut punya usut H sekarang lebih banyak bermain bersama kakak E, yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki.

 

"H sudah nggak mau bermain lagi sama kita Bu. Dia setiap hari bermain sama A, kakak E," kata N dengan muka lesu. Lalu sebagai ibunya saya berusaha menjelaskan untuk sekadar menenangkan N dan Q, mungkin H sering berada di rumah A karena rumah mereka berdekatan.

Tetapi lagi-lagi, karena anak-anak punya dunianya sendiri N dan Q tak lama kemudian mempunyai teman baru lagi. Dia tetangga E dari gang belakang. Tetapi perteman mereka tak berlangsung lama. Teman barunya, A dan kakaknya D sering terdengar memulai ceritanya dengan " mobilku mewah dong. Kok mobilmu butut". Atau "aku punya rumah mewah". Tak mau kalah, Q, adik N yang berusia lima tahun selalu menimpali "rumahku juga mewah". 

"Tapi mobil dan sepedamu butut," ujar A.

Dan pertemanan antara N dan Q dengan A dan kakaknya semakin lama kuperhatikan semakin renggang. Usai bermain dengan A dan D, N dan Q lebih sering bercerita hal-hal  yang membuat mereka kesal dan jengkel ketimbang cerita-cerita yang menyenangkan. Suatu kali N dan Q bercerita, saat bersepeda melewati rumah A, ayahnya A yang sedang berada di teras meneriaki N dan Q. "Yeeey..sepedamu mah butut," kata N dan Q menirukan ucapan ayah A.

Dan dengan pilihan N dan Q sendiri mereka memilih tinggal di dalam rumah. Jika keluar rumah mereka memilih bersepeda di gang depan rumah, tidak lagi bermain sepeda di gang belakang. 

Dan pertemanan N dengan A dan kakaknya putus setelah insiden ayahnya A terlibat percekcokan dengan tetangga. Tampaknya ayahnya melarang anak- anaknya bermain ke luar rumah.

Suatu kali saat A bersepeda lewat di depan rumah, kakaknya yang ada di belakangnya berteriak " Adik, papa melarang kita berhenti (bermain) di sini. Ayo goes terus," ujar D, kakak A meneriaki adiknya.

Begitulah cerita pertemanan N dan Q bersama teman-teman sekompleknya. Di mana orang tua teman N ada yang bercadar seperti ibunya E, ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya dan dengan berbagai karakter. Sekarang N menemukan teman baru, bernama K. Kita lihat apakah mereka akan menjadi sahabat baik sebagaimana N dan Q bersahabat dengan V dan saudara-saudaranya. Karena suatu kali kudengar cerita dari Q bahwa K menoyor kepala Q. Karena K usianya tiga tahun lebih tua dari Q kuberitahu K jika bermain tidak boleh melakukan kekerasan. Andaipun usianya sebaya dengan Q, kekerasan juga tidak diperbolehkan. Prinsip bermain dan bersahabat harus saling mengasihi, baik, pengertian satu sama lain.

Sama seperti cerita N..berkehidupan tak akan jauh dari masalah. Seperti kehidupan orang dewasa, jika tidak saling mengerti, menghargai, tidak membangun sikap kesalingan, alarm kehidupan kita akan berbunyi. Bisa saja bunyinya adalah mengingatkan kita untuk bersabar atau untuk menarik diri, atau mengingatkan untuk tetap melanjutkan pertemanan dengan catatan koreksi di sana sini.

Apalagi usia semakin bertambah. Persahabatan seperti kehidupan sebuah pohon. Jika ranting kuat maka daun dan bunga akan mempercantik pohon. Tetapi jika ranting rapuh, pohon tidak perlu mempertahankannya jika ia ingin patah dan gugur...

Begitu pula kehidupan dan persahabatan.

 

Bogor, medio Februari 2021

 


Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...