| dok.ist |
Tuesday, November 30, 2021
Wawa dan mamanya
Monday, November 29, 2021
Perempuan di antara ketik dan ketuk
| Dok.Istimewa |
Friday, March 5, 2021
Nasib Petani dan Mimpi Menikmati Canggihnya Teknologi
Saturday, February 13, 2021
Rindu itu berwujud senja
Ilustrasi senja Dok.Pixbay
Jika
burung saja merasa tenteram saat berkumpul bersama keluarganya, saudaranya, dan
sahabat-sahabatnya, bagaimana aku?
Kulihat
mereka berputar-putar di atas genteng tetangga dengan latar langit senja
berwarna jingga. Kudengar mereka bercuit bersahutan. Kuduga mereka saling
bercerita. Menceritakan pengalaman seharian berkelana mencari makan.
Melihat dan mendengarnya berderecit bercuit membuat mataku basah. Apalagi menatapnya dalam samar jingga yang mulai terbenam gelap. Aku mengingatmu yang jauh di sana. Di negeri orang dengan udara, perasaan, dan semangat yang semuanya berbeda. Di sana suhu udara sedingin lemari es. Perasaanmu bercampur aduk. Tak jauh berbeda dengan yang kami rasakan. Kukira kita bisa melewati semua dengan ketenangan, tetapi yang terjadi justru keharusan untuk saling menguatkan. Aku menangisi kepergianmu karena sebenarnya aku tidak begitu kuat untuk hidup sendiri. Meski bersama di rumah kita hanya bertemu saat sarapan, makan siang dan malam yang serba terburu-buru. Atau aku lebih banyak komplain, mengkritik, setengah marah atau kadang marah sungguhan karena beberapa alasan yang tak bisa kuselesaikan sendiri atau karena kecewa. Atau kamu lebih banyak menghabiskan waktumu untuk bekerja, belajar yang setelahnya kau tebus dengan ajakan bepergian saat akhir pekan. Meskipun sebulan sebelum kepergianmu bepergian itu lebih banyak untuk kepentinganmu, yaitu ke dokter gigi.
Tetapi,
dari semua itu keriuhan itu setidaknya ada suaramu yang selalu terdengar. Ada
wujudmu hadir. Ada suaramu yang menenangkan. Dan ada semangatmu yang
membuat suasana selalu riang.
Suatu kali sehari setelah kepergianmu anakmu menangis. Seorang diri menatap teras yang tampak sepi.Ia mengusap perlahan matanya, kulihat dari belakang ia berusaha mencoba tegar. "Sunyi sekali dunia ini Bu.." begitu katanya menerjemahkan rumah yang langsung terasa senyap setelah satu jam kepergianmu.
Setelahnya anakmu yang kecil berbaring di atas sofa. Dia membuka pembicaraan dengan menceritakan bahwa keramaian di rumah sebenarnya karena lebih banyak terdengar suara ayahnya yang tertawa saat rapat dengan teman-teman kantornya atau berbicara dalam sebuah diskusi.
"Dan sekarang di rumah suara ayah tidak terdengar lagi Bu.." katanya.
Aku diam. Berusaha mendengarkan. Dalam diam kuhapus air mata dengan kaos yang kukenakan. Lalu mengajak mereka sholat maghrib berjamaah. Usai sholat kupeluk mereka berdua sambil kukatakan agar kita saling menguatkan selama ayah tidak ada di rumah.
Kukira aku kuat. Apalagi ada teknologi. Kapan pun kita bisa menghubungimu, menanyakan kabarmu, lalu menceritakan kegiatan seharian. Tetapi, nyatanya tidak. Meskipun teknologi benar menjawabnya, perasaan tidak bisa diterjemahkan teknologi setiap saat. Saat berbicara denganmu melalui telepon yang kukatakan hanyalah yang tampak. Seperti membaca komposisi bahan mi instan, aku tak mengalami kesulitan saat menceritakan bagaimana anak kita yang besar mulai mandiri mengerjakan tugasnya, tak perlu didampingi. Dan yang kecil, lebih sering banyak mengerti ibunya. Memberi kecupan saat melihat wajah ibunya bersedih. Atau segera bergegas jika ibunya memintanya melakukan sesuatu, misal menyuruhnya mandi atau menyuruhnya membereskan mainannya yang berserak.
Dan
gelap telah menyuruh sekawanan burung pergi. Mengingatkan untuk segera
beristirahat, bergumul dalam senyap dan gelap. Esok akan ada sinar yang
menemaninya lagi. Jadi, tanpa ragu burung-burung yang berderecit pun
berlalu.
Selamat
malam gelap. Esok kita berjumpa kembali.
Bogor,
medio Februari 2021.
Dalam
sunyi kupanjatkan doa semoga engkau di sana baik-baik saja.. dan kami yang selalu menunggumu.
Thursday, February 11, 2021
Cerita persahabatan N
N: Bu, apakah benar orang Inggris beragama Kristen semua?
Pertanyaan di atas dilontarkan N, anak wedok sepulang bermain bersama teman-temannya.
Tidak dong kak, jawabku. Sama kayak di Indonesia, tidak semua orang Indonesia beragama Islam. Ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya, ada yang beragama Budha seperti Cicik, ada yang Islam seperti Najma dan teman-teman di sekolah. Begitu pula di luar negeri seperti di Inggris. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan agama lainnya.
"Aku sudah menjelaskan begitu ke E Bu," kata N.
"Tapi E tetap ngeyel. Dia bilang kata Ibunya orang Inggris Kristen semua," ujar N melanjutkan.
Selain sering membahas tentang agama, di usianya yang enam tahun E sering menegur N dan adiknya yang tidak menggunakan kerudung saat bermain. Belakangan N juga mengaku kesal karena E menasehatinya untuk tidak bermain bersama anak laki-laki. Katanya bukan muhrim.
"Kamu tidak punya Ibu ya?" kata N menirukan kata-kata E ke N. Kalau punya Ibu, pasti ibumu menasehatimu.
Dan sore itu saat anak-anak terdengar ribut, kudengar N dengan
suara keras berusaha menjelaskan.
"Bermain bisa dengan siapa saja. Kata Ibuku, nggak apa-apa bermain dengan anak laki-laki. Yang penting nggak boleh berantem," suara N dengan intonasi tinggi dan karena setengah berteriak aku mendekat karena penasaran. Teman N ada yang membela N ada pula yang membela E, dan ada yang berusaha menenangkan.
Perkawanan N dengan teman-temannya di perumahan memang pasang
surut. Namanya anak-anak. Setelah bertemu bermain, bercerita dengan
teman-temannya N menemukan banyak hal baru. Sepulang bermain N biasanya
menceritakan pengalaman-pengalamannya bermain bersama teman-temannya. Salah
satunya tentang percakapan sore itu bersama temannya.
Kami tinggal di tipe perumahan sederhana. Bahkan bisa disebut
sangat sederhana sekali, malah bisa disebut mirip sebuah perkampungan tetapi
rumahnya berdempet dempet.hehe. Karena jalannya masih acak adut dan aneka
binatang seperti ayam, anjing, burung, dan berjibun kucing semua ada.
Kami juga datang dari beragam agama, budaya, dan tentunya latar belakang. Dulu N merasa nyaman memiliki teman seusia yang rumahnya beda gang. Tak ada yang aneh dengan pertemanan N dengan V beserta kakak adiknya. Meskipun berbeda agama, persahabatan antara N dengan V bersaudara lebih dibangun karena sejumlah pengertian. Jika V bercerita N akan mendengarkan dan sebaliknya. Keduanya, juga terhadap kakak dan adik V, N sangat dekat dan merasa nyaman. Sayang, persahabatan mereka secara fisik tak berlangsung lama karena keluarga V harus pindah ke luar kota karena tuntutan pekerjaan ayah V. N dan adiknya menahan tangis dan sedih karena kehilangan V dan saudara-saudaranya selama berhari-hari.
Selama masa sedih karena ditinggal V dn keluarganya pergi entah bagaimana ceritanya N tiba-tiba punya kenalan tetangga baru yang baru pindah. H, anak lelaki setahun lebih tua dari N. N bersama adiknya Q sering mengajak H datang ke rumah. Keluarga H bekerja, dia biasanya tinggal sendiri di rumah, jadi H lebih sering bermain bersama N di rumah kami. Karena anaknya berperangai halus, bicaranya baik, dan anaknya baik saya sebagai Ibunya tak keberatan N berteman dengan H, termasuk sering melihat H bermain di rumah. Saya tak pernah melarang atau membatasi N dan Q dalam memilih teman. Justru mereka sering kufasilitasi dengan memilihkan buku bacaan anak-anak, menyediakan white board dan spidol, juga menyediakan makan untuk mereka jika jam makan tiba atau camilan untuk ngemil.
Namun, usai H sunat semua kembali berubah. N dan Q kehilangan sosok H. H tidak pernah lagi datang ke rumah. Atau H tidak pernah ada di rumah jika N dan Q mendatangi rumah H. Usut punya usut H sekarang lebih banyak bermain bersama kakak E, yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki.
"H sudah nggak mau bermain lagi sama kita Bu. Dia setiap hari
bermain sama A, kakak E," kata N dengan muka lesu. Lalu sebagai ibunya
saya berusaha menjelaskan untuk sekadar menenangkan N dan Q, mungkin H sering
berada di rumah A karena rumah mereka berdekatan.
Tetapi lagi-lagi, karena anak-anak punya dunianya sendiri N dan Q tak lama kemudian mempunyai teman baru lagi. Dia tetangga E dari gang belakang. Tetapi perteman mereka tak berlangsung lama. Teman barunya, A dan kakaknya D sering terdengar memulai ceritanya dengan " mobilku mewah dong. Kok mobilmu butut". Atau "aku punya rumah mewah". Tak mau kalah, Q, adik N yang berusia lima tahun selalu menimpali "rumahku juga mewah".
"Tapi mobil dan sepedamu butut," ujar A.
Dan pertemanan antara N dan Q dengan A dan kakaknya semakin lama
kuperhatikan semakin renggang. Usai bermain dengan A dan D, N dan Q lebih
sering bercerita hal-hal yang membuat mereka kesal dan jengkel ketimbang
cerita-cerita yang menyenangkan. Suatu kali N dan Q bercerita, saat bersepeda
melewati rumah A, ayahnya A yang sedang berada di teras meneriaki N dan Q.
"Yeeey..sepedamu mah butut," kata N dan Q menirukan ucapan ayah A.
Dan dengan pilihan N dan Q sendiri mereka memilih tinggal di dalam rumah. Jika keluar rumah mereka memilih bersepeda di gang depan rumah, tidak lagi bermain sepeda di gang belakang.
Dan pertemanan N dengan A dan kakaknya putus setelah insiden ayahnya A terlibat percekcokan dengan tetangga. Tampaknya ayahnya melarang anak- anaknya bermain ke luar rumah.
Suatu kali saat A bersepeda lewat di depan rumah, kakaknya yang
ada di belakangnya berteriak " Adik, papa melarang kita berhenti (bermain)
di sini. Ayo goes terus," ujar D, kakak A meneriaki adiknya.
Begitulah cerita pertemanan N dan Q bersama teman-teman sekompleknya. Di mana orang tua teman N ada yang bercadar seperti ibunya E, ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya dan dengan berbagai karakter. Sekarang N menemukan teman baru, bernama K. Kita lihat apakah mereka akan menjadi sahabat baik sebagaimana N dan Q bersahabat dengan V dan saudara-saudaranya. Karena suatu kali kudengar cerita dari Q bahwa K menoyor kepala Q. Karena K usianya tiga tahun lebih tua dari Q kuberitahu K jika bermain tidak boleh melakukan kekerasan. Andaipun usianya sebaya dengan Q, kekerasan juga tidak diperbolehkan. Prinsip bermain dan bersahabat harus saling mengasihi, baik, pengertian satu sama lain.
Sama seperti cerita N..berkehidupan tak akan jauh dari masalah. Seperti kehidupan orang dewasa, jika tidak saling mengerti, menghargai, tidak membangun sikap kesalingan, alarm kehidupan kita akan berbunyi. Bisa saja bunyinya adalah mengingatkan kita untuk bersabar atau untuk menarik diri, atau mengingatkan untuk tetap melanjutkan pertemanan dengan catatan koreksi di sana sini.
Apalagi usia semakin bertambah. Persahabatan seperti kehidupan sebuah pohon. Jika ranting kuat maka daun dan bunga akan mempercantik pohon. Tetapi jika ranting rapuh, pohon tidak perlu mempertahankannya jika ia ingin patah dan gugur...
Begitu pula kehidupan dan persahabatan.
Bogor, medio Februari 2021
Wawa dan mamanya
dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...
-
Dok. Pri Baru saja mendapat telepon dari ibu di kampung. Mengeluh sedang suloyo karena padi yang sudah saatnya panen tak bisa...
-
Foto: Pixabay.com Suatu kali saat mencuci piring tak terasa air mata meleleh. Disertai dada sesak dan muka terasa kaku. Sebelumnya tak p...


