Sunday, August 2, 2020

Cerita Perempuan di Masa Pandemi: Berbagi Peran, Berbagi Kemenangan


Foto: Pixabay.com

Suatu kali saat mencuci piring tak terasa air mata meleleh. Disertai dada sesak dan muka terasa kaku.

Sebelumnya tak pernah terjadi perasaan dan kondisi demikian, kecuali perasaan sebal yang datang dan pergi berkelindan. Dada makin sesak saat tumpukan piring, mangkok, panci dan berangkas dapur baru saja selesai dicuci lantas melihat anak kejar-kejaran. Yang besar mencubit adiknya dan jeritan adiknya tak terelakkan. Belum selesai melerai adegan menyedihkan lalu melihat rumah selaksa gudang yang baru saja diporak porandakan kucing yang mengejar tikus tetapi tetap tak ketemu. Huhhhhh. Ini belum drama bagaimana harus mendampingi, mengajari anak pelajaran sekolah yang banyaknya tak terkira dan tak beperikemanusiaan. Belajar dari rumah dengan tugas yang tidak inovatif menjadi penambah beban psikologis orang tua khususnya Ibu.

Sejak pandemi Covid-19 diumumkan awal Maret, lalu imbauan di rumah saja didengungkan saya sudah merasa tak enak hati. Bukan saja karena kecemasan 'terpilih' menjadi korban covid, tetapi merasa ragu apakah benar-benar bisa menghadapinya. Dan benar, lima hari pasca Covid-19 diumumkan telah masuk ke Indonesia keraguan itu terbukti. 

Suami, sebelum covid, biasanya punya waktu untuk bermain dengan anak. Semenjak covid, yang harus bekerja dari rumah, jangankan bermain, menyapa anaknya saja jika tidak diingatkan 'lupa' kalau punya anak. Pekerjaan menumpuk katanya. Dan cerita tentang jibaku ibu-ibu di masa pandemi tak terbendung.

Tengah malam sebelum tidur, untuk menenangkan diri kuambil buku yang ada di rak buku sekenanya. Dan entah, tangan seperti punya mata sehingga buku yang kuambil tahu betul isi hati. Novel Montinggo Busye 'Sumirah' terbaca dalam semalam. Temanya tentang seorang istri, Sumirah, yang ditinggal suaminya. Perempuan, seorang ibu dan ketiga anaknya yang selalu menunggu ayahnya pulang. Mereka berjuang melewati kehidupan yang tak mudah dengan segala masalahnya.

Anak Sumirah yang paling besar, Retno, yang paling peduli dengan isi hati ibunya. Ia mencari bapaknya. Memastikan apakah Bapaknya lelaki baik-baik yang layak ditunggu ibunya. Suatu kali teman sekelasnya pernah bercerita bahwa ia memergoki ayahnya menggandeng seorang perempuan yang bukan ibunya. "Ayahmu kayaknya punya istri muda, " kata temannya.

Retno kalut, melebihi kekalutan ibunya. Sayangnya pencarian Retno berhenti. Tiba-tiba cerita pencarian berbelok tentang kesedihan Retno karena mengetahui tukang soto baik hati langganannya ternyata telah meninggal. Tidak dijelaskan mengapa Retno tidak gigih mencari ayahnya. Mungkin pencarian itu dianggapnya sia-sia. Karena, temannya hanya menjelaskan lokasi temannya melihat ayahnya bersama seorang perempuan. Dan lokasi itu tentu saja, karena bukan tempat tinggal dan merupakan tempat umum orang berlalu lalang, sudah barang tentu bagi Retno akan sulit menemukan bapaknya. 

Keluarga yang ditinggal ayahnya selingkuh ini tinggal di kompleks pekerja seks. Namun, untuk kesetiaan dan bagaimana menjaga cinta Sumirah kepada suaminya dan Retno kepada pacarnya jangan disangksikan. Pernah hampir tergelincir hendak berpelukan dengan 'rewang' (lelaki yang sehari-harinya mengerjakan pekerjaan rumah keluarga Sumirah), Sumirah segera tersadar. Ia mengelak begitu rewangnya hendak memeluk meluapkan hasrat saat hendak membetulkan genteng bocor di dalam kamar Sumirah yang gelap. Sumirah ingat masih punya suami dan tidak mau mengkhianati janji pernikahannya. 

Menyedihkan. Montinggo entah seperti menyentil budaya patriarki yang begitu kuat di masyarakat Indonesia atau entah apakah memang pandangannya terhadap perempuan sebagaimana masyarakat pada umumnya. Bahwa, laki-laki punya banyak pilihan, bisa memilih dan bebas melakukan apa saja yang dia suka. Sementara perempuan, dalam kondisi dikhianati, ditinggalkan, 'setia' seolah menjadi obat penawar. Seolah sudah seharusnya demikian, bahwa perempuan yang baik adalah yang setia, menunggu apa pun yang terjadi dan yang dilakukan suami.  

Selesai membaca novel kecil itu hatiku kecut. Menggerutu. Memang perempuan harus begitu ya. Selain 'nrimo' juga tidak bisa memilih. Harus setia juga harus banyak-banyak berdoa supaya kehidupannya baik-baik saja. Kok begitu amat nasib perempuan..sudah jatuh tertimpa tangga pula, dan lebih kasihan lagi dalam kondisi babak belur tidak ada satu pun orang yang menolong. Perempuan harus kuat sejak dalam pikiran hingga dalam sekeras-kerasnya kehidupan.

Selama Covid, ada sekitar lima  orang teman perempuan berbagi cerita tentang kehidupannya. Ditinggalkan suami yang pergi tak bertanggung jawab dan lelah karena harus menjadi sapu jagad untuk keluarga. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan domestik, menjadi guru karena harus memastikan belajar dari rumah baik-baik saja, mencari uang dengan berjualan online, atau bekerja apa saja supaya dapat uang untuk makan sekeluarga. Di sini ujian teori kesetaraan gender diuji. Bagi yang tidak pernah membaca buku tentang gender atau yang tidak memahami agama dengan baik mungkin menganggap tak ada yang salah dari semua itu. Tetapi, bagi yang memahami agama dengan baik, agama sebagai sumber kasih, agama sebagai sumber kehidupan, maka yang dialami perempuan di tengah gejolak pandemi yang entah kapan berakhirnya, yang berjibaku menjaga keluarga supaya tidak oleng ini adalah sebuah masalah. Ada yang tidak beres dalam kehidupan berkeluarga. 

Mengutip Nur Hasyim, pendiri Aliansi Laki-laki Baru bahwa patriarki dan seksisme tidak hanya menciptakan ketimpangan. Tetapi menimbulkan kehidupan yang tidak harmonis. Jika kesetaraan bisa dibangun dan diwujudkan maka seharusnya peran bisa dibagi dan dinegosiasikan. Jika istri sedang sibuk memasak maka ayah bisa melakukan perannya membersihkan rumah sebelum memulai bekerja.

“Dalam berkeluarga kita bisa berbagi peran dan berbagi kemenangan” ujar Mas Boim, sapaan akrab Nur Hasyim dalam sebuah webminar bertema tentang penguatan fungsi keluarga di masa pandemi yang dilakukan IPB University akhir Juli lalu. Di Indonesia, budaya patriarki sudah kadung membentuk cara berpikir masyarakat pada umumnya. Bahwa kelaziman mencuci piring, mencuci baju, mengerjakan semua pekerjaan domestik termasuk mengasuh anak adalah satu paket menjadi pekerjaan perempuan, seorang ibu. Dan laki-laki, seorang suami hanya berkewajiban mencari nafkah. Jadi, jika laki-laki terlihat mencuci, melakukan pekerjaan domestik dianggap aneh oleh baik masyarakat laki-laki maupun perempuan. Padahal, pekerjaan rumah tangga, ruang domestik tidak berjenis kelamin dan tidak menuntut dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Karena mereka bisa dikerjakan oleh siapa saja. 

Mas Boim dengan lembaganya pernah mendirikan "sekolah ayah" di Indonesia Timur, di NTT, Lompok, Papua dan beberapa daerah di sekitarnya. Salah satu tujuannya adalah menciptakan kesadaran pentingnya peran laki-laki dalam membangun kesetaraan. Karena konstruk budaya di sana saking kuatnya, laki-laki sembunyi-sembunyi saat membantu istrinya menyelesaikan pekerjaan domestik seperti menyapu, menjemur pakaian dan saat mengasuh anak. Takut dicap 'tidak laki-laki'. Setelah mengikuti sekolah ayah, bahwa yang dilakukan seorang laki-laki, ayah, suami tersebut adalah hal yang hebat yang dapat menumbuhkan kesalingan, akhirnya mereka tak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi lagi. Justru mereka mengampanyekan dan mengajak laki-laki, para bapak untuk berkontribusi membangun keluarga yang harmonis membangun kesalingan.

"Karena menjadi laki-laki tidak diukur dari kekuatan fisik, superioritas, dan dominasinya. Semakin Anda sabar, setia, supportif, penuh cinta kasih, dan anti kekerasan maka Anda semakin laki-laki" ujar Mas Boim yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo, Semarang.

Pada masa pandemi covid seperti ini, kita tidak sendirian menghadapi masalah dengan dampaknya. Berhentilah menuntut diri sempurna. Anak-anak tidak akan berubah menjadi anak yang tidak baik saat melihat rumah tak rapi. Hanya perlu katakan bahwa kita membutuhkan kerja sama mereka. Kita semua perlu sehat baik fisik maupun psikis. Fisik tidak akan sehat jika pertarungan psikis tidak pernah selesai. Longgarkan aktivitas anak. Dari yang sebelumnya hanya dibatasi menonton televisi satu jam tambahlah menjadi dua jam dengan pengawasan, atau dari yang sebelumnya sama sekali tidak boleh naik sepeda bermain dengan temannya izinkanlah untuk keluar rumah sebentar dengan catatan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. Katakan semua catatan dengan jelas dan tegaskan harus dipatuhi untuk kesehatan bersama. Dengan suami, di akhir pekan ajaklah ia berbicara untuk melakukan evaluasi dan merancang kerja-kerja seminggu ke depannya. Jika harus berbagi peran, sampaikan apa saja yang menjadi kerja suami, istri, dan anak. Bicarakan kesulitan-kesulitan yang ibu hadapi, karena jika tidak dengan suami dengan siapa lagi? Jika tidak bersuami maka bisa mendiskusikannya dengan anak-anak.

Jika tidak demikian jangan harap kita bisa menenangkan hati dan pikiran. Jangan lupa bermeditasi sejenak jika merasa hati tidak tenang, kalut, dan  sering menyalahkan diri sendiri. Jika rumah tidak pernah rapi janganlah berkecil hati. Semua bisa diselesaikan dengan bersama-sama, andaipun tidak bersama suami (karena suami sibuk, ndablek, mau seenaknya sendiri, tidak punya rasa kasihan dan kasih sayang kepada istri) maka, coba katakan sekali, dua kali, ketiga kali dan jangan lelah untuk terus menyampaikannya sambil meminta pengertian kepada anak-anak. Karena, masalah yang kita hadapi bukan masalah individu. Tetapi masalah bersama. Jika tujuan di rumah saja adalah supaya sama-sama sehat mengapa kita tega membiarkan ibu, istri berjibaku sendirian menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendiri. Mari saling membahu dan membangun kesalingan. Karena, saling mencintai, saling menyayangi, saling menghormati, menghargai, saling mengasihani, saling membantu dan saling lainnya yang keduanya aktif akan menciptakan keharmonisan berkeluarga dan kehidupan bermasyarakat. Salam sehat..

 Kustiah


Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...