Sunday, April 19, 2020

Menggagas ruang berbagi dan bicara stres


Dok.pri

Bertemu dengan perempuan muda yang energik, selalu berpikir positif, dan menyediakan waktu untuk orang lain ini memberikan energi besar bagi saya.

Suatu sore kami mengagendakan pertemuan di Kawasan Tebet. Bagi saya ini pertemuan perdana setelah beberapa pertemuan sebelumnya saya tak bisa bergabung. Kami berkenalan, bertukar pengalaman, dan menceritakan alasan bergabung dengan komunitas 'Let's Talk' .

Ide membuat komunitas ini sendiri sudah saya anggap luar biasa. Karena, menjadi pendengar yang baik, menyediakan waktu dan kesempatan untuk orang lain yang tidak kita kenal itu tidak mudah.

Dan beberapa perempuan ini menjawabnya. "Karena, jika kami tak bisa memberi apa-apa untuk orang lain yang membutuhkan, setidaknya yang kami punya seperti indera pendengar dan indera lainnya di dalam tubuh saya memberikan manfaat bagi orang lain," demikian dikatakan Putri, salah satu penggagas komunitas Let's Talk dalam sharingnya.

Bagi saya, mungkin berlaku juga bagi Anda, masalah dalam hidup ini pasti ada saja bentuknya. Tidak mengenal jenis kelamin, status sosial, masalah bisa datang kapan saja dan di mana saja. Saya bahkan menganggap masalah seperti telah menjadi teman hidup. Selalu datang dan pergi tanpa kita tahu. Begitu terus dan berulang. Namun, saya merasa sangat beruntung. Sebesar apa pun masalah yang saya hadapi beberapa bisa saya tumpahkan ke teman baik yang bersedia menjadi pendengar yang baik.

Masalah yang tidak bisa kita kendalikan bisa merusak pikiran dan berpengaruh terhadap kesehatan. Suatu hari seorang teman, jurnalis senior di bidang ekonomi sebut saja inisialnya D bercerita, dia sering mual mules ketika hendak menulis berita dan mengedit tulisan.

Dia mengaku bingung dengan gejala yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dia juga mengaku menjadi sangat sensitif dan mudah tersinggung. Pernah suatu kali D harus berurai air mata ketika beberapa kali mengetikkan jarinya di atas tuts keyboard, namun kata-kata yang ia rangkai tak juga tersusun seperti yang ia harapkan.

Padahal D bukan jurnalis baru, pengalaman dan jam terbang tinggi sudah membuat dia terbiasa menulis berlembar-lembar berita. Karena, dia sudah menjadi jurnalis sejak tahun 1991, jadi tak sulit baginya untuk merangkai kata.

Memang, redaksi di tempat dia bekerja baru melakukan rotasi. Jadi, dia terpaksa harus beradaptasi dengan rubrik baru yang sebelumnya belum pernah ia pegang. Namun, rotasi menurutnya juga tidak menjadi masalah yang berarti. Karena, D juga sudah puluhan kali dirotasi dan bisa cepat menyesuaikan diri.

Tidak lama kemudian, D harus mengahadapi persoalan baru, ibunya jatuh sakit dan tak lama berselang dia putus dengan pacarnya. D harus mencurahkan perhatian untuk ibunya di samping harus menghadapi persoalannya di kantor dan juga dengan pacarnya.

Merasa didera derita selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, akhirnya D mendatangi psikolog untuk menyampaikan keluhannya.

“Saya tidak nyaman mengahadapi kondisi yang demikian. Karena, saya merasa seperti hampir gila,” katanya kepada saya kala itu. Akhirnya, secara rutin ia melakukan konseling dan mulai menata hidupnya. Ada banyak hal menurutnya harus ia prioritaskan untuk ditangani. Tidak mudah, tetapi ia optimistis tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi.

Terkait dengan penanganan stress, kala itu saya bertanya kepada psikiater dari Rumah sakit Cipto Mangunkusumo Ayu Agung. Menurutnya, setiap tubuh memiliki reaksi berbeda ketika menghadapi stres. Reaksi dari dampak negatif, menurut Ayu tergantung dari kondisi kesehatan seseorang.

Jika saat stres seseorang tiba-tiba merasa mual mules, maka orang tersebut memiliki gangguan lambung. Begitu juga bagi seseorang yang tiba-tiba mengalami sesak napas saat stres. Bisa dipastikan bahwa orang tersebut memiliki gangguan pernapasan.

"Tergantung locus sinorus (daerah yang normalnya rentan) pada masing-mamsing tubuh," katanya.

Setali tiga uang dengan Ayu, psikolog perkembangan perempuan Rosdiana Setyaningrum menyebut, masalah yang dihadapi D banyak juga dialami perempuan maupun laki-laki lainnya dari berbagai profesi. Penyebabnya macam-macam. Bisa karena stres yang berkepanjangan atau karena akumulasi stres. Rosdiana menyarankan, bagi siapa saja yang menghadapi stress sebaiknya harus segera mencari solusianya.

“Yang dihadapi D ini jenis stres karena dibiarkan menumpuk,” ujarnya.

Biasanya, kata Rosdiana, pasien seperti D tidak berjuang mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapinya. Sehingga, dia merasa seperti ditimbun masalah.

Untuk mengahadapi kondisi demikian, psikolog akan meminta pasien mendata semua persoalan yang dihadapi. Selain persoalan, pasien juga akan diminta mendata kekuatan dan kelebihan pasien. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan pasien mencari jalan keluar. Karena, kelebihan dan kekuatan bisa menjadi penopang pasien untuk bangkit.

“Kita akan minta pasien melakukan hal-hal positif semampunya. Jangan menunggu semua persoalan selesai baru melakukan sesuatu,” ujarnya.

Apakah cukup sampai di situ? Tidak. Rosdiana mengatakan, stres terjadi biasanya karena seseorang memilih menutup diri ketimbang membagikannya kepada sahabat. Padahal, sahabat bisa menjadi salah satu altrenatif penyembuh stres.

“Bercerita, berbagi bisa menjadi solusi untuk mengurangi beban,” katanya.

Sependapat dengan Rosdiana, berdasarkan hasil penelitian The American Psychological Association’s, stres jika tidak segera diatasi bisa berdampak buruk bagi kesehatan fisik juga mental. Menurut APA, stres harus dikenali dari jenis penyebab dan karakternya. Dan cara-cara yang digunakan untuk menyembuhkannya juga harus sehat.

“Karena stres sebenarnya mudah diatasi dengan mudah jika tahu caranya,” tulis APA.

Kustiah


Belajar bersama teman di lembaga pemasyarakatan


Dok.pri

Tahun 2018 akhir hingga 2019 kami memiliki kelas belajar menulis bersama di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pondok Bambu, Jakarta Timur. Belajar membagi, mendengarkan, lalu mendokumentasikannya ke dalam sebuah tulisan.

Bersama tiga teman dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat, seorang jurnalis dari Jurnal Perempuan, Magdalene.co, dan saya mewakili konde.co siang itu (Jumat//07/) bersiap-siap memasuki Lapas  Pondok Bambu, Jakarta Timur. 

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan kami menunggu kembali di ruang tunggu. Lapas yang kami masuki bersih. Begitu juga para pegawainya yang ramah dan sopan. Berbeda dengan rumah tahanan (rutan) Pondok Bambu yang pernah saya dan teman kunjungi pada tahun 2007.

Selain kondisi di sekitar rutan yang  jorok, petugasnya juga 'sangar'. Bukan rahasia lagi bagi kami (para jurnalis) yang kala itu ingin meliput rutan harus menyiapkan uang untuk petugas di beberapa pos. Tapi itu dulu, sekarang kondisinya jauh berbeda.

Saat pemeriksaan di Lapas ini justru kami sering mendengar kata 'maaf ya bu,  kami periksa dulu'. Duh,  mau memeriksa untuk memastikan keamanan saja mereka meminta maaf terlebih dahulu. Dan tak lupa megatakan 'silakan'. Setelah memeriksa mereka mempersilakan saya ke bagian lain untuk dicap di bagian punggung lengan tangan. Beberapa kali tiap berkunjung kesana, kata-kata itu jadi familiar

Di dalam lapas suara ribut-ribut terdengar makin jelas.  Puluhan perempuan berpakaian baju olah raga sedang adu kekuatan dan ketangkasan.  Mereka lomba dalam rangka menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus. Entah apa nama permainannya, yang terlihat hanya tawa canda dan kemeriahan lomba.
Setelah menunggu di ruang tunggu tak sampai lima menit, seorang petugas Lapas yang dari awal mendampingi kami Bu Maria mengajak kami ke lantai 3.

Dan, secara sukarela teman-teman 'penghuni' Lapas sigap membantu kami yang sedang mempersiapkan kelas. Kursi digeser, dibentuk melingkar dan jadilah sebuah ruangan yang berisi aneka barang mulai meja, kursi rusak, kipas angin, spanduk dan barang lainnya, menjadi ruang hangat tempat kami berbagi cerita dan belajar menulis. 

Kami berbaur menjadi satu kelompok teman berjumlah 15 orang,13 perempuan dan dua laki-laki. Yang haus menulis, membagi dan mendengarkan cerita,  dan haus belajar hal-hal baru. Sebagian besar dari kami mencintai buku, dan mengakrabinya di waktu-waktu senyap merayap datang.  

"Saya menyukai membaca buku yang berisi kisah nyata. Selain menginspirasi juga menguatkan saya menghadapi hari-hari berat, " ujar kakak berinisial M menceritakan alasan kesukaannya membaca. 

Pertemuan kami berlanjut selama delapan pekan, setiap hari Jumat pukul 10.00 WIB dengan agenda menulis dan belajar bersama. Bagi kami belajar tak mengenal waktu, ruang, dan bersama siapa kami berbagi. Sampai dengan terakhir kami bertemu, pada pertemuan ke delapan, hasil belajar teman-teman memuaskan. Tulisan teman-teman di Lapas luar biasa. 

Mereka seperti penutur profesional. Cerita yang ditulis dalam sebuah buku yang kami berikan sejak pertemuan pertama begitu runut, memilin-milin hati, dan menguras air mata. Saya sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihan begitu satu per satu peserta membacakan tulisannya. Mata sembab dan hati terasa penuh sesak begitu kelas usai.

Saya merindukanmu teman-teman. Seperti kesadaran yang saya bangun dari awal sebelum memasuki Lapas, bahwa kalian manusia biasa, kalian korban yang selalu dikorbankan bahkan oleh orang-orang terdekat kalian sendiri. Saat tak ada yang melindungi, kalian sendirilah yang berdiri tegak melawan ketakutan dan penindasan yang selama ini menindihmu. Semoga di sana kalian tegar dan tabah sampai waktu mencium kebebasan tiba..

Kustiah

Puisi untuk ibu


Dok.pri


Rindu ini berjejak
Sebagaimana hujan meninggalkan basah di muka bumi
Menumbuhkan harapan segala yang dilimpahinya

Begitu pula rinduku terhadapmu ayah ibu
Meski terkadang berkalang kabut
Aku selalu merasa pilu bila mengingatmu

Maaf untuk air mata yang telah tumpah
Untuk desah yang mungkin terdengar
Dan untuk raut sedih yang kadang tak bisa kusembunyikan 

Bogor, medio April 2020

Pengajian As-Salam, kelompok ngaji yang pluralis dan humanis


Dok.pri
Bertemu, berkumpul dengan orang-orang baru yang memiliki kesamaan tujuan itu menyenangkan. Di sinilah kami berbagi pengalaman, pengetahuan, gagasan, yang dipandu cendikiawan muslim Profesor Musdah Mulia.

Pada pertemuan pertama berkumpul untuk ngaji bareng, 8 Oktober 2018, di kantor Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kami menamai perkumpulan ngaji bareng dengan nama Klub Pengajian As-Salam. Ngajinya asyik, bermutu, dan menenteramkan. Seperti yang dibayangkan teman-teman sebelum mengikuti pengajian. Di dalam pengajian tidak ada ungkapan yang merendahkan, menganggap yang lain (baik yang di dalam pengajian maupun masyarakat di luar) lebih rendah dari yang lain. 

Pemateri, Bu Musdah Mulia selalu menggunakan istilah dalam menyampaikan materinya dengan cara damai dan menyejukkan. Dan pada sesi perkenalan para anggota yang datang, sama seperti saya, menyampaikan kegelisahannya tentang masyarakat yang mulai fasih menyebut orang lain kafir. Juga kegelisahan sebagai korban yang sering disebut sebagai tak islami karena tak berkerudung. Dan banyak lagi bentuk perundungan yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang dan tidak nyaman.

Undangan  tentang adanya pengajian saya dapatkan dari broadcast grup jurnalis organisasi tempat kami berbagi informasi dan bertukar gagasan. Inti dari broadcast tersebut adalah undangan pengajian yang akan dipandu oleh Prof Musdah Mulia. Siapa tak kenal Prof Musdah Mulia. Saya pernah menulis profil perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan untuk sebuah buku yang isinya beberapa sosok pemenang Penghargaan Yap Thiam Hien tahun 1992-2011. Feminis yang menjadi guru besar di Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta ini sangat progresif. Pandangannya luas, terhadap agama Musdah merupakan sosok pluralis, terhadap isu-isu perempuan, sebagai feminis reformis jangan ditanya, pandangannya humanis dan sangat reformis.

Pada wawancara untuk buku yang kami tulis dalam proyek bersama teman-teman Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, yang kebagian menulis beberapa sosok lain penerima award Yap Thiam Hien, kepada saya Prof Musdah bercerita, mula-mula ia sangat sedih begitu mengetahui dirinya di layar internet lebih dikenal sebagai antek asing, agen yahudi, penyusup, dan berbagai atribut negatif lainnya. “Coba ketik nama saya di Google. Isinya, astagfirullah al adzim,” ujarnya.

Tetapi, rasa sedihnya tak berlangsung lama. Gus Dur, Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI, idolanya membesarkan hatinya. Kepada Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Gus Dur mengatakan, perjuangan kemanusiaan akan selalu ada saja yang tidak menyukainya. Biasanya yang tidak menyukai bisa jadi karena mereka pelaku, pendukung kekerasan, antitoleransi, tidak  menyukai jika perempuan berdaya, dan tidak suka jika dunia ini damai. “Anggap saja yang ditulis di internet itu sebagai iklan gratis,” ujar  Musdah menirukan kata-kata Gus Dur.

Di lain kesempatan, masih kata perempuan produktif penulis puluhan buku salah satunya Ensiklopedia Muslimah Reformis, ada sebuah organisasi keislaman mengundangnya menjadi pembicara. Namun, ada syarat yang diajukan yang menurut Musdah aneh. Dirinya dilarang duduk di depan forum bersampingan bersama pembicara lain. Melainkan duduk bersama para peserta perempuan yang ditutup dengan satir (kain penutup untuk memisahkan peserta diskusi berdasarkan jenis kelamin). Melalui panitia yang mengundang ia menyampaikan keberatannya. Dan akhirnya syarat dicabut. Tetapi tidak selesai di situ. Dalam diskusi Musdah ternyata dihina, dimaki oleh pembicara yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Ia disebut sebagai agen Yahudi, antek Amerika yang tak memahami keislaman dengan benar sesuai kaidah Islam.

Saya mendengarnya  jadi gemas. Saya yakin mereka yang menyebut Musdah tidak islami pasti tidak tahu tentang Musdah. Musdah lulusan pesantren, masa remaja hingga kuliahnya ia habiskan untuk belajar agama Islam. Baik melalui pesantren, mimbar diskusi, buku, hingga kuliah. Bagaimana mungkin karena berpandangan pluralis, memandang agama dengan semangat cinta kasih, kemanusian, penghargaan terhadap sesama, dan kesetaraan lantas disebut tidak islami?
Banyak cerita menyedihkan dari sebagian perjuangan yang dilakukan Musdah Mulia dalam mengampanyekan toleransi dan kesetaraan. Dan Bu Musdah tidak gentar dan berkecil hati.

Melalui pengajian As-Salam kami berharap mendapatkan ilmu dan semangat dari Prof Musdah… Kami, yang biasanya datang sekitar 15 sampai 30 anggota dari berbagai latar belakang profesi selalu khidmat dan antusias mengikuti forum yang diadakan di kantor ICRP. Karena Covid 19 pertemuan pengajian sejak Maret untuk sementara ditiadakan. Tampaknya panitia penyelenggara berencana melaksanakan pengajian melalui pertemuan virtual. Semoga saja dalam waktu dekat bisa terlaksana.

Kustiah

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...