Thursday, May 21, 2020

Kebencian beragama yang berakhir indah

Dok.pri
Ilustrasi toleransi beragama


Seperti yang saya janjikan pada tulisan sebelumnya tentang bagaimana selama dua hari mengikuti workshop bersama 30 teman dalam program CERITA atau kepanjangan Community Empowerment for Raising Inclusivity and Trust through Technology Application yang diselenggarakan The Habibie Center di Kafe Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan. CERITA adalah sebuah program yang memanfaatkan seni bercerita (storytelling) untuk melawan diskriminasi, mendorong inklusivitas dan membangun rasa saling percaya di masyarakat.

Yang lalu saya menceritakan bagaimana hari kedua saat sesi bercerita menjadi sesi paling menegangkan. Kami satu per satu menceritakan kisah yang sebelumnya tidak pernah kami ceritakan kepada orang lain. ‘Kisah pahit’, kelam, yang menempati sudut relung hati, yang memiliki tempat tersendiri, yang terpaksa kita simpan di dalam kotak pandora. Dan turut tumbuh bersama seiring waktu berjalan.

Sejujurnya saat itu kami merasa tegang. Karena ketakutan saling menyakiti atau menyinggung satu sama lain. Namun akhirnya kami memutuskan bercerita, memulai, memutuskan membuka diri dan membangun kepercayaan di antara kami bahwa kami yang bercerita, yang mendengarkan cerita telah memiliki kesamaan pemahaman dan berjanji untuk respect satu sama lain.

Dan kami mempersilakan Deon memulainya terlebih dahulu...

Deon lahir di Bogor, Jawa Barat. Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, aktivis lintas agama. Dia lelaki pendiam. Selama workshop di hari pertama dan kedua saya melihatnya sebagai sosok yang lebih banyak mendengarkan dan mengamati. Sikapnya terlihat hati-hati. Dan kami baru mengetahui bagaimana pergulatan batin Deon kecil hingga remaja yang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri pasca peristiwa menegangkan yang pernah ia alami dalam kehidupan beragamanya yang mempengaruhi cara bersikap Deon.

Deon tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Ia dan keluarganya setiap hari Minggu pergi ke gereja yang lokasinya tak jauh dari tempat ia tinggal. Hingga suatu kali, ketika Deon kecil dan keluarganya serta jamaah lain sedang khususk beribadah di gereja peristiwa mengejutkan terjadi. Para jamaah dikejutkan teriakan kencang segerombolan orang yang masuk paksa kedalam gereja. Mereka bersurban dan berjanggut panjang. Jumlahnya sekitar seratusan. Masuk kedalam gereja, meneriakkan ujaran kebencian, kata-kata provokasi, dan banyak hal yang Deon kecil dengar dan terjemahkan sebagai kata-kata ‘fitnah’.

Deon kecil ketakutan. Ia bersama keluarganya yang tengah berdoa kaget dan terperanjat. Di tengah suasana mencekam karena lelaki berjenggot dan bersurban berjumlah banyak berteriak dengan nada emosi dan masuk paksa membuat Deon kecil bersama keluarganya berusaha saling menguatkan dengan berpegangan satu sama lain untuk memastikan mereka akan baik-baik saja. Ternyata tak hanya sampai di situ. Para lelaki bersurban dan berjenggot panjang juga memprovokasi warga, memfitnah orang-orang Kristen di lingkungan luar gereja tempat mereka tinggal. Dan akhirnya gereja tempat Deon kecil beribadah ditutup dan disegel.

“Saya menganggap mereka berhasil dan kami kalah,” ujar  Deon mengenang kesimpulannya saat itu dengan suara berat dan bergetar.

Peristiwa mencekam minggu pagi itu terekam dalam ingatan Deon kecil yang kemudian tumbuh menjadi Deon remaja. Hingga suatu hari Deon remaja yang bergabung dalam organisasi remaja Lintas Iman ‘terjerumus’ dalam sebuah acara yang mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang agama. Acaranya meliputi kegiatan diskusi, dialog keagamaan, dan melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadah agama-agama. Deon tak menyangka jika rangkaian kegiatan bersama para pemuda pemudi lintas agama berlangsung lancar dan cair.

“Jauh dari bayangan saya kegiatan bisa berjalan selancar dan secair tu,” katanya.

Dan dari kegiatan lintas agama yang mempertemukan pemuda pemudi dari berbagai latar keagamaan yang berbeda Deon menemukan secercah pemahaman.

Seorang teman yang baru Deon kenal menyampaikan kesan dan mengomentari sosok Deon.

“Ternyata orang Kristen itu baik ya,” ujar Deon menirukan kata-kata teman barunya.

Kalimatnya sederhana. Namun, bagi Deon kata-kata temannya mengandung makna yang dalam. Saya lihat Deon tercekat ketika mengomentari kesan yang disampaikan teman barunya yang seorang Muslim. 

"Saya terharu," ujarnya melanjutkan.

Dan Deon mengaku merasa bangga telah menjadi orang Kristen pertama yang memberikan kesan baik bagi teman barunya. Sebelumnya, teman barunya tidak pernah mengenal teman beragama di luar agama yang ia anut. Saat itu juga kebencian terhadap agama yang dicitrakan lelaki bersurban dan berjenggot dalam peristiwa mencekam di gereja ketika kecil seketika luruh. Ia akhirnya memahami, memaafkan dalam hati yang pernah terjadi. Mengubur perlahan pengalaman beragama yang tidak mengenakkan yang pernah ia simpan dalam relung hati.

“Mungkin sebagai pemuda kita main kurang jauh. Dan sebagai pemuda kita main kurang malam,” ujarnya menutup cerita dengan sambutan tepuk tangan meriah dari kami para temannya dan kami kemudian memelukinya bergantian


1 comment:

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...