![]() |
| Dok.pri |
Sore itu Minggu (9/7/19) Sainem, 85 tahun, sedang berkemas. Serenteng kerupuk, kacang tanah sangrai, kacang kedelai yang dibungkus plastik ukuran kecil, permen, balon, dan aneka jajanan anak-anak yang diletakkan di meja bambu satu per satu dimasukkan ke kantong plastik hitam. Semua dilakukan perlahan-lahan. Saya sore itu sengaja menemuinya. Pertemuan pertama saya dengan mbah Sainem sekitar tahun 2019. Secara tak sengaja. Saya kebetulan lewat. Dan begitu menoleh saya melihat ada seorang nenek tua sedang duduk di atas amben bambu dan di depannya ada dagangan.
Mbah Sainem tua, renta, dan badannya terlihat rapuh. Melihatnya siapa pun akan iba. Setua ini nenek Sainem masih harus berada di pinggir jalan untuk mengais rezeki. Dengan barang dagangan yang menurut saya jika dijual hasilnya tak seberapa. Menurut mbah Sainem, jika sedang laris ia akan mendapatkan uang sekitar Rp10.000. Kadang Rp5.000 atau bahkan sering tak ada yang membeli dagangannya sama sekali.
"Ya namanya dagang mbak. Kadang laku kadang nggak," ujarnya saat kutanya penghasilannya.
Sainem tak pernah mengeluh. Katanya, ia sudah terbiasa seperti itu. Berdagang dilakoninya semenjak pindah rumah. Ibu tiga anak dan nenek 7 cucu ini tinggal bersama seorang anaknya. Ia tak ingin membebani anak-anaknya sehingga merasa tetap perlu bekerja.
Kehidupan Sukiyem (79) juga tak jauh beda. Ia hidup sebatang kara di sebuah rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Di dalam rumahnya yang berukuran 6x7 meter sehari-hari Sukiyem sibuk membuat kerupuk. Sukiyem tak mempunyai anak dan suaminya meninggal tiga tahun lalu. Setiap pagi ia berjualan kerupuk di pasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Dulu semasa suamiya masih hidup suaminyalah yang mengantar Sukiyem ke pasar menggunakan sepeda. Sekarang ia diantar anak keponakannya menggunakan sepeda motor yang Sukiyem beli.
Berbeda dengan Sainem, Sukiyem lebih beruntung karena bisa memproduksi kerupuk yang berbahan tepung tapioka sendiri. Sepulang dari pasar Sukiyem bisa membawa pulang uang rata-rata Rp100 ribu. Jika sedang ramai seperti saat menjelang Lebaran ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp 300-400 ribu.
"Mergo akih sing mudik nduk. Akih entuke (Karena banyak yang mudik nak. Banyak larisnya)," ujarnya.
Baik Sainem maupun Sukiyem mengaku sudah biasa hidup susah. Namun mereka, sekali lagi, pantang menyerah dengan keadaan. Pantang menengadahkan tangan dan menyusahkan orang lain. Prinsip hidup mereka hampir sama "Ora elok nek isih diparingi sehat karo sing nggawe urip tangan dienggo njaluk-njaluk (Tidak pantas kalau masih diberi sehat oleh Yang Memiliki hidup tangan dipakai untuk meminta-minta)" ujar Sukiyem. Kedua perempuan kelahiran Blora ini tak mengeluh dan tak merutuki nasib meski hidup serba pas-pasan bahkan lebih tepatnya jauh dari kata cukup. Sehat-sehat ya mbah.
Kustiah
ReplyForward |

penuh inspireatif, membuat saya belajar sesusah apapun hidup memang harus bersyukur,
ReplyDeleteterima kasih mbak karlina..salam kangen dr cilebut.di bali apa kabar?
ReplyDelete