Saturday, September 5, 2020

Melihat Pandemi Covid-19 dari Sisi Lain


Ilustrasi Covid-19. sumber: Pixbay.com

Artikel berjudul ‘Install Ulang Tata Kehidupan’ yang ditulis Rektor IPB Arif Satria di sebuah media nasional (Maret 2020) menarik untuk ditanggapi. Menariknya, pandemi Covid-19 yang menyebabkan sebagian besar masyarakat khawatir akan kesehatannya dan mengakibatkan sejumlah kelumpuhan baik ekonomi, sosial ternyata bisa kita lihat dengan kacamata berbeda. Pak Rektor mengajak pembaca, daripada melihat dari sisi negatif dan kerugian yang ditimbulkan Covid 19, ada baiknya melihat sisi positif yang yang bisa kita syukuri dan kita rawat seandainya  Covid 19 hilang.

Sisi positif yang pertama, hikmah yang dapat kita ambil di tengah pandemi Covid 19 adalah kehidupan ekologis. Kita tidak menyebut bahwa perlu ada bencana besar seperti wabah untuk memperbaiki sesuatu yang tampaknya sulit dilakukan. Tetapi, menggunakan pikiran positif, sisi lain dengan menyebut pandemi Covid 19 memberikan berkah bagi alam juga tidak salah.


Saat memasuki masa kemarau sudah menjadi kegelisahan tahunan bagi warga masyarakat yang terpapar polusi udara. Pada awal Juli 2019 muncul tagar #SetorFotoPolusi di media sosial dan muncul rencana gugatan yang akan diajukan kepada presiden RI, gubernur DKI Jakarta, dan lima pejabat pemerintahan lainnya yang dianggap lalai dalam mengendalikan pencemaran udara di Jakarta. Masyarakat Jakarta merasa polusi di Jakarta sudah tidak bisa ditoleransi lagi karena sepanjang waktu udara pada pandangan kasat mata tampak gelap pekat dan menyebabkan ketidaknyamanan dan mengancam kesehatan.

Sejumlah pengamat lingkungan dan pakar hukum lingkungan beranggapan bahwa kualitas udara yang buruk di Jakarta berkaitan erat dengan dengan kebijakan pemerintah provinsi Jakarta yang dianggap bermasalah.

Dan entah apakah kita bisa menyebut Covid 19 ini sebagai a blessing in disguise dalam kasus ini. Karena, sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di antaranya social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan imbauan di rumah saja telah membatasi mobilitas manusia dan ruang geraknya mengubah langit Jakarta gelap karena polusi dengan kualitas udara buruk menjadi cerah, bersih dengan kualitas udara baik.

Bahkan sebulan setelah Covid 19 masuk Indonesia dan sejumlah kebijakan dikeluarkan untuk menghambat penyebaran Covid 19 makin meluas, sejumlah media memberitakan kondisi bumi di saat pandemi Covid yang digambarkan lapisan ozon membaik dan udara makin segar.

Hanya saja, kita perlu bertanya, apakah seandainya pandemi Covid 19 berakhir kondisi bumi, kualitas udara masih akan dalam kondisi baik?

Ini yang perlu kita garis bawahi. Saya rasa pemerintah Indonesia juga negara-negara dunia perlu memikirkan sebuah kebijakan besar dan konsep yang mengajak masyarakat turut berpartisipasi secara aktif dalam menjaga lingkungan. Karena, dengan lingkungan yang baik dan sehat kualitas hidup pun akan sehat. Salah satu di antaranya, kebijakan penggunaan transportasi umum sebagai satu-satunya moda transportasi perlu benar-benar dipraktikkan. Tidak hanya sebuah wacana dan konsep di atas kertas.

Jika masalahnya adalah sarana infrastruktur yang belum mendukung, maka pemerintah perlu memperbaikinya. Jika yang dianggap menjadi penyebab sumber polusi adalah pabrik-pabrik yang tidak mematuhi aturan pembuangan polutan, maka menjadi tugas pemerintah menghukumnya. Jangan sampai hanya karena alasan menjaga investasi dan supaya investor tidak lari lantas pemerintah melakukan pembiaran yang dapat merusak kualitas hidup masyarakatnya. Atau jika yang dianggap sebagai sumber polutan adalah banyaknya kendaraan bermotor atau mobil pribadi, maka perlu juga dilakukan sosialisasi betapa menggunakan transportasi massal membuat kehidupan lebih sehat. Dengan catatan moda transportasi massal sudah dibenahi. Untuk mewujudkan lingkungan sehat tampaknya bukan perkara sulit jika pesan komunikasi pembangunan sampai kepada masyarakat dan pemerintah, baik Indonesia maupun negara di belahan dunia punya kemauan keras dan usaha sungguh-sungguh mewujudkannya.

Selain kondisi lingkungan yang membaik, hal kedua yang menjadi hikmah yang patut kita syukuri di tengah pandemi Covid 19 adalah kebiasaan hidup sehat. Saat ini tanpa diingatkan dan dipaksa masyarakat telah memiliki kesadaran bagaimana menjaga kesehatan dan menghindari gaya hidup tidak sehat. Di luar rumah kita bisa lihat bagaimana warga keluar mengenakan masker sebagai alat pelindung diri. Saya masih ingat bagaimana petugas kesehatan di Puskesmas Cilebut, Bogor, Jawa Barat sebelum pandemi Covid yang harus mengulang-ulang imbauan dan menempel imbauan dalam bentuk kertas yang ditujukan kepada calon pasien yang hendak berobat untuk senantiasa mengenakan masker ketika batuk atau bersin.

Saya sendiri juga sering membatin, kapan masyarakat Indonesia beranjak dari cara menjalani pola hidup yang sehat dengan tidak meludah sembarangan dan menutup mulut saat batuk atau bersin saat berada di tempat umum? Saya sebagai orang yang berada tak jauh dari orang yang bersin dan batuk tanpa ditutup sering merasa risih dan kesal. Tetapi, dengan adanya Covid 19 kita bisa belajar banyak. Karena di balik kesusahan dan ancaman kesehatan Covid 19 membuat masyarakat tahu tentang pentingnya menjaga kesehatan dan bagaimana tidak menularkan penyakit kepada orang lain. Selain proses internalisasi dari paparan informasi dan imbauan yang terus berulang dari pemerintah, baik tingkat pusat hingga tingkat RT, ternyata yang menciptakan perubahan sosial bukan berangkat dari individu masyarakat saja. Tetapi upaya besar pemerintah yang menjadi peran kunci perubahan tersebut.

Upaya menjaga kesehatan lainnya adalah dengan berjemur, menjaga pikiran tetap positif dan menghindari stres berlebihan juga telah menjadi pilihan hidup masyarakat saat ini. Masyarakat secara umum mungkin tahu dari para orang tua tentang pentingnya berjemur di pagi hari, atau bahasa jawanya dede. Namun, karena orang tua berbicara tanpa disertai alasan medis dan tidak ada kajian ilmiah yang menjelaskan bab tersebut sehingga anjuran itu hanya dianggap angin lalu. Kini, yang disampaikan para orang tua bukan omong kosong. Di tengah pandemi Covid 19 paramedis menyampaikan pentingnya berjemur dan kini imbauan tersebut dipatuhi masyarakat.

Hikmah ketiga adalah, berubahnya tata kehidupan sosial-ekonomi. Prof Arif menggarisbawahi berubahnya tatanan sosial yang awalnya cenderung individual berubah menjadi masyarakat sosial yang memiliki solidaritas tinggi. Hanya saja, saya melihat perubahan ini hanya terjadi di tatanan masyarakat perkotaan yang biasa hidup individualistik. Jadi, perubahan yang terjadi, yang awalnya memikirkan kehidupannya sendiri kemudian berubah dengan empati dan meningkatnya kegiatan sosial terlihat ekstrem.

Sementara pada kehidupan pedesaan, kita tahu yang entah sejak kapan mulai terjadi, telah mengalami perubahan yang signifikan. Jika dulu pada tahun 80-90 an masyarakat masih gemar gotong royong, hidup rukun, saling membantu, kini berubah drastis. Kini, di kampung pola kehidupan hampir mirip perkotaan. Jika dulu saat listrik bermasalah kita bisa memanggil tetangga meminta tolong untuk membenahi listrik dengan upah terima kasih atau upah makanan seadanya, kini berubah yang memanggil harus membayar dengan uang untuk mengganti jasanya. Terhadap apa pun masyarakat pedesaan harus membayar uang sebagai upah atas jasa yang dikeluarkan. Kecuali ada negosiasi dari masyarakat miskin kepada tukang yang dipanggilnya.

Begitu pula saat pandemi Covid 19 mengancam kesehatan dan kehidupan bermasyarakat kita. Sejumlah kebijakan dan imbauan menjadikan mereka tak hanya tergerus secara emosi, karena biasanya bisa berkunjung ke tetangga untuk sekadar tahu kabar, kini dipaksa tinggal d rumah dan dilarang bertemu siapa saja. Kondisi saat ini menjadikan masyarakat termiskinkan secara mental, kehilangan eksistensinya sebagai makhluk sosial, dan miskin secara materi. Kini mereka hanya berharap kepada pemerintah untuk hadir di tengah kemiskinan yang mereka hadapi untuk tetap bertahan hidup.

Sementara hal positif keempat yang dipaparkan Prof Arif Satria adalah tata kehidupan para pembelajar. Dalam konteks ini saya belum melihat stressing dari dunia keilmuan kita. Barangkali yang dimaksud Prof Arif adalah, di tengah Covid 19, para pembelajar, masyarakat secara umum ditantang keilmuannya untuk turut serta bersumbangsih untuk masyarakat banyak. Misal, jika masa lalu kita abai terhadap lahan kosong yang sering kita lewati yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kita, kini di masa pandemic dan paceklik ekonomi kita bisa kreatif memanfaatkan lahan tersebut, mengajak warga bersama-sama untuk menggarap menjadi lahan pekarangan yang bisa ditanam untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Inovasi dan kreativitas bisa mewujud dalam bentuk apa pun. Selama memberi kebermanfaatan bagi banyak orang, siapa pun bisa memulai dan melakukannya.

Dan hikmah kelima adalah pandemi Covid 19 diharapkan bisa menjadi ruang kontemplasi. Di mana hubungan manusia dengan sang pencipta bisa kita perbarui dan perbaiki supaya lebih intim. Jika sebelum Covid 19 kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan duniawi, waktu habis di jalan untuk berangkat ke tempat kerja, kini dengan imbauan di rumah saja dan kebijakan work from home (WFH), waktu menjadi lebih berkualitas. Kita bisa mengatur waktu seefisien dan seefektif mungkin, membaginya untuk bekerja, berkumpul bersama keluarga, dan bertafakur kepada Tuhan.

Kustiah

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...