Foto: Dok pri
Saya
mungkin tak akan pernah tahu bagaimana kisah Nabi Muhammad, perjalanan
hidupnya, perjuangannya menyebarkan Islam di jazirah Arab yang mengharu biru
dan menyesakkan dada jika tidak membaca buku ‘Sejarah Hidup Nabi Muhammad’. Karena,
keterbatasan ilmu saya dalam memahami bahasa Arab. Dan saya bersyukur, Ali
Audah, penerjemahnya, membantu saya memahaminya dengan mudah. Bahasanya renyah,
tidak njlimet sebagaimana bahasa terjemahan kebanyakan.
Nama
Ali Audah, penerjemah buku Sejarah hidup Nabi Muhammad akan selalu dikenang
sepanjang masa oleh masyarakat yang membaca buku terjemahannya. Di tangannya,
buku karangan Muhammad Husain Haekal dengan judul aslinya Hayat Muhammad dapat mudah dipahami pembacanya yang hendak mengetahui lebih dekat perjalanan
hidup Nabi Muhammad, ketika lahir hingga masa penyebaran Islam.
Siapa menyangka penerjemah buku fenomenal yang meninggal pada 20 Juni 2017 ini tidak pernah lulus bangku sekolah formal?
Sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya saya berkesempatan menemuinya untuk menggali cerita, bagaimana ia bisa menerjemahkan banyak buku hebat salah satunya Hayat Muhammad padahal tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal? Tulisan hasil wawancara Ali, istri dan keluarganya saya lakukan setahun sebelum kepergiannya. Dan sayang jika cerita tentang Ali tidak saya tulis. Semoga cerita ini menginspirasi pembaca.
*****
Ali yang tak lulus sekolah
Ali lahir dari orang tua berketurunan Arab. Bapaknya Salim Audah adalah imam Masjid Agung Bondowoso, seorang ulama dan penulis buku bahasa Arab. Ibunya, Aisyah binti Awad Jubran seorang ibu rumah tangga. Usia Ali sekitar 6 tahun ketika ayahnya wafat. Dan bersama ketiga saudaranya, dua laki-laki yang sudah selesai sekolah madrasah, dan seorang kakak perempuan masih belajar mengaji pada seorang guru ngaji di kampungnya. Sementara Ali baru duduk di bangku madrasah kelas II.
Ali kecil dikenal pandai. Ia murid dengan nilai terbaik saat naik kelas II. Karena nilainya paling bagus Ali diminta menyampaikan pidato mewakili teman-teman sekelasnya di depan beberapa tokoh dan masyarakat setempat. Ali kecil mengingat, usai berpidato ia mendapatkan pena berwana kuning keemasan dan beberapa hadiah lainnya.
Namun, sukacitanya tak berlangsung lama. Suatu hari Ali didorong keras oleh seorang temannya yang membuat ia terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Teman yang sering mengganggunya ini seorang murid besar jangkung yang beberapa kali tak naik kelas. Ali yang bertubuh kecil daun telinganya sering disentil. Kejahilan itu dilakukan temannya berulang-ulang. Karena kesal Ali lantas membalas dengan meninju mukanya. Temannya menjerit-jerit. Dari mulutnya keluar darah.
"Dia mengadukan ke guru dan tanpa bertanya guru menghukum Bapak. Dia disetrap dan dikurung di dalam kelas," ujar Ade, keponakan Ali,
mengenang cerita Ali kepadanya.
Sejak saat itu Ali tak pernah kembali ke sekolah. Ia memilih 'sekolah' di mana saja. Di halaman depan rumah, di sungai belakang rumah, di ladang, sawah atau saat ia sedang bermain bersama kawan sepermainannya. Mengeja huruf, menuliskannya di tanah, dan menirukan hapalan temannya.
Pernah menyesal telah meninggalkan sekolah saat
teman-teman bermainnya satu per satu mulai menghilang karena pergi bersekolah.
Tetapi, pantang bagi Ali meratap. 'Tak kan lari gunung dikejar' kutip Ali dari
sebuah peribahasa. Ia bertekad belajar sendiri saat teman-temannya pergi ke
madrasah. Mula-mula ia belajar merangkai huruf-huruf arab, lalu
diteruskan belajar huruf latin. Belajar ia lakukan sembari bermain gundu.
Mencoret-coretkan huruf di atas tanah.
Keras terhadap dirinya sendiri itulah yang Ali
lanjutkan hingga usia tuanya. Meski tak belajar di sekolah formal Ali memiliki
semangat belajar dan disiplin tinggi. Ia ingat ibunya sering memarahinya karena
kerasnya belajar Ali sampai lupa makan dan mandi. Bahkan, karena ulah anak
kecil yang masa kecilnya bercita-cita menjadi masinis ini pula dinding, pintu rumah,
dan lemari penuh coretan hasil 'pelajaran' yang Ali dapat dari teman-teman
bermainnya.
Menginjak remaja dan setelah menguasai huruf
latin Ali mulai keranjingan membaca. Tulisan apa saja yang ditemukan di kertas
bungkusan gorengan, bungkus belanjaan ia baca. Ia juga sering pergi ke
perpustakan di Pemda Bondowoso untuk meminjam buku. Semua buku baik cerita
pendek, roman, novel, komik, dan aneka bacaan ia lahap. Ada 'Siti Nurbaya'
karya Marah Rusli, 'Di Bawah Lindungan Kabah' karya Hamka, 'Salah Asuhan', dan
beberapa karya penulis kondang. Di usianya yang baru belasan tahun Ali sudah
bisa membedakan mana bacaan dan karya yang bermutu dan tidak. Terutama setelah
membaca kritik sastra yang ditulis H.B Jassin.
"Saya tak bisa membeli buku karena tak
punya uang. Jadi solusinya meminjam di perpustakaan," ujarnya mengenang.
****
Membaca banyak karya karangan penulis hebat
membuat Ali makin merasa haus ilmu. Ia mulai belajar bahasa asing secara
otodidak melalui buku-buku dan dibantu dengan kursus baik bahasa Arab. Ali
ingat, meski keturunan Arab tak lantas membuatnya pintar berbahasa Arab. Ia
belajar mandiri dan belajar dasar-dasar bahasa Arab dilanjutkan dengan belajar
mengetik dari kursus di Soember Ilmu di Bandung sampai tamat. Dari lembaga
kursus itulah Ali mendapatkan ijazah. Ijazah yang menjadi satu-satunya bukti
bahwa ia lulus belajar dari lembaga formal yang kemudian hilang entah kemana.
Ali menempa dirinya teramat keras. Ia belajar
mandiri tak henti-henti dengan terus mengasah bahasanya dengan membaca buku
berbahasa Arab dan bahasa Inggris yang ia beli dari penjual buku loakan. Ali
juga selalu ditemani kamus-kamus besar dan populer karya pengarang hebat
seperti kamus tebal dwi bahasa Arab-Indonesia karangan H Moehammad Fadloellah
dan B.Th Brongeest terbitan Balai Pustaka 1935 dalam empat jilid besar. Selain
dari buku dan kamus Ali belajar bahasa Arab dari kakak sulung dan kakak iparnya
yang pernah bersekolah di Arab.
Untuk mengasah kemampuan bahasanya Ali mencoba
menerjemahkan karya sastra. Mulanya menerjemahkan cerpen, novel, dan tulisan
pemikir Arab yang ia kirim ke sejumlah media harian seperti Pedoman, Indonesia
Raya, Abadi, dan majalah sastra antara lain Horison, Siasat, Zenith dan
beberapa lainnya. Karya buku kumpulan cerpen terjemahannya adalah 'Suasana
Bergema', diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1957. Menurut Ade, sekitar tahun
40 an Ali pernah membuat puisi yang dimuat dalam majalah sastra yang terbit di
Malang bernama 'Sastrawan’ terbit di Malang, Jawa Timur. Namun, karena Ali tak
biasa mendokumentasikan karyanya, puisi dan tulisan-tulisannya yang sudah
dimuat di media banyak terserak, hilang tak diketahui rimbanya.
"Itu kelemahan Pak Ali. Dokumentasinya
kurang bagus," ujar Ade.
Ali membenarkan bahwa ia bukan termasuk orang
yang rajin membuat catatan pribadi dan dokumentasi. Karya-karyanya banyak yang
hilang saat ia berpindah-pindah tempat.
****
Dari sastrawan menjadi penerjemah
Sastrawan, penyair, esais, dan sineas Asrul Sani
adalah orang yang berpengaruh dalam dunia penerjemahan Ali. Sebelum menekuni
penerjemahan Ali dikenal sebagai sastrawan. Karena, dari tangannya lahir puisi,
cerpen, dan novel.
Namun, setelah lahir terjemahan Ali dari karya
sastra Arab ke bahasa Indonesia, Asrul mendorongnya supaya lebih fokus
menerjemahkan karya sastra Arab.
"Penerjemah karya sastra dari bahasa
Inggris sudah cukup banyak," kata Ali mengenang ucapan Asrul yang saat itu
mengasuh ruang kebudayaan 'Gelanggang' di Majalah 'Siasat'.
Berkat dorongan Asrul Sani itulah Ali
memfokuskan dirinya untuk fokus menerjemahkan karya sastra Arab, meskipun di
kemudian hari juga lahir karya terjemahannya dari karya sastra Perancis dan
Jerman.
Dari tangannya lahir terjemahan buku fenomenal
karya Muhammad Hussain Haikal 'Sejarah Hidup Muhammad' pada tahun 1972. Buku
terjemahan ini dicetak hingga belasan kali sampai tahun 90 an.
***
Menjadi direktur dan pendiri perguruan tinggi
Dikenal memiliki kemampuan menguasai
beberapa bahasa asing, bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, sebagai
penerjemah yang baik, dan memiliki karya yang tak diragukan lagi kualitasnya
Ali didaulat pendiri dan penerbit Tintamas Djamil Djambek, kakak ipar Muhammad
Hatta, untuk menggantikan posisinya dari 1961-1978.
Selama menjabat sebagai direktur PT Tintamas
yang berkantor di Jalan Kramat Raya Ali juga mendirikan Himpunan Penerjemah
Indonesia pada 5 Februari 1975 bersama beberapa temannya sesama pengurus Taman
Ismail Marzuki, Direktorat Departemen Pendidikan dan Kebudayan, serta
perwakilan UNESCO di Jakarta. Dan pada masa-masa yang sama ia mendirikan
Universitas Ibnu Khaldun Bogor diajak Sholeh Iskandar, seorang pejuang Islam
dan mantan mayor dalam kemiliteran di kisaran tahun 66 an.
**
Sosok serius, low profile yang hidup di antara buku
Sebelum pindah di rumah yang saat ini
ditempatinya Ali tinggal di rumah berlantai dua, masih di Kompleks Perumahan
Bogor Baru. Menurut Maryam, istri Ali, lantai dua menjadi ruang khusus
suaminya. Ruangan seluas 300 meter penuh dengan buku yang tersusun di rak dan
yang tertumpuk.
"Semua dinding isinya buku dan kamus,"
kata Maryam kepada saya.
Menurut Maryam, suaminya bekerja dengan
disiplin yang tinggi. Bangun subuh, jogging satu jam, mandi sarapan lalu
memulai bekerja pukul 8 pagi hingga pukul 10 malam. Ali berhenti hanya untuk
makan siang, shalat, dan minum teh di sore hari menjelang Magrib. Setelah itu
ia akan kembali menghadap komputernya sampai malam.
"Begitu terus sejak muda hingga usia Bapak
umur 88 tahun," kata Maryam.
Ali bahkan tak pernah berlibur atau keluar rumah
untuk pelesiran. Istrinya hanya keluar rumah jika Ali sedang keluar kota atau
keluar negeri. Karena jika suaminya berada di rumah Maryam tak bisa
meninggalkannya. Semua makanan dan kebutuhan yang diperlukan Ali Maryamlah yang
menyediakan.
Berdasarkan penuturan Ade, keponakan Ali,
pamannya adalah orang rumahan. Tak pernah makan atau jajan. Jika berada di
rumah makanan apa saja harus buatan istrinya.
"Kecuali sedang di luar kota atau
luar negeri," kata Ade.
Selain serius Ali dikenal sebagai sosok
sederhana yang tak suka dielu-elukan. Meski telah memiliki banyak karya Ali
menganggapnya sebagai hal biasa. Ia tak pernah bersedia diwawancara oleh siapa
pun (kecuali pada 1996 Ali diwawancarai seorang jurnalis dari salah satu media).
Kepada jurnalis atau para mahasiswa yang ingin mewawancarai untuk kepentingan
skripsi atau penelitian, Ali selalu menyarankan mendatangi Pusat Dokumentasi HB
Jassin. Bahkan ketika teman-temannya, Goenawan Mohammad, Taufik Abdullah, dan
beberapa temannya ingin membuat buku sebagai hadiah ulang tahun ke 90. Ali
lebih suka tak banyak orang membicarakan dan mengelu-elukannya.
"Kalau bukan karena terpaksa dan 'ditodong'
Pak Ali tak akan bersedia memberikan sambutan atau berbicara tentang dirinya
sendiri," kata Ade.
Oyon Sofyan, Kepala Pusat Dokumentasi HB Jassin,
teman dekat sekaligus editor beberapa buku tentang Ali Audah mengatakan, bahwa
Ali Audah tak ada duanya. Selain sosok yang sederhana dan Ali menurutnya
merupakan satu-satunya sosok yang memiliki disiplin tinggi dan kerja keras di
luar batas kebanyakan orang.
"Saya tak menemukan sosok seperti Pak Ali
selain Pak Ali sendiri. Beliau saya kira satu-satunya orang yang tak
tertandingi kedisiplinan," ujarnya kepada penulis.
Jika
tak disiplin dan kerja keras, lanjut Oyon, Ali yang hanya sekolah sampai kelas
dua madrasah tak akan mungkin bisa menerjemahkan karya sastra dari berbagai
bahasa asing. Apalagi karya pengarang hebat di negaranya masing-masing. Namun,
di tangan Ali, semua tak ada yang tak mungkin.
Taufik Abdullah dalam sambutannya saat pemberian
penghargaan untuk Ali Audah pada 2015 mengatakan bahwa Ali adalah sosok penting
yang berkontribusi besar dalam menerjemahkan karya sastra Arab yang di kemudian
hari menjadi karya fenomenal yakni 'Sejarah Hidup Muhammad'. Selain penerjemah hebat, Ali disebut sebagai pengarang
kreatif yang disegani.
Taufik mengingat, ia membaca karya terjemahan Ali karya Husein Haikal saat baru pulang dari sekolah di luar negeri. Dan yang membuat Taufik bangga terhadap Ali adalah kemampuan Ali menerjemah bukan hanya kelengkapan riwayat nabi S.A.W tetapi terutama suasana akademis yang literer dipancarkannya.
"Hal itu sangat saya rasakan karena sejak
kecil sampai kuliah saya sudah tahu kisah-kisah nabi, tetapi aneh ketika
membaca buku ini (karya terjemahan Ali) semua terasa serba baru saja,"
ujarnya.
Kustiah


No comments:
Post a Comment