Ilustrasi senja Dok.Pixbay
Jika
burung saja merasa tenteram saat berkumpul bersama keluarganya, saudaranya, dan
sahabat-sahabatnya, bagaimana aku?
Kulihat
mereka berputar-putar di atas genteng tetangga dengan latar langit senja
berwarna jingga. Kudengar mereka bercuit bersahutan. Kuduga mereka saling
bercerita. Menceritakan pengalaman seharian berkelana mencari makan.
Melihat dan mendengarnya berderecit bercuit membuat mataku basah. Apalagi menatapnya dalam samar jingga yang mulai terbenam gelap. Aku mengingatmu yang jauh di sana. Di negeri orang dengan udara, perasaan, dan semangat yang semuanya berbeda. Di sana suhu udara sedingin lemari es. Perasaanmu bercampur aduk. Tak jauh berbeda dengan yang kami rasakan. Kukira kita bisa melewati semua dengan ketenangan, tetapi yang terjadi justru keharusan untuk saling menguatkan. Aku menangisi kepergianmu karena sebenarnya aku tidak begitu kuat untuk hidup sendiri. Meski bersama di rumah kita hanya bertemu saat sarapan, makan siang dan malam yang serba terburu-buru. Atau aku lebih banyak komplain, mengkritik, setengah marah atau kadang marah sungguhan karena beberapa alasan yang tak bisa kuselesaikan sendiri atau karena kecewa. Atau kamu lebih banyak menghabiskan waktumu untuk bekerja, belajar yang setelahnya kau tebus dengan ajakan bepergian saat akhir pekan. Meskipun sebulan sebelum kepergianmu bepergian itu lebih banyak untuk kepentinganmu, yaitu ke dokter gigi.
Tetapi,
dari semua itu keriuhan itu setidaknya ada suaramu yang selalu terdengar. Ada
wujudmu hadir. Ada suaramu yang menenangkan. Dan ada semangatmu yang
membuat suasana selalu riang.
Suatu kali sehari setelah kepergianmu anakmu menangis. Seorang diri menatap teras yang tampak sepi.Ia mengusap perlahan matanya, kulihat dari belakang ia berusaha mencoba tegar. "Sunyi sekali dunia ini Bu.." begitu katanya menerjemahkan rumah yang langsung terasa senyap setelah satu jam kepergianmu.
Setelahnya anakmu yang kecil berbaring di atas sofa. Dia membuka pembicaraan dengan menceritakan bahwa keramaian di rumah sebenarnya karena lebih banyak terdengar suara ayahnya yang tertawa saat rapat dengan teman-teman kantornya atau berbicara dalam sebuah diskusi.
"Dan sekarang di rumah suara ayah tidak terdengar lagi Bu.." katanya.
Aku diam. Berusaha mendengarkan. Dalam diam kuhapus air mata dengan kaos yang kukenakan. Lalu mengajak mereka sholat maghrib berjamaah. Usai sholat kupeluk mereka berdua sambil kukatakan agar kita saling menguatkan selama ayah tidak ada di rumah.
Kukira aku kuat. Apalagi ada teknologi. Kapan pun kita bisa menghubungimu, menanyakan kabarmu, lalu menceritakan kegiatan seharian. Tetapi, nyatanya tidak. Meskipun teknologi benar menjawabnya, perasaan tidak bisa diterjemahkan teknologi setiap saat. Saat berbicara denganmu melalui telepon yang kukatakan hanyalah yang tampak. Seperti membaca komposisi bahan mi instan, aku tak mengalami kesulitan saat menceritakan bagaimana anak kita yang besar mulai mandiri mengerjakan tugasnya, tak perlu didampingi. Dan yang kecil, lebih sering banyak mengerti ibunya. Memberi kecupan saat melihat wajah ibunya bersedih. Atau segera bergegas jika ibunya memintanya melakukan sesuatu, misal menyuruhnya mandi atau menyuruhnya membereskan mainannya yang berserak.
Dan
gelap telah menyuruh sekawanan burung pergi. Mengingatkan untuk segera
beristirahat, bergumul dalam senyap dan gelap. Esok akan ada sinar yang
menemaninya lagi. Jadi, tanpa ragu burung-burung yang berderecit pun
berlalu.
Selamat
malam gelap. Esok kita berjumpa kembali.
Bogor,
medio Februari 2021.
Dalam
sunyi kupanjatkan doa semoga engkau di sana baik-baik saja.. dan kami yang selalu menunggumu.

No comments:
Post a Comment