Dok.pri
Ini blog kedua dari blog pertama yang saya buat pada 2008. Blog pertama isinya lebih banyak tentang ‘curhatan’ dan tulisan hasil liputan di tempat kerja terdahulu. Sedih sebenarnya, seharusnya saya membuat blog ini empat tahun lalu, setelah saya resign dari detik.com, bukan karena paksaan tugas kuliah. Tetapi apa boleh buat. Terima kasih kepada Dr. Irman Hermadi, S.Kom, M.S, dosen pascasarjana untuk mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi Pembangunan (TIK) IPB.
Dosen lulusan Universitas New South Wales Australia yang juga Ketua Program Ilmu Komputer IPB ini menugaskan mahasiswanya membuat blog. Tanpa paksaan beliau mungkin blog ini tidak akan ada di hadapan pembaca.
Saya menamai blog ini ruang inspirasi. Ruang yang menceritakan kisah inspiratif dari orang-orang yang menginspirasi..
Mereka adalah para perempuan dan laki-laki pejuang yang
sesungguhnya. Keinginan menceritakan kisah hebat mereka ke dalam sebuah
blog sudah lama saya angankan. Hanya saja, keinginan hanya tinggal angan karena
kebanyakan alasan untuk mengerjakannya.
Padahal untuk mewujudkannya sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Tetapi, benar apa yang pernah disampaikan Prof Kudang Boro Seminar, yang juga dosen TIK dan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dalam sebuat kuliah di kelas bahwa "Orang sukses kelebihan satu akal. Sementara orang gagal kelebihan satu alasan".
Padahal untuk mewujudkannya sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Tetapi, benar apa yang pernah disampaikan Prof Kudang Boro Seminar, yang juga dosen TIK dan Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dalam sebuat kuliah di kelas bahwa "Orang sukses kelebihan satu akal. Sementara orang gagal kelebihan satu alasan".
Akan selalu banyak alasan untuk tidak mengerjakan. Padahal jika dikerjakan akan
selalu ada jalan.
Kembali ke
orang-orang hebat yang hendak saya ceritakan dalam blog ini. Saya bertemu
mereka bukan tanpa sengaja. Sebelum bertemu mereka saya melakukan riset, survei
lokasi, dan bertanya kepada orang-orang sekitar sebelum akhirnya bertemu. Atau
saya berselancar melakukan riset sebelum akhirnya memutuskan mengirim email
untuk janjian wawancara.
Mereka adalah narasumber saya. Orang-orang hebat yang pernah saya tulis untuk media tempat saya bekerja di detik.com, khususnya majalah detik.com rubrik inspiring people. Setelah resign, saya masih berkomunikasi dan sesekali mengunjungi beberapa dari mereka dan menuliskan kembali kisah mereka untuk website konde.co, media yang mengulas isu-isu perempuan dan kaum marginal. Karena, kisah mereka terlalu hebat untuk dilewatkan.
Merekalah para agen perubahan sesungguhnya. Melakukan kebaikan tanpa disuruh, berkeringat tanpa dibayar, memberi tanpa diminta, dan menginspirasi banyak orang. Mereka bukan siapa-siapa, bukan pejabat bukan pula konglomerat. Tetapi mereka punya hati, punya banyak ‘harta’ dan punya kasih yang tak ada gudang untuk menyimpannya. Semoga kisah yang saya bagikan menginspirasi para pembaca sekalian. Terima kasih.
Mereka adalah narasumber saya. Orang-orang hebat yang pernah saya tulis untuk media tempat saya bekerja di detik.com, khususnya majalah detik.com rubrik inspiring people. Setelah resign, saya masih berkomunikasi dan sesekali mengunjungi beberapa dari mereka dan menuliskan kembali kisah mereka untuk website konde.co, media yang mengulas isu-isu perempuan dan kaum marginal. Karena, kisah mereka terlalu hebat untuk dilewatkan.
Merekalah para agen perubahan sesungguhnya. Melakukan kebaikan tanpa disuruh, berkeringat tanpa dibayar, memberi tanpa diminta, dan menginspirasi banyak orang. Mereka bukan siapa-siapa, bukan pejabat bukan pula konglomerat. Tetapi mereka punya hati, punya banyak ‘harta’ dan punya kasih yang tak ada gudang untuk menyimpannya. Semoga kisah yang saya bagikan menginspirasi para pembaca sekalian. Terima kasih.
Selamat membaca
Salam
Kustiah
No comments:
Post a Comment