Thursday, March 5, 2020

Belajar toleransi dari warga Kramat Jati



Detik.com


Gang sempit di Kramat Jati, Jakarta Timur ini mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya menebarkan kasih meski dalam perbedaan.

Menemukan Gang Eka Dharma RT 001 RW 08 Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur tidaklah terlalu sulit. Gang ini cukup mencolok dibanding gang lain. Meski sepanjang depan gang tertutup toko percetakan yang selalu ramai dan sibuk, begitu berbelok masuk gang kita akan menemukan keteduhan. Jembatan yang menjadi pintu masuk gang ini sisi kanan kirinya dipenuhi bunga hijau yang diletakkan di pot hitam berpenyangga besi. Berjalan ke dalam, gang yang hanya cukup dilewati satu motor ini asri dan bersih. Ada dua plang penunjuk di pintu masuk gang, pelang tertulis Gereja Kristen Pasundan, Kampung Tengah dan pelang penunjuk Mushala Al Mukhlashiin. Dua tempat ibadah ini berdekatan dan bertempat di RT yang sama.

Menurut Ketua RT 001 Neng Harti (60) yang menjabat tiga periode sebagai ketua RT,  warganya yang terdiri atas 100 KK atau sekitar 400 orang 50 persen beragama Islam, satu dua beragama Katholik, dan sisanya beragama Kristen. Meski terdapat dua agama yang memiliki pengikut hampir sama besarnya, di RT 001 tidak pernah terjadi konflik beragama.

"Semua damai dan tenteram,” ujarnya kepada penulis kala itu.
Jika Hari Natal tiba warga muslim akan mengunjungi warga yang merayakan Natal. Begitu sebaliknya. Jika Hari Lebaran, warga non muslim yang mendatangi rumah warga muslim. Ketenteraman dan suasana harmonis di RT 001 dibenarkan mantan pengurus RW Dandy Sendayu (50). Menurut Dandy, suasana di lingkungan tempat ia tinggal tak mudah ditemukan di tempat lain. Meski ajaran bertoleransi diajarkan dan selalu digemborkan ia masih sulit menemukan ketenteraman beragama seperti di lingkungannya. Ia berharap suasana harmonis terus terjalin. Karena, menurutnya menyoal perbedaan tak akan ada habisnya dan hanya akan membuat kegaduhan tak berarti.
Ketenteraman dan keharmonisan beragama di Kramat Jati, Jakarta Timur tercipta karena peran banyak orang. Salah satunya adalah Pendeta Magyolin Carolina (42) dan suaminya, Elang Dharmawan (41). Magyoline adalah pemimpin gereja Kristen Pasundan di Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia ditugaskan Sinude untuk memimpin gereja yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dengan satu-satunya mushala di RT tersebut.
Pendeta yang sebelumnya bertugas memimpin jemaat di Gereja Bekasi bersama suaminya membentuk Komunitas Anak Sabtu Ceria (KASC), sebuah komunitas dongeng untuk anak-anak. Awal cerita karena Olin memiliki koleksi buku dongeng lumayan banyak. Ia dan suaminya sering bergiliran mendongeng untuk anak-anaknya. Karena di RT 001 banyak anak kecil, Olin dan suaminya berinisiatif mengajak amereka bergabung. Olin mengusulkan ke Herti selaku ketua RT.Untuk menghindari tuduhan ’Kristenisasi” Olin dan suaminya mempersilakan ustad dan para orang tua anak untuk mengecek isi buku.
Melihat rumah Olin yang tak memungkinkan menampung anak-anak usia 3-12 tahun yang berjumlah sekitar 25 anak, Herti selaku ketua RT bersama tokoh agama yang juga pemimpin Mushala Al Mukhlashiin Ustad Harun mempersilakan Olin menggunakan Mushala sebagai base camp atau ruang berkumpul KASC.
Berangkat dari prasangka baik yang dibangun kedua tokoh agama itulah KASC tumbuh berkembang sejak 2012 hingga saat ini. Masyarakat Islam tak pernah mempersoalkan Olin selaku pendeta dan suaminya yang beragama Kristen menggunakan mushala sebagai tempat mendongeng. Sebaliknya, Olin dan suaminya juga tak pernah merasa keberatan berbagi ilmu bersama warga yang beragama Islam. Sementara anak-anak sedang mendengar dongeng dan cerita yang sebagian besar temanya seputar persahabatan, kebaikaan, cinta kasih, para ibu yang turut datang juga bisa membaca buku yang kebanyakan isinya seputar resep masakan, kisah inspiratif, dan tentang budi daya tanaman.
**
Kustiah


No comments:

Post a Comment

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...