Sunday, April 19, 2020

Pengajian As-Salam, kelompok ngaji yang pluralis dan humanis


Dok.pri
Bertemu, berkumpul dengan orang-orang baru yang memiliki kesamaan tujuan itu menyenangkan. Di sinilah kami berbagi pengalaman, pengetahuan, gagasan, yang dipandu cendikiawan muslim Profesor Musdah Mulia.

Pada pertemuan pertama berkumpul untuk ngaji bareng, 8 Oktober 2018, di kantor Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) kami menamai perkumpulan ngaji bareng dengan nama Klub Pengajian As-Salam. Ngajinya asyik, bermutu, dan menenteramkan. Seperti yang dibayangkan teman-teman sebelum mengikuti pengajian. Di dalam pengajian tidak ada ungkapan yang merendahkan, menganggap yang lain (baik yang di dalam pengajian maupun masyarakat di luar) lebih rendah dari yang lain. 

Pemateri, Bu Musdah Mulia selalu menggunakan istilah dalam menyampaikan materinya dengan cara damai dan menyejukkan. Dan pada sesi perkenalan para anggota yang datang, sama seperti saya, menyampaikan kegelisahannya tentang masyarakat yang mulai fasih menyebut orang lain kafir. Juga kegelisahan sebagai korban yang sering disebut sebagai tak islami karena tak berkerudung. Dan banyak lagi bentuk perundungan yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang dan tidak nyaman.

Undangan  tentang adanya pengajian saya dapatkan dari broadcast grup jurnalis organisasi tempat kami berbagi informasi dan bertukar gagasan. Inti dari broadcast tersebut adalah undangan pengajian yang akan dipandu oleh Prof Musdah Mulia. Siapa tak kenal Prof Musdah Mulia. Saya pernah menulis profil perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan untuk sebuah buku yang isinya beberapa sosok pemenang Penghargaan Yap Thiam Hien tahun 1992-2011. Feminis yang menjadi guru besar di Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta ini sangat progresif. Pandangannya luas, terhadap agama Musdah merupakan sosok pluralis, terhadap isu-isu perempuan, sebagai feminis reformis jangan ditanya, pandangannya humanis dan sangat reformis.

Pada wawancara untuk buku yang kami tulis dalam proyek bersama teman-teman Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, yang kebagian menulis beberapa sosok lain penerima award Yap Thiam Hien, kepada saya Prof Musdah bercerita, mula-mula ia sangat sedih begitu mengetahui dirinya di layar internet lebih dikenal sebagai antek asing, agen yahudi, penyusup, dan berbagai atribut negatif lainnya. “Coba ketik nama saya di Google. Isinya, astagfirullah al adzim,” ujarnya.

Tetapi, rasa sedihnya tak berlangsung lama. Gus Dur, Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI, idolanya membesarkan hatinya. Kepada Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Gus Dur mengatakan, perjuangan kemanusiaan akan selalu ada saja yang tidak menyukainya. Biasanya yang tidak menyukai bisa jadi karena mereka pelaku, pendukung kekerasan, antitoleransi, tidak  menyukai jika perempuan berdaya, dan tidak suka jika dunia ini damai. “Anggap saja yang ditulis di internet itu sebagai iklan gratis,” ujar  Musdah menirukan kata-kata Gus Dur.

Di lain kesempatan, masih kata perempuan produktif penulis puluhan buku salah satunya Ensiklopedia Muslimah Reformis, ada sebuah organisasi keislaman mengundangnya menjadi pembicara. Namun, ada syarat yang diajukan yang menurut Musdah aneh. Dirinya dilarang duduk di depan forum bersampingan bersama pembicara lain. Melainkan duduk bersama para peserta perempuan yang ditutup dengan satir (kain penutup untuk memisahkan peserta diskusi berdasarkan jenis kelamin). Melalui panitia yang mengundang ia menyampaikan keberatannya. Dan akhirnya syarat dicabut. Tetapi tidak selesai di situ. Dalam diskusi Musdah ternyata dihina, dimaki oleh pembicara yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Ia disebut sebagai agen Yahudi, antek Amerika yang tak memahami keislaman dengan benar sesuai kaidah Islam.

Saya mendengarnya  jadi gemas. Saya yakin mereka yang menyebut Musdah tidak islami pasti tidak tahu tentang Musdah. Musdah lulusan pesantren, masa remaja hingga kuliahnya ia habiskan untuk belajar agama Islam. Baik melalui pesantren, mimbar diskusi, buku, hingga kuliah. Bagaimana mungkin karena berpandangan pluralis, memandang agama dengan semangat cinta kasih, kemanusian, penghargaan terhadap sesama, dan kesetaraan lantas disebut tidak islami?
Banyak cerita menyedihkan dari sebagian perjuangan yang dilakukan Musdah Mulia dalam mengampanyekan toleransi dan kesetaraan. Dan Bu Musdah tidak gentar dan berkecil hati.

Melalui pengajian As-Salam kami berharap mendapatkan ilmu dan semangat dari Prof Musdah… Kami, yang biasanya datang sekitar 15 sampai 30 anggota dari berbagai latar belakang profesi selalu khidmat dan antusias mengikuti forum yang diadakan di kantor ICRP. Karena Covid 19 pertemuan pengajian sejak Maret untuk sementara ditiadakan. Tampaknya panitia penyelenggara berencana melaksanakan pengajian melalui pertemuan virtual. Semoga saja dalam waktu dekat bisa terlaksana.

Kustiah

No comments:

Post a Comment

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...