![]() |
| Dok.pri |
Bertemu,
berkumpul dengan orang-orang baru yang memiliki kesamaan tujuan itu
menyenangkan. Di sinilah kami berbagi pengalaman, pengetahuan, gagasan, yang
dipandu cendikiawan muslim Profesor Musdah Mulia.
Pada
pertemuan pertama berkumpul untuk ngaji bareng, 8 Oktober 2018, di kantor Indonesian Conference on Religion and Peace
(ICRP) kami menamai perkumpulan ngaji bareng dengan nama Klub Pengajian
As-Salam. Ngajinya asyik, bermutu, dan menenteramkan. Seperti yang dibayangkan teman-teman
sebelum mengikuti pengajian. Di dalam pengajian tidak ada ungkapan yang
merendahkan, menganggap yang lain (baik yang di dalam pengajian maupun
masyarakat di luar) lebih rendah dari yang lain.
Pemateri, Bu Musdah Mulia selalu menggunakan istilah dalam menyampaikan materinya dengan cara damai dan menyejukkan. Dan pada sesi perkenalan para anggota yang datang, sama seperti saya, menyampaikan kegelisahannya tentang masyarakat yang mulai fasih menyebut orang lain kafir. Juga kegelisahan sebagai korban yang sering disebut sebagai tak islami karena tak berkerudung. Dan banyak lagi bentuk perundungan yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang dan tidak nyaman.
Pemateri, Bu Musdah Mulia selalu menggunakan istilah dalam menyampaikan materinya dengan cara damai dan menyejukkan. Dan pada sesi perkenalan para anggota yang datang, sama seperti saya, menyampaikan kegelisahannya tentang masyarakat yang mulai fasih menyebut orang lain kafir. Juga kegelisahan sebagai korban yang sering disebut sebagai tak islami karena tak berkerudung. Dan banyak lagi bentuk perundungan yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang dan tidak nyaman.
Undangan tentang adanya pengajian saya dapatkan dari
broadcast grup jurnalis organisasi tempat kami berbagi informasi dan bertukar
gagasan. Inti dari broadcast tersebut adalah undangan pengajian yang akan
dipandu oleh Prof Musdah Mulia. Siapa tak kenal Prof Musdah Mulia. Saya pernah
menulis profil perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan untuk sebuah buku
yang isinya beberapa sosok pemenang Penghargaan Yap Thiam Hien tahun 1992-2011.
Feminis yang menjadi guru besar di Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarif
Hidayatullah, Ciputat, Jakarta ini sangat progresif. Pandangannya luas,
terhadap agama Musdah merupakan sosok pluralis, terhadap isu-isu perempuan,
sebagai feminis reformis jangan ditanya, pandangannya humanis dan sangat
reformis.
Pada
wawancara untuk buku yang kami tulis dalam proyek bersama teman-teman Aliansi
Jurnalis Independen Jakarta, yang kebagian menulis beberapa sosok lain penerima
award Yap Thiam Hien, kepada saya Prof Musdah bercerita, mula-mula ia sangat
sedih begitu mengetahui dirinya di layar internet lebih dikenal sebagai antek
asing, agen yahudi, penyusup, dan berbagai atribut negatif lainnya. “Coba ketik
nama saya di Google. Isinya, astagfirullah al adzim,” ujarnya.
Tetapi, rasa sedihnya tak berlangsung lama. Gus Dur, Abdurrahman Wahid, mantan
presiden RI, idolanya membesarkan hatinya. Kepada Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace
(ICRP) Gus Dur mengatakan, perjuangan kemanusiaan akan selalu ada saja yang
tidak menyukainya. Biasanya yang tidak menyukai bisa jadi karena mereka pelaku,
pendukung kekerasan, antitoleransi, tidak menyukai jika perempuan berdaya, dan tidak
suka jika dunia ini damai. “Anggap saja yang ditulis di internet itu sebagai iklan
gratis,” ujar Musdah menirukan kata-kata
Gus Dur.
Di
lain kesempatan, masih kata perempuan produktif penulis puluhan buku salah
satunya Ensiklopedia Muslimah Reformis, ada sebuah organisasi
keislaman mengundangnya menjadi pembicara. Namun, ada syarat yang diajukan yang
menurut Musdah aneh. Dirinya dilarang duduk di depan forum bersampingan bersama
pembicara lain. Melainkan duduk bersama para peserta perempuan yang ditutup
dengan satir (kain penutup untuk memisahkan peserta diskusi berdasarkan jenis
kelamin). Melalui panitia yang mengundang ia menyampaikan keberatannya. Dan akhirnya
syarat dicabut. Tetapi tidak selesai di situ. Dalam diskusi Musdah ternyata
dihina, dimaki oleh pembicara yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Ia
disebut sebagai agen Yahudi, antek Amerika yang tak memahami keislaman dengan
benar sesuai kaidah Islam.
Saya
mendengarnya jadi gemas. Saya yakin mereka
yang menyebut Musdah tidak islami pasti tidak tahu tentang Musdah. Musdah
lulusan pesantren, masa remaja hingga kuliahnya ia habiskan untuk belajar agama
Islam. Baik melalui pesantren, mimbar diskusi, buku, hingga kuliah. Bagaimana
mungkin karena berpandangan pluralis, memandang agama dengan semangat cinta
kasih, kemanusian, penghargaan terhadap sesama, dan kesetaraan lantas disebut tidak
islami?
Banyak
cerita menyedihkan dari sebagian perjuangan yang dilakukan Musdah Mulia dalam
mengampanyekan toleransi dan kesetaraan. Dan Bu Musdah tidak gentar dan
berkecil hati.
Melalui
pengajian As-Salam kami berharap mendapatkan ilmu dan semangat dari Prof Musdah…
Kami, yang biasanya datang sekitar 15 sampai 30 anggota dari berbagai latar
belakang profesi selalu khidmat dan antusias mengikuti forum yang diadakan di
kantor ICRP. Karena Covid 19 pertemuan pengajian sejak Maret untuk sementara
ditiadakan. Tampaknya panitia penyelenggara berencana melaksanakan pengajian
melalui pertemuan virtual. Semoga saja dalam waktu dekat bisa terlaksana.
Kustiah

No comments:
Post a Comment