![]() |
| Dok.pri |
Tahun 2018 akhir hingga 2019 kami memiliki kelas belajar menulis bersama di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pondok Bambu, Jakarta Timur. Belajar membagi, mendengarkan, lalu mendokumentasikannya ke dalam sebuah tulisan.
Bersama
tiga teman dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat, seorang jurnalis dari
Jurnal Perempuan, Magdalene.co, dan saya mewakili konde.co siang itu (Jumat//07/)
bersiap-siap memasuki Lapas Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan kami menunggu kembali di ruang tunggu. Lapas yang kami masuki bersih. Begitu juga para pegawainya yang ramah dan sopan. Berbeda dengan rumah tahanan (rutan) Pondok Bambu yang pernah saya dan teman kunjungi pada tahun 2007.
Selain kondisi di sekitar rutan yang jorok, petugasnya juga 'sangar'. Bukan rahasia lagi bagi kami (para jurnalis) yang kala itu ingin meliput rutan harus menyiapkan uang untuk petugas di beberapa pos. Tapi itu dulu, sekarang kondisinya jauh berbeda.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan kami menunggu kembali di ruang tunggu. Lapas yang kami masuki bersih. Begitu juga para pegawainya yang ramah dan sopan. Berbeda dengan rumah tahanan (rutan) Pondok Bambu yang pernah saya dan teman kunjungi pada tahun 2007.
Selain kondisi di sekitar rutan yang jorok, petugasnya juga 'sangar'. Bukan rahasia lagi bagi kami (para jurnalis) yang kala itu ingin meliput rutan harus menyiapkan uang untuk petugas di beberapa pos. Tapi itu dulu, sekarang kondisinya jauh berbeda.
Saat
pemeriksaan di Lapas ini justru kami sering mendengar kata 'maaf ya bu,
kami periksa dulu'. Duh, mau memeriksa untuk memastikan keamanan saja
mereka meminta maaf terlebih dahulu. Dan tak lupa megatakan 'silakan'. Setelah
memeriksa mereka mempersilakan saya ke bagian lain untuk dicap di bagian
punggung lengan tangan. Beberapa kali tiap berkunjung kesana, kata-kata itu
jadi familiar.
Di
dalam lapas suara ribut-ribut terdengar makin jelas. Puluhan perempuan
berpakaian baju olah raga sedang adu kekuatan dan ketangkasan. Mereka
lomba dalam rangka menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus. Entah apa nama
permainannya, yang terlihat hanya tawa canda dan kemeriahan lomba.
Setelah
menunggu di ruang tunggu tak sampai lima menit, seorang petugas Lapas yang dari
awal mendampingi kami Bu Maria mengajak kami ke lantai 3.
Dan,
secara sukarela teman-teman 'penghuni' Lapas sigap membantu kami yang sedang
mempersiapkan kelas. Kursi digeser, dibentuk melingkar dan jadilah sebuah
ruangan yang berisi aneka barang mulai meja, kursi rusak, kipas angin, spanduk
dan barang lainnya, menjadi ruang hangat tempat kami berbagi cerita dan belajar
menulis.
Kami
berbaur menjadi satu kelompok teman berjumlah 15 orang,13 perempuan dan dua
laki-laki. Yang haus menulis, membagi dan mendengarkan cerita, dan haus
belajar hal-hal baru. Sebagian besar dari kami mencintai buku, dan
mengakrabinya di waktu-waktu senyap merayap datang.
"Saya
menyukai membaca buku yang berisi kisah nyata. Selain menginspirasi juga
menguatkan saya menghadapi hari-hari berat, " ujar kakak berinisial M
menceritakan alasan kesukaannya membaca.
Pertemuan
kami berlanjut selama delapan pekan, setiap hari Jumat pukul 10.00 WIB dengan agenda
menulis dan belajar bersama. Bagi kami belajar tak mengenal waktu, ruang, dan
bersama siapa kami berbagi. Sampai dengan terakhir kami bertemu, pada pertemuan
ke delapan, hasil belajar teman-teman memuaskan. Tulisan teman-teman di Lapas
luar biasa.
Mereka seperti penutur profesional. Cerita yang ditulis dalam sebuah buku yang kami berikan sejak pertemuan pertama begitu runut, memilin-milin hati, dan menguras air mata. Saya sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihan begitu satu per satu peserta membacakan tulisannya. Mata sembab dan hati terasa penuh sesak begitu kelas usai.
Mereka seperti penutur profesional. Cerita yang ditulis dalam sebuah buku yang kami berikan sejak pertemuan pertama begitu runut, memilin-milin hati, dan menguras air mata. Saya sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihan begitu satu per satu peserta membacakan tulisannya. Mata sembab dan hati terasa penuh sesak begitu kelas usai.
Saya
merindukanmu teman-teman. Seperti kesadaran yang saya bangun dari awal sebelum
memasuki Lapas, bahwa kalian manusia biasa, kalian korban yang selalu
dikorbankan bahkan oleh orang-orang terdekat kalian sendiri. Saat tak ada yang
melindungi, kalian sendirilah yang berdiri tegak melawan ketakutan dan
penindasan yang selama ini menindihmu. Semoga di sana kalian tegar dan tabah
sampai waktu mencium kebebasan tiba..
Kustiah

No comments:
Post a Comment