Sunday, April 19, 2020

Belajar bersama teman di lembaga pemasyarakatan


Dok.pri

Tahun 2018 akhir hingga 2019 kami memiliki kelas belajar menulis bersama di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pondok Bambu, Jakarta Timur. Belajar membagi, mendengarkan, lalu mendokumentasikannya ke dalam sebuah tulisan.

Bersama tiga teman dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyarakat, seorang jurnalis dari Jurnal Perempuan, Magdalene.co, dan saya mewakili konde.co siang itu (Jumat//07/) bersiap-siap memasuki Lapas  Pondok Bambu, Jakarta Timur. 

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan kami menunggu kembali di ruang tunggu. Lapas yang kami masuki bersih. Begitu juga para pegawainya yang ramah dan sopan. Berbeda dengan rumah tahanan (rutan) Pondok Bambu yang pernah saya dan teman kunjungi pada tahun 2007.

Selain kondisi di sekitar rutan yang  jorok, petugasnya juga 'sangar'. Bukan rahasia lagi bagi kami (para jurnalis) yang kala itu ingin meliput rutan harus menyiapkan uang untuk petugas di beberapa pos. Tapi itu dulu, sekarang kondisinya jauh berbeda.

Saat pemeriksaan di Lapas ini justru kami sering mendengar kata 'maaf ya bu,  kami periksa dulu'. Duh,  mau memeriksa untuk memastikan keamanan saja mereka meminta maaf terlebih dahulu. Dan tak lupa megatakan 'silakan'. Setelah memeriksa mereka mempersilakan saya ke bagian lain untuk dicap di bagian punggung lengan tangan. Beberapa kali tiap berkunjung kesana, kata-kata itu jadi familiar

Di dalam lapas suara ribut-ribut terdengar makin jelas.  Puluhan perempuan berpakaian baju olah raga sedang adu kekuatan dan ketangkasan.  Mereka lomba dalam rangka menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus. Entah apa nama permainannya, yang terlihat hanya tawa canda dan kemeriahan lomba.
Setelah menunggu di ruang tunggu tak sampai lima menit, seorang petugas Lapas yang dari awal mendampingi kami Bu Maria mengajak kami ke lantai 3.

Dan, secara sukarela teman-teman 'penghuni' Lapas sigap membantu kami yang sedang mempersiapkan kelas. Kursi digeser, dibentuk melingkar dan jadilah sebuah ruangan yang berisi aneka barang mulai meja, kursi rusak, kipas angin, spanduk dan barang lainnya, menjadi ruang hangat tempat kami berbagi cerita dan belajar menulis. 

Kami berbaur menjadi satu kelompok teman berjumlah 15 orang,13 perempuan dan dua laki-laki. Yang haus menulis, membagi dan mendengarkan cerita,  dan haus belajar hal-hal baru. Sebagian besar dari kami mencintai buku, dan mengakrabinya di waktu-waktu senyap merayap datang.  

"Saya menyukai membaca buku yang berisi kisah nyata. Selain menginspirasi juga menguatkan saya menghadapi hari-hari berat, " ujar kakak berinisial M menceritakan alasan kesukaannya membaca. 

Pertemuan kami berlanjut selama delapan pekan, setiap hari Jumat pukul 10.00 WIB dengan agenda menulis dan belajar bersama. Bagi kami belajar tak mengenal waktu, ruang, dan bersama siapa kami berbagi. Sampai dengan terakhir kami bertemu, pada pertemuan ke delapan, hasil belajar teman-teman memuaskan. Tulisan teman-teman di Lapas luar biasa. 

Mereka seperti penutur profesional. Cerita yang ditulis dalam sebuah buku yang kami berikan sejak pertemuan pertama begitu runut, memilin-milin hati, dan menguras air mata. Saya sendiri tak bisa menyembunyikan kesedihan begitu satu per satu peserta membacakan tulisannya. Mata sembab dan hati terasa penuh sesak begitu kelas usai.

Saya merindukanmu teman-teman. Seperti kesadaran yang saya bangun dari awal sebelum memasuki Lapas, bahwa kalian manusia biasa, kalian korban yang selalu dikorbankan bahkan oleh orang-orang terdekat kalian sendiri. Saat tak ada yang melindungi, kalian sendirilah yang berdiri tegak melawan ketakutan dan penindasan yang selama ini menindihmu. Semoga di sana kalian tegar dan tabah sampai waktu mencium kebebasan tiba..

Kustiah

No comments:

Post a Comment

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...