Jika Kosta Rika, Amerika Tengah memiliki pahlawan pembuat dan penjaga hutan, Pedro Garcia (57), yang telah berhasil mengembalikan hutan yang rusak dan hilang menjadi hutan subur, Indonesia punya Rosita (59) yang telah menciptakan hutan organik di lahan seluas 23 hektare dengan kerja keras dan tangan dinginnya bersama suaminya.
Berita sebuah media online yang menceritakan perjuangan Pedro, warga Kosta Rika, yang mengembalikan hutan yang hilang menjadi hutan subur mengingatkan saya terhadap sosok perempuan yang gigih. Dia adalah Rosita (59), seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang keduanya telah berkeluarga. Ia tinggal di Kawasan Megamendung, Kawasan Puncak, Bogor sejak 2001 bersama suaminya seorang konsultan perusahaan minyak Bambang Istiawan, (69). Akhir tahun 2019 Bambang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi.
Bukan perjuangan mudah bagi Ita, panggilan Rosita, saat memulai mewujudkan mimpi suaminya untuk
tinggal di kawasan sejuk. Perempuan kelahiran Cimande, Bogor ini harus
menghadapi para biong (makelar) tanah yang tak segan berbuat premanisme. Namun,
Ita tak gentar. Keberaniannya membuat ia berhasil membeli sekitar 2 ribu meter
tanah tandus bekas perkebunan teh yang selanjutnya bertahap bertambah menjadi
sekitar 23 hektare.
Suatu kali, pada tahun 90-an suaminya berbicara kepada
Rosita ihwal keinginannya tinggal di hutan saat
sudah tua. Ada dua tempat impian yang ia incar yakni Kalimantan Timur dan
Sumatera Selatan. Namun seiring waktu berjalan ternyata hutan di
Kaltim sudah jadi pemukiman. Sementara hutan di
Sumsel sudah jadi kebun sawit. Lalu ia berangan-angan untuk tinggal di Malang,
Jawa Timur. Namun, rupanya Rosita bukannya mendukung malah menantangnya.
"Kalau hutan sudah tidak ada ya ayo bikin hutan," kata Rosita kepada suaminya kala itu menuturkan kepada penulis.
Tuhan tampaknya mendengar doa Ita. Pada tahun 1997, saat krisis melanda lahan teh di puncak Megamendung milik Probosutedjo ikut terkena imbasnya. Lahan seluas 12 hektare ini setahun terbengkalai, tandus, gersang ditumbuhi ilalang. Ita yang kebetulan warga Cimande, Bogor, mendengar bahwa lahan yang tak terurus itu akan dijual. Ita segera menghubungi orang kepercayaan adik Soeharto. Dan ia berhasil membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter dengan harga Rp1.000 rupiah per meter. Mendapatkan lahan tak mudah. Ita harus berhadapan dengan para calo tanah yang sudah mengkapling dan menawarkan tanah kepada pembeli.
"Jangankan membeli lahan baru, yang sudah
dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikapling sama biong, (sebutan calo
tanah)" ujarnya.
Akhirnya, bertahap tanah sedikit demi sedikit
terbeli dari tangan pertama. Inilah yang membuat Ita mendapatkan harga miring
karena tak membeli dari calo. Suaminya tak tahu banyak soal proses pembelian
tanah, karena bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan
minyak. Dan ketika pulang ia kaget istrinya telah memiliki tanah yang luas.
Di sinilah proses pembuatan hutan dimulai. Pada tahun 2000 Rosita bersama suami dan
anak bungsunya melakukan penelitian kecil-kecilan. Dia terkejut, lahan
yang 70 persen ditumbuhi alang-alang ini kondisi tanahnya memprihatinkan. PH
tanah hanya 2,5-4, di tanah tak ditemukan cacing, dan tak ada mata air. Menurut
warga sebenarnya ada satu mata air di lahan tersebut namun sudah mati.
Pada 2001 mereka memulai proses penanaman,
memetakan lahan dengan menanam pohon keras (endemik) dan tanaman yang bisa
memberikan nilai manfaat (pohon frontir) atau tumpang sari supaya tetap bisa
merawat pohon keras. Komposisinya 2/3 ditanam pohon frontir dan 1/3 nya ditanam
pohon endemik dan buah-buahan supaya lahan bisa hijau lebih dulu.
Supaya subur Rosita dan suaminya mengandalkan
pupuk organik dari peternakan dengan memelihara
sepasang kambing. Ia baru tahu di kemudian hari bahwa supaya hasil pupuk lebih
banyak dan ternak berkembang lebih cepat mereka bisa memasangkan kambing 4
betina dengan satu jantan.
"Itulah, karena bodohnya saya kira kalau
mau cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal bisa 4 banding satu," ujar
Bambang menimpali sambil terkekeh
Perlahan tanaman mulai tumbuh. Rosita beserta
anak dan suaminya selama mengolah lahan berpuasa tak menggunakan pupuk
unorganik. Berkat ketelatenan tanaman sudah terlihat mulai menghijau meskipun
tak secepat bayangan Rosita. Mereka beberapa kali disergap rasa bosan dan
tergoda menggunakan pupuk unorganik supaya tanamannya lekas hijau dan tumbuh
lebat.
Beruntung orang tuanya menasehatinya saat ia
mengutarakan meminjam uang untuk membeli pupuk. Yang diingat dari kata-kata
bapaknya, Tuhan menciptakan hutan lebat tanpa
dipupuk. Kalau lahan kritis mau direhabilitasi harus jadi hutan alam
dulu, jadi hutan organik seperti
Tuhan menciptakan hutan. Manjur. Nasihat bapaknya
perlahan memudarkan kebosanannya apalagi saat itu Ita dan suaminua juga sudah
tak memiliki uang untuk membeli pupuk selain menggunakan kotoran ternaknya yang
perlahan juga mulai bertambah jumlahnya. Tak disangka, kesabaran berbuah manis.
Pada 2003 muncul mata air di dekat daerah cekungan.
Sejak saat itu pula Ita dan suaminya
menggunakan air dari mata air untuk kebutuhan rumah tangga. Setelah sebelumnya
menggunakan air hasil mengebor sumur sedalam 400 meter.
Yang menenteramkan, tanaman tumpangsari juga
memberikan hasil yang memuaskan. Tiap panen tanaman seperti sawi, lobak, bayam,
cabai, terong, jagung, dan aneka tanaman tumpang sari lainnya berlimpah. Dan
hasilnya bisa dijual untuk membayar para petani yang membantu. Dan yang membuat
Ita dan suaminya bernapas lega, kini aneka satwa telah mampir dan tinggal
di hutan miliknya. Mulai dari burung elang
hingga diduga harimau. Akhir 2014 empat kambing miliknya menjadi korban. Menurut
suaminya, berdasarkan identifikasi gigitan beberapa ahli menyimpulkan bahwa
gigitan yang biasa mengoyak muka dan perut kambing adalah harimau.
***
Luas lahan bertambah
Pada 2005 belasan perwakilan masyarakat yang
tinggal di bawah puncak yang berbatasan dengan Sentul mendatangi rumah Rosita.
Keberanian Rosita menghadapi calo tanah rupanya telah terdengar di
mana-mana. Selain masyarakat mengenal Rosita sebagai perempuan yang ulet
merawat lahannya dan mencintai lingkungan. Masyarakat mengadu bahwa ada
seorang pengusaha yang berencana membuat penangkaran buaya di bukit tak jauh
dari hutan milik Ita. Bukit itu sebelumnya
merupakan bekas potongan yang rencananya akan digunakan sebagai pemukiman.
Karena tak berizin pengembang meninggalkan begitu saja bukit yang di lerengnya
terdapat semacam setu. Masyarakat keberatan jika ada penangkaran buaya di sana.
Apalagi di bawahnya terdapat perumahan warga.
"Mereka keberatan karena pasti akan ada
bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke permukiman warga," kata Ita.
Akhirnya karena desakan masyarakat Rosita
menggunakan tabungan yang rencananya akan dibelikan mobil dikuras habis untuk
membeli lahan seluas 11 hektare. Kini lahan itu ditanami aneka tanaman tumpang
sari dan tanaman keras seperti ketika Ita dan suaminya memulai menanami lahan
tandus miliknya terdahulu. Pohon di lahan seluas 12 hektare kini tumbuh rimbun,
sementara di lahan 11 hekatare dipenuhi aneka tanaman tumpangsari dan sisanya
tanaman endemik yang juga tak kalah rimbunnya. Lahan kedua ini sengaja
digunakan sebagai green living area.
Di atas lahan ini pula Ita dan suaminya berhasil menggunakan teknik hidran,
dengan menaikkan air ke atas lahan dengan ketinggian sekitar 100 meter.
Berkat kesuksesannya membuat hutan organik Ita bersama suami dan anaknya sering diundang ke
seminar-seminar baik di dalam dan mancanegara. Di Sudan metode yang digunakan
Ita dan suaminya dijiplak dan berhasil diterapkan.
"Saya tak punya background, tak punya uang banyak dan dukungan politik. Yang saya
punyai hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa saya bagikan," kata Ita.
Kini, sambil menikmati masa tua dengan menjadi "satpam hutan organik" Rosita disibukkan dengan kunjungan tamu yang hendak melihat dan menikmati keindahan hutan miliknya. Di tengah hutan para tamu bisa memanjakan mata dan menikmati kesejukan alam. Jika hendak mengadakan diskusi atau menginap bersama keluarga Rosita menyediakan fasilitasnya, lengkap dengan aneka masakan Sunda yang menggigit lidah. Penasaran? silakan buktikan sendiri dengan datang ke lokasi.
Kustiah





Wanita hebat..super
ReplyDeleteIya Bu,bu Ita perempuan hebat.terima kasih sudah mampir Bu..
ReplyDelete