Tuesday, November 17, 2020

Kekerasan anak di sekitar kita




                                              Dok.iStock. Ilustrasi kekerasan terhadap anak                                             


Hari ini saya belajar satu hal penting. Kekerasan mengancam kehidupan, masa depan anak, dan tidak bisa didiamkan

*****

Entah, mimpi apa saya semalam. Pagi ini saat mengantar anak tatap muka di sekolah saya menjumpai peristiwa yang membuat hati terguncang. Sebelum masuk kelas saya ke toko kelontong yang letaknya di depan sekolah persis. Maksud hati hendak membeli plester karena jari luka usai teriris pisau saat memasak. Dan hendak membeli susu kotak untuk anak. Di warung ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dan bapaknya berusia sekitar 45 tahun. Karena sang bapak sibuk saya menyampaikan kepada anak kalau saya membeli plester. 

Namun sang anak tampak bingung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Saya menunjukkan kepada anak kalau plester hansaplast menggantung di pojok tak jauh dari tempat dia berdiri. 

"Itu bang plesternya ada di belakang abang," kata saya. 

Bapak yang sedari saya datang tampak duduk lalu berdiri melayani pembeli lain tiba-tiba mendekati anak lelakinya. 

"Ini anak sudah kelas 6 tapi tidak bisa membaca Bu.. " ujarnya. 

"Nggak apa-apa pak, mungkin memang nggak tahu tempat plesternya," masih kata saya menenangkan anak dan bapak yang tampaknya menahan amarah. 

Sambil menarik hansaplast dengan kasar bapak menyabetkan serenceng hansaplas ke muka anak. Secepat kilat. Anak ketakutan, menangis terisak. Saya kaget. Tak menyangka bapaknya yang sedari saya datang matanya melotot tampak marah bisa berbuat kasar dan dengan mudah menganiaya anaknya.

"Sabar Bapak. Tenang Bapak. Tenang...," lidah seperti tercekat saya berusaha menenangkan bapaknya. Jika tidak terhalangi kotak tempat etalase beras ingin rasanya saya mendekap anak itu dan menantang bapaknya. 

Kedua anak saya yang berada tepat di depan anak yang disabet bapaknya spontan memegangi tangan saya.

"Dia sudah kelas 6 tapi nggak bisa baca. Kerjaannya main hape terus. Bikin malu saja," Bapaknya melanjutkan.

"Sabar Bapak..belajar itu pelan-pelan Pak. Bapak yang sabar, nanti lama-lama anak mengerti," ujar saya masih berusaha menenangkan. Dan "Bukkkk..." tangan kanannya menghantam dada anaknya dengan keras. Tak lama kemudian kakinya menginjak kaki anaknya dengan menghentakkan kakinya keras-keras. Berkali-kali. 

Saya berteriak reflek. "Bapak, tolong tenang ya pak". Anak kuperhatikan terisak sambil berteriak. Ia ketakutan dan seperti menahan sakit. Saya tak tahu. Saya terus berusaha memohon Bapaknya untuk tidak kasar kepada anaknya. Saya berusaha dengan tenang, memohon kepada sang Bapak untuk mengasihani anaknya. Kuperhatikan pembeli lain bergegas membayar lalu pergi. Seorang perempuan berceloteh "Galak banget Pak..".

Ingin rasanya saya memarahi Bapaknya, tetapi posisi anak yang lebih dekat dengan Bapaknya dan posisi saya yang terhalang dengan etalase membuat saya tidak berkutik. Saya khawatir jika saya memarahinya anak akan ditonjok dan diinjak kembali. 

Saya berusaha mengalihkan kemarahannya dengan bertanya berapa harga plester dan susu. Kepada saya Bapak berbicara dengan sopan, masih berusaha menekan kemarahannya. Sambil menerima uang kembalian kukatakan kepada Bapak untuk bersabar. Saya bingung. Jika pergi saya khawatir sang bapak akan mengulangi perbuatannya. Tetapi jika tidak pergi saya khawatir bapaknya makin emosi. Saya hanya meninggalkan pesan kepada sang bapak supaya bersabar. 

Peristiwa ini mengguncang batin saya. Kepada tetangganya saya meminta tolong untuk mengawasi anak bapak yang punya toko. Jika di depan pembeli saja bapaknya tega menganiaya anaknya saya membayangkan bagaimana jika ia marah kepada anaknya di dalam rumah  hanya berdua saja. Siapa yang akan melindungi anaknya. Menurut pembeli sebelum saya, sang bapak mengatakan kalau istrinya sudah meninggal. "Anak saya piatu. Ibunya sudah meninggal" ujar pembeli yang datang sebelum saya menirukan bapaknya.
Namun, kata tetangganya ibu sang anak (istri bapak penjual toko) pergi entah kemana.

Menurut teman-teman saya harus bagaimana? Karena, membiarkan sang anak yang tinggal bersama bapaknya yang saya anggap keji sama artinya saya membiarkan kekerasan terjadi. Ancaman kekerasan terhadap anak. Entah esok atau nanti pasti kekerasan akan terjadi jika tidak diputus dengan cara mengajak Bapaknya berbicara baik-baik. Sepanjang jalan pikiran saya berkecamuk. Mengingat wajah bapaknya yang beringas dan melihat wajah anaknya yang ketakutan membuat saya terguncang. Dalam perjalanan saya membelokkan motor ke rumah kenalan. Entahlah, saya hanya ingin menenangkan diri. Ingin berpikir tenang mencari cara bagaimana bisa menemui bapak supaya tidak berbuat kekerasan dan ingin menolong mengajari anak supaya bisa membaca... 

Tuhan...mohon ampun. Tidak seharusnya saya menjadikan pandemi, pagebluk corona ini sebagai kambing hitam kekerasan. Saya sendiri memahami bahwa pandemi ini memang tak mudah. Tetapi, bukankah semua gelisah, kemarahan ini tidak seharusnya kita luapkan kepada anak-anak tak berdosa. Bukankah tidak sepatutnya kemarahan, kejenuhan, kekesalan ini kita lampiaskan kepada anak-anak yang tidak berdaya. Tuhan.. berilah petunjuk-Mu.. 

Catatan sore, November kelabu Selasa, 17/11/2020.17.00 WIB

No comments:

Post a Comment

Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...