Wednesday, September 9, 2020

Sepuluh tahun lalu..

 


                                                           Dok. CNNIndonesia,com


Merangkai yang terserak. Sepuluh tahun lalu baru mendengar Teater Koma akan pentas saja kaki sudah melonjak-lonjak hati girang. Apalagi bisa menonton. Melihat langsung pertunjukan teater khususnya Teater Koma adalah sebuah anugerah. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh yang harus selalu sadar, mawas selama hampir 24 jam tak mungkin tak membutuhkan upaya untuk menjaga kewarasan. Maka, melihat pertunjukan teater menjadi pelarian. Karena, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi.

Tulisan receh review hasil menonton pertunjukan ini saya ambil dari

http://sastra-indonesia.com/2010/02/pementasan-gado-gado-sie-jin-kwie/#more-8217  

Terima kasih.

 

Pementasan Gado-Gado Sie Jin Kwie

KEMATIAN kebudayaan terkadang tidak disebabkan tiadanya penerus, tapi seringkali oleh kebijakan negara yang melarangnya. Kebudayaan Tionghoa yang di masa kolonial sampai Orde Lama tumbuh subur, hidup, dan dikenal tidak hanya di kalangan Tionghoa, tapi juga masyarakat umum, tiba-tiba mati sejak Orde Baru berdiri. Penguasa Orde Baru ketakutan terhadap budaya Tionghoa karena dianggap wakil dari ”merah komunis”. Pemegang kekuasaan mengasosiasikan Tionghoa di Indonesia sama dengan Tionghoa di Republik Rakyat China yang komunis.

Karena itu, pementasan kisah klasik Tiongkok Sie Jin Kwie oleh Teater Koma di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 5-21 Februari 2010, bisa dianggap sebagai upaya menghidupkan kisah lama yang telah mati. Kisah yang menyimpan tata nilai dan inspirasi yang telah hidup ratusan tahun di negeri asalnya. Menurut Jacob Sumardjo, kisah-kisah klasik Tiongkok seperti Sam Kok, Ouw Peh Coa, Sampek Engtay, Song Kang, See Yu pada awal abad ke-20 cukup dikenal publik Indonesia.

Sie Jin Kwie (Xue Ren Gui) adalah cerita klasik Tiongkok yang terjadi masa Dinasti Tang (618-907), tapi baru ditulis Tiokengjian pada abad ke-14. Di Indonesia kisah itu diterbitkan kali pertama pada 1894. Pelukis Siauw Tik Kwie membuat komiknya pada 1950-an dan memuatnya secara bersambung di mingguan Star Weekly. Belakangan diterbitkan dalam enam jilid komik ukuran kuarto. Ada banyak versi tentang Sie Jin Kwie, tapi kisahnya sama, yang berbeda hanya nama-nama tokohnya.

Sie Jin Kwie bercerita tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie (diperankan Rangga Riantiarno), pemuda jago silat yang ingin mengabdi kepada negara. Jalan panjang harus ditempuh karena dia berhadapan dengan pejabat tentara yang licik, korup, dan ambisius. Sie Jie Kwie muncul dalam mimpi Lisibin (diperankan Prijo S. Winardi), kaisar Dinasti Tang. Dalam mimpi itu, Sie Jin Kwie menolongnya dari bahaya maut. Sejak itu, Lisibin penasaran ingin bertemu sang penyelamat yang masuk ke dalam mimpinya. Dia akan melakukan apa pun untuk bertemu dengan Sie Jin Kwie.

Pada saat bersamaan, Raja Kolekok (diperankan Budi Suryadi), yang kekuasaannya dikudeta Jenderal Kaesobun (diperankan Paulus Simangunsong), menyatakan perang melawan Dinasti Tang. Sie Jin Kwie berminat masuk tentara Dinasti Tang. Dia ingin membela negaranya tanpa peduli imbalan jasa atau kedudukan. Namun, karena hasutan Thiosukwie, panglima tentara yang senang merebut jasa bawahannya, Sie Jin Kwie mengira kaisar menghendaki kematiannya. Maka, Sie Jin Kwie disembunyikan Thiosukwie di dapur. Di sanalah, dia membentuk Pasukan Dapur Tang (PD-Tang).

Di luar dugaan, PD-Tang justru menjadi pengumpul tentara terbanyak dalam Perang Kolekok. Jasa pemuda itu oleh Thiosukwie dianggap berbahaya dan dia berniat membunuhnya. Di akhir cerita, Lisibin bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie setelah perang berlangsung 12 tahun dan Dinasti Tang memenangi peperangan.

Itulah kisah kepahlawanan, patriotisme, kewiraan, dan keikhlasan dalam membela negara, yang sering dijegal atasan korup. Mungkin sekali kisah itu menemukan relevansi dengan realitas yang terjadi di berbagai bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Niat baik tidak selalu disambut baik, tapi malah dianggap sebagai ancaman yang akan menggusur jabatan yang sedang digenggam.

Seperti biasa, pementasan produksi ke-119 Teater Koma bernuansa megah-mewah, kocak, dan lama. Teater Koma dikenal suka menggunakan kostum megah dan mewah untuk membedakan pertunjukan teater dari aktivitas sehari-hari. Untuk pertunjukan kali ini, sutradara Nano Riantiarno harus menyiapkan 250 potong pakaian dengan motif dan ornamen yang akarnya dari Tiongkok yang dibaurkan dengan budaya lokal. Warna merah dan kuning -warna keberuntungan dan kemakmuran dalam kepercayaan Tiongkok- sering ditampilkan dengan keserasian panggung artistik yang dipenuhi grafis.

Kocak adalah kekhasan Teater Koma di atas panggung untuk memecahkan kebekuan dan kejenuhan menonton teater yang penuh dialog panjang-panjang. Dari awal sampai akhir, pertunjukan Sie Jin Kwie disesaki dialog yang seolah-olah menggambarkan bahwa pesan utama hanya disampaikan lewat ucapan. ”Saya berharap menonton Sie Jin Kwie seperti menonton wayang kulit-wayang golek yang menggelar kisah Mahabarata dan Ramayana semalam suntuk. Menonton dengan rileks. Tidak tegang. Tanpa beban. Enjoy,” kata Nano Riantiarno.

Menurut Nano, awalnya naskah yang dia sadur berdurasi 7-8 jam. Lalu dia ringkas lagi menjadi empat jam. Semua adegan, kata dia, mengandung potensi daya tarik, sayang kalau dibuang. Pentas-pentasnya sering diadakan lebih dari dua minggu dan bahkan pernah berpentas lebih dari sebulan. Kursi penonton yang selalu berjubel menunjukkan betapa peminat Teater Koma sungguh setia. Jika banyak orang mengatakan panggung teater akan kehilangan penonton seiring suguhan tontonan televisi yang berjibun, dalam kasus Teater Koma, analisis itu tidak terbukti. Bahkan, sejak pentas perdana pada akhir 1970-an sampai sekarang, pementasan Koma selalu penuh penonton.

Pementasan itu menarik tidak hanya jalan ceritanya. Cara mementaskan dramanya juga unik. Pertunjukan tersebut menggabungkan teater Barat dan teater tradisional. Sutradara mencampuradukkan opera China, golek menak, potehi (wayang kulit China-Jawa), wayang wong, dan wayang tavip (karya Tavip). Sutradara tampak ingin menampilkan kesenian Tionghoa yang telah puluhan tahun mati suri di Indonesia dan mengolaborasikannya dengan kesenian lokal.

Masing-masing seni itu dipentaskan untuk menceritakan beberapa adegan secara bergantian. Sie Jin Kwie berbentuk potehi juga diarak di atas panggung. Saat dalang (diperankan Budi Ros) bercerita masa remaja Sie Jien Kwie, misalnya, tiba-tiba dimunculkan wayang tavip. Wayang berwarna itu terbuat dari kain layar putih dan pementasannya didukung sistem pencahayaan dari belakang layar. Dari sudut penonton, pertunjukan wayang tersebut tidak terlihat aksi dalang, hanya tampak kelebatan wayang.

Teater Koma terus melaju dengan dukungan sponsor dan penonton yang fanatik. Meski empat kali mengalami pencekalan pentas, Maaf. Maaf. Maaf (1978), Sampek Engtay (1989), Sukses, dan Opera Kecoa (1990), dua kali ancaman bom, dan berkali-kali diinterogasi aparat hukum, Nano Riantiarno tetap yakin teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. “Jujur, becermin lewat teater diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali peran akan sehat dan budi-nurani,” kata Nano. (*)

*Kustiah

Saturday, September 5, 2020

Pahlawan hutan itu bernama Rosita

 

 

 

Rosita. Foto: Dok pri

Jika Kosta Rika, Amerika Tengah memiliki pahlawan pembuat dan penjaga hutan, Pedro Garcia (57), yang telah berhasil mengembalikan hutan yang rusak dan hilang menjadi hutan subur, Indonesia punya Rosita (59) yang telah menciptakan hutan organik di lahan seluas 23 hektare dengan kerja keras dan tangan dinginnya bersama suaminya.


Berita sebuah media online yang menceritakan perjuangan Pedro, warga Kosta Rika, yang mengembalikan hutan yang hilang menjadi hutan subur mengingatkan saya terhadap sosok perempuan yang gigih. Dia adalah Rosita (59), seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang keduanya telah berkeluarga. Ia tinggal di Kawasan Megamendung, Kawasan Puncak, Bogor sejak 2001 bersama suaminya seorang konsultan perusahaan minyak Bambang Istiawan, (69). Akhir tahun 2019 Bambang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi.

Bukan perjuangan mudah bagi Ita, panggilan Rosita, saat memulai mewujudkan mimpi suaminya untuk tinggal di kawasan sejuk. Perempuan kelahiran Cimande, Bogor ini harus menghadapi para biong (makelar) tanah yang tak segan berbuat premanisme. Namun, Ita tak gentar. Keberaniannya membuat ia berhasil membeli sekitar 2 ribu meter tanah tandus bekas perkebunan teh yang selanjutnya bertahap bertambah menjadi sekitar 23 hektare. 

Suatu kali, pada tahun 90-an suaminya berbicara kepada Rosita ihwal keinginannya tinggal di hutan saat sudah tua. Ada dua tempat impian yang ia incar yakni Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Namun seiring waktu berjalan ternyata hutan di Kaltim sudah jadi pemukiman. Sementara hutan di Sumsel sudah jadi kebun sawit. Lalu ia berangan-angan untuk tinggal di Malang, Jawa Timur. Namun, rupanya Rosita bukannya mendukung malah menantangnya.

"Kalau hutan sudah tidak ada ya ayo bikin hutan," kata Rosita kepada suaminya kala itu menuturkan kepada penulis.

Tuhan tampaknya mendengar doa Ita. Pada tahun 1997, saat krisis melanda lahan teh di puncak Megamendung milik Probosutedjo ikut terkena imbasnya. Lahan seluas 12 hektare ini setahun terbengkalai, tandus, gersang ditumbuhi ilalang. Ita yang kebetulan warga Cimande, Bogor, mendengar bahwa lahan yang tak terurus itu akan dijual. Ita segera menghubungi orang kepercayaan adik Soeharto. Dan ia berhasil membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter dengan harga Rp1.000 rupiah per meter. Mendapatkan lahan tak mudah.  Ita harus berhadapan dengan para calo tanah yang sudah mengkapling dan menawarkan tanah kepada pembeli.

"Jangankan membeli lahan baru, yang sudah dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikapling sama biong, (sebutan calo tanah)" ujarnya.

Akhirnya, bertahap tanah sedikit demi sedikit terbeli dari tangan pertama. Inilah yang membuat Ita mendapatkan harga miring karena tak membeli dari calo. Suaminya tak tahu banyak soal proses pembelian tanah, karena bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan minyak. Dan ketika pulang ia kaget istrinya telah memiliki tanah yang luas.

Di sinilah proses pembuatan hutan dimulai. Pada tahun 2000 Rosita bersama suami dan anak bungsunya melakukan penelitian kecil-kecilan. Dia terkejut,  lahan yang 70 persen ditumbuhi alang-alang ini kondisi tanahnya memprihatinkan. PH tanah hanya 2,5-4, di tanah tak ditemukan cacing, dan tak ada mata air. Menurut warga sebenarnya ada satu mata air di lahan tersebut namun sudah mati.

Pada 2001 mereka memulai proses penanaman, memetakan lahan dengan menanam pohon keras (endemik) dan tanaman yang bisa memberikan nilai manfaat (pohon frontir) atau tumpang sari supaya tetap bisa merawat pohon keras. Komposisinya 2/3 ditanam pohon frontir dan 1/3 nya ditanam pohon endemik dan buah-buahan supaya lahan bisa hijau lebih dulu.

Supaya subur Rosita dan suaminya mengandalkan pupuk organik dari peternakan dengan memelihara sepasang kambing. Ia baru tahu di kemudian hari bahwa supaya hasil pupuk lebih banyak dan ternak berkembang lebih cepat mereka bisa memasangkan kambing 4 betina dengan satu jantan.

"Itulah, karena bodohnya saya kira kalau mau cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal bisa 4 banding satu," ujar Bambang menimpali sambil terkekeh

Perlahan tanaman mulai tumbuh. Rosita beserta anak dan suaminya selama mengolah lahan berpuasa tak menggunakan pupuk unorganik. Berkat ketelatenan tanaman sudah terlihat mulai menghijau meskipun tak secepat bayangan Rosita. Mereka beberapa kali disergap rasa bosan dan tergoda menggunakan pupuk unorganik supaya tanamannya lekas hijau dan tumbuh lebat.

Beruntung orang tuanya menasehatinya saat ia mengutarakan meminjam uang untuk membeli pupuk. Yang diingat dari kata-kata bapaknya, Tuhan menciptakan hutan lebat tanpa dipupuk. Kalau lahan kritis mau direhabilitasi harus jadi hutan alam dulu, jadi hutan organik seperti Tuhan menciptakan hutan. Manjur. Nasihat bapaknya perlahan memudarkan kebosanannya apalagi saat itu Ita dan suaminua juga sudah tak memiliki uang untuk membeli pupuk selain menggunakan kotoran ternaknya yang perlahan juga mulai bertambah jumlahnya. Tak disangka, kesabaran berbuah manis. Pada 2003 muncul mata air di dekat daerah cekungan.

Sejak saat itu pula Ita dan suaminya menggunakan air dari mata air untuk kebutuhan rumah tangga. Setelah sebelumnya menggunakan air hasil mengebor sumur sedalam 400 meter.

Yang menenteramkan, tanaman tumpangsari juga memberikan hasil yang memuaskan. Tiap panen tanaman seperti sawi, lobak, bayam, cabai, terong, jagung, dan aneka tanaman tumpang sari lainnya berlimpah. Dan hasilnya bisa dijual untuk membayar para petani yang membantu. Dan yang membuat Ita dan suaminya bernapas lega, kini aneka satwa telah mampir dan tinggal di hutan miliknya. Mulai dari burung elang hingga diduga harimau. Akhir 2014 empat kambing miliknya menjadi korban. Menurut suaminya, berdasarkan identifikasi gigitan beberapa ahli menyimpulkan bahwa gigitan yang biasa mengoyak muka dan perut kambing adalah harimau.

***


Luas lahan bertambah

Pada 2005 belasan perwakilan masyarakat yang tinggal di bawah puncak yang berbatasan dengan Sentul mendatangi rumah Rosita. Keberanian Rosita menghadapi calo tanah rupanya  telah terdengar di mana-mana. Selain masyarakat mengenal Rosita sebagai perempuan yang ulet merawat lahannya  dan mencintai lingkungan. Masyarakat mengadu bahwa ada seorang pengusaha yang berencana membuat penangkaran buaya di bukit tak jauh dari hutan milik Ita. Bukit itu sebelumnya merupakan bekas potongan yang rencananya akan digunakan sebagai pemukiman. Karena tak berizin pengembang meninggalkan begitu saja bukit yang di lerengnya terdapat semacam setu. Masyarakat keberatan jika ada penangkaran buaya di sana. Apalagi di bawahnya terdapat perumahan warga.

"Mereka keberatan karena pasti akan ada bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke permukiman warga," kata Ita.

Akhirnya karena desakan masyarakat Rosita menggunakan tabungan yang rencananya akan dibelikan mobil dikuras habis untuk membeli lahan seluas 11 hektare. Kini lahan itu ditanami aneka tanaman tumpang sari dan tanaman keras seperti ketika Ita dan suaminya memulai menanami lahan tandus miliknya terdahulu. Pohon di lahan seluas 12 hektare kini tumbuh rimbun, sementara di lahan 11 hekatare dipenuhi aneka tanaman tumpangsari dan sisanya tanaman endemik yang juga tak kalah rimbunnya. Lahan kedua ini sengaja digunakan sebagai green living area. Di atas lahan ini pula Ita dan suaminya berhasil menggunakan teknik hidran, dengan menaikkan air ke atas lahan dengan ketinggian sekitar 100 meter.

Berkat kesuksesannya membuat hutan organik Ita bersama suami dan anaknya sering diundang ke seminar-seminar baik di dalam dan mancanegara. Di Sudan metode yang digunakan Ita dan suaminya  dijiplak dan berhasil diterapkan.

"Saya tak punya background, tak punya uang banyak dan dukungan politik. Yang saya punyai hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa saya bagikan," kata Ita.


Penginapan di kawasan Hutan Organik. Foto-foto:Dok Hutan Organik






Kini, sambil menikmati masa tua dengan menjadi "satpam hutan organik" Rosita disibukkan dengan kunjungan tamu yang hendak melihat dan menikmati keindahan hutan miliknya. Di tengah hutan para tamu bisa memanjakan mata dan menikmati kesejukan alam. Jika hendak mengadakan diskusi atau menginap bersama keluarga Rosita menyediakan fasilitasnya, lengkap dengan aneka masakan Sunda yang menggigit lidah. Penasaran? silakan buktikan sendiri dengan datang ke lokasi.

Kustiah

 

Melihat Pandemi Covid-19 dari Sisi Lain


Ilustrasi Covid-19. sumber: Pixbay.com

Artikel berjudul ‘Install Ulang Tata Kehidupan’ yang ditulis Rektor IPB Arif Satria di sebuah media nasional (Maret 2020) menarik untuk ditanggapi. Menariknya, pandemi Covid-19 yang menyebabkan sebagian besar masyarakat khawatir akan kesehatannya dan mengakibatkan sejumlah kelumpuhan baik ekonomi, sosial ternyata bisa kita lihat dengan kacamata berbeda. Pak Rektor mengajak pembaca, daripada melihat dari sisi negatif dan kerugian yang ditimbulkan Covid 19, ada baiknya melihat sisi positif yang yang bisa kita syukuri dan kita rawat seandainya  Covid 19 hilang.

Sisi positif yang pertama, hikmah yang dapat kita ambil di tengah pandemi Covid 19 adalah kehidupan ekologis. Kita tidak menyebut bahwa perlu ada bencana besar seperti wabah untuk memperbaiki sesuatu yang tampaknya sulit dilakukan. Tetapi, menggunakan pikiran positif, sisi lain dengan menyebut pandemi Covid 19 memberikan berkah bagi alam juga tidak salah.


Saat memasuki masa kemarau sudah menjadi kegelisahan tahunan bagi warga masyarakat yang terpapar polusi udara. Pada awal Juli 2019 muncul tagar #SetorFotoPolusi di media sosial dan muncul rencana gugatan yang akan diajukan kepada presiden RI, gubernur DKI Jakarta, dan lima pejabat pemerintahan lainnya yang dianggap lalai dalam mengendalikan pencemaran udara di Jakarta. Masyarakat Jakarta merasa polusi di Jakarta sudah tidak bisa ditoleransi lagi karena sepanjang waktu udara pada pandangan kasat mata tampak gelap pekat dan menyebabkan ketidaknyamanan dan mengancam kesehatan.

Sejumlah pengamat lingkungan dan pakar hukum lingkungan beranggapan bahwa kualitas udara yang buruk di Jakarta berkaitan erat dengan dengan kebijakan pemerintah provinsi Jakarta yang dianggap bermasalah.

Dan entah apakah kita bisa menyebut Covid 19 ini sebagai a blessing in disguise dalam kasus ini. Karena, sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di antaranya social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan imbauan di rumah saja telah membatasi mobilitas manusia dan ruang geraknya mengubah langit Jakarta gelap karena polusi dengan kualitas udara buruk menjadi cerah, bersih dengan kualitas udara baik.

Bahkan sebulan setelah Covid 19 masuk Indonesia dan sejumlah kebijakan dikeluarkan untuk menghambat penyebaran Covid 19 makin meluas, sejumlah media memberitakan kondisi bumi di saat pandemi Covid yang digambarkan lapisan ozon membaik dan udara makin segar.

Hanya saja, kita perlu bertanya, apakah seandainya pandemi Covid 19 berakhir kondisi bumi, kualitas udara masih akan dalam kondisi baik?

Ini yang perlu kita garis bawahi. Saya rasa pemerintah Indonesia juga negara-negara dunia perlu memikirkan sebuah kebijakan besar dan konsep yang mengajak masyarakat turut berpartisipasi secara aktif dalam menjaga lingkungan. Karena, dengan lingkungan yang baik dan sehat kualitas hidup pun akan sehat. Salah satu di antaranya, kebijakan penggunaan transportasi umum sebagai satu-satunya moda transportasi perlu benar-benar dipraktikkan. Tidak hanya sebuah wacana dan konsep di atas kertas.

Jika masalahnya adalah sarana infrastruktur yang belum mendukung, maka pemerintah perlu memperbaikinya. Jika yang dianggap menjadi penyebab sumber polusi adalah pabrik-pabrik yang tidak mematuhi aturan pembuangan polutan, maka menjadi tugas pemerintah menghukumnya. Jangan sampai hanya karena alasan menjaga investasi dan supaya investor tidak lari lantas pemerintah melakukan pembiaran yang dapat merusak kualitas hidup masyarakatnya. Atau jika yang dianggap sebagai sumber polutan adalah banyaknya kendaraan bermotor atau mobil pribadi, maka perlu juga dilakukan sosialisasi betapa menggunakan transportasi massal membuat kehidupan lebih sehat. Dengan catatan moda transportasi massal sudah dibenahi. Untuk mewujudkan lingkungan sehat tampaknya bukan perkara sulit jika pesan komunikasi pembangunan sampai kepada masyarakat dan pemerintah, baik Indonesia maupun negara di belahan dunia punya kemauan keras dan usaha sungguh-sungguh mewujudkannya.

Selain kondisi lingkungan yang membaik, hal kedua yang menjadi hikmah yang patut kita syukuri di tengah pandemi Covid 19 adalah kebiasaan hidup sehat. Saat ini tanpa diingatkan dan dipaksa masyarakat telah memiliki kesadaran bagaimana menjaga kesehatan dan menghindari gaya hidup tidak sehat. Di luar rumah kita bisa lihat bagaimana warga keluar mengenakan masker sebagai alat pelindung diri. Saya masih ingat bagaimana petugas kesehatan di Puskesmas Cilebut, Bogor, Jawa Barat sebelum pandemi Covid yang harus mengulang-ulang imbauan dan menempel imbauan dalam bentuk kertas yang ditujukan kepada calon pasien yang hendak berobat untuk senantiasa mengenakan masker ketika batuk atau bersin.

Saya sendiri juga sering membatin, kapan masyarakat Indonesia beranjak dari cara menjalani pola hidup yang sehat dengan tidak meludah sembarangan dan menutup mulut saat batuk atau bersin saat berada di tempat umum? Saya sebagai orang yang berada tak jauh dari orang yang bersin dan batuk tanpa ditutup sering merasa risih dan kesal. Tetapi, dengan adanya Covid 19 kita bisa belajar banyak. Karena di balik kesusahan dan ancaman kesehatan Covid 19 membuat masyarakat tahu tentang pentingnya menjaga kesehatan dan bagaimana tidak menularkan penyakit kepada orang lain. Selain proses internalisasi dari paparan informasi dan imbauan yang terus berulang dari pemerintah, baik tingkat pusat hingga tingkat RT, ternyata yang menciptakan perubahan sosial bukan berangkat dari individu masyarakat saja. Tetapi upaya besar pemerintah yang menjadi peran kunci perubahan tersebut.

Upaya menjaga kesehatan lainnya adalah dengan berjemur, menjaga pikiran tetap positif dan menghindari stres berlebihan juga telah menjadi pilihan hidup masyarakat saat ini. Masyarakat secara umum mungkin tahu dari para orang tua tentang pentingnya berjemur di pagi hari, atau bahasa jawanya dede. Namun, karena orang tua berbicara tanpa disertai alasan medis dan tidak ada kajian ilmiah yang menjelaskan bab tersebut sehingga anjuran itu hanya dianggap angin lalu. Kini, yang disampaikan para orang tua bukan omong kosong. Di tengah pandemi Covid 19 paramedis menyampaikan pentingnya berjemur dan kini imbauan tersebut dipatuhi masyarakat.

Hikmah ketiga adalah, berubahnya tata kehidupan sosial-ekonomi. Prof Arif menggarisbawahi berubahnya tatanan sosial yang awalnya cenderung individual berubah menjadi masyarakat sosial yang memiliki solidaritas tinggi. Hanya saja, saya melihat perubahan ini hanya terjadi di tatanan masyarakat perkotaan yang biasa hidup individualistik. Jadi, perubahan yang terjadi, yang awalnya memikirkan kehidupannya sendiri kemudian berubah dengan empati dan meningkatnya kegiatan sosial terlihat ekstrem.

Sementara pada kehidupan pedesaan, kita tahu yang entah sejak kapan mulai terjadi, telah mengalami perubahan yang signifikan. Jika dulu pada tahun 80-90 an masyarakat masih gemar gotong royong, hidup rukun, saling membantu, kini berubah drastis. Kini, di kampung pola kehidupan hampir mirip perkotaan. Jika dulu saat listrik bermasalah kita bisa memanggil tetangga meminta tolong untuk membenahi listrik dengan upah terima kasih atau upah makanan seadanya, kini berubah yang memanggil harus membayar dengan uang untuk mengganti jasanya. Terhadap apa pun masyarakat pedesaan harus membayar uang sebagai upah atas jasa yang dikeluarkan. Kecuali ada negosiasi dari masyarakat miskin kepada tukang yang dipanggilnya.

Begitu pula saat pandemi Covid 19 mengancam kesehatan dan kehidupan bermasyarakat kita. Sejumlah kebijakan dan imbauan menjadikan mereka tak hanya tergerus secara emosi, karena biasanya bisa berkunjung ke tetangga untuk sekadar tahu kabar, kini dipaksa tinggal d rumah dan dilarang bertemu siapa saja. Kondisi saat ini menjadikan masyarakat termiskinkan secara mental, kehilangan eksistensinya sebagai makhluk sosial, dan miskin secara materi. Kini mereka hanya berharap kepada pemerintah untuk hadir di tengah kemiskinan yang mereka hadapi untuk tetap bertahan hidup.

Sementara hal positif keempat yang dipaparkan Prof Arif Satria adalah tata kehidupan para pembelajar. Dalam konteks ini saya belum melihat stressing dari dunia keilmuan kita. Barangkali yang dimaksud Prof Arif adalah, di tengah Covid 19, para pembelajar, masyarakat secara umum ditantang keilmuannya untuk turut serta bersumbangsih untuk masyarakat banyak. Misal, jika masa lalu kita abai terhadap lahan kosong yang sering kita lewati yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal kita, kini di masa pandemic dan paceklik ekonomi kita bisa kreatif memanfaatkan lahan tersebut, mengajak warga bersama-sama untuk menggarap menjadi lahan pekarangan yang bisa ditanam untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Inovasi dan kreativitas bisa mewujud dalam bentuk apa pun. Selama memberi kebermanfaatan bagi banyak orang, siapa pun bisa memulai dan melakukannya.

Dan hikmah kelima adalah pandemi Covid 19 diharapkan bisa menjadi ruang kontemplasi. Di mana hubungan manusia dengan sang pencipta bisa kita perbarui dan perbaiki supaya lebih intim. Jika sebelum Covid 19 kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan duniawi, waktu habis di jalan untuk berangkat ke tempat kerja, kini dengan imbauan di rumah saja dan kebijakan work from home (WFH), waktu menjadi lebih berkualitas. Kita bisa mengatur waktu seefisien dan seefektif mungkin, membaginya untuk bekerja, berkumpul bersama keluarga, dan bertafakur kepada Tuhan.

Kustiah

 

 

 

 

 

Sunday, August 2, 2020

Cerita Perempuan di Masa Pandemi: Berbagi Peran, Berbagi Kemenangan


Foto: Pixabay.com

Suatu kali saat mencuci piring tak terasa air mata meleleh. Disertai dada sesak dan muka terasa kaku.

Sebelumnya tak pernah terjadi perasaan dan kondisi demikian, kecuali perasaan sebal yang datang dan pergi berkelindan. Dada makin sesak saat tumpukan piring, mangkok, panci dan berangkas dapur baru saja selesai dicuci lantas melihat anak kejar-kejaran. Yang besar mencubit adiknya dan jeritan adiknya tak terelakkan. Belum selesai melerai adegan menyedihkan lalu melihat rumah selaksa gudang yang baru saja diporak porandakan kucing yang mengejar tikus tetapi tetap tak ketemu. Huhhhhh. Ini belum drama bagaimana harus mendampingi, mengajari anak pelajaran sekolah yang banyaknya tak terkira dan tak beperikemanusiaan. Belajar dari rumah dengan tugas yang tidak inovatif menjadi penambah beban psikologis orang tua khususnya Ibu.

Sejak pandemi Covid-19 diumumkan awal Maret, lalu imbauan di rumah saja didengungkan saya sudah merasa tak enak hati. Bukan saja karena kecemasan 'terpilih' menjadi korban covid, tetapi merasa ragu apakah benar-benar bisa menghadapinya. Dan benar, lima hari pasca Covid-19 diumumkan telah masuk ke Indonesia keraguan itu terbukti. 

Suami, sebelum covid, biasanya punya waktu untuk bermain dengan anak. Semenjak covid, yang harus bekerja dari rumah, jangankan bermain, menyapa anaknya saja jika tidak diingatkan 'lupa' kalau punya anak. Pekerjaan menumpuk katanya. Dan cerita tentang jibaku ibu-ibu di masa pandemi tak terbendung.

Tengah malam sebelum tidur, untuk menenangkan diri kuambil buku yang ada di rak buku sekenanya. Dan entah, tangan seperti punya mata sehingga buku yang kuambil tahu betul isi hati. Novel Montinggo Busye 'Sumirah' terbaca dalam semalam. Temanya tentang seorang istri, Sumirah, yang ditinggal suaminya. Perempuan, seorang ibu dan ketiga anaknya yang selalu menunggu ayahnya pulang. Mereka berjuang melewati kehidupan yang tak mudah dengan segala masalahnya.

Anak Sumirah yang paling besar, Retno, yang paling peduli dengan isi hati ibunya. Ia mencari bapaknya. Memastikan apakah Bapaknya lelaki baik-baik yang layak ditunggu ibunya. Suatu kali teman sekelasnya pernah bercerita bahwa ia memergoki ayahnya menggandeng seorang perempuan yang bukan ibunya. "Ayahmu kayaknya punya istri muda, " kata temannya.

Retno kalut, melebihi kekalutan ibunya. Sayangnya pencarian Retno berhenti. Tiba-tiba cerita pencarian berbelok tentang kesedihan Retno karena mengetahui tukang soto baik hati langganannya ternyata telah meninggal. Tidak dijelaskan mengapa Retno tidak gigih mencari ayahnya. Mungkin pencarian itu dianggapnya sia-sia. Karena, temannya hanya menjelaskan lokasi temannya melihat ayahnya bersama seorang perempuan. Dan lokasi itu tentu saja, karena bukan tempat tinggal dan merupakan tempat umum orang berlalu lalang, sudah barang tentu bagi Retno akan sulit menemukan bapaknya. 

Keluarga yang ditinggal ayahnya selingkuh ini tinggal di kompleks pekerja seks. Namun, untuk kesetiaan dan bagaimana menjaga cinta Sumirah kepada suaminya dan Retno kepada pacarnya jangan disangksikan. Pernah hampir tergelincir hendak berpelukan dengan 'rewang' (lelaki yang sehari-harinya mengerjakan pekerjaan rumah keluarga Sumirah), Sumirah segera tersadar. Ia mengelak begitu rewangnya hendak memeluk meluapkan hasrat saat hendak membetulkan genteng bocor di dalam kamar Sumirah yang gelap. Sumirah ingat masih punya suami dan tidak mau mengkhianati janji pernikahannya. 

Menyedihkan. Montinggo entah seperti menyentil budaya patriarki yang begitu kuat di masyarakat Indonesia atau entah apakah memang pandangannya terhadap perempuan sebagaimana masyarakat pada umumnya. Bahwa, laki-laki punya banyak pilihan, bisa memilih dan bebas melakukan apa saja yang dia suka. Sementara perempuan, dalam kondisi dikhianati, ditinggalkan, 'setia' seolah menjadi obat penawar. Seolah sudah seharusnya demikian, bahwa perempuan yang baik adalah yang setia, menunggu apa pun yang terjadi dan yang dilakukan suami.  

Selesai membaca novel kecil itu hatiku kecut. Menggerutu. Memang perempuan harus begitu ya. Selain 'nrimo' juga tidak bisa memilih. Harus setia juga harus banyak-banyak berdoa supaya kehidupannya baik-baik saja. Kok begitu amat nasib perempuan..sudah jatuh tertimpa tangga pula, dan lebih kasihan lagi dalam kondisi babak belur tidak ada satu pun orang yang menolong. Perempuan harus kuat sejak dalam pikiran hingga dalam sekeras-kerasnya kehidupan.

Selama Covid, ada sekitar lima  orang teman perempuan berbagi cerita tentang kehidupannya. Ditinggalkan suami yang pergi tak bertanggung jawab dan lelah karena harus menjadi sapu jagad untuk keluarga. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan domestik, menjadi guru karena harus memastikan belajar dari rumah baik-baik saja, mencari uang dengan berjualan online, atau bekerja apa saja supaya dapat uang untuk makan sekeluarga. Di sini ujian teori kesetaraan gender diuji. Bagi yang tidak pernah membaca buku tentang gender atau yang tidak memahami agama dengan baik mungkin menganggap tak ada yang salah dari semua itu. Tetapi, bagi yang memahami agama dengan baik, agama sebagai sumber kasih, agama sebagai sumber kehidupan, maka yang dialami perempuan di tengah gejolak pandemi yang entah kapan berakhirnya, yang berjibaku menjaga keluarga supaya tidak oleng ini adalah sebuah masalah. Ada yang tidak beres dalam kehidupan berkeluarga. 

Mengutip Nur Hasyim, pendiri Aliansi Laki-laki Baru bahwa patriarki dan seksisme tidak hanya menciptakan ketimpangan. Tetapi menimbulkan kehidupan yang tidak harmonis. Jika kesetaraan bisa dibangun dan diwujudkan maka seharusnya peran bisa dibagi dan dinegosiasikan. Jika istri sedang sibuk memasak maka ayah bisa melakukan perannya membersihkan rumah sebelum memulai bekerja.

“Dalam berkeluarga kita bisa berbagi peran dan berbagi kemenangan” ujar Mas Boim, sapaan akrab Nur Hasyim dalam sebuah webminar bertema tentang penguatan fungsi keluarga di masa pandemi yang dilakukan IPB University akhir Juli lalu. Di Indonesia, budaya patriarki sudah kadung membentuk cara berpikir masyarakat pada umumnya. Bahwa kelaziman mencuci piring, mencuci baju, mengerjakan semua pekerjaan domestik termasuk mengasuh anak adalah satu paket menjadi pekerjaan perempuan, seorang ibu. Dan laki-laki, seorang suami hanya berkewajiban mencari nafkah. Jadi, jika laki-laki terlihat mencuci, melakukan pekerjaan domestik dianggap aneh oleh baik masyarakat laki-laki maupun perempuan. Padahal, pekerjaan rumah tangga, ruang domestik tidak berjenis kelamin dan tidak menuntut dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Karena mereka bisa dikerjakan oleh siapa saja. 

Mas Boim dengan lembaganya pernah mendirikan "sekolah ayah" di Indonesia Timur, di NTT, Lompok, Papua dan beberapa daerah di sekitarnya. Salah satu tujuannya adalah menciptakan kesadaran pentingnya peran laki-laki dalam membangun kesetaraan. Karena konstruk budaya di sana saking kuatnya, laki-laki sembunyi-sembunyi saat membantu istrinya menyelesaikan pekerjaan domestik seperti menyapu, menjemur pakaian dan saat mengasuh anak. Takut dicap 'tidak laki-laki'. Setelah mengikuti sekolah ayah, bahwa yang dilakukan seorang laki-laki, ayah, suami tersebut adalah hal yang hebat yang dapat menumbuhkan kesalingan, akhirnya mereka tak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi lagi. Justru mereka mengampanyekan dan mengajak laki-laki, para bapak untuk berkontribusi membangun keluarga yang harmonis membangun kesalingan.

"Karena menjadi laki-laki tidak diukur dari kekuatan fisik, superioritas, dan dominasinya. Semakin Anda sabar, setia, supportif, penuh cinta kasih, dan anti kekerasan maka Anda semakin laki-laki" ujar Mas Boim yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo, Semarang.

Pada masa pandemi covid seperti ini, kita tidak sendirian menghadapi masalah dengan dampaknya. Berhentilah menuntut diri sempurna. Anak-anak tidak akan berubah menjadi anak yang tidak baik saat melihat rumah tak rapi. Hanya perlu katakan bahwa kita membutuhkan kerja sama mereka. Kita semua perlu sehat baik fisik maupun psikis. Fisik tidak akan sehat jika pertarungan psikis tidak pernah selesai. Longgarkan aktivitas anak. Dari yang sebelumnya hanya dibatasi menonton televisi satu jam tambahlah menjadi dua jam dengan pengawasan, atau dari yang sebelumnya sama sekali tidak boleh naik sepeda bermain dengan temannya izinkanlah untuk keluar rumah sebentar dengan catatan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak. Katakan semua catatan dengan jelas dan tegaskan harus dipatuhi untuk kesehatan bersama. Dengan suami, di akhir pekan ajaklah ia berbicara untuk melakukan evaluasi dan merancang kerja-kerja seminggu ke depannya. Jika harus berbagi peran, sampaikan apa saja yang menjadi kerja suami, istri, dan anak. Bicarakan kesulitan-kesulitan yang ibu hadapi, karena jika tidak dengan suami dengan siapa lagi? Jika tidak bersuami maka bisa mendiskusikannya dengan anak-anak.

Jika tidak demikian jangan harap kita bisa menenangkan hati dan pikiran. Jangan lupa bermeditasi sejenak jika merasa hati tidak tenang, kalut, dan  sering menyalahkan diri sendiri. Jika rumah tidak pernah rapi janganlah berkecil hati. Semua bisa diselesaikan dengan bersama-sama, andaipun tidak bersama suami (karena suami sibuk, ndablek, mau seenaknya sendiri, tidak punya rasa kasihan dan kasih sayang kepada istri) maka, coba katakan sekali, dua kali, ketiga kali dan jangan lelah untuk terus menyampaikannya sambil meminta pengertian kepada anak-anak. Karena, masalah yang kita hadapi bukan masalah individu. Tetapi masalah bersama. Jika tujuan di rumah saja adalah supaya sama-sama sehat mengapa kita tega membiarkan ibu, istri berjibaku sendirian menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendiri. Mari saling membahu dan membangun kesalingan. Karena, saling mencintai, saling menyayangi, saling menghormati, menghargai, saling mengasihani, saling membantu dan saling lainnya yang keduanya aktif akan menciptakan keharmonisan berkeluarga dan kehidupan bermasyarakat. Salam sehat..

 Kustiah


Thursday, May 21, 2020

Kebencian beragama yang berakhir indah

Dok.pri
Ilustrasi toleransi beragama


Seperti yang saya janjikan pada tulisan sebelumnya tentang bagaimana selama dua hari mengikuti workshop bersama 30 teman dalam program CERITA atau kepanjangan Community Empowerment for Raising Inclusivity and Trust through Technology Application yang diselenggarakan The Habibie Center di Kafe Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan. CERITA adalah sebuah program yang memanfaatkan seni bercerita (storytelling) untuk melawan diskriminasi, mendorong inklusivitas dan membangun rasa saling percaya di masyarakat.

Yang lalu saya menceritakan bagaimana hari kedua saat sesi bercerita menjadi sesi paling menegangkan. Kami satu per satu menceritakan kisah yang sebelumnya tidak pernah kami ceritakan kepada orang lain. ‘Kisah pahit’, kelam, yang menempati sudut relung hati, yang memiliki tempat tersendiri, yang terpaksa kita simpan di dalam kotak pandora. Dan turut tumbuh bersama seiring waktu berjalan.

Sejujurnya saat itu kami merasa tegang. Karena ketakutan saling menyakiti atau menyinggung satu sama lain. Namun akhirnya kami memutuskan bercerita, memulai, memutuskan membuka diri dan membangun kepercayaan di antara kami bahwa kami yang bercerita, yang mendengarkan cerita telah memiliki kesamaan pemahaman dan berjanji untuk respect satu sama lain.

Dan kami mempersilakan Deon memulainya terlebih dahulu...

Deon lahir di Bogor, Jawa Barat. Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat, aktivis lintas agama. Dia lelaki pendiam. Selama workshop di hari pertama dan kedua saya melihatnya sebagai sosok yang lebih banyak mendengarkan dan mengamati. Sikapnya terlihat hati-hati. Dan kami baru mengetahui bagaimana pergulatan batin Deon kecil hingga remaja yang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri pasca peristiwa menegangkan yang pernah ia alami dalam kehidupan beragamanya yang mempengaruhi cara bersikap Deon.

Deon tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Ia dan keluarganya setiap hari Minggu pergi ke gereja yang lokasinya tak jauh dari tempat ia tinggal. Hingga suatu kali, ketika Deon kecil dan keluarganya serta jamaah lain sedang khususk beribadah di gereja peristiwa mengejutkan terjadi. Para jamaah dikejutkan teriakan kencang segerombolan orang yang masuk paksa kedalam gereja. Mereka bersurban dan berjanggut panjang. Jumlahnya sekitar seratusan. Masuk kedalam gereja, meneriakkan ujaran kebencian, kata-kata provokasi, dan banyak hal yang Deon kecil dengar dan terjemahkan sebagai kata-kata ‘fitnah’.

Deon kecil ketakutan. Ia bersama keluarganya yang tengah berdoa kaget dan terperanjat. Di tengah suasana mencekam karena lelaki berjenggot dan bersurban berjumlah banyak berteriak dengan nada emosi dan masuk paksa membuat Deon kecil bersama keluarganya berusaha saling menguatkan dengan berpegangan satu sama lain untuk memastikan mereka akan baik-baik saja. Ternyata tak hanya sampai di situ. Para lelaki bersurban dan berjenggot panjang juga memprovokasi warga, memfitnah orang-orang Kristen di lingkungan luar gereja tempat mereka tinggal. Dan akhirnya gereja tempat Deon kecil beribadah ditutup dan disegel.

“Saya menganggap mereka berhasil dan kami kalah,” ujar  Deon mengenang kesimpulannya saat itu dengan suara berat dan bergetar.

Peristiwa mencekam minggu pagi itu terekam dalam ingatan Deon kecil yang kemudian tumbuh menjadi Deon remaja. Hingga suatu hari Deon remaja yang bergabung dalam organisasi remaja Lintas Iman ‘terjerumus’ dalam sebuah acara yang mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang agama. Acaranya meliputi kegiatan diskusi, dialog keagamaan, dan melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadah agama-agama. Deon tak menyangka jika rangkaian kegiatan bersama para pemuda pemudi lintas agama berlangsung lancar dan cair.

“Jauh dari bayangan saya kegiatan bisa berjalan selancar dan secair tu,” katanya.

Dan dari kegiatan lintas agama yang mempertemukan pemuda pemudi dari berbagai latar keagamaan yang berbeda Deon menemukan secercah pemahaman.

Seorang teman yang baru Deon kenal menyampaikan kesan dan mengomentari sosok Deon.

“Ternyata orang Kristen itu baik ya,” ujar Deon menirukan kata-kata teman barunya.

Kalimatnya sederhana. Namun, bagi Deon kata-kata temannya mengandung makna yang dalam. Saya lihat Deon tercekat ketika mengomentari kesan yang disampaikan teman barunya yang seorang Muslim. 

"Saya terharu," ujarnya melanjutkan.

Dan Deon mengaku merasa bangga telah menjadi orang Kristen pertama yang memberikan kesan baik bagi teman barunya. Sebelumnya, teman barunya tidak pernah mengenal teman beragama di luar agama yang ia anut. Saat itu juga kebencian terhadap agama yang dicitrakan lelaki bersurban dan berjenggot dalam peristiwa mencekam di gereja ketika kecil seketika luruh. Ia akhirnya memahami, memaafkan dalam hati yang pernah terjadi. Mengubur perlahan pengalaman beragama yang tidak mengenakkan yang pernah ia simpan dalam relung hati.

“Mungkin sebagai pemuda kita main kurang jauh. Dan sebagai pemuda kita main kurang malam,” ujarnya menutup cerita dengan sambutan tepuk tangan meriah dari kami para temannya dan kami kemudian memelukinya bergantian


Tuesday, May 19, 2020

Berkelompok buktikan wanita tani berdaya


kwt-melati
Foto:kiosgapoktan.com
Kelompok wanita tani Melati berkumpul

Suatu hari sebelum corona virus deases (Covid) 19 hadir di tengah masyarakat Indonesia saya berkesempatan mengunjungi sebuah desa yang sebelumnya saya tak pernah tahu kalau di desa ini pertaniannya maju pesat dan warganya hidup tenteram sejahtera. Berawal dari cerita dosen saat mengajar di kelas tentang komunikasi kelompok, bahwa ada kelompok wanita tani (KWT) yang sukses mengembangkan programnya meskipun menghadapi sejumlah rintangan. Karena berbicara dalam kontek kekompakan kelompok, masih kata dosen, meski memiliki kesamaan tujuan, kelompok tak jarang mengahadapi masalah. Di antaranya renggangnya hubungan sesama anggota (memudarnya kekompakan kelompok), munculnya kesalahpahaman, dan masih banyak lagi sebagaimana yang dihadapi  KWT Melati di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga Bogor.

Karena penasaran, usai kuliah saya melajukan motor dan membelokkannnya ke gang jalan yang hanya sering saya lihat dari kejauhan saat lewat menuju kampus. Jarak desa,- yang lahan-lahan kosongnya sebagian besar terisi tanaman sayuran, dengan Kampus IPB Dramaga hanya sekitar dua kilometer.

Melewati sepanjang jalan mata terasa adem. Hati terasa tenteram. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah  hamparan tanaman sayuran hijau, seperti sayuran kacang panjang, talas, kacang tanah, singkong, jagung dan tanaman lainnya. Deretan rumah juga tertata rapi dan bersih. Dalam hati saya membatin “ada desa sebagus ini pemandangannya, saya tak pernah tahu. Padahal setiap hari saya melewati pintu masuk jalan desa itu selama kurang lebih 6 bulanan”. Saya semakin takjub dengan desa ini begitu melihat selokan di sepanjang jalan mengalir air deras dan jernih.

Sore itu motor saya melaju menuju rumah Ketua KWT Melati Normayanti di Jalan Carangpulang, yang ternyata rumahnya juga menjadi posko KWT Melati. Untuk menemukan rumah Norma tak begitu sulit. Warga yang saya tanya mengenal Norma dan KWT Melati.

Namun, sore itu saya tidak berhasil menemui Norma. Suaminya, Ahmad Bastari, yang juga ketua kelompom tani (Poktan) Hurip yang justru menceritakan bagaimana KWT Melati terbentuk, kondisi pertanian, dan kondisi masyarakat di desanya. Norma yang sedang  mengikuti acara pelatihan pertanian dan pengembangan produk pertanian yang diselenggarakan IPB, saya tunggu hingga sore tak kunjung datang. Dan saya hanya berhasil berbincang melalui sambungan telepon.

Menurut Norma, awalnya yang lebih dulu hidup dan berjalan pesat di desanya  adalah Kelompok Tani (Poktan) Hurip. Poktan yang dibentuk pada tahun 90-an ini semua anggotanya petani laki-laki. Namun, seiring jalannya waktu, juga adanya tuntutan hidup, yang  mana kebutuhan hidup makin bertambah sementara pendapatan bertani tidak bertambah, muncullah gagasan dari ibu-ibu petani untuk membentuk kelompok tani wanita yang mereka namai KWT Melati. Meskipun sebenarnya pertanian ubi jalar juga dikerjakan para perempuan petani. KWT ini tidak ingin menjadi petani yang hanya mengandalkan hasil tani, tetapi juga ingin lebih mengeksplorasi hasil tani dengan mengolah ubi menjadi berbagai produk makanan dan minuman.

Sebelumnya, saat panen biasanya ubi jalar langsung dijual kepada tengkulak. Dan kegiatan petani selanjutnya adalah mengolah tanah pertanian kemudian menanaminya kembali. Setelah ada KWT Melati, kegiatan dan produktivitas para petani perempuan berubah. Mereka tidak menjual keseluruhan ubinya kepada tengkulak, melainkan menyisakan hasil panen untuk diolah menjadi penganan yang ternyata bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak dari hanya dijual semua kepada tengkulak.

Produk olahan KWT Melati di antaranya mi goreng yang bahan dasarnya dari ubi, sirup yang dibuat dari perasan ubi ungu, keripik ubi ungu yang dibuat dari ampas perasan untuk produk sirup minuman, dodol jambu kristal, stik dari ubi, tepung ubi, dan aneka  makanan lainnya. Yang kesemuanya berasal dari hasil tani mereka yakni, ubi juga jambu kristal. Semua produk olahan ubi dan jambu dijual di sekretariat KWT Melati dan dipasarkan melalui jaringan KWT yang ada di Bogor dan wilayah kota lainnya seperti Jakarta dan sekitarnya.

Ketua Kelompok Tani Hurip Ahmad Bastari yang juga suami Norma mengatakan, para petani di Desa Cikarawang sebagian besar mengandalkan hasil pertanian ubi jalar yang hasilnya tak seberapa. Jika petani memiliki tanah 1.000 meter, maka masa tanam hingga panen   selama 4 bulan hanya mendapatkan penghasilan bersih Rp 500 ribu tiap bualnnya. Dasar perhitungannya, tanah 1.000 meter rata-rata menghasilkan ubi sebanyak 1,5 ton ubi dengan harga ubi Rp 2.000- per kilo. Dari hasil panen petani mendapatkan uang sekitar Rp 3 juta, dipotong untuk modal Rp 1 juta dan sisa Rp 2 juta.

”Jadi hasil panen Rp 2 juta itulah yang diperoleh para petani ubi jalar untuk kebutuhan hidup selama 4 bulan. Apa cukup? Para ibu-ibu KWT yang bisa menjawabnya,” ujar Ahmad kepada saya.

Norma menambahkan, KWT yang dibentuk pada 1 Juli 2015 ini berkontribusi besar terhadap pemberdayaan para petani perempuan di desanya. Dari kelompok, para ibu petani ubi jalar belajar cara mengolah ubi menjadi produk makanan kekinian. Ubi biasanya diolah dengan cara konvensional, direbus atau digoreng. Melalui teknik pengolahan yang modern dan melihat tren pasar ubi bisa diolah menjadi aneka makanan seperti keripik, stik, mi goreng, sirup, bolu, brownis, dan lain sebagainya. Selain tetap menjadi petani ubi jalar dan pemberdayaan melalui pelatihan pengolahan ubi, KWT juga memberi kesempatan kepada anggotanya untuk mengembangkan potensi anggotanya. Di antaranya, mereka medapatkan penghasilan dari hasil pesanan katering dan pelatihan mengolah tanah pekarangan rumah supaya lebih bermanfaat, yakni dengan menanami lahan pekarangan dengan tanaman sayur yang bisa memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.

”Potensi SDM anggota kelompok sebisa mungkin kita kembangkan dan berdayakan supaya taraf hidup mereka menjadi lebih baik,” ujar Norma kepada penulis.

Mengolah makanan dari bahan dasar ubi dan singkong yang dilakukan KWT yang memiliki anggota 20 perempuan ini sebagai salah satu upaya mendukung diversifikasi pangan yang selama ini digaungkan pemerintah. Prinsip KWT Melati adalah menggalakkan tanaman lokal dan mengolah hasil tanam yang ada di sekitar untuk kehidupan mereka yang lebih baik dengan cara kreatif dan inovatif.

 

 

 

 

KWT terdampak covid 19 jualan kue lebaran

Dok: Ahmad

Kue butter cookies, kue produk KWT 

 

Di tengan pandemi Covid 19 masyarakat kelompok wanita tani di Carangpulang, Desa Cikarawang, Bogor tak lagi bisa tersenyum lebar. Dagangan mereka macet karena sejumlah kebijakan pemerintah untuk menghalau penularan virus yang belum ada vaksinnya. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB), penjarakan sosial, dan seruan pemerintah kepada masyarakat untuk di rumah saja menjadikan usaha rumahan mereka mandek total. Karena, tidak ada kunjungan, tidak ada akademisi, mahasiswa, atau dinas yang datang berkunjung dan memborong kue olahan mereka.

 

Namun, mereka tidak patah semangat. Hidup yang terus berjalan dan kebutuhan perut harus dipenuhi membuat mereka mencari cara supaya dapur tetap mengepul. Kini KWT menjual kue penganan lebaran butter cookies yang bahan pokoknya dari tepung ubi ungu. Norma dan suaminya menawarkan kuenya kepada mitra dan kenalan yang mereka kenal.

Satu toples yang berisi 12 butter cookies dibanderol harga Rp20.000. Saya sudah mencoba membeli dan rasanya lumayan enak, tak kalah dengan produk-produk kue pabrikan. Kue butter buatan KWT ini justru istimewa karena terbuat dari tepung ubi yang rendah gula dan bebas gluten karena tanpa bahan tepung terigu. Sehingga kue aman dikonsumsi anak-anak terkhusus anak autis dan orang dewasa penderita diabetes.

 

Jika ingin membantu para petani terdampak Covid 19 dan ingin merasakan gurih manisnya kue butter cookies, pembaca bisa menghubungi Pak Ahmad. Dan saya akan dengan senang hati membagikan nomor telepon beliau.

 

Kustiah

 


Tuesday, May 12, 2020

Sobat ambyar peduli warga kurang mampu terdampak covid-19


Dok.pri


Rasanya baru kemarin kami berjoget, bernyanyi bersama saat Didi Kempot konser amal dari rumah di Kompas TV 11 April. Kami, saya, suami dan dua anak menikmati berjoget dan bernyanyi merayakan ‘kesuraman’ hari-hari disekap di dalam rumah karena Covid-19 yang datang mendadak dan membuat hari-hari kami terasa mencekam. Seminggu pertama kami stres harus berada di rumah. Anak-anak tidak bisa bermain sepeda, tidak bisa lagi duduk di pinggir lapangan untuk memandangi hamparan rumput, dan kami tidak bisa mengunjungi teman, saudara yang biasa kami lakukan sebelum Covid 19 datang. Dan konser amal penyanyi dengan nama asli Dionisius Prasetyo, The God Father of broken heart, seolah menjadi pelampiasan kami. Hampir dua jam kami bersuka ria.

Namun, kabar duka datang terlalu cepat. Penyanyi campursari yang terkenal dengan lagu-lagu patah hati ini meninggal dunia 5 Mei karena serangan jantung. Kehilangan? Sangat kehilangan. Bahkan saat sebuah stasiun televisi menayangkan ulang konser mininya di stasiun TV saya tak bisa menyembunyikan kesedihan. Air mata berderai begitu melihat Pak Dhe (demikian kami nyaman menyebut Didi Kempot) menyanyi. Mungkin terdengar berlebihan, tapi menurut saya menangisi kesedihan dan kepedihan juga tak apa-apa asal tidak berlarut-larut.

Dan rasa sedih saya berkurang begitu belasan orang mengirim pesan dan foto di Whatsapp. Mereka adalah keluarga kurang mampu yang menerima bantuan dari konser amal yang diselenggarakan Didi Kempot bekerjasama dengan Kompas TV. Tentang bantuan sembako sendiri saya sebelumnya hanya tahu singkat dari teman Lintas Iman Kota Bogor. Semua berlangsung cepat, teman Lintas Iman meminta bantuan saya untuk mendata warga kurang mampu terdampak Covid 19 yang ada di Kota Bogor. Jumlah yang diminta 30 orang. Sementara 70 orang sudah didata oleh teman Lintas Iman. Karena tinggal di perbatasan antara Kabupaten dan Kotamadya, tak begitu sulit menemukan warga kurang mampu. Berjarak sekitar dua kilometer dari rumah tempat saya tinggal, motor melaju ke Desa Kedung Halang, Tanah Sereal Kota Bogor. Di sana banyak sekali warga kurang mampu yang membutuhkan bantuan. Mereka sebagian besar bekerja sebagai buruh harian lepas, lansia, dan janda kurang mampu. Yang saya temui penjual buah keliling, tukang bangunan, dan menjadi pekerja rumah tangga.

Malam tepat saya menonton konser tayang ulang, rentetan foto para bapak dan ibu dengan senyum mengembang memegang bingkisan kardus sembako membuat saya lega. Dan yang membuat saya haru ternyata bantuan sembako merupakan kerja keras Pak Dhe saat konser amal di Kompas TV. Dari teman Lintas Iman, di awal pembicaraan, saya hanya tahu bingkisan merupakan donasi dari Kompas TV. Saya tidak tahu jika yang dimaksud adalah donasi Sobat Ambyar Pak Dhe di Kompas TV. Sambil memandangi Pak Dhe yang sedang bernyanyi dalam siaran ulang di TV saya kembali menangis dan duduk termangu.

Terima kasih teman Lintas Iman Kota Bogor yang telah melibatkan saya dalam kerja besar, meskipun saya hanya menjadi bagian kecil yang hari itu entah bagaimana ceritanya saya terpilih dan tiba-tiba terlibat.

Dan terima kasih tak terhingga kepada Pak Dhe yang sudah berada di dunia keabadian. Keringat, kerja kerasmu sudah meringankan beban mereka. Semoga kepedulianmu terhadap mereka yang membutuhkan menular ke banyak orang. Doa kami semoga damai di surga Pak Dhe.. ..

 

 


Wawa dan mamanya

dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...