| dok.ist |
Tuesday, November 30, 2021
Wawa dan mamanya
Monday, November 29, 2021
Perempuan di antara ketik dan ketuk
| Dok.Istimewa |
Friday, March 5, 2021
Nasib Petani dan Mimpi Menikmati Canggihnya Teknologi
Saturday, February 13, 2021
Rindu itu berwujud senja
Ilustrasi senja Dok.Pixbay
Jika
burung saja merasa tenteram saat berkumpul bersama keluarganya, saudaranya, dan
sahabat-sahabatnya, bagaimana aku?
Kulihat
mereka berputar-putar di atas genteng tetangga dengan latar langit senja
berwarna jingga. Kudengar mereka bercuit bersahutan. Kuduga mereka saling
bercerita. Menceritakan pengalaman seharian berkelana mencari makan.
Melihat dan mendengarnya berderecit bercuit membuat mataku basah. Apalagi menatapnya dalam samar jingga yang mulai terbenam gelap. Aku mengingatmu yang jauh di sana. Di negeri orang dengan udara, perasaan, dan semangat yang semuanya berbeda. Di sana suhu udara sedingin lemari es. Perasaanmu bercampur aduk. Tak jauh berbeda dengan yang kami rasakan. Kukira kita bisa melewati semua dengan ketenangan, tetapi yang terjadi justru keharusan untuk saling menguatkan. Aku menangisi kepergianmu karena sebenarnya aku tidak begitu kuat untuk hidup sendiri. Meski bersama di rumah kita hanya bertemu saat sarapan, makan siang dan malam yang serba terburu-buru. Atau aku lebih banyak komplain, mengkritik, setengah marah atau kadang marah sungguhan karena beberapa alasan yang tak bisa kuselesaikan sendiri atau karena kecewa. Atau kamu lebih banyak menghabiskan waktumu untuk bekerja, belajar yang setelahnya kau tebus dengan ajakan bepergian saat akhir pekan. Meskipun sebulan sebelum kepergianmu bepergian itu lebih banyak untuk kepentinganmu, yaitu ke dokter gigi.
Tetapi,
dari semua itu keriuhan itu setidaknya ada suaramu yang selalu terdengar. Ada
wujudmu hadir. Ada suaramu yang menenangkan. Dan ada semangatmu yang
membuat suasana selalu riang.
Suatu kali sehari setelah kepergianmu anakmu menangis. Seorang diri menatap teras yang tampak sepi.Ia mengusap perlahan matanya, kulihat dari belakang ia berusaha mencoba tegar. "Sunyi sekali dunia ini Bu.." begitu katanya menerjemahkan rumah yang langsung terasa senyap setelah satu jam kepergianmu.
Setelahnya anakmu yang kecil berbaring di atas sofa. Dia membuka pembicaraan dengan menceritakan bahwa keramaian di rumah sebenarnya karena lebih banyak terdengar suara ayahnya yang tertawa saat rapat dengan teman-teman kantornya atau berbicara dalam sebuah diskusi.
"Dan sekarang di rumah suara ayah tidak terdengar lagi Bu.." katanya.
Aku diam. Berusaha mendengarkan. Dalam diam kuhapus air mata dengan kaos yang kukenakan. Lalu mengajak mereka sholat maghrib berjamaah. Usai sholat kupeluk mereka berdua sambil kukatakan agar kita saling menguatkan selama ayah tidak ada di rumah.
Kukira aku kuat. Apalagi ada teknologi. Kapan pun kita bisa menghubungimu, menanyakan kabarmu, lalu menceritakan kegiatan seharian. Tetapi, nyatanya tidak. Meskipun teknologi benar menjawabnya, perasaan tidak bisa diterjemahkan teknologi setiap saat. Saat berbicara denganmu melalui telepon yang kukatakan hanyalah yang tampak. Seperti membaca komposisi bahan mi instan, aku tak mengalami kesulitan saat menceritakan bagaimana anak kita yang besar mulai mandiri mengerjakan tugasnya, tak perlu didampingi. Dan yang kecil, lebih sering banyak mengerti ibunya. Memberi kecupan saat melihat wajah ibunya bersedih. Atau segera bergegas jika ibunya memintanya melakukan sesuatu, misal menyuruhnya mandi atau menyuruhnya membereskan mainannya yang berserak.
Dan
gelap telah menyuruh sekawanan burung pergi. Mengingatkan untuk segera
beristirahat, bergumul dalam senyap dan gelap. Esok akan ada sinar yang
menemaninya lagi. Jadi, tanpa ragu burung-burung yang berderecit pun
berlalu.
Selamat
malam gelap. Esok kita berjumpa kembali.
Bogor,
medio Februari 2021.
Dalam
sunyi kupanjatkan doa semoga engkau di sana baik-baik saja.. dan kami yang selalu menunggumu.
Thursday, February 11, 2021
Cerita persahabatan N
N: Bu, apakah benar orang Inggris beragama Kristen semua?
Pertanyaan di atas dilontarkan N, anak wedok sepulang bermain bersama teman-temannya.
Tidak dong kak, jawabku. Sama kayak di Indonesia, tidak semua orang Indonesia beragama Islam. Ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya, ada yang beragama Budha seperti Cicik, ada yang Islam seperti Najma dan teman-teman di sekolah. Begitu pula di luar negeri seperti di Inggris. Ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan agama lainnya.
"Aku sudah menjelaskan begitu ke E Bu," kata N.
"Tapi E tetap ngeyel. Dia bilang kata Ibunya orang Inggris Kristen semua," ujar N melanjutkan.
Selain sering membahas tentang agama, di usianya yang enam tahun E sering menegur N dan adiknya yang tidak menggunakan kerudung saat bermain. Belakangan N juga mengaku kesal karena E menasehatinya untuk tidak bermain bersama anak laki-laki. Katanya bukan muhrim.
"Kamu tidak punya Ibu ya?" kata N menirukan kata-kata E ke N. Kalau punya Ibu, pasti ibumu menasehatimu.
Dan sore itu saat anak-anak terdengar ribut, kudengar N dengan
suara keras berusaha menjelaskan.
"Bermain bisa dengan siapa saja. Kata Ibuku, nggak apa-apa bermain dengan anak laki-laki. Yang penting nggak boleh berantem," suara N dengan intonasi tinggi dan karena setengah berteriak aku mendekat karena penasaran. Teman N ada yang membela N ada pula yang membela E, dan ada yang berusaha menenangkan.
Perkawanan N dengan teman-temannya di perumahan memang pasang
surut. Namanya anak-anak. Setelah bertemu bermain, bercerita dengan
teman-temannya N menemukan banyak hal baru. Sepulang bermain N biasanya
menceritakan pengalaman-pengalamannya bermain bersama teman-temannya. Salah
satunya tentang percakapan sore itu bersama temannya.
Kami tinggal di tipe perumahan sederhana. Bahkan bisa disebut
sangat sederhana sekali, malah bisa disebut mirip sebuah perkampungan tetapi
rumahnya berdempet dempet.hehe. Karena jalannya masih acak adut dan aneka
binatang seperti ayam, anjing, burung, dan berjibun kucing semua ada.
Kami juga datang dari beragam agama, budaya, dan tentunya latar belakang. Dulu N merasa nyaman memiliki teman seusia yang rumahnya beda gang. Tak ada yang aneh dengan pertemanan N dengan V beserta kakak adiknya. Meskipun berbeda agama, persahabatan antara N dengan V bersaudara lebih dibangun karena sejumlah pengertian. Jika V bercerita N akan mendengarkan dan sebaliknya. Keduanya, juga terhadap kakak dan adik V, N sangat dekat dan merasa nyaman. Sayang, persahabatan mereka secara fisik tak berlangsung lama karena keluarga V harus pindah ke luar kota karena tuntutan pekerjaan ayah V. N dan adiknya menahan tangis dan sedih karena kehilangan V dan saudara-saudaranya selama berhari-hari.
Selama masa sedih karena ditinggal V dn keluarganya pergi entah bagaimana ceritanya N tiba-tiba punya kenalan tetangga baru yang baru pindah. H, anak lelaki setahun lebih tua dari N. N bersama adiknya Q sering mengajak H datang ke rumah. Keluarga H bekerja, dia biasanya tinggal sendiri di rumah, jadi H lebih sering bermain bersama N di rumah kami. Karena anaknya berperangai halus, bicaranya baik, dan anaknya baik saya sebagai Ibunya tak keberatan N berteman dengan H, termasuk sering melihat H bermain di rumah. Saya tak pernah melarang atau membatasi N dan Q dalam memilih teman. Justru mereka sering kufasilitasi dengan memilihkan buku bacaan anak-anak, menyediakan white board dan spidol, juga menyediakan makan untuk mereka jika jam makan tiba atau camilan untuk ngemil.
Namun, usai H sunat semua kembali berubah. N dan Q kehilangan sosok H. H tidak pernah lagi datang ke rumah. Atau H tidak pernah ada di rumah jika N dan Q mendatangi rumah H. Usut punya usut H sekarang lebih banyak bermain bersama kakak E, yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki.
"H sudah nggak mau bermain lagi sama kita Bu. Dia setiap hari
bermain sama A, kakak E," kata N dengan muka lesu. Lalu sebagai ibunya
saya berusaha menjelaskan untuk sekadar menenangkan N dan Q, mungkin H sering
berada di rumah A karena rumah mereka berdekatan.
Tetapi lagi-lagi, karena anak-anak punya dunianya sendiri N dan Q tak lama kemudian mempunyai teman baru lagi. Dia tetangga E dari gang belakang. Tetapi perteman mereka tak berlangsung lama. Teman barunya, A dan kakaknya D sering terdengar memulai ceritanya dengan " mobilku mewah dong. Kok mobilmu butut". Atau "aku punya rumah mewah". Tak mau kalah, Q, adik N yang berusia lima tahun selalu menimpali "rumahku juga mewah".
"Tapi mobil dan sepedamu butut," ujar A.
Dan pertemanan antara N dan Q dengan A dan kakaknya semakin lama
kuperhatikan semakin renggang. Usai bermain dengan A dan D, N dan Q lebih
sering bercerita hal-hal yang membuat mereka kesal dan jengkel ketimbang
cerita-cerita yang menyenangkan. Suatu kali N dan Q bercerita, saat bersepeda
melewati rumah A, ayahnya A yang sedang berada di teras meneriaki N dan Q.
"Yeeey..sepedamu mah butut," kata N dan Q menirukan ucapan ayah A.
Dan dengan pilihan N dan Q sendiri mereka memilih tinggal di dalam rumah. Jika keluar rumah mereka memilih bersepeda di gang depan rumah, tidak lagi bermain sepeda di gang belakang.
Dan pertemanan N dengan A dan kakaknya putus setelah insiden ayahnya A terlibat percekcokan dengan tetangga. Tampaknya ayahnya melarang anak- anaknya bermain ke luar rumah.
Suatu kali saat A bersepeda lewat di depan rumah, kakaknya yang
ada di belakangnya berteriak " Adik, papa melarang kita berhenti (bermain)
di sini. Ayo goes terus," ujar D, kakak A meneriaki adiknya.
Begitulah cerita pertemanan N dan Q bersama teman-teman sekompleknya. Di mana orang tua teman N ada yang bercadar seperti ibunya E, ada yang beragama Kristen seperti V dan keluarganya dan dengan berbagai karakter. Sekarang N menemukan teman baru, bernama K. Kita lihat apakah mereka akan menjadi sahabat baik sebagaimana N dan Q bersahabat dengan V dan saudara-saudaranya. Karena suatu kali kudengar cerita dari Q bahwa K menoyor kepala Q. Karena K usianya tiga tahun lebih tua dari Q kuberitahu K jika bermain tidak boleh melakukan kekerasan. Andaipun usianya sebaya dengan Q, kekerasan juga tidak diperbolehkan. Prinsip bermain dan bersahabat harus saling mengasihi, baik, pengertian satu sama lain.
Sama seperti cerita N..berkehidupan tak akan jauh dari masalah. Seperti kehidupan orang dewasa, jika tidak saling mengerti, menghargai, tidak membangun sikap kesalingan, alarm kehidupan kita akan berbunyi. Bisa saja bunyinya adalah mengingatkan kita untuk bersabar atau untuk menarik diri, atau mengingatkan untuk tetap melanjutkan pertemanan dengan catatan koreksi di sana sini.
Apalagi usia semakin bertambah. Persahabatan seperti kehidupan sebuah pohon. Jika ranting kuat maka daun dan bunga akan mempercantik pohon. Tetapi jika ranting rapuh, pohon tidak perlu mempertahankannya jika ia ingin patah dan gugur...
Begitu pula kehidupan dan persahabatan.
Bogor, medio Februari 2021
Tuesday, November 17, 2020
Kekerasan anak di sekitar kita
Hari ini saya belajar satu hal penting. Kekerasan mengancam kehidupan, masa depan anak, dan tidak bisa didiamkan
Thursday, October 8, 2020
Mengenang Ali Audah, penerjemah buku fenomenal “Sejarah Hidup Nabi Muhammad”
Foto: Dok pri
Saya
mungkin tak akan pernah tahu bagaimana kisah Nabi Muhammad, perjalanan
hidupnya, perjuangannya menyebarkan Islam di jazirah Arab yang mengharu biru
dan menyesakkan dada jika tidak membaca buku ‘Sejarah Hidup Nabi Muhammad’. Karena,
keterbatasan ilmu saya dalam memahami bahasa Arab. Dan saya bersyukur, Ali
Audah, penerjemahnya, membantu saya memahaminya dengan mudah. Bahasanya renyah,
tidak njlimet sebagaimana bahasa terjemahan kebanyakan.
Nama
Ali Audah, penerjemah buku Sejarah hidup Nabi Muhammad akan selalu dikenang
sepanjang masa oleh masyarakat yang membaca buku terjemahannya. Di tangannya,
buku karangan Muhammad Husain Haekal dengan judul aslinya Hayat Muhammad dapat mudah dipahami pembacanya yang hendak mengetahui lebih dekat perjalanan
hidup Nabi Muhammad, ketika lahir hingga masa penyebaran Islam.
Siapa menyangka penerjemah buku fenomenal yang meninggal pada 20 Juni 2017 ini tidak pernah lulus bangku sekolah formal?
Sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya saya berkesempatan menemuinya untuk menggali cerita, bagaimana ia bisa menerjemahkan banyak buku hebat salah satunya Hayat Muhammad padahal tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal? Tulisan hasil wawancara Ali, istri dan keluarganya saya lakukan setahun sebelum kepergiannya. Dan sayang jika cerita tentang Ali tidak saya tulis. Semoga cerita ini menginspirasi pembaca.
*****
Ali yang tak lulus sekolah
Ali lahir dari orang tua berketurunan Arab. Bapaknya Salim Audah adalah imam Masjid Agung Bondowoso, seorang ulama dan penulis buku bahasa Arab. Ibunya, Aisyah binti Awad Jubran seorang ibu rumah tangga. Usia Ali sekitar 6 tahun ketika ayahnya wafat. Dan bersama ketiga saudaranya, dua laki-laki yang sudah selesai sekolah madrasah, dan seorang kakak perempuan masih belajar mengaji pada seorang guru ngaji di kampungnya. Sementara Ali baru duduk di bangku madrasah kelas II.
Ali kecil dikenal pandai. Ia murid dengan nilai terbaik saat naik kelas II. Karena nilainya paling bagus Ali diminta menyampaikan pidato mewakili teman-teman sekelasnya di depan beberapa tokoh dan masyarakat setempat. Ali kecil mengingat, usai berpidato ia mendapatkan pena berwana kuning keemasan dan beberapa hadiah lainnya.
Namun, sukacitanya tak berlangsung lama. Suatu hari Ali didorong keras oleh seorang temannya yang membuat ia terjatuh dan kepalanya membentur lantai. Teman yang sering mengganggunya ini seorang murid besar jangkung yang beberapa kali tak naik kelas. Ali yang bertubuh kecil daun telinganya sering disentil. Kejahilan itu dilakukan temannya berulang-ulang. Karena kesal Ali lantas membalas dengan meninju mukanya. Temannya menjerit-jerit. Dari mulutnya keluar darah.
"Dia mengadukan ke guru dan tanpa bertanya guru menghukum Bapak. Dia disetrap dan dikurung di dalam kelas," ujar Ade, keponakan Ali,
mengenang cerita Ali kepadanya.
Sejak saat itu Ali tak pernah kembali ke sekolah. Ia memilih 'sekolah' di mana saja. Di halaman depan rumah, di sungai belakang rumah, di ladang, sawah atau saat ia sedang bermain bersama kawan sepermainannya. Mengeja huruf, menuliskannya di tanah, dan menirukan hapalan temannya.
Pernah menyesal telah meninggalkan sekolah saat
teman-teman bermainnya satu per satu mulai menghilang karena pergi bersekolah.
Tetapi, pantang bagi Ali meratap. 'Tak kan lari gunung dikejar' kutip Ali dari
sebuah peribahasa. Ia bertekad belajar sendiri saat teman-temannya pergi ke
madrasah. Mula-mula ia belajar merangkai huruf-huruf arab, lalu
diteruskan belajar huruf latin. Belajar ia lakukan sembari bermain gundu.
Mencoret-coretkan huruf di atas tanah.
Keras terhadap dirinya sendiri itulah yang Ali
lanjutkan hingga usia tuanya. Meski tak belajar di sekolah formal Ali memiliki
semangat belajar dan disiplin tinggi. Ia ingat ibunya sering memarahinya karena
kerasnya belajar Ali sampai lupa makan dan mandi. Bahkan, karena ulah anak
kecil yang masa kecilnya bercita-cita menjadi masinis ini pula dinding, pintu rumah,
dan lemari penuh coretan hasil 'pelajaran' yang Ali dapat dari teman-teman
bermainnya.
Menginjak remaja dan setelah menguasai huruf
latin Ali mulai keranjingan membaca. Tulisan apa saja yang ditemukan di kertas
bungkusan gorengan, bungkus belanjaan ia baca. Ia juga sering pergi ke
perpustakan di Pemda Bondowoso untuk meminjam buku. Semua buku baik cerita
pendek, roman, novel, komik, dan aneka bacaan ia lahap. Ada 'Siti Nurbaya'
karya Marah Rusli, 'Di Bawah Lindungan Kabah' karya Hamka, 'Salah Asuhan', dan
beberapa karya penulis kondang. Di usianya yang baru belasan tahun Ali sudah
bisa membedakan mana bacaan dan karya yang bermutu dan tidak. Terutama setelah
membaca kritik sastra yang ditulis H.B Jassin.
"Saya tak bisa membeli buku karena tak
punya uang. Jadi solusinya meminjam di perpustakaan," ujarnya mengenang.
****
Membaca banyak karya karangan penulis hebat
membuat Ali makin merasa haus ilmu. Ia mulai belajar bahasa asing secara
otodidak melalui buku-buku dan dibantu dengan kursus baik bahasa Arab. Ali
ingat, meski keturunan Arab tak lantas membuatnya pintar berbahasa Arab. Ia
belajar mandiri dan belajar dasar-dasar bahasa Arab dilanjutkan dengan belajar
mengetik dari kursus di Soember Ilmu di Bandung sampai tamat. Dari lembaga
kursus itulah Ali mendapatkan ijazah. Ijazah yang menjadi satu-satunya bukti
bahwa ia lulus belajar dari lembaga formal yang kemudian hilang entah kemana.
Ali menempa dirinya teramat keras. Ia belajar
mandiri tak henti-henti dengan terus mengasah bahasanya dengan membaca buku
berbahasa Arab dan bahasa Inggris yang ia beli dari penjual buku loakan. Ali
juga selalu ditemani kamus-kamus besar dan populer karya pengarang hebat
seperti kamus tebal dwi bahasa Arab-Indonesia karangan H Moehammad Fadloellah
dan B.Th Brongeest terbitan Balai Pustaka 1935 dalam empat jilid besar. Selain
dari buku dan kamus Ali belajar bahasa Arab dari kakak sulung dan kakak iparnya
yang pernah bersekolah di Arab.
Untuk mengasah kemampuan bahasanya Ali mencoba
menerjemahkan karya sastra. Mulanya menerjemahkan cerpen, novel, dan tulisan
pemikir Arab yang ia kirim ke sejumlah media harian seperti Pedoman, Indonesia
Raya, Abadi, dan majalah sastra antara lain Horison, Siasat, Zenith dan
beberapa lainnya. Karya buku kumpulan cerpen terjemahannya adalah 'Suasana
Bergema', diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1957. Menurut Ade, sekitar tahun
40 an Ali pernah membuat puisi yang dimuat dalam majalah sastra yang terbit di
Malang bernama 'Sastrawan’ terbit di Malang, Jawa Timur. Namun, karena Ali tak
biasa mendokumentasikan karyanya, puisi dan tulisan-tulisannya yang sudah
dimuat di media banyak terserak, hilang tak diketahui rimbanya.
"Itu kelemahan Pak Ali. Dokumentasinya
kurang bagus," ujar Ade.
Ali membenarkan bahwa ia bukan termasuk orang
yang rajin membuat catatan pribadi dan dokumentasi. Karya-karyanya banyak yang
hilang saat ia berpindah-pindah tempat.
****
Dari sastrawan menjadi penerjemah
Sastrawan, penyair, esais, dan sineas Asrul Sani
adalah orang yang berpengaruh dalam dunia penerjemahan Ali. Sebelum menekuni
penerjemahan Ali dikenal sebagai sastrawan. Karena, dari tangannya lahir puisi,
cerpen, dan novel.
Namun, setelah lahir terjemahan Ali dari karya
sastra Arab ke bahasa Indonesia, Asrul mendorongnya supaya lebih fokus
menerjemahkan karya sastra Arab.
"Penerjemah karya sastra dari bahasa
Inggris sudah cukup banyak," kata Ali mengenang ucapan Asrul yang saat itu
mengasuh ruang kebudayaan 'Gelanggang' di Majalah 'Siasat'.
Berkat dorongan Asrul Sani itulah Ali
memfokuskan dirinya untuk fokus menerjemahkan karya sastra Arab, meskipun di
kemudian hari juga lahir karya terjemahannya dari karya sastra Perancis dan
Jerman.
Dari tangannya lahir terjemahan buku fenomenal
karya Muhammad Hussain Haikal 'Sejarah Hidup Muhammad' pada tahun 1972. Buku
terjemahan ini dicetak hingga belasan kali sampai tahun 90 an.
***
Menjadi direktur dan pendiri perguruan tinggi
Dikenal memiliki kemampuan menguasai
beberapa bahasa asing, bahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, sebagai
penerjemah yang baik, dan memiliki karya yang tak diragukan lagi kualitasnya
Ali didaulat pendiri dan penerbit Tintamas Djamil Djambek, kakak ipar Muhammad
Hatta, untuk menggantikan posisinya dari 1961-1978.
Selama menjabat sebagai direktur PT Tintamas
yang berkantor di Jalan Kramat Raya Ali juga mendirikan Himpunan Penerjemah
Indonesia pada 5 Februari 1975 bersama beberapa temannya sesama pengurus Taman
Ismail Marzuki, Direktorat Departemen Pendidikan dan Kebudayan, serta
perwakilan UNESCO di Jakarta. Dan pada masa-masa yang sama ia mendirikan
Universitas Ibnu Khaldun Bogor diajak Sholeh Iskandar, seorang pejuang Islam
dan mantan mayor dalam kemiliteran di kisaran tahun 66 an.
**
Sosok serius, low profile yang hidup di antara buku
Sebelum pindah di rumah yang saat ini
ditempatinya Ali tinggal di rumah berlantai dua, masih di Kompleks Perumahan
Bogor Baru. Menurut Maryam, istri Ali, lantai dua menjadi ruang khusus
suaminya. Ruangan seluas 300 meter penuh dengan buku yang tersusun di rak dan
yang tertumpuk.
"Semua dinding isinya buku dan kamus,"
kata Maryam kepada saya.
Menurut Maryam, suaminya bekerja dengan
disiplin yang tinggi. Bangun subuh, jogging satu jam, mandi sarapan lalu
memulai bekerja pukul 8 pagi hingga pukul 10 malam. Ali berhenti hanya untuk
makan siang, shalat, dan minum teh di sore hari menjelang Magrib. Setelah itu
ia akan kembali menghadap komputernya sampai malam.
"Begitu terus sejak muda hingga usia Bapak
umur 88 tahun," kata Maryam.
Ali bahkan tak pernah berlibur atau keluar rumah
untuk pelesiran. Istrinya hanya keluar rumah jika Ali sedang keluar kota atau
keluar negeri. Karena jika suaminya berada di rumah Maryam tak bisa
meninggalkannya. Semua makanan dan kebutuhan yang diperlukan Ali Maryamlah yang
menyediakan.
Berdasarkan penuturan Ade, keponakan Ali,
pamannya adalah orang rumahan. Tak pernah makan atau jajan. Jika berada di
rumah makanan apa saja harus buatan istrinya.
"Kecuali sedang di luar kota atau
luar negeri," kata Ade.
Selain serius Ali dikenal sebagai sosok
sederhana yang tak suka dielu-elukan. Meski telah memiliki banyak karya Ali
menganggapnya sebagai hal biasa. Ia tak pernah bersedia diwawancara oleh siapa
pun (kecuali pada 1996 Ali diwawancarai seorang jurnalis dari salah satu media).
Kepada jurnalis atau para mahasiswa yang ingin mewawancarai untuk kepentingan
skripsi atau penelitian, Ali selalu menyarankan mendatangi Pusat Dokumentasi HB
Jassin. Bahkan ketika teman-temannya, Goenawan Mohammad, Taufik Abdullah, dan
beberapa temannya ingin membuat buku sebagai hadiah ulang tahun ke 90. Ali
lebih suka tak banyak orang membicarakan dan mengelu-elukannya.
"Kalau bukan karena terpaksa dan 'ditodong'
Pak Ali tak akan bersedia memberikan sambutan atau berbicara tentang dirinya
sendiri," kata Ade.
Oyon Sofyan, Kepala Pusat Dokumentasi HB Jassin,
teman dekat sekaligus editor beberapa buku tentang Ali Audah mengatakan, bahwa
Ali Audah tak ada duanya. Selain sosok yang sederhana dan Ali menurutnya
merupakan satu-satunya sosok yang memiliki disiplin tinggi dan kerja keras di
luar batas kebanyakan orang.
"Saya tak menemukan sosok seperti Pak Ali
selain Pak Ali sendiri. Beliau saya kira satu-satunya orang yang tak
tertandingi kedisiplinan," ujarnya kepada penulis.
Jika
tak disiplin dan kerja keras, lanjut Oyon, Ali yang hanya sekolah sampai kelas
dua madrasah tak akan mungkin bisa menerjemahkan karya sastra dari berbagai
bahasa asing. Apalagi karya pengarang hebat di negaranya masing-masing. Namun,
di tangan Ali, semua tak ada yang tak mungkin.
Taufik Abdullah dalam sambutannya saat pemberian
penghargaan untuk Ali Audah pada 2015 mengatakan bahwa Ali adalah sosok penting
yang berkontribusi besar dalam menerjemahkan karya sastra Arab yang di kemudian
hari menjadi karya fenomenal yakni 'Sejarah Hidup Muhammad'. Selain penerjemah hebat, Ali disebut sebagai pengarang
kreatif yang disegani.
Taufik mengingat, ia membaca karya terjemahan Ali karya Husein Haikal saat baru pulang dari sekolah di luar negeri. Dan yang membuat Taufik bangga terhadap Ali adalah kemampuan Ali menerjemah bukan hanya kelengkapan riwayat nabi S.A.W tetapi terutama suasana akademis yang literer dipancarkannya.
"Hal itu sangat saya rasakan karena sejak
kecil sampai kuliah saya sudah tahu kisah-kisah nabi, tetapi aneh ketika
membaca buku ini (karya terjemahan Ali) semua terasa serba baru saja,"
ujarnya.
Kustiah
Wednesday, September 9, 2020
Sepuluh tahun lalu..
Dok. CNNIndonesia,com
Merangkai yang terserak. Sepuluh tahun lalu baru mendengar Teater Koma akan pentas saja kaki sudah melonjak-lonjak hati girang. Apalagi bisa menonton. Melihat langsung pertunjukan teater khususnya Teater Koma adalah sebuah anugerah. Di tengah kesibukan bekerja sebagai buruh yang harus selalu sadar, mawas selama hampir 24 jam tak mungkin tak membutuhkan upaya untuk menjaga kewarasan. Maka, melihat pertunjukan teater menjadi pelarian. Karena, teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi.
Tulisan receh review hasil menonton pertunjukan ini
saya ambil dari
http://sastra-indonesia.com/2010/02/pementasan-gado-gado-sie-jin-kwie/#more-8217
Terima kasih.
Pementasan
Gado-Gado Sie Jin Kwie
KEMATIAN
kebudayaan terkadang tidak disebabkan tiadanya penerus, tapi seringkali oleh
kebijakan negara yang melarangnya. Kebudayaan Tionghoa yang di masa kolonial
sampai Orde Lama tumbuh subur, hidup, dan dikenal tidak hanya di kalangan
Tionghoa, tapi juga masyarakat umum, tiba-tiba mati sejak Orde Baru berdiri.
Penguasa Orde Baru ketakutan terhadap budaya Tionghoa karena dianggap wakil
dari ”merah komunis”. Pemegang kekuasaan mengasosiasikan Tionghoa di Indonesia
sama dengan Tionghoa di Republik Rakyat China yang komunis.
Karena
itu, pementasan kisah klasik Tiongkok Sie Jin Kwie oleh Teater Koma di Graha
Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 5-21 Februari 2010, bisa dianggap
sebagai upaya menghidupkan kisah lama yang telah mati. Kisah yang menyimpan tata
nilai dan inspirasi yang telah hidup ratusan tahun di negeri asalnya. Menurut
Jacob Sumardjo, kisah-kisah klasik Tiongkok seperti Sam Kok, Ouw Peh Coa,
Sampek Engtay, Song Kang, See Yu pada awal abad ke-20 cukup dikenal publik
Indonesia.
Sie
Jin Kwie (Xue Ren Gui) adalah cerita klasik Tiongkok yang terjadi masa Dinasti
Tang (618-907), tapi baru ditulis Tiokengjian pada abad ke-14. Di Indonesia
kisah itu diterbitkan kali pertama pada 1894. Pelukis Siauw Tik Kwie membuat
komiknya pada 1950-an dan memuatnya secara bersambung di mingguan Star Weekly.
Belakangan diterbitkan dalam enam jilid komik ukuran kuarto. Ada banyak versi
tentang Sie Jin Kwie, tapi kisahnya sama, yang berbeda hanya nama-nama
tokohnya.
Sie
Jin Kwie bercerita tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie (diperankan Rangga
Riantiarno), pemuda jago silat yang ingin mengabdi kepada negara. Jalan panjang
harus ditempuh karena dia berhadapan dengan pejabat tentara yang licik, korup,
dan ambisius. Sie Jie Kwie muncul dalam mimpi Lisibin (diperankan Prijo S.
Winardi), kaisar Dinasti Tang. Dalam mimpi itu, Sie Jin Kwie menolongnya dari
bahaya maut. Sejak itu, Lisibin penasaran ingin bertemu sang penyelamat yang
masuk ke dalam mimpinya. Dia akan melakukan apa pun untuk bertemu dengan Sie
Jin Kwie.
Pada
saat bersamaan, Raja Kolekok (diperankan Budi Suryadi), yang kekuasaannya
dikudeta Jenderal Kaesobun (diperankan Paulus Simangunsong), menyatakan perang
melawan Dinasti Tang. Sie Jin Kwie berminat masuk tentara Dinasti Tang. Dia
ingin membela negaranya tanpa peduli imbalan jasa atau kedudukan. Namun, karena
hasutan Thiosukwie, panglima tentara yang senang merebut jasa bawahannya, Sie
Jin Kwie mengira kaisar menghendaki kematiannya. Maka, Sie Jin Kwie
disembunyikan Thiosukwie di dapur. Di sanalah, dia membentuk Pasukan Dapur Tang
(PD-Tang).
Di
luar dugaan, PD-Tang justru menjadi pengumpul tentara terbanyak dalam Perang
Kolekok. Jasa pemuda itu oleh Thiosukwie dianggap berbahaya dan dia berniat
membunuhnya. Di akhir cerita, Lisibin bisa bertemu dengan Sie Jin Kwie setelah
perang berlangsung 12 tahun dan Dinasti Tang memenangi peperangan.
Itulah
kisah kepahlawanan, patriotisme, kewiraan, dan keikhlasan dalam membela negara,
yang sering dijegal atasan korup. Mungkin sekali kisah itu menemukan relevansi
dengan realitas yang terjadi di berbagai bangsa dan negara, termasuk Indonesia.
Niat baik tidak selalu disambut baik, tapi malah dianggap sebagai ancaman yang
akan menggusur jabatan yang sedang digenggam.
Seperti
biasa, pementasan produksi ke-119 Teater Koma bernuansa megah-mewah, kocak, dan
lama. Teater Koma dikenal suka menggunakan kostum megah dan mewah untuk
membedakan pertunjukan teater dari aktivitas sehari-hari. Untuk pertunjukan
kali ini, sutradara Nano Riantiarno harus menyiapkan 250 potong pakaian dengan
motif dan ornamen yang akarnya dari Tiongkok yang dibaurkan dengan budaya
lokal. Warna merah dan kuning -warna keberuntungan dan kemakmuran dalam
kepercayaan Tiongkok- sering ditampilkan dengan keserasian panggung artistik
yang dipenuhi grafis.
Kocak
adalah kekhasan Teater Koma di atas panggung untuk memecahkan kebekuan dan
kejenuhan menonton teater yang penuh dialog panjang-panjang. Dari awal sampai
akhir, pertunjukan Sie Jin Kwie disesaki dialog yang seolah-olah menggambarkan
bahwa pesan utama hanya disampaikan lewat ucapan. ”Saya berharap menonton Sie
Jin Kwie seperti menonton wayang kulit-wayang golek yang menggelar kisah
Mahabarata dan Ramayana semalam suntuk. Menonton dengan rileks. Tidak tegang.
Tanpa beban. Enjoy,” kata Nano Riantiarno.
Menurut
Nano, awalnya naskah yang dia sadur berdurasi 7-8 jam. Lalu dia ringkas lagi
menjadi empat jam. Semua adegan, kata dia, mengandung potensi daya tarik,
sayang kalau dibuang. Pentas-pentasnya sering diadakan lebih dari dua minggu
dan bahkan pernah berpentas lebih dari sebulan. Kursi penonton yang selalu
berjubel menunjukkan betapa peminat Teater Koma sungguh setia. Jika banyak
orang mengatakan panggung teater akan kehilangan penonton seiring suguhan
tontonan televisi yang berjibun, dalam kasus Teater Koma, analisis itu tidak
terbukti. Bahkan, sejak pentas perdana pada akhir 1970-an sampai sekarang,
pementasan Koma selalu penuh penonton.
Pementasan
itu menarik tidak hanya jalan ceritanya. Cara mementaskan dramanya juga unik.
Pertunjukan tersebut menggabungkan teater Barat dan teater tradisional.
Sutradara mencampuradukkan opera China, golek menak, potehi (wayang kulit
China-Jawa), wayang wong, dan wayang tavip (karya Tavip). Sutradara tampak
ingin menampilkan kesenian Tionghoa yang telah puluhan tahun mati suri di
Indonesia dan mengolaborasikannya dengan kesenian lokal.
Masing-masing
seni itu dipentaskan untuk menceritakan beberapa adegan secara bergantian. Sie
Jin Kwie berbentuk potehi juga diarak di atas panggung. Saat dalang (diperankan
Budi Ros) bercerita masa remaja Sie Jien Kwie, misalnya, tiba-tiba dimunculkan
wayang tavip. Wayang berwarna itu terbuat dari kain layar putih dan
pementasannya didukung sistem pencahayaan dari belakang layar. Dari sudut
penonton, pertunjukan wayang tersebut tidak terlihat aksi dalang, hanya tampak
kelebatan wayang.
Teater
Koma terus melaju dengan dukungan sponsor dan penonton yang fanatik. Meski
empat kali mengalami pencekalan pentas, Maaf. Maaf. Maaf (1978), Sampek Engtay
(1989), Sukses, dan Opera Kecoa (1990), dua kali ancaman bom, dan berkali-kali
diinterogasi aparat hukum, Nano Riantiarno tetap yakin teater bisa menjadi
salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya
kebahagiaan yang manusiawi. “Jujur, becermin lewat teater diyakini pula sebagai
salah satu cara untuk menemukan kembali peran akan sehat dan budi-nurani,” kata
Nano. (*)
*Kustiah
Saturday, September 5, 2020
Pahlawan hutan itu bernama Rosita
Jika Kosta Rika, Amerika Tengah memiliki pahlawan pembuat dan penjaga hutan, Pedro Garcia (57), yang telah berhasil mengembalikan hutan yang rusak dan hilang menjadi hutan subur, Indonesia punya Rosita (59) yang telah menciptakan hutan organik di lahan seluas 23 hektare dengan kerja keras dan tangan dinginnya bersama suaminya.
Berita sebuah media online yang menceritakan perjuangan Pedro, warga Kosta Rika, yang mengembalikan hutan yang hilang menjadi hutan subur mengingatkan saya terhadap sosok perempuan yang gigih. Dia adalah Rosita (59), seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua anak yang keduanya telah berkeluarga. Ia tinggal di Kawasan Megamendung, Kawasan Puncak, Bogor sejak 2001 bersama suaminya seorang konsultan perusahaan minyak Bambang Istiawan, (69). Akhir tahun 2019 Bambang meninggal dunia akibat penyakit komplikasi.
Bukan perjuangan mudah bagi Ita, panggilan Rosita, saat memulai mewujudkan mimpi suaminya untuk
tinggal di kawasan sejuk. Perempuan kelahiran Cimande, Bogor ini harus
menghadapi para biong (makelar) tanah yang tak segan berbuat premanisme. Namun,
Ita tak gentar. Keberaniannya membuat ia berhasil membeli sekitar 2 ribu meter
tanah tandus bekas perkebunan teh yang selanjutnya bertahap bertambah menjadi
sekitar 23 hektare.
Suatu kali, pada tahun 90-an suaminya berbicara kepada
Rosita ihwal keinginannya tinggal di hutan saat
sudah tua. Ada dua tempat impian yang ia incar yakni Kalimantan Timur dan
Sumatera Selatan. Namun seiring waktu berjalan ternyata hutan di
Kaltim sudah jadi pemukiman. Sementara hutan di
Sumsel sudah jadi kebun sawit. Lalu ia berangan-angan untuk tinggal di Malang,
Jawa Timur. Namun, rupanya Rosita bukannya mendukung malah menantangnya.
"Kalau hutan sudah tidak ada ya ayo bikin hutan," kata Rosita kepada suaminya kala itu menuturkan kepada penulis.
Tuhan tampaknya mendengar doa Ita. Pada tahun 1997, saat krisis melanda lahan teh di puncak Megamendung milik Probosutedjo ikut terkena imbasnya. Lahan seluas 12 hektare ini setahun terbengkalai, tandus, gersang ditumbuhi ilalang. Ita yang kebetulan warga Cimande, Bogor, mendengar bahwa lahan yang tak terurus itu akan dijual. Ita segera menghubungi orang kepercayaan adik Soeharto. Dan ia berhasil membeli lahan seluas sekitar 2 ribu meter dengan harga Rp1.000 rupiah per meter. Mendapatkan lahan tak mudah. Ita harus berhadapan dengan para calo tanah yang sudah mengkapling dan menawarkan tanah kepada pembeli.
"Jangankan membeli lahan baru, yang sudah
dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikapling sama biong, (sebutan calo
tanah)" ujarnya.
Akhirnya, bertahap tanah sedikit demi sedikit
terbeli dari tangan pertama. Inilah yang membuat Ita mendapatkan harga miring
karena tak membeli dari calo. Suaminya tak tahu banyak soal proses pembelian
tanah, karena bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan
minyak. Dan ketika pulang ia kaget istrinya telah memiliki tanah yang luas.
Di sinilah proses pembuatan hutan dimulai. Pada tahun 2000 Rosita bersama suami dan
anak bungsunya melakukan penelitian kecil-kecilan. Dia terkejut, lahan
yang 70 persen ditumbuhi alang-alang ini kondisi tanahnya memprihatinkan. PH
tanah hanya 2,5-4, di tanah tak ditemukan cacing, dan tak ada mata air. Menurut
warga sebenarnya ada satu mata air di lahan tersebut namun sudah mati.
Pada 2001 mereka memulai proses penanaman,
memetakan lahan dengan menanam pohon keras (endemik) dan tanaman yang bisa
memberikan nilai manfaat (pohon frontir) atau tumpang sari supaya tetap bisa
merawat pohon keras. Komposisinya 2/3 ditanam pohon frontir dan 1/3 nya ditanam
pohon endemik dan buah-buahan supaya lahan bisa hijau lebih dulu.
Supaya subur Rosita dan suaminya mengandalkan
pupuk organik dari peternakan dengan memelihara
sepasang kambing. Ia baru tahu di kemudian hari bahwa supaya hasil pupuk lebih
banyak dan ternak berkembang lebih cepat mereka bisa memasangkan kambing 4
betina dengan satu jantan.
"Itulah, karena bodohnya saya kira kalau
mau cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal bisa 4 banding satu," ujar
Bambang menimpali sambil terkekeh
Perlahan tanaman mulai tumbuh. Rosita beserta
anak dan suaminya selama mengolah lahan berpuasa tak menggunakan pupuk
unorganik. Berkat ketelatenan tanaman sudah terlihat mulai menghijau meskipun
tak secepat bayangan Rosita. Mereka beberapa kali disergap rasa bosan dan
tergoda menggunakan pupuk unorganik supaya tanamannya lekas hijau dan tumbuh
lebat.
Beruntung orang tuanya menasehatinya saat ia
mengutarakan meminjam uang untuk membeli pupuk. Yang diingat dari kata-kata
bapaknya, Tuhan menciptakan hutan lebat tanpa
dipupuk. Kalau lahan kritis mau direhabilitasi harus jadi hutan alam
dulu, jadi hutan organik seperti
Tuhan menciptakan hutan. Manjur. Nasihat bapaknya
perlahan memudarkan kebosanannya apalagi saat itu Ita dan suaminua juga sudah
tak memiliki uang untuk membeli pupuk selain menggunakan kotoran ternaknya yang
perlahan juga mulai bertambah jumlahnya. Tak disangka, kesabaran berbuah manis.
Pada 2003 muncul mata air di dekat daerah cekungan.
Sejak saat itu pula Ita dan suaminya
menggunakan air dari mata air untuk kebutuhan rumah tangga. Setelah sebelumnya
menggunakan air hasil mengebor sumur sedalam 400 meter.
Yang menenteramkan, tanaman tumpangsari juga
memberikan hasil yang memuaskan. Tiap panen tanaman seperti sawi, lobak, bayam,
cabai, terong, jagung, dan aneka tanaman tumpang sari lainnya berlimpah. Dan
hasilnya bisa dijual untuk membayar para petani yang membantu. Dan yang membuat
Ita dan suaminya bernapas lega, kini aneka satwa telah mampir dan tinggal
di hutan miliknya. Mulai dari burung elang
hingga diduga harimau. Akhir 2014 empat kambing miliknya menjadi korban. Menurut
suaminya, berdasarkan identifikasi gigitan beberapa ahli menyimpulkan bahwa
gigitan yang biasa mengoyak muka dan perut kambing adalah harimau.
***
Luas lahan bertambah
Pada 2005 belasan perwakilan masyarakat yang
tinggal di bawah puncak yang berbatasan dengan Sentul mendatangi rumah Rosita.
Keberanian Rosita menghadapi calo tanah rupanya telah terdengar di
mana-mana. Selain masyarakat mengenal Rosita sebagai perempuan yang ulet
merawat lahannya dan mencintai lingkungan. Masyarakat mengadu bahwa ada
seorang pengusaha yang berencana membuat penangkaran buaya di bukit tak jauh
dari hutan milik Ita. Bukit itu sebelumnya
merupakan bekas potongan yang rencananya akan digunakan sebagai pemukiman.
Karena tak berizin pengembang meninggalkan begitu saja bukit yang di lerengnya
terdapat semacam setu. Masyarakat keberatan jika ada penangkaran buaya di sana.
Apalagi di bawahnya terdapat perumahan warga.
"Mereka keberatan karena pasti akan ada
bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke permukiman warga," kata Ita.
Akhirnya karena desakan masyarakat Rosita
menggunakan tabungan yang rencananya akan dibelikan mobil dikuras habis untuk
membeli lahan seluas 11 hektare. Kini lahan itu ditanami aneka tanaman tumpang
sari dan tanaman keras seperti ketika Ita dan suaminya memulai menanami lahan
tandus miliknya terdahulu. Pohon di lahan seluas 12 hektare kini tumbuh rimbun,
sementara di lahan 11 hekatare dipenuhi aneka tanaman tumpangsari dan sisanya
tanaman endemik yang juga tak kalah rimbunnya. Lahan kedua ini sengaja
digunakan sebagai green living area.
Di atas lahan ini pula Ita dan suaminya berhasil menggunakan teknik hidran,
dengan menaikkan air ke atas lahan dengan ketinggian sekitar 100 meter.
Berkat kesuksesannya membuat hutan organik Ita bersama suami dan anaknya sering diundang ke
seminar-seminar baik di dalam dan mancanegara. Di Sudan metode yang digunakan
Ita dan suaminya dijiplak dan berhasil diterapkan.
"Saya tak punya background, tak punya uang banyak dan dukungan politik. Yang saya
punyai hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa saya bagikan," kata Ita.
Kini, sambil menikmati masa tua dengan menjadi "satpam hutan organik" Rosita disibukkan dengan kunjungan tamu yang hendak melihat dan menikmati keindahan hutan miliknya. Di tengah hutan para tamu bisa memanjakan mata dan menikmati kesejukan alam. Jika hendak mengadakan diskusi atau menginap bersama keluarga Rosita menyediakan fasilitasnya, lengkap dengan aneka masakan Sunda yang menggigit lidah. Penasaran? silakan buktikan sendiri dengan datang ke lokasi.
Kustiah
Wawa dan mamanya
dok.ist Namanya Wawa. Anak periang. Selalu tersenyum, sering terdengar ringik tawa setiap bertemu siapa saja, bahkan yang tak ia kenal sekal...
-
Dok. Pri Baru saja mendapat telepon dari ibu di kampung. Mengeluh sedang suloyo karena padi yang sudah saatnya panen tak bisa...
-
Foto: Pixabay.com Suatu kali saat mencuci piring tak terasa air mata meleleh. Disertai dada sesak dan muka terasa kaku. Sebelumnya tak p...











